Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 72 : Titik Terang


__ADS_3

“Karena meski kegelapan sempat menyelimuti hubungan mereka, akhirnya mereka mendapatkan titik terang.”


Bab 72 : Titik Terang


****


“Kamu menangis?” tanya Yuan tanpa mengubah posisinya. Jantungnya berdegup lebih cepat di tengah rasa bersalah yang membuatnya resah. Kenapa Keinya menangis? Apakah wanitanya sangat tertekan? Karena yang Yuan tahu, Keinya tipikal tangguh, sulit bergantung bahkan itu padanya. Namun sekarang, kenapa wanita itu sampai mendekapnya lebih dulu sambil menangis tersedu-sedu?


“Kamu mau jalan-jalan?” lanjut Yuan lantaran Keinya tak kunjung membalasnya. Dirasanya, wajah Keinya yang menyandar pada punggungnya, bergerak ke kanan dan ke kiri. Ia yakin hal tersebut terjadi dikarenakan Keinya menggeleng.


“Terus?” Yuan semakin tegang. Sekadar bernapas pun ia takut salah. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang Keinya inginkan?


Keinya menarik wajahnya dari punggung Yuan. “Memangnya salah kalau aku memeluk kamu begini?” protesnya.


Meski awalnya sempat ketakutan, mendengar balasan Keinya barusan langsung membuat Yuan tergelak. “Enggak. Kamu enggak pernah salah. Kalaupun kamu salah, berarti aku yang salah.”


Keinya mengakhiri dekapannya kemudian mendorong punggung Yuan karena sebal.


“Pelangi, ayo kita lihat Mama. Mama pasti malu. Wajahnya pasti merah seperti udang goreng!” ucap Yuan di sela tawanya sembari balik badan, menuntun Pelangi untuk ikut menatap dan memastikan apa yang terjadi pada Keinya.


Keinya langsung memunggungi Yuan dan menggunakan sebelah tangannya untuk menutupi wajah. “Apaan sih, Yu? Di mana-mana udang goreng warnanya nggak merah, tetapi oren!” rajuknya. Kemudian fokusnya tercuri pada kantong kain berisi kotak makanan dan satu rantang sup berukuran 1,5 liter. Sedangkan satu kantong yang tersisa berisi aneka roti gandum isi. “Ini apa?” tanya Keinya sambil mengangkat dan menunjukkan barang bawaan Yuan kepada yang bersangkutan.


“Oh, seorang koki hebat baru saja memasak!” saut Yuan bangga sambil menimang Pelangi.


Keinya mesem. “Kamu yang masak semua ini?”


Hati Keinya menjadi berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Jadwal pekerjaan sudah membuat Yuan sangat sibuk, tetapi kekasihnya itu masih menyempatkan waktu memasak untuknya


“Ya ... iya. Mana mungkin aku mengandalkan Yura dan Rara. Mereka masih payah untuk urusan dapur apalagi Yura. Mereka hanya jadi asisten ala kadarnya. Jadi aku minta mereka bantu lewat doa.”


Keinya tertawa lepas. Ia langsung membayangkan bagaimana repotnya Yuan dibantu Yura dan Rara yang justru akan semakin merepotkan, jika harus menyentuh urusan dapur, apalagi memasak.


Setelah menatap Keinya lama, Yuan yang menjadi diam dan merasa sedih atas nasib hubungan mereka berkata, “Mami ada, kan? Aku mau izin biar sore ini, kita bisa bareng-bareng meski sebentar.”


Keinya refleks terdiam. Ia juga merasakan kesedihan yang tengah Yuan rasakan. Di mana, suasana haru menjadi menyelimuti kebersamaan mereka, meski sebelumnya, mereka sempat tertawa bahagia.


Keinya menengadah menatap Yuan. “Kalau Mami enggak kasih izin juga, aku akan langsung pulang ke apartemen. Aku juga kangen suasana apartemen. Di sini rasanya masih asing. Apalagi, aku juga jadi enggak bisa memantau kamu. Apakah kamu makan dengan baik, istirahat dengan cukup,” ucapnya lemas kemudian mendengkus.


“Akhir-akhir ini, jadwal kamu sangat padat. Aku takut kamu mengabaikan kesehatanmu.” Keinya menatap prihatin Yuan.


Yuan menggeleng. “Enggak boleh begitu. Biar bagaimanapun, dia mami kamu dan ini juga rumah kamu. Jangan karena kamu sama aku, hubunganmu sama orang tua kamu jadi enggak baik. Aku enggak mau begitu. Aku mau kita jadi lebih baik buat orang tua sekaligus keluarga kita.” Yuan menelan salivanya dikarenakan tenggorokannya tiba-tiba saja terasa kering, di tengah suasana hatinya yang semakin dikuasai kesedihan. 


“Aku sabar, kok, Kei. Tenang saja. Kebersamaan kita pasti ada waktunya. Semuanya akan indah pada waktunya.” Yuan mengangguk dan mencoba meyakinkan Keinya atas maksudnya.


Tatapan Keinya menjadi begitu sendu sarat kesedihan. “Kalau memang orang tua salah, anak juga berkewajiban mengingatkan, Yu. Enggak selamanya orang tua benar, dan enggak selamanya juga yang muda enggak bisa lebih baik.”

__ADS_1


Yuan menghela napas pelan sambil mengangguk dan terpejam.


“Kita masuk,” ajak Keinya sambil menggandeng sebelah lengan Yuan. “Omong-omong, tadi kamu ke sini pakai apa?”


“Mobil, bawa sendiri. Tapi sengaja aku parkir di sebelah biar kamu enggak curiga.”


“Enggak ada yang mengawal?” balas Keinya langsung cemas.


Yuan menggeleng santai tanpa menatap Keinya.


“Kalau kenapa-kenapa, bagaimana?” ucap Keinya cepat dan memang mengomel.


“Aku bukan Pelangi yang harus selalu dijaga, Kei. Masa mau “ngapel”, juga dikawal?”


Keinya cemberut dan mengangkat dagunya. Memang apa yang Yuan katakan tidak salah, tetapi melepas pria itu tanpa kawalan bisa membuat kekasihnya tersebut bermasalah. Keinya masih trauma dan tidak mau Yuan kembali kecelakaan hanya karena pria itu pergi tanpa kawalan.


Ketika melewati kebersamaan Ben dan Kainya yang masih adem-ayem terkesan tidak cocok, Keinya sengaja abai bahkan melirik pun tidak. Hanya Yuan yang berdeham tanpa sedikit pun melirik kebersamaan dingin tersebut.


Ben menatap kepergian Keinya dengan resah. “Kalau Keinya sudah punya anak, untuk apa lagi aku mengharapkannya?” pikirnya.


Ben berangsur menatap Kainya yang masih begitu dingin kepadanya. “Untuk apa juga aku pura-pura bahkan mengejar Kainya? Oke, lebih baik lupakan semuanya!” batin Ben lagi seiring ke dua tangannya yang menjadi mengepal.


“Di dunia ini yang bisa tulus mencintai seperti Yuan ke Keinya itu langka. Bahkan aku yakin, kamu memiliki alasan khusus kenapa kamu sampai mengejarku padahal awalnya kamu begitu terobsesi pada Keinya.” Kainya tersenyum sarkastis sambil bersedekap menatap remeh Ben.


“Enggak usah seterkejut itu. Biar bagaimanapun, di dunia ini memang enggak ada manusia suci. Enggak ada manusia yang luput dari kesalahan apalagi dosa. Aku juga orang jahat. Aku merasa buruk, tetapi aku sedang berusaha berubah.” Kainya bertutur lebih santai.


Ben tidak berkomentar. Namun ketika Kainya berdiri, ia berangsur menengadah, menatap apa yang akan wanita itu lakukan.


“Kalau memang tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, pulanglah. Karena aku juga ada urusan lain yang harus aku selesaikan di luar,” lanjut Kainya tanpa menatap Ben. “Karena enggak mungkin juga aku di sini apalagi melihat kemesraan Yuan dan Keinya. Aku masih belum siap!” batinnya dengan suara bergetar.


Karena Ben tetap diam, Kainya pun berlalu meninggalkan pria itu berikut rumah megah bernuansa putih milik orang tuanya. Kainya memang melangkah lebar, tetapi langkahnya kali ini jauh dari buru-buru apalagi kesal. Ia tengah berdamai dengan hatinya dan berusaha sesantai mungkin. 


Menarik napas pelan, menghirup udara baru yang ia harapkan menjadi kebahagiaan baru di lembar barunya, Kainya melakukan kesibukan tersebut sebagai terapi kehidupannya. Kainya sungguh ingin memiliki kehidupan baru. Kalaupun ia tidak bisa memiliki pria seperti Yuan yang begitu tulus mencintai Keinya, Kainya ingin memiliki kehidupan lebih tenang tanpa sandiwara apalagi menjadi bayang-bayang.


***


“Mami di rumah, kan?” tanya Yuan lantaran suasana rumah begitu sepi.


Yang Yuan tahu, Daniel anak semata wayang Philips dan Khatrin tengah melanjutkan sekolah SMA di Australia. Jadi rumah hanya dihuni Khatrin dan ART yang bekerja lantaran Philips sibuk bekerja dan hanya akan di rumah kalau hari libur, pun itu kalau tidak ada pekerjaan tambahan.


“Biasanya kalau jam segini, Mami sedang meditasi.” Keinya meletakkan kantong kainnya di meja dapur berukuran paling luas. 


Keinya langsung membuka lemari dinding selaku tempat menyimpan piring. Satu piring milik Pelangi, dan dua piring beserta dua mangkuk, ia bawa ke Yuan lengkap dengan sendok. Yuan bilang, selain membuat shusi, Yuan juga sempat memasak sup daun katuk yang turut dibubuhi daging sapi cincang. Sedangkan untuk Pelangi, rebusan wortel, brokoli dan kentang menjadi andalan pria itu setelah sempat melihat Keinya membuatkannya untuk melatih Pelangi dalam belajar memegang sekaligus menggigit.


“Sisakan satu boks buat Mami sama Papi,” ujar Yuan sambil mendudukkan Pelangi di tempat duduk khusus untuk anak itu makan. Ia segera mengisi piring Pelangi dengan kentang, brokoli berikut wortel rebus, selain dua potong shusi yang ia siapkan khusus untuk Pelangi. “Ayo makan.” Ia sengaja terjaga dan memantau Pelangi penuh senyuman. 

__ADS_1


Seperti mimpi, itulah yang Yuan rasakan saat ini, hanya karena ia bisa kembali bersama Pelangi dan Keinya.


Keinya yang sudah mengisi mangkuk berikut piringnya mengikuti apa yang Yuan lakukan, mengamati Pelangi yang mulai mengambil wortel dengan kedua tangan kemudian melahapnya.


“Pelangi sudah bisa berdiri lama, lho, Yu! Ngie … ayo tunjukkin ke Papah!” cerita Keinya sambil menikmati supnya diselingi menyuapkan potongan shusi melalui tangan kosong, krpada Yuan.


“Mmm? Keren, ya. Pintar! Anak Papa, hebat!” Yuan tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Sembari mengunyah shusi yang memenuhi mulutnya, ia juga membelai kepala Pelangi. “Makan yang banyak, Kei. Empat hari enggak ketemu, wajahmu jadi sekusam ini sedangkan lingkar matamu juga tambah hitam.” Telunjuk tangannya meraba wajah berikut lingkar mata Keinya yang memang seperti yang ia keluhkan.


“Kalau kamu tahu tidak ada yang lebih baik dari kamu dalam menjaga Keinya, kenapa kamu tidak segera menikahinya? Bawa orang tuamu ke sini dan nikahilah putri saya!”


Ucapan penuh ketegasan barusan, seolah melesakkan jantung Keinya dan Yuan. Keinya dan Yuan menjadi terdiam tak percaya. Barusan, itu suara Khatrin, terdengar dari pintu dapur kebersamaan mereka. 


Ketika Keinya memastikannya, di bibir pintu sana, Khatrin menatap ke arahnya sambil bersedekap. Tak hanya itu, meski ekspresi wajah Khatrin terbilang garang, kali ini wanita itu berderai air mata bahkan kemudian tersenyum kepadanya.


“Mami ....?” lirih Keinya sambil berlinang air mata sekaligus merasa tak percaya. Bahkan hingga detik ini ia masih belum bisa percaya jika beberapa menit lalu, Khatrin baru saja memberinya restu.


“Kamu masih menganggap Mami jahat?” isak Khatrin terdengar berat.


Keinya tak kuasa membalas. Yang ada, tangisnya menjadi semakin pecah. Bahkan sendok di tangan kanannya ia letakan di meja yang ia punggungi demi menatap Yuan maupun Pelangi.


Yuan yang tersenyum haru sambil berderai air mata segera menyeka air matanya. Kemudian dengan gerakan cepat ia bangkit dari duduknya dan balik badan menatap Khatrin. “Terima kasih banyak, Tan!”


Khatrin menghela napas pelan. “Biar bagaimanapun, saya tetap sakit hati sama kamu, Yu. Bagaimana bisa anak dan cucu saya lebih menyayangi dan bergantung kepadamu, setelah semua usaha yang saya lakukan?!” rajuknya.


Keinya dan Yuan refleks menunduk dan menahan senyum di tengah air mata mereka yang menjelma menjadi rantai pengikat, atas kebahagiaan yang berlangsung.


“Anehnya yang bayi juga ikut-ikutan!” lanjut Khatrin sembari mendekat dan menatap Pelangi yang kemudian menatapnya sambil melahap brokoli. “Iya, kamu, Ngie. Sudah maksud mengobrol sama Oma, mentang-mentang papamu sudah datang?”


Yuan dan Keinya kembali menahan senyum sambil menyeka air mata mereka.


“Sekali lagi, terima kasih banyak, Tan! Tante sudah kasih kami restu,” ucap Yuan sambil membungkuk-bungkuk sopan kepada Khatrin.


Khatrin yang awalnya membungkuk demi menyelaraskan tingginya dengan Pelangi, berangsur berdiri dan menatap Yuan. “Tapi ingat, saya enggak semudah itu kasih restu. Karena kalau sampai kamu menyakiti anak dan cucu saya,” ucapnya tertahan oleh rengekan Keinya.


“Mi ….” Keinya menghentikan omelan Khatrin yang jelas-jelas menangis dan hanya pura-pura galak.


“Baiklah ... baiklah,” ucap Khatrin sambil mengelap air matanya.


“Tante bebas menghukum saya, seandainya ketakutan Tante terbukti,” tegas Yuan yang terlihat jauh lebih santai tanpa bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


“Pasti!” saut Khatrin tegas sekaligus galak.


Yuan dan Keinya tersipu sembari menyeka air mata kebahagiaan mereka. Karena meski kegelapan sempat menyelimuti hubungan mereka, akhirnya mereka mendapatkan titik terang.


****

__ADS_1


__ADS_2