
“Sudah mau jadi bapak, tapi kelakuan masih bocah!”
Bab 83 : Dua Kehidipan di Dalam Perut Rara
Kiara memperlakukan Rara dengan sangat hati-hati. Selalu, jika bukan pergelangan tangan, lengan menantunya itu pasti akan Kiara tahan. Setiap gerak Rara selalu dalam pengawasan Kiara. Pun perihal perlengkapan kesehatan untuk pencegahan virus korona berikut wabah penyakit lainnya. Karena selain Rara dan Kiara yang kompak mengenakan masker, Kiara juga menyediakan tisu basah berikut bekal air minum yang Kiara simpan di tote bag hitam yang menghiasi pundak kanannya.
Sekitar pukul setengah sebelas, Kiara dan Rara akhirnya mendapat giliran pemeriksaan, setelah keduanya sempat menunggu sekitar sepuluh menit.
Sebelum beranjak dari bangku tunggu, Kiara memberikan bekal minum kepada Rara. “Ra, minum dulu,” ucapnya yang juga turut minum bekal minum miliknya.
“Iya, Ma. Makasih.” Rara menerimanya, meminumnya karena jika ia tidak langsung melakukannya, Kiara akan mengomel kemudian Kimo juga akan melakukan hal yang sama. Keduanya akan ceramah panjang lebar demi kebaikan Rara berikut janin yang sedang Rara kandung, meski sebenarnya, serangan rasa malas sudah mulai Rara rasakan untuk semua rutinitasnya selama hamil. Dari rutinitas memakan buah, juga susu hamil yang sudah membuat Rara kerap mual. Belum lagi jika ada vitamin atau suplemen yang harus Rara minum, sedangkan sebenarnya Rara sangat anti obat. Benar-benar rutinitas yang membuat Rara bosan.
“Gara-gara virus korona, rumah sakit pun jadi kayak kuburan begini, ya, Ra? Tapi baguslah. Kita enggak antre lama-lama.”
“Iya, Ma. Tapi kalau keadaannya kayak gini terus juga serem sih. Apalagi di Italia, Ma. Di sana parah banget. Tadi aku lihat beritanya, di sana benar-benar sepi. Enggak ada orang yang berkeliaran di luar rumah sama sekali! Gila saja virus korona benar-benar kebangetan!”
“Ya sudahlah. Semoga kita tetap aman, ya. Apalagi baby. Kalaupun harus ada yang sakit, biar Mama saja.”
“Kok Mama ngomong kayak gitu, sih? Jangan gitu dong Ma. Aku jadi nelangsa, tahu.”
“Iya, ... iya, Sayang. Maaf. Mama minta maaf. Ayo.”
“Oh, iya, Ma ... urusan kerja ke luar negeri perusahaan, bukannya lebih baik distop dulu? Papa besok pulang? Papa aman, kan?”
“Sejauh ini aman. Lagian, di luar negeri juga pengawalannya lebih ketat. Tapi setelah ini, bakalan stop dulu sih dinas ke luar negeri maupun ke luar kotanya.”
Setelah kembali menyimpan botol mineral ke dalam tote bag, Kiara segera bergegas dan kembali terjaga untuk Rara. Kini, sambil menggandeng sebelah lengan Rara untuk memasuki ruang USG, Kiara menggunakan sikunya untuk mendorong pintu agar jemarinya tidak langsung memegang gagang pintu.
“Selamat siang?”
Sapaan dokter langsung dibalas dengan senyum berikut jawaban hangat oleh Rara maupun Kiara. Keduanya bersiap menjalani pemeriksaan, karena meski Rara yang akan menjalani USG, Kiara juga selalu terjaga di sisi Rara.
Setelah diolesi semacam jel di bagian pangkal perutnya, ketegangan Rara semakin bertambah. Pemeriksaan sekarang bahkan jauh lebih membuatnya merasa tegang dari ketika harus membalas tatapan intens Kimo.
“Prediksi usia kandungan, bisa lebih tepat enggak, Dok? Soalnya mau ngadain acara syukuran empat bulan juga,” ucap Kiara.
Dokter mesem dengan fokus yang terus tertuju pada perut Rara kemudian layar monitor empat belas inc di sebelahnya. “Bentar ya ... ibu Rara tolong jangan tegang. Santai. Ayo, bawa sesantai mungkin. Mama juga tolong bantu, ya ....”
Rara yang memang semakin tegang, berangsur mengulurkan sebelah tangannya pada Kiara, dan langsung digenggam oleh Kiara. Keduanya saling menguatkan karena Kiara sendiri juga tidak kalah tegang. Mereka akan mengetahui keadaan janin dalam perut Rara yang mereka harapkan baik-baik saja terlebih di tengah suasana yang sedang terkena wabah virus korona.
“Wah ...?” ujar dokter kemudian terheran-heran. “Sebentar ... sebentar!”
Rara refleks menoleh dan menatap Kiara, menuangkan kecemasan sekaligus ketakutannya.
“Kenapa, Dok? Semuanya oke, kan? Baby dan mamanya, baik-baik saja, kan?” sergah Kiara. “Semuanya baik-baik saja, lah, Dok. Jangan bikin kami cemas!” keluhnya memohon.
“Iya, ... tapi sebentar ... sebentar ....”
“Ma ....” Rara mulai gundah. Sedangkan dokter sampai bolak-balik menggerakkan penditeksi selaku alat USG yang diraba-raba dan cukup ditekankan di perut Rara.
“Tenang, Ra ....” Kiara juga tak kalah gundah lantaran dokter begitu serius dan seolah tidak bisa diganggu. Namun tentu, ia sangat berharap semuanya baik-baik saja. Baik mengenai keadaan janin, juga Rara sendiri.
“Ibu sama Oma, coba lihat ke monitor ... ada dua kehidupan di perut ibu Rara, ya ... wah ... Puji Tuhan ... Puji Tuhan, ini! Selamat!” ucap dokter dengan begitu bersemangat.
Jantung Kiara dan Rara seolak melesak seiring desir hangat yang tiba-tiba menyelimuti hati mereka. Dengan rasa tak percaya yang bercampur dengan kebahagiaan yang meluap, keduanya terbengong-bengong menatap layar monitor. Benar, di sana ada dua kantong kehidupan. Ada dua janin yang bahkan membuat suasana di sana menjadi semakin ramai atas detak jantung keduanya yang saling berdentam-dentam sekaligus beradu.
Kiara dan Rara refleks menitikkan air mata. Bahkan keduanya menjadi berlinang air mata. Air mata bahagia seiring isak tangis yang berangsur menyertai puji syukur tiada henti baik yang terucap, berikut yang mereka panjatkan di dalam hati.
__ADS_1
“Ma ...,” rengek Rara.
Kiara langsung merengkuh, mendekap erat tubuh Rara. Tubuh menantu yang sempat ia sia-siakan, tolak, bahkan ia sakiti tiada henti. Padahal dari Rara juga, ia akan mendapatkan keturunan. Ya, satu-satunya sumber keturunan lantaran selama pernikahannya dengan Franki, ia hanya bisa melahirkan Kimo.
“Setelah melahirkan Kimo, ... rahimku terpaksa diangkat karena pendarahan hebat yang kualami akibat plasenta akreta. Dan semenjak itu juga, aku jadi tidak bisa memiliki anak lagi. ... meski kehadiran Kimi sempat mengobati luka hatiku yang mendambakan anak perempuan juga beberapa anak lain, untuk meramaikan sekaligus menghangatkan rumah, tetapi alangkah baiknya jika aku mendapatkan banyak keturunan dari keturunanku sendiri. Dan kini, akhirnya harapan itu akan terjadi. Tuhan mendengarkan semua doa-doaku,” batin Kiara.
“Kembar? Kimo ... akhirnya doamu terkabul!” batin Rara yang menjadi merasa sangat bahagia. Bahkan karena kenyataan tersebut, Rara menjadi sangat bersemangat. Rara akan memaksa dirinya untuk lebih banyak makan sekaligus mengonsumsi semua yang baik untuk tumbuh kembang anaknya yang ternyata kembar. Ada dua kehidupan di dalam perutnya dan ia harus semakin bersemangat. “Akhirnya ... setelah semua luka berikut perjuangan yang harus aku lakukan ... bahkan Kimo sampai amnesia sedangkan hubungan kami sudah berulang kali terancam. Tuhan, ... terima kasih. Terima kasih banyak untuk kado yang begitu indah ini!” Rara masih berbicara dalam hatinya. Meski sebenarnya, ia sudah ingin berlari kemudian memeluk erat Kimo untuk meluapkan kebahagiaannya. Terlepas dari itu, Rara juga ingin berteriak meluapkan puji syukurnya.
“Mama mau langsung telepon papa!” ucap Kiara bersemangat setelah pelukan mereka berakhir.
“Lho, kok papa, ... bukan Kimo?” ujar Rara bingung sambil menyeka air matanya.
“Iya. Papa pasti seneng banget mau punya cucu kembar! Nah, kamu langsung hubungi Kimo. Telepon dia!” balas Kiara masih sangat bersemangat. Ia buru-buru menyalami dokter kemudian berkata, “makasih banyak, ya, Dok!”
“Sama-sama, bu Kiara. Selamat, ya ... mau jadi omanya dari si kembar! Jaga ibu Rara dengan baik. Jangan sampai kepleset apalagi jatuh,” balas dokter yang turut bahagia atas kenyataan sekarang. Apalagi, sambutan Kiara dan Rara begitu antusias.
Kiara meraih ponselnya dari tote bag yang menghiasi pundak kanannya. Tak lupa, ia juga mengambilkan milik Rara dan menyerahkannya. Rara sendiri masih betah memandangi kedua anak kembarnya di monitor.
“Ya ampun, ... Kimo ...,” batin Rara dengan hati yang begitu berbunga-bunga kendati rasa nelangsa juga begitu betah menyertainya.
***
Di kantor, Kimo baru saja menutup rapat yang ia pimpin. Bahkan ia belum sempat duduk sedangkan senyum di wajahnya juga masih berlangsung. Namun, karena ponsel pribadinya yang ia simpan di saku sisi celana kanannya berdering, ia pun segera menunduk dan memastikannya. Dan ketika ia melihat kontak Istriku menjadi pemanggil telepon masuk di sana, Kimo tak bisa menepis harap-harap cemas yang seketika melanda. Bahkan tak lama setelah itu, rasa gugup juga turut menyertainya.
Kimo segera menjawab telepon masuk dari Rara. Ia menempelkan ponselnya ke telinga kanan sambil memunggungi kebersamaan yang berangsur bubar. “Sayang, bagaimana? Sehat, kan?” Kimo menyadari jantungnya berdentam begitu kencang sekaligus keras.
“Mmm ... Sayang,” balas Rara dari seberang dengan suara sengau.
“Sayang, kamu nangis? Semuanya oke, kan?” Kerut di wajah Kimo kian bertambah.
“Selamat, Kimo ... kamu akan jadi papa dari bayi kembar kita! ... akhirnya doamu terkabul!”
“Aku enggak salah dengar, kan?” batin Kimo yang buru-buru memungut ponselnya ketika ia menyadari tangan kanannya kosong sedangkan ponsel yang seharusnya ada di sana justru terkapar di lantai.
“Kak Kimo, baik-baik saja?” tanya Kimi yang duduk di kursi sebelah Kimo berdiri.
Kimo mengangguk dengan sisa rasa gugup yang masih begitu heboh mengacaukannya. “Sebentar, Kimi ... Ibu Negara telepon, katanya aku akan menjadi papa dari anak kembar kami! Tapi sebentar ... beritanya belum pasti takutnya aku salah dengar ....”
Kimo sengaja melangkah tergesa menuju sudut ruangan meghadap jendela. “Sayang ...? Tadi bagaimana? Aku enggak salah dengar, kan?” sergahnya.
“Iya ... aku kirim videonya, ya lewat WA. Tapi belum tahu jenis kelaminnya soalnya baby baru dua belaa minggu.”
“Kalau begitu, aku langsung pulang. Sisanya aku kerjain di rumah saja.”
“Serius?”
“Iya. Rapatnya sudah beres semua.”
“Ya sudah. Ini aku sama mama juga mau langsung pulang. Tapi ini papa minta video call. Kalau gitu, sudah dulu, ya. Papa mau ngobrol sama aku.”
“Oh, oke Sayang. Aku jugamau langsung siap-siap. Kamu ... maksudku, kalian hati-hati, ya.”
Kimi yang sampai berdiri dari duduknya juga menjadi sangat semringah. Kimi bahkan sampai berlari kemudian memeluk erat Kimo. “Selamat, Kakang Prabu ... akhirnya baby twins! Kalian pakai acara program, kok bisa kembar?”
“Duh ... serius, aku sampai deg-degan begini ... ah, program? Enggak, kami enggak ada program,” balas Kimo sambil melonggarkan dekapan Kimi sambil menahan kedua bahu adiknya itu. “Ya sudah ... aku mau langsung pulang. Nanti aku kirim via WA atau email.”
Kimi mengangguk bahagia melepas kepergian Kimo yang langsung membereskan berkas berikut laptop ke dalam tas kerja. Anehnya, meski terlihat begitu buru-buru Kimo masih sempat menelepon Yuan dan mengabarkan perihal janin kembarnya di dalam perut Rara.
__ADS_1
***
“Kimo, telingaku bisa tiba-tiba budeg bahkan strok kalau kamu terus teriak begitu!” omel Yuan sambil mengelus-elus telinganya sembari sesekali menjauhkan ponselnya dari telinga.
Di ruang kerjanya yang megah, Yuan sampai dilanda resah hanya karena kabar bahagia dari Kimo. Kimo mengabarkan anak yang ada di kandungan Rara kembar.
“Anakku kembar, Yu!” teriak Kimo dari seberang.
Yuan mengerutkan dahi sambil menjauhkan ponselnya dari telinga lantaran suara teriakan Kimo membuat telinganya sampai sakit. “Kamu sudah mengatakan itu lima kali!” omelnya. “Ya sudah nanti malam aku main ke rumahmu!”
“Bawa hadiah, lho! Kalau enggak bawa hadiah, aku enggak bakalan bukain pintu!” ancam Kimo dari seberang.
Yuan refleks menelan ludah. “Semoga anakmu enggak ikut-ikut kamu, ya. Takutnya kalau iya, juga jadi enggak tahu diri kayak bapaknya!”
“Hahaha ... syirik! Ya sudah, aku mau langsung balik. Bye!”
Cara Kimo yang tak hanya berteriak-teriak kegirangan dan bahkan sampai memutus sambungan tanpa menunggu balasan apalagi persetujuan dari Yuan, membuat Yuan yakin, sahabatnya itu sengaja pamer perihal calon anaknya yang kembar.
“Sudah mau jadi bapak, tapi kelakuan masih bocah!” cibirnya. Namun beberapa saat kemudian, Yuan memilih menghubungi Keinya untuk membahas hadiah yang harus mereka bawa, karena jika tidak membawa hadiah, Kimo bisa serius tidak membukakan pintu untuk mereka.
***
“Hahaha ....” Keinya tertawa lepas mendengar cerita Yuan yang mengeluhkan perihal persyaratan Kimo. “Kimo seperti itu karena dia sudah anggap kamu bukan orang lain, Yu ....”
“Tapi kalau kelakuannya begitu terus, rasanya pengin ngalengin dia biar jadi sarden sekalian!”
“Hahaha ... kamu ini, nyatanya enggak beda sama Kimo.”
“Enggak juga. Aku begini ya kalau cuma sama kamu. Kalau Kimo kan semua orang kena.” Yuan tetap tidak mau disamakan dengan Kimo.
“Sayang, Pelangi mau ngobrol,” ucap Keinya kemudian, sedangkan ponselnya sudah telanjur diambil alih oleh Pelangi.
“Pah ... Papah ....”
Keinya menikmati kedekatan Pelangi dan Yuan. Karena meski hanya melalui obrolan telepon, keduanya terlihat begitu dekat. Dan mengenai Yuan ... sepertinya sampai kapan pun akan menjadi papa yang begitu disayangi bahkan diidolakan oleh Pelangi. Bahkan sekalipun Athan sudah berusaha mendekati, Pelangi tetap menginginkan Yuan.
“Papa nanti Ngingi minta yogut. Mama abisin yogut Ngingi ....”
Pengakuan Pelangi sukses membuat Keinya kikuk. Mengenai yogurt, ... stok yogurt di rumahnya memang sudah ia tuntaskan. Karena dari semua makanan, yang paling enak ia makan memang hanya yogurt.
“Iya, Pa ... tolong belikan yogurt yang banyak ...!” teriak Keinya tak mau kalah dari belakang Pelangi.
Di kamar, Keinya terkikik ketika Pelangi mendengkus kesal meninggalkannya. Ternyata, Pelangi masih marah karena ia telah menghabiskan stok yogurt mereka.
“Baiklah. Mama salah. Mama minta maaf,” ucap Keinya kemudian. Ia sampai merangkak demi merayu Pelangi yang masih mengendalikan ponselnya sedangkan suara Yuan juga masih turut terdengar.
“Ya sudah. Papa kirim orang buat antar yogurt-nya, ya. Sudah, Ngingi, ... maafin mama, ya ....” Dari seberang, Yuan terdengar merayu Pelangi.
Bersambung ....
Duh, kalau sudah bahagia gini, Author enggak tega kalau mau ngelemparin konflik. Wkwkwk. Nanti akan ada Mia dan Intan. Kalian masih ingat Mia? Mia yang sempat kepincut Yuan pas lagi bulan madu. Dan Mia ini, anak dari ibu tiri Rara yang jahad.
Tetap ya, enggak akan ada pelakor. Di sini, semua pemain hanya dikeluarkan dan diperjelas biar enggak terkesan tempelan saja karakternya. Karena akhir bulan ini, novel ini tamat 😍
Oke, terus ikuti dan dukung ceritanya. Cerita “Menjadi Istri Tuanku” sudah mengalahkan pamor “Pernikahan Impia (Rahasia Jodoh)” bahkan sebentar lagi novel ini juga bisa keselip.
Salam sayang,
__ADS_1
Rositi.