Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 85: Kejutan


__ADS_3

“Kebahagiaan terindah di dunia ini adalah kebersamaan yang dipenuhi kebahagiaan. Dan kita tidak mungkin bisa mendapatkannya tanpa sebuah ketulusan, bahkan sekalipun membelinya dengan harga fantastis!”


Bab 85 : Kejutan


“Malam, Sayang ...? Ma ...? Ngi-ngi? Adek ....?”


“Malam juga, Papa ....”


“Pa-pa, Ngi-ngi kangen ...?”


Yuan baru saja pulang. Dan pria itu langsung berjalan cepat sambil membuka maskernya, demi menghindari Pelangi.


“Papa mandi dulu, yah, Sayang. Kotor ... nanti kena virus,” ucap Yuan masih buru-buru dengan nada suara sarat pengertian.


Yuan selalu bertutur dengan pelan di antara kepedulian. Bahkan ketika pria itu marah sekalipun. Sampai-sampa, Keinya dibuat bingung, kenapa suaminya yang terkenal tegas sekaligus dingin oleh kebanyakan orang, justru tak ubahnya eskrim yang begitu gampang mencair ketika sedang menjalankan perannya sebagai kepala keluarga?


Sambil menyusul Pelangi yang terjaga di depan pintu kamar mandi demi menunggu Yuan, Keinya yang awalnya sedang mematut diri di depan cermin rias, berangsur mendekap bocah menggemaskan itu. Ia sampai bersimpuh demi menyamakan tingginya dengan Pelangi. Ia membingkai wajah Pelangi menggunakan kedua tangannya, kemudian menatap mata bulat berbola mata hitam jernih itu, lekat-lekat.


Tak bisa Keinya bayangkan, apa yang akan terjadi padanya dan Pelangi, tanpa seorang Yuan? Apa yang akan terjadi padanya, jika dulu, ia tetap dengan keputusannya yang trauma akibat pengkhianatan sekaligus permainan Athan? Ia tetap menolak Yuan dan menutup diri rapat-rapat? Meski melihat Pelangi juga kadang membuatnya teringat kebusukan Athan, ... tetapi Keinya yang sekarang sudah beberapa tingkat lebih dewasa. Keinya yang sekarang sudah lebih bisa bersikap tenang dalam menghadapi semua hal berkat didikan Yuan.


“Papa marah sama Ngi-ngi?” keluh Pelangi yang terlihat begitu bersedih.


Keinya segera menggeleng tanpa mengubah tatapan seriusnya dari kedua manik mata Pelangi yang menatapnya penuh ketakutan. Lihatlah, hanya dihindari Yuan sebentar saja, Pelangi terlihat begitu sedih. Pelangi merasa dibuang dan sampai berpikir Yuan marah.


“Papa enggak marah, Sayang. Papa cuma mau mandi dulu, biar Papa enggak kotor dan kita tetap sehat. Tadi, Ngi-ngi sama Mama juga sudah mandi, kan? Makanya, papa juga mandi. Lagipula, ... kita kan mau ke rumahnya bibi Rara?” Keinya mencoba memberi Pelangi pengertian.


Meski terlihat tidak begitu yakin bahkan seolah belum bisa menerima kenyataan, Pelangi akhirnya mengangguk.


Seulas senyum menjadi hadiah dari Keinya untuk Pelangi sambil membelai wajah anak itu. “Oke ... sekarang Ngi-ngi, bantu Mama pilih baju buat papa, ya?” ucap Keinya berusaha seceria mungkin, kendati rasa mual berikut pusing masih kerap menyerangnya tanpa kenal waktu. Kali ini saja, sebenarnya Keinya ingin muntah.


Keinya berangsur menuntun Pelangi menuju lemari pakaian yang keberadaannya sekitar sepuluh meter dari keberadaannya. Di kamar megahnya yang terbilang sangat luas, semuanya memang sudah tersusun rapi tanpa terkecuali pakaiannya. Semua pakaian sudah digolongkan menurut warna sekaligus jenisnya. Dan kali ini, ia memilihkan pakaian cukup formal berupa kemeja lengan panjang warna biru toska sesuai gaun yang dikenakan olehnya dan Pelangi.


Keinya memamerkan kemeja pilihannya kepada Pelangi, tetapi Pelangi justru tidak tertarik dan kembali lari ke arah kamar mandi.


“Sama Yuan begitu ... giliran ke Athan kayak minyak sama air,” gumam Keinya yang akhirnya melanjutkan acara memilihkan pakaian untuk Yuan sendiri.


Hingga akhirnya, pintu kamar mandi terdengar terbuka tak lama setelah Keinya duduk di tepi kasur. Pelangi yang sampai duduk di lantai depan pintu kamar mandi langsung terlonjak girang, kemudian mendekap erat Yuan.


Keinya tak kuasa menahan tawa, lantaran suaminya itu hanya melilit tubuhnya dengan handuk dan terlihat kerepotan sambil memegangi lilitan handuknya.


“Papa belum pakai baju ... Ngi-ngi ini ...,” ucap Yuan yang sempat kebingungan lantaran Pelangi tiba-tiba mendekapnya. Ia segera menggemban Pelangi dan membawanya kepada Keinya.


“Mama, ... semuanya oke?” ucap Yuan semringah sambil menatap lekat wajah sang istri.


Keinya segera mengangguk meski tampangnya terlihat begitu lesu. “Mual sama pusingnya masih betah ...,” keluhnya.


Yuan yang berhasil duduk di sebelah Keinya pun berkata, “wah ... berarti dedeknya sayang banget sama Mama ....” Sebelah tangannya sibuk mengelus perut Keinya, meski tatapannya terbagi juga untuk Pelangi.


“Ngi-ngi, turun dulu, ya ... biar Papa pakai baju,” ucap Keinya setelah membiarkan Yuan mencium mesra keningnya.


“Papa pakai baju dulu, ya ... Ngi-ngi sama Mama saja sudah cantik, ... masa Papa masih begini?” ucap Yuan sambil menurunkan Pelangi dari embanannya. Ia segera meninggalkan kebersamaan sesaat setelah mengambil pakaian yang dipilihkan oleh Keinya.


Setelah Yuan kembali masuk kamar mandi, Keinya berniat membuat teh lemon demi meredam pusing berikut mualnya. Ia bahkan sampai meninggalkan Pelangi lantaran anaknya itu kembali menunggu Yuan di depan pintu kakar mandi tanpa mau dibujuk untuk pergi.


“Pa ...?”

__ADS_1


“Iya ....”


“Papa ...?”


“Iya, Sayang, ... sebentar lagi ....”


Keinya meninggalkan area kamar yang dihiasi suara Pelangi dan Yuan. Bahkan keduanya terdengar terus saling bersautan, meski Keinya sudah keluar dari kamar. Keinya melangkah dengan hati-hati dan nyaris menuruni anak tangga, andai saja semua lampu di sana tidak tiba-tiba mati.


“Yu ... mati listrik?” Keinya meraba ke sekitar, mencoba mencari pegangan memutuskan untuk tidak turun. Ia berniat kembali ke arah kamar. Namun ia tidak yakin, akan baik-baik saja jika melangkah tanpa penerangan terlebih kini, ia sedang hamil.


“Aneh, ... kenapa mendadak mati listrik? Dan kenapa juga enggak ada yang langsung bawa lampu cadangan atau lilin? Semuanya, baik-baik saja, kan? Ini, bukan ulah orang jahat termasuk tante Intan, kan?” batin Keinya mulai dilanda kerisauan.


Untung saja, suara Yuan terdengar dari belakang lengkap dengan sorot cahaya dari ponsel yang turut menghiasi pandangan Keinya. Yuan datang sambil mengemban Pelangi.


“Sayang, kamu tetap di situ. Biar aku sama Pelangi yang ke kamu,” tahan Yuan wanti-wanti.


“Ini kok aneh banget, tiba-tiba ada pemadaman? Memang sedang aliran, apa cuma punya kita, Yu?” keluh Keinya sabil mengelus-elus perutnya menggunakan kedua tangan.


“Belum tahu. Nanti coba aku lihat. Kamu mau ikut, apa tetap di kamar?” sergah Yuan yang sudah di dekat Keinya.


Keinya segera mendekap sebelah lengan suaminya dan merapatkan tubuhnya. “Yu, ... ini bukan ulah orang jail bahkan jahat, kan?” bisiknya yang memang sudah mulai parno.


Yuan tak langsung menjawab. “Tapi rumah kita dijamin aman seaman-amannya, Kei,” ucapnya meyakinkan.


“Ya sudah ... ayo kita nyalain listriknya,” balas Keinya yang mulai merasa tidak nyaman dengan suasana rumahnya yang menjadi gelap-gulita tak beda dengan gua. Padahal, ... sebelum agenda mati lampu kali ini pun, ia pernah merasakan kehidupan yang jauh lebih susah ketika belum bersama Yuan. Namun, menjadi Nyonya Yuan memang membuatnya terbiasa hidup dengan fasilitas nomor satu. Dan kenyataan sekarang, sangat membuatnya terganggu.


“Sudah ... tenang ... positif thinking saja. Ada aku. Enggak mungkin ada yang berani macam-macam,” ucap Yuan meyakinkan. Ia menuntun Keinya dengan hati-hati termasuk memperhatikan setiap langkah wanita itu. Ia mengarahkan senter ponselnya pada kaki Keinya.


Keadaan kini sukses membuat hati Keinya terbesit. Setelah lelah mengurus pekerjaan di luar, Yuan masih mau repot-repot menjaganya dan Pelangi. Tentunya, sambil mengemban dan menuntunya layaknya sekarang dengan terus mengarahkan senter, bukanlah hal yang mudah apalagi mereka harus menuruni anak tangga.


“Hmmm, istirahat? Memangnya kamu lelah?”


“Enggak, sih ... kamu kerepotan gitu ....”


“Enggak apa-apa. Tinggal setengah jalan lagi. Kamu jalannya fokus, ya. Cuma bentar kok.”


Keinya menghela napas dalam sambil terus mengikuti tuntunan Yuan. Mereka sama-sama fokus memperhatikan setiap pijakan yang akan mereka lewati. “Pantes, ya ... Ngi-ngi sayang banget sama Papa ... kalau gini terus, Mama oke oke saja, kasih Pelangi banyak adek,” ucapnya semringah dan sengaja menggoda Yuan.


“Ngi-ngi jadi saksi, ya ... Mama sudah bilang gini. Seenggaknya, ... minimal Ngi-ngi harus punya adek ... mmm, enam boleh, lah, ya?” balas Yuan tak kalah semringah sambil menggoda Keinya melalui lirikannya.


Keinya tak kuasa menahan tawa bahagianya. Hingga akhirnya mereka sampai di lantai bawah tujuan mereka, dan tak lama berselang, suasana mendadak terang dikarenakan lampu menyala dengan serempak. Bahkan, baik Keinya maupun Yuan sampai mengernyit demi menghalau silau yang tiba-tiba mengganggu penglihatan mereka.


“Surprise ...!”


Deg ...


Jantung Keinya seolah berhenti berdetak mendapati seruan tersebut. Perpaduan suara-suara orang yang sangat ia sayangi. Orang tua berikut saudara, mertua, juga ... sahabat. Semuanya lengkap berkerumun di hadapannya sambil membawa buket bunga berikut kotak besar terbungkus kertas kado.


“Selamat untuk kehamilanmu, Nyonya Yuan ...!” seru Rara di barisan paling ujung sebelah kanan.


Keinya yang sampai menitikkan air mata, menjadi tersipu. “Padahal niatnya, aku yang mau ke rumah kamu ....”


“Jadi, ini beneran berhasil, dong?” goda Kimo yang menggandeng Rara sambil membawa buket bunga. Ia sengaja tersenyum menggoda Keinya dan sukses membuat wanita itu semakin tersipu.


“Baru satu, ya! Masih kurang lima! Kan, target minimumnya enam!” seru Daniel dari ujung sebelah kiri dan kebetulan bersanding dengan Kainya yang juga turut mengulas senyum, memberi Keinya selamat melalui semua ketulusan itu.

__ADS_1


Senyum Keinya semakin lepas saja, menghadapi setiap godaan yang menghampirinya.


“Kalian ini apa-apaan? Sudah lama tahu hamil, tetapi malah diam-diam saja!” omel Khatrin yang sampai meninggalkan Philips demi mendekati Keinya kemudian mendekapnya dengan hangat. “Selamat, ya, Sayang. Kamu ini kok enggak kabar-kabar?”


“Mami dan semuanya masih sangat sibuk, dan mana mungkin kami bahas ini. Yang ada, pasti bisa mengganggu fokus kalian!” ucap Keinya sambi membalas dekapan Khatrin.


“Karena sebenarnya, kami juga punya kejutan buat kalian. Kami hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan kabar bahagia ini,” sela Yuan berusaha meyakinkan.


“Tapi ujung-ujungnya, kamu bikin kejutan juga sama mereka? Padahal aku sudah parno, takutnya ada orang jail apalagi teror tante Intan ...,” keluh Keiny sambil menatap sebal Yuan.


Yuan hanya tersipu dan kemudian membiarkan Keinya menyisir rambutnya yang memang belum sempat ia sisir lantaran rombongan kejutan sudah telanjur datang dan membuat semua lampu padam demi melangsungkan kejutan. Tentunya, hal tersebut membuat Yuan harus bergerak cepat mengingat Keinya sedang hamil, sedangkan untuk sampai ke lantai bawah, mereka harus melewati anak tangga yang jumlahnya ada dua puluh delapan.


Kebersamaan itu terasa begitu indah lantaran sudah tidak ada jarak di antara mereka termasuk perihal sungkan dan salah paham. Pun meski baik Kainya maupun Yuan tidak pernah berkomunikasi walah sekadar saling pandang. Kalaupun tatapan mereka bertemu, mereka akan langsung mengakhirinya dan bersikap biasa layaknya kepada rekan bisnis.


Dari semuanya, Angela dan Kim Yeon Seok terlihat begitu bersemangat.


“Ya ampun, kalian ini?” keluh Angela yang tak hentinya mengelus-elus perut Keinya yang jelas-jelas masih rata.


Yuan yang masih mengemban Pelangi berangsur menunduk menyelaraskan wajahnya dengan perut Keinya. Kemudian, sambil mengelus perut Keinya menggunakan sebelah tangannya, mengingat sebelah lagi menahan tubuh Pelangi, ia berkata menirukan suara anak kecil, “Oma ... please, deh ... jangan salahin Mama sama Papa, sedangkan Oma sama Opa sibuk bulan madu!”


Dan ulah Yuan sukses membuat semuanya tanpa terkecuali Angela berikut Kim Yeon Seok, menjadi tergelak.


“Mami sama Papi sudah, ... jangan keliling dunia terus. Banyak wabah penyakit berbahaya!” omel Yuan kemudian sambil menatap serius wajah orang tuanya. Sepasang paruh baya itu hanya tersipu dengan wajah yang semakin semringah ketika mereka kembali menatap perut Keinya.


“Pelangi, Opa kangen ... sini ikut Opa,” goda Kim Yeon Seok. Sayangnya, bocah itu tidak mau turun dari embanan ayahnya. Membuat yang di sana hanya menertawakannya.


“Ikut Oma ... Oma punya banyak hadiah,” usul Khtarin mencoba mencari keuntungan.


Anehnya, kali ini Pelangi langsung mau ikut, hingga Khatrin begitu girang, meski tak lama setelah itu, Pelangi menagih janjia Khatrin.


“Hahaha ... sejak kapan kamu jadi perhitungan gini? Ya ampun Kek ... lihat, Ngi-ngi minta hadiah.” Khatrin mengadu pada Philips setelah sukses membawa pergi targetnya dari Yuan.


“Ngi-ngi nginep di rumah Kakek, nanti Kakek hadiah yang banyaaak, banget, ya!” balas Philips meyakinkan.


Khatrin dan Philips bekerja sama merayu Pelangi dibantu oleh Daniel berikut Kainya.


“Kimo ... nama papa Yuan kan, Kim Yeon Seok, ... nah, nama Fahreza selaku marga mereka, ... dari mana?” tanya Rara penasaran. Sial, sepertinya ia tidak akan mendapatkan jawaban untuk pertanyaannya mengingat Kimo langsung menanggapinya sambil menyeringai jail.


Keinya menghela napas pelan dan perlahan menoleh pada Yuan. Di waktu yang sama, Yuan juga melakukan hal serupa dan membuat pandangan mereka bertemu. Keduanya sama-sama tersenyum tulus seiring Keinya yang berangsur mendekap kemudian menyemayamkan wajahnya di dada Yuan.


“Kebahagiaan terindah di dunia ini adalah kebersamaan yang dipenuhi kebahagiaan. Dan kita tidak mungkin bisa mendapatkannya tanpa sebuah ketulusan, bahkan sekalipun membelinya dengan harga fantastis!” batin Keinya. “Sekali lagi, ... kamu sukses membuatku menjadi wanita paling bahagia, Yu!” bisik Keinya.


“Oh, iya ...? Aku hanya pura-pura terkejut!” balas Yuan dengan santainya dan sukses membuat Keinya tergelak.


Semuanya, sibuk dengan kebahagiaan masing-masing, meski tak lama setelah itu, kebersamaan penuh kebahagiaan mereka beralih ke meja makan. Mereka menyantap hidangan yang sudah tersedia di sana. Tentunya, masih bagian dari kejutan.


Bersambung ....


Intan di mana? Ada yang penasaran? Kena korona diaa. Hahaha ... Author ketawa jahat.


Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa.


Salam sayang,


Rositi.

__ADS_1


__ADS_2