Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 19 : Belum Berakhir


__ADS_3

Hallo, Author di sini.


Sebelumnya maaf, karena mungkin, di Season 2, seperti yang sudah Author umumkan sebelumnya, berikut sinopsis cerita yang juga sudah Author ubah, akan lebih membahas kisah Kimo dan Rara, juga sedikit kisah cinta Kainya.


Kalau ada yang tanya siapa sebenarnya tokoh utama dalam cerita ini? Kalau menurut Author, semenjak Keinya dan Yuan bersatu, tokoh utama menjadi tergantung di setiap bab yang kita baca, ya. Karena setiap cerita di babnya, Author tulis sedetail mungkin biar nggak rancu. Semua tokoh juga akan mendapat jatah menjadi peran utama, walau mungkin akan membuat kalian rindu pada tokoh yang belum mendapat giliran jatah. Hahaha. Maaf.


Jadi, yang berkenan mengikuti ceritanya, silakan. Dan buat yang enggak, mungkin kita memang belum jodoh--karena Author percaya, dalam dunia tulis antara cerita, pembaca, berikut Author, juga ada hubungan jodoh--elaah :v


Dan meski Author juga manusia biasa yang nggak luput dari salah termasuk typo, sekali lagi, Author akan berusaha menulis dengan sebaik mungkin!


Terakhir, yang masih berkenan mengikuti, tolong dukung ceritanya hingga akhir!


Selamat membaca!


***


“Semuanya belum berakhir, kan? Aku butuh kamu! Tolong beri aku kesempatan! Kita harus bertemu.”


Season 2 Bab 19 : Belum Berakhir


Rara terus bertanya-tanya. Sebenarnya, apa yang terjadi pada dirinya? Kenapa ia tiba-tiba begitu tertekan sekaligus diselimuti kesedihan? Apakah ada sesuatu yang salah? Dan kenapa juga semua kesedihan berikut rasa yang membuatnya tertekan, muncul setelah agenda gelas pecah yang ia yakini sebagai pertanda buruk?


Rara belum pernah sebingung sekarang yang bahkan membuat tubuhnya limbung, sampai-sampai, Kimo menjadi membopongnya. Bahkan, kesadaran Rara juga berangsur berkurang, padahal seingatnya, sekarang masih sekitar pukul delapan malam, sedangkan setengah jam sebelumnya, ia dan Kimo baru saja makan malam, di mana untuk pertama kalinya, Kimo memuji hasil masakannya dengan nilai sempurna.


“Besok, kita nggak usah ke mana-mana, ya?” rengek Rara yang sudah setengah sadar. Saking takutnya, ia sampai menggenggam erat sebelah tangan Kimo. Seolah-olah, sedikit saja ia lengah tidak menggenggamnya erat, suaminya itu akan menghilang bak kabut asap yang bersembunyi di kegelapan malam, dan sulit untuk ia bedakan.


Apa yang menimpa Rara, ketakutan yang luar biasa dan belum pernah Kimo lihat sebelumnya, juga menjadi beban sekaligus luka sendiri bagi Kimo.


Kimo mengangguk dan bersikap setenang mungkin. Tatapannya juga terus mengunci kedua netra sang istri. “Baiklah. Kita tidak usah ke mana-mana,” lirihnya menyanggupi sembari menciumi kedua tangan Rara yang menggenggam sebelah tangannya. Apalagi, tanpa harus ke kantor, ia juga masih bisa mengerjakan semua pekerjaannya di rumah, kecuali untuk urusan pertemuan penting.


Balasan Kimo justru membuat Rara makin tidak bersemangat. “Sebenarnya aku kenapa, sih, ya? Kenapa aku jadi begini?” keluhnya.


“Mungkin seharusnya kita ambil cuti buat jalan-jalan. Kita bulan madu?” usul Kimo.


“Harus, ya?” balas Rara tidak yakin dan masih belum bersemangat.


Kimo mengerling, kemudian mengangguk. “Jalan-jalan dan liburan kan, memang bagian dari kebutuhan?” Kemudian ia menambahi. “Kamu begini, karena kamu terlalu stres memikirkan naskah.”


Namun tiba-tiba saja, Kimo menjadi teringat kasus kecelakaan Ben yang menyeret Piera. “Apakah yang Rara alami juga bagian dari ikatan batinnya dengan ibu Piera?” pikir Kimo.


Ketika Kimo menepi dari pemikirannya, ia mendapati Rara sudah terpejam, tetapi istrinya itu tetap menggenggamnya erat. Mendapati itu, meski rasa sakit atas perubahan sikap Rara yang begitu drastis tak beda dengan orang depresi, belum sepenuhnya sirna dari hatinya, Kimo membelai wajah berikut kepala istrinya itu menggunakan sebelah tangannya yang tidak ditahan, sambil mengulas senyum. Bahkan, dering dari ponselnya yang tersimpan di meja sebelah, ia biarkan begitu saja. Karena sekarang, yang terpenting hanyalah ketenangan sekaligus kebahagiaan istrinya.


***

__ADS_1


Kainya baru saja keluar dari ruang rawat Ben, ketika ponselnya berdering dan itu merupakan telepon masuk dari orang kepercayaannya yang ia tugaskan khusus untuk menyelidiki semua tentang Piera, berikut keberadaan wanita itu.


Kainya dibuat terkejut atas deretan fakta yang ia dapatkan. Dari Piera yang ternyata menjadi istri muda Roy selaku ayah Gio. Mama Gio yang satu minggu lalu baru saja meninggal. Juga sepak-terjang Piera sebagai wanita penggoda yang juga memiliki hubungan terlarang dengan Oskar ayah Ben!


Dan dari semuanya, yang paling membuat Kainya tidak percaya, tak lain mengenai Piera yang justru mengalami kecelakaan tabrak lari. Menurut orang suruhannya itu, Piera sedang dibawa ambulans menuju rumah sakit terdekat, dan itu merupakan rumah sakit keberadaan Kainya, selaku rumah sakit Ben dirawat!


“Aku harus bagaimana?” Kainya kebingungan. Ia tidak sanggup memikirkan itu semua. Terlalu berat rasanya jika ia memikirkan itu sendiri. Apalagi mengenai kabar terakhir dari orang suruhannya, kecelakaan yang menimpa Ben karena Roy. Roy ayah Gio mengira Ben memiliki hubungan dengan Piera, padahal keperluan Ben memiliki hubungan dengan Piera, tak lain karena Ben mengetahui hubungan terlarang Piera dan Oskar. Karena Ben akan balas dendam dan bahkan menghancurkan Piera berikut Oskar yang telah menghianati Shena.


Saking takut dan bingungnya, Kainya sampai gemetaran bahkan menitikkan air mata. Ternyata, Roy ayah Gio sangat menyeramkan melebihi binatang buas sekalipun. Roy bahkan tak segan menyingkirkan semua yang melukainya, tanpa terkecuali orang yang pernah sangat Roy cintai. Setelah mama Gio, berikut Gio sendiri, Piera yang menjadi wanita kesayangannya juga dibuang begitu saja setelah dituduh memiliki hubungan dengan Ben yang juga langsung dibunuh.


Di tengah kebingungan sekaligus ketakutannya, Kainya teringat Kimo. Ia yakin, Kimo bisa memberinya solusi untuk kasus yang tengah ia hadapi. Terlebih, Kainya tidak mungkin membagi beban yang tengah ia hadapi kepada orang tuanya, selaku satu-satunya sosok yang ia miliki.


Sambil berjalan tergesa menuju pintu masuk rumah sakit dan berniat menunggu kedatangan Piera, Kainya pun menghubungi Kimo. Sialnya, telepon yang ia lakukan tak kunjung mendapat jawaban. Kimo tidak menjawab teleponnya, bahkan meski ia sudah mengulangnya sebanyak empat kali.


Karena Piera juga sudah sampai rumah sakit dan segera dibawa ke UGD, dengan keadaan wanita itu yang sangat menyedihkan, Kainya mengakhiri usahanya dalam menghubungi Kimo. Tetapi, Kainya sengaja mengirimi Kimo pesan WhatsApp dan mengabarkan semua yang ia tahu.


Kainya terjaga seorang diri di depan UGD setelah sampai mengurus semua biaya administrasi pengobatan Piera.


“Sabar, Kai ... semoga lelahmu jadi berkah!” batin Kainya.


Kainya mengirim pesan kepada orang suruhannya untuk mengirimkan semua bukti yang mereka dapatkan kepada polisi yang menangani kasus kecelakaan Ben.


Ketika Kainya baru saja menyimpan ponselnya ke dalam tas yang menghiasi pundaknya, ada dering dan itu dering telepon masuk.


Namun, semua dugaan yang memenuhi pikiran Kainya salah bahkan salah besar. Sebab yang ada, telepon masuk di ponselnya itu justru dari Gio!


Gugup dan ketakutan Kainya menjadi bertambah. Apa maksud Gio tiba-tiba menghubunginya, padahal pria itu sudah menghilang cukup lama? Terlebih, Kainya sedang dalam proses tidak mau berharap pada siapa pun dalam urusan cinta. Juga, Kainya yang sedang belajar melupakan Gio.


Mendiamkan telepon masuk dari Gio, dipilih Kainya yang kemudian justru semakin digoyahkan dengan kenyataan, Gio yang sampai mengulang teleponnya. Bahkan meski tiga sambungan tak terjawab telah Kainya berikan. Gio masih mengulangnya dan menyerah di pesan WhatsApp yang pria itu kirimkan.


Gio : Semuanya belum berakhir, kan? Aku butuh kamu! Tolong beri aku kesempatan! Kita harus bertemu.


Gio : Kai, aku mohon. Kita harus bertemu. Aku juga masih mencintaimu, dan tolong, beri aku kesempatan!


Ada desir hangat yang menyapu hati Kainya, berikut rasa ngilu yang juga tiba-tiba hadir dan dengan begitu cepat memilin hatinya. Bahagia, bahkan terluka, Kainya rasakan dalam waktu yang sama detik itu juga.


Dengan lemas, Kainya menyimpan ponselnya. “Maaf, Gio. Aku sudah capek dan nggak mau berharap,” batinnya yang kemudian menjadi sibuk menyeka air mata, lantaran air matanya terus berlinang, mewakili jerit batinnya yang begitu terluka.


***


Keinya sedang duduk sambil memangku Pelangi di tepi kasur, sedangkan Yuan mulai membongkar salah satu koper berukuran besar.


Mereka memang baru saja pulang ke rumah pribadi tanpa mampir ke rumah orang tua lebih dulu. Karena selain ingin lebih santai, bawaan mereka juga banyak. Bisa jadi tambah repot kalau mereka harus mampir.

__ADS_1


Yang Keinya bingungkan, kenapa tiba-tiba saja ia menitikkan air mata, sedanglan dadanya juga tiba-tiba terasa sangat sesak?


“Sayang, ini stok susu formula untuk Pelangi mau ditaruh di mana?” tanya Yuan sambil mengangkat tangan kanannya yang sudah memegang satu kaleng susu formula berukuran 900 gram.


Keinya tersentak dari pemikiran anehnya yang tiba-tiba saja kepikiran bahkan merindukan Kainya.


“Yu, kok aku kepikiran Kainya, ya?”


Balasan sang istri yang keluar sangat jauh dari pertanyaannya, membuat Yuan bingung. Yuan bahkan sampai tertegun untuk beberapa saat, sebelum akhirnya balik badan untuk menatap Keinya. Belum lagi, suara istrinya itu menjadi terdengar sengau.


“Kamu nangis?” tanya Yuan sambil mengernyitkan dahi.


“Nggak tahu ini? Tiba-tiba melow begini?” balas Keinya yang sampai menghela napas beberapa kali sambil menyeka air matanya yang terus berlinang.


Yuan meletakkan susu formula kemasan kalengnya. Ia menggunakan lututnya untuk melangkah mendekati Keinya yang hanya lima meter dari keberadaannya. Masih menggunakan lutut, ia berdiri di hadapan Keinya. Ia membantu Keinya menyeka setiap air mata yang mengalir.


“Tolong ambilin ponselku. Aku harus telepon Kainya. Biasanya kalau tiba-tiba begini, Kainya sedang sakit.”


Ponsel Keinya sedang diisi daya, di nakas sebelah.


“Kalau kembar memang terikat banget, ya?” tanya Yuan penasaran.


Keinya mengangguk, sedangkan Yuan berangsur bangkit dan melangkah menggunakan kedua kakinya untuk mengambil ponsel Keinya.


Ketika Keinya sudah mendapatkan ponselnya dari Yuan, ia langsung menghubungi Kainya. Sambungan pertama, ke dua, bahkan ke tiga tidak mendapat jawaban. Tetapi sambungan ke empat, ia mendengar isak tangis dari seberang.


“Kei, aku nggak kuat ....”


Ucapan Kainya dari seberang begitu melukai hati Keinya. Keinya refleks menatap suaminya dengan tumpukan rasa cemas. Benar dugaannya, sesuatu yang buruk telah menimpa kembarannya.


Yuan semakin serius menyimak gelagat istrinya.


“Katakan padaku, kamu di mana?!” sergah Keinya tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya.


“Rumah sakit ....”


“R-rumah, sakit?! S-siapa, siapa yang sakit? K-kamu sakit? Papi? Mami?!”


“Kai, cepat, jawab!” omel Keinya tak sabar.


Yuan menahan kedua bahu Keinya dan kemudian mengelusnya.


Keinya makin sibuk mengatur napas dan berusaha bersikap setenang mungkin, apalagi Pelangi juga menjadi menatapnya dengan takut.

__ADS_1


***


__ADS_2