
“Aku hanya mau menikah denganmu. Jadi jangan pernah berpikir, aku akan menikahi wanita lain selain kamu.”
Bab 35 : Ajakan Menikah
Langkah Pelangi yang awalnya menggebu dengan kedua tangan yang menenteng karton cukup besar, mendadak melemah dan bahkan berhenti. Dan bersamaan dengan itu, hati Pelangi juga menjadi terenyuh. Pelangi pun tak kuasa menahan air matanya lantaran di depan sana, seorang Kim Jinnan sedang menangis sambil mengunci rapat-rapat mulutnya.
Kim Jinnan menatap takut sekaligus sakit pak Jo yang sesekali menepuk pelan punggung Kim Jinnan. Begitu banyak luka yang terlihat jelas tengah Kim Jinnan tahan dan Pelangi bisa merasakannya.
Di depan ruang ICU keberadaan Kim Jungsu dirawat, sedangkan bersamaan dengan itu, dua orang dokter dan tiga perawat, baru saja meninggalkan kebersamaan Kim Jinnan dan pak Jo, selain kedua pengawal yang berjaga di sisi mereka.
Melihat kenyataan tersebut, Pelangi yakin keadaan Kim Jungsu belum mengalami perubahan berarti. Atau lebih parahnya, keadaan kakek Kim Jinnan itu semakin memburuk.
Dan sekarang Pelangi bingung. Harusnya ia melanjutkan langkahnya untuk menemui Kim Jinnan? Namun jika tidak, ia bisa telat ke kantor. Sekarang saja, Pelangi sengaja bangun sangat pagi deni ke rumah sakit hanya untuk mengunjungi sekaligus mengirim sarapan untuk Kim Jinnan.
Semalam, setelah mengetahui kakek Jungsu sakit, Keinya langsung menyiapkan sarang burung walet dan memasaknya menjadi tim-timan yang enak dan kaya nutrisi. Keinya berharap tim sarang burung walet tersebut bisa membuat keadaan kakek Jinnan lebih baik. Juga, untuk Jinnan sendiri agar pria muda itu tetap sehat.
“Aku tidak mungkin baik-baik saja, ... sedangkan tadi kau dengar sendiri, Pak Jo ... jika kakek tetap begini, kakek bisa mengalami kelumpuhan otak!” ucap Jinnan di tengah isaknya.
Kim Jinnan dan Pak Jo masih berdiri di depan pintu ruang rawat kakek Jungsu yang masih tertutup. Mereka terjaga, dan tetap bertahan meski luka tak kunjung berkurang terlebih meninggalkan mereka.
Dengan hati yang masih terasa sakit, Pelangi mencoba menjadi gadis yang lebih kuat. Pelangi menyeka sekitar matanya menggunakan lengan jas abu-abu yang dikenakan. Karena kini, Pelangi memang sudah rapi. Gadis itu mengenakan setelan jas abu-abu untuk kemeja putih di dalamnya, berikut celana panjang berwarna hitam. Sepatu flat berwarna hitam juga tampak membuat Pelangi melangkah lebih nyaman.
“Enggak terbayang kalau aku ada di posisi Jinnan. Dan berkat Jinnan, aku jadi semakin menghargai semua yang aku punya terlebih keluarga dan orang tua,” batin Pelangi.
Pelangi melangkah pelan menghampiri kebersamaan. “Jinnan ... jangan menangis lagi ... yang kakekmu butuhkan saat ini, hanyalah doa.”
Suara lirh Pelangi yang begitu dipenuhi perhatian, terdengar mengalun dari seberang. Kim Jinnan refleks menoleh untuk memastikannya. Kim Jinnan melakukan hal tersebut lantaran pria itu takut, apa yang baru saja ia dengar hanya delusi. Delusi yang terjadi lantaran kini, ia sedang sangat terpuruk. Dan dukungan dari Pelangi termasuk keluarga gadis itu menjadi satu-satunya penawarnya.
Dan Kim Jinnan benar-benar tak percaya, Pelangi memang ada di hadapannya. Gadis itu menghiasi kedua tangannya dengan kantong karton. Sedangkan tas hitam cukup besar terselip di pundak sebelah kanan gadis itu. Pelangi datang tanpa kawalan termasuk Yuan atau pun Dean, di tengah waktu yang masih terbilang sangat pagi. Baru pukul enam lebih dua puluh empat menit, ketika Kim Jinnan memastikan waktu di arloji yang menghiasi pergelangan tangan kirinya.
Sambil menyeka air matanya tanpa menatap Pelangi, Kim Jinnan yang jelas berjaga bahkan mungkin kalu, menghanpiri gadis itu. Sedangkan yang terjadi pada pak Jo, pria itu berangsur membungkuk sopan sambil mengulas senyum ramah pada Pelangi. Dan sambil mengangguk dan cukup membungkuk, Pelangi mengulas senyum membalas sapaan ramah pak Jo.
“Sepagi ini, kau sudah datang?” ujar Kim Jinnan dengan suara yang masih sengau.
Pelangi mengangguk canggung. “Mama titip ini, sedangkan sebelum pukul setengah delapan, aku sudah harus ada di kantor,” balas Pelangi.
Pelangi terlihat begitu lugu. Dan keadaan Pelangi yang juga terlihat begitu tulus, sukses membuat hati Kim Jinnan berbunga-bunga. Terlebih jika Kim Jinnan melihat tatapan Pelangi yang begitu sendu. Sungguh, ... ada kebahagiaan yang terasa begitu istimewa bahkan sempurna dan seolah hanya dirasakan Kim Jinnan. Bahkan, sebagian beban yang awalnya memenuhi dada Kim Jinnan, seolah langsung terangkat, hilang begitu saja hanya karena kehadiran Pelangi.
Kim Jinnan mengacak pelan puncak kepala Pelangi. Kali ini, gadis itu menggerai rambut hitamnya tanpa aksesori meski sekadar jepit.
“Jangan menangis lagi,” pinta Pelangi sambil menatap serius Kim Jinnan.
“Iya, ... aku tidak akan menangis lagi,” balas Kim Jinnan yang sebenarnya merasa malu lantaran Pelangi sampai melihatnya sedang menangis.
Pelangi segera melangkah lebih dulu meninggalkan Kim Jinnan. Ia bergegas menuju bangku tunggu di depan. “Mama membuatkan tim-timan sarang burung walet. Selain itu, mama juga membuatkanmu bekal makan siang.”
Pelangi menurunkan karton bawaannya dan meletakkannya di tengah-tengah bangku. Sedangkan Kim Jinnan juga berangsur duduk di seberang Pelangi. Mereka hanya tersekat dua karton yang baru Pelangi letakkan.
“Mamamu baik banget. Kamu yang minta, ya?” tanya Kim Jinnan sambil melongok isi karton.
Pelangi mengangguk jujur. “Iya. Kan nanti siang, kamu enggak bakalan main ke kantor lagi, kan, di jam maian siang?” balasny.
__ADS_1
Ada tim-timan sarang burung dalam teremos rantang, selain satu kotak bekal makan siang yang sampai dilengkapi potongan buah apel dan juga satu setengah liter susu rendah lemak masih dalam kemasan tersegel. Kim Jinnan memastikan semua itu yang sampai dilengkapi dua mangkuk kecil dan juga sendok sup.
“Jadi, dengan kata lain, ... ini semua menunjukkan, kalau aju sudah dianggap sebagai menantu di keluargamu?” ujar Kim Jinnan lagi. Ia sengaja memastikan tanggapan Pelangi.
“Apaan sih?!” balas Pelangi sambil mendengkus sekaligus melirik kesal Kim Jinnan.
Kim Jinnan tersenyum masam dan justru hanya tertunduk bahkan diam.
“Dimakan. Aku sudah bela-belain bangun pagi buat siapin bahkan antar semua ini!” omel Pelangi.
Kim Jinnan berangsur menatap Pelangi di tengah kenyataan tubuhnya yang sampai membungkuk, sedangkan kedua tangannya, ia biarkan saling mencengkeram di depan lutul.
“Ngie, ... nikah, yuk?” ajaknya lirih namun serius.
Merasa tak percaya dengan apa yang baru saja didengar, Pelangi sampai terdiam beberapa detik, hingga akhirnya gadis itu justru menggeragap, menatap heran Kim Jinnan yang nyatanya sedang menatapnya dengan serius.
Melalui anggukan kepalanya, Kim Jinnan menuntun Pelangi untuk menyetujui ajakannya. Ajakan menikah yang tentunya sangat ia harapkan bisa mendapat balasan yang juga sesuai apa yang ia harapkan.
“Aku kan sudah bilang ... aku hanya akan menikah, ketika usiaku sudah dua puluh sembilan tahun. Sepuluh tahun lagi!” balas Pelangi yang sampai kembali mendengkus sambil bersedekap.
Pelangi menepis sinis, tatapan serius Kim Jinnan.
“Kenapa harus menunggu selama itu? Memangnya apa yang kamu tunggu?” balas Kim Jinnan yang memang ingin tahu.
Pelangi semakin merengut sebal. Terlebih hingga detik ini, ia belum bisa memastikan perasaannya kepada pria mana pun tanpa terkecuali Kim Jinnan. Karena meski Pelangi peduli kepada Kim Jinnan, tetapi Pelangi tidak yakin jika dirinya juga sampai mencintai pria itu.
“Kamu mau nunggu kuliah? Mau nunggu kerja apa bagaimana?” lanjut Kim Jinnan lagi mengira-ngira lantaran Pelangi tak kunjung memberinya balasan.
Padahal, seharusnya Pelangi melepas Kim Jinnan seperti niat awalnya lantaran Pelangi tidak mau mengikat siapa pun tanpa terkecuali Kim Jinnan. Namun nyatanya, kini Pelangi benar-benar menggantung perasaannya sendiri. Karena pada kenyataannya, Pelangi tidak bisa melepas Kim Jinnan begitu saja.
“Jangan bahas itu. Bahasan menikah masih terlalu sensitif untukku,” ucap Pelangi akhirnya.
“Terus, kita apa?” balas Kim Jinnan memastikan. Masih dengan suara lirih sekaligus tatapan yang begitu dalam.
“Teman ....” jawaban itu keluar begitu saja dari bibir mungil Pelangi.
Kim Jinnan yang masih menatap Pelangi pun menanggapinya dengan santai. “Hanya teman?”
Meski ragu, Pelangi yang memastikan Kim Jinnan melalui lirikan pun berangsur mengangguk.
“Kenapa hanya teman?” tanya Kim Jinnan lagi masih belum mengerti.
Sunggung, apa yang Kim Jinnan tanyakan sukses membuat Pelangi semakin gelagepan. Pelangi benar-benar tidak bisa menjawab.
“Katakan padaku. Bagaimana perasaanmu jika aku menikahi wanita lain?” lanjut Kim Jinnan.
Jantung Pelangi seolah melesak hanya karena pertanyaan yang baru saja Kim Jinnan lontarkan. Terlepas dari itu, hati Pelangi juga mendadak terasa sangat sakit. “Kok sakit banget, ya?” batin Pelangi yang bahkan nyaris menangis.
Perihal kedua matanya yang mendadak terasa panas bahkan basah, Pelangi yakin, ia sudah nyaris menangis. Jadi, satu-satunya cara membuatnya aman adalah mengakhiri kebersamaan. Pelangi harus meninggalkan Kim Jinnan seperti apa yang langsung gadis itu lakukan. Sialnya, Kim Jinnan yang masih duduk, menahan sebelah tangan Pelangi.
Kim Jinnan sengaja menahan Pelangi agar gadis itu tidak pergi selama pembicaraan mereka belum selesai.
__ADS_1
“Aku hanya mau menikah denganmu. Jadi jangan pernah berpikir, aku akan menikahi wanita lain selain kamu.” Kim Jinnan sampai menengadah, menatap Pelangi lebih serius dari sebelumnya.
“Melihatku menikah denganmu adalah satu-satunya impian terbesar kakek ... kau, ... meski hanya sedikit, juga ada rasa kepadaku, kan?” lanjut Kim Jinnan.
Pelangi, semakin tidak bisa menjelaskan perasaannta. Pelangi. Pelangi hanya terdiam kebingungan.
“Aku mohon ... beri aku kesempatan!” Kim Jinnan benar-benar memohon. Masih dengan suara lirih yang begitu sarat keseriusan sekaligus ketulusan.
“Aku sudah berubah. Dan pastinya, aku tidak memiliki ikatan hubungan dengan siapa pun. Yang kuharapkan hanyalah dirimu.”
“Jinnan, ... tolong beri aku waktu. Ini terlalu cepat,” balas Pelangi yang sampai tidak berani menatap Kim Jinnan.
“Jadi?” ujar Kim Jinnan lagi. Sebab baginya, jawaban Pelangi seperti akan memberinya harapan.
Pelangi tak jua memberikan balasan apalagi kejelasan, membuat Kim Jinnan semakin menunggu sekaligus berharap. Namun, dari sebelah, pak Jo berseru, mengabarkan jika kakek Jungsu siuman.
Sontak, Kim Jinnan segera bergegas, beranjak dari duduknya. Dan anehnya, tangan Kim Jinnan yang menahan sebelah tangan Pelangi juga tetap berlangsung. Kim Jinnan membawa Pelangi untuk ikut serta. Mereka menghampiri pak Jo yang sudah membelakangi pintu ruang rawat kakek Jungsu, di mana pria itu sampai mengenakan setelan seragam kushus berwarna hijau tua, sedangkan selain menggunakan penutup kepala, pak Jo juga sampai mengenakan masker.
Untuk masuk ke ruang rawat kakek Jungsu memang harus mengenakan seperti apa yang pak Jo kenakan. Jadi, Pelangi pun turut mengenakan semacam seragam bersih itu mengikiti Kim Jinnan yang juga masih menuntun sekaligus membantunya.
“Tolong, ... bantu aku!” pinta Kim Jinnan di tengah kenyataannya yang sudah mengenakan seragam khusus.
Kedua manik mata Kim Jinnan menatap serius kedua manik mata Pelangi.
“Aku akan melakukan apa pun. Benar-benar semua yang kamu minta,” lanjut Kim Jinnan lagi.
Pelangi menghela napas. Membuat masker yang sudah menutup hidung dan mulutnya, sampai menjadi kembang-kepis.
“Kenapa harus seperti ini? Ini terlalu mendadak. Aku benar-benar belum siap.” Pelangi juga meyakinkan Kim Jinnan.
“Kita bisa. Kita pasti bisa! Dan mengenai restu selanjutnya, aku akan segera membicarakannya kepada orang tuamu,” lanjut Kim Jinnan lagi.
Keduanya masih berdiri di depan pintu ruang rawat kakek Jungsu.
“Jangan aku. Yang lain saja. Aku benar-benar belum siap,” balas Pelangi.
Kim Jinnan menggeleng di tengah kedua matanya yang memerah dan terasa panas. Tanpa bertanya atau meminta pendapat Pelangi lagi, ia segera menuntun gadis itu unyuk masuk mengikutinya.
Seiring langkahnya yang tak kuasa menolak, Pelangi menyadari jika jantungnya berdentum sangat keras. Pun dengan aliran darahnya yang mendadak menderas sekaligus memanas. Pelangi yakin, hidupnya akan berubah, semakin tidak baik-baik saja setelah ia masuk dan menemani Kim Jinnan menemui kakek Jungsu.
“Kenapa harus aku?” batin Pelangi yang sampai merasa jika dunianya mendadak berputar melambat.
Kim Jinnan, pria itu sukses mengubah, menjungkir-baikkan kehidupan Pelangi yang awalnya hanya anak rumahan yang begitu dekat dengan keluarganya. Anak rumahan yang selalu mengedepankan pendidikan sekaligus hubungan baik dengan keluarga terlebih orang tua, juga teman dan sahabatnya.
Tidak pernah terbayang oleh Pelangi, jika ia akan bertemu dan menjadi bagian dari hidup Kim Jinnan, yang terus saja memintanya untuk menikah dengan pria itu.
Dan Pelangi, benar-benar hilang arah.
Bersambung .....
Kira-kira, apa yang akan terjadi? 🤔🤔🤫🤫🤣😄💓
__ADS_1
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaa 🙏