
“Ternyata, hal paling menyakitkan di dunia ini adalah kehilangan. Kehilangan perhatian, kehilangan kebersamaan, juga kehilangan seseorang yang sangat kita cintai.”
Bab 31 : Masih Bingung
Kerisauan itu masih Pelangi rasakan. Semakin kuat. Pelangi terjaga dan tak hentinya mondar-mandir di depan tempat tidur. Sesekali gadis itu juga memastikan ponsel yang digenggamnya erat menggunakan tangan kanan.
Tidak ada pemberitahuan baru. Tidak ada kabar dari Kim Jinnan di sana. Hanya ada kabar dari Mofaro dan Rafaro yang menanyakan kabar Pelangi. Sedangkan dari Kim Jinnan yang biasanya selalu membuat ponsel Pelangi brisik, benar-benar sepi.
Seharusnya, Pelangi senang, kan, Kim Jinnan tak lagi mengganggunya? Bukankah itu juga yang Pelangi harapkan? Bukankah biasanya Pelangi hanya butuh Rafaro?
“Ternyata, hal paling menyakitkan di dunia ini adalah kehilangan. Kehilangan perhatian, kehilangan kebersamaan, juga kehilangan seseorang yang sangat kita cintai.”
“Dan aku merasakan itu hanya karena Jinnan tidak mengabariku.”
Pelangi memastikan waktu di ponselnya. Sudah pukul sepuluh malam, sedangkan selain belum menutup jendela kamar, ia juga belum mandi.
“Hebat, ya, Kim Jinnan ... bisa bikin Ngi-ngie lupa waktu?” lirih Yuan dari balik pintu kamar Pelangi.
Yuan mengulas senyum dan hanya sedikit membuka pintu kamar Pelangi. Pria itu membawakan nampan berisi pasta yang masih mengepulkan asap.
“Papa panasin ini buat kamu. Dean bilang, ini punya kamu, sedangkan yang satunya lagi punya Jinnan?” lanjut Yuan sembari melangkah mendekati Pelangi.
Pelangi melemparkan ponselnya ke kasur dan segera melangkah menyusul Yuan dengan wajah yang jauh lebih semringah.
“Makasih, Pa,” ucap Pelangi sambil mengambil alih nampannya.
“Kabur dari pekerjaan tanpa pamit, Papa potong gaji, ya?” ancam Yuan dan sengaja menggoda.
Pelangi mendadak tertawa dan menekap mulutnya. “Maaf Pa, tadi lupa padahal Jinnan sudah ngingetin juga,” ucapnya yang masih berusaha mengendalikan tawa.
Yuan mencubit gemas hidung Pelangi. “Kamu masih nunggu kabar Jinnan?” tanyanya cukup serius.
“Padahal, kabar sakitnya kakek Jungsu sampai masuk berita televisi, lho,” tambah Yuan.
“Masa sih, Pa?” tanya Pelangi tidak percaya.
“Cari di berita online saja. Pasti ada,” balaa Yuan meyakinkan.
Pelangi tertunduk sedih. “Berarti parah banget, ya, Pa?” tanyanya yang kembali menengadah demi menatap Yuan.
Yuan mengangguk dengan keseriusan yang semakin memenuhi wajahnya.
__ADS_1
“Kasihan ...,” gunam Pelangi yang kembali menunduk.
“Tapi siap enggak siap, kamu juga akan merasakan dampaknya, Ngie.”
Lanjutan ucapan Yuan membuat Pelangi bingung. Apa maksud Yuan berbicara seperti itu.
“Maksud Papa apa? Kenapa aku sampai merasakan dampaknya?” tanya Pelangi tanpa bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
Yuab mengangguk dan berangsur menuntun Pelangi duduk di dekat ponsel gadis itu. Begitu pun dengan Yuan yang segera duduk di sebelah Pelangi, sedangkan Pelangi memilih meletakkan napannya di kasur.
“Kakek Jungsu sangat ingin melihat Jinnan menikah dengan wanita yang tepat. Wanita yang bisa menuntun Jinnan sekaligus mengubah Jinnan. Tentunya, latar belakang wanita itu juga tetap dipertimbangkan,” ucap Yuan sembari menatap serius kedua manik mata Pelangi.
Apa yang terjadi kini, sukses membuat Pelangi menjadi merinding. Pelangi sadar, perihal pernikahan Kim Jinnan juga berhubungan dengannya.
“Masa iya, aku? Si Jinnan serius mau nikah sama aku?” keluh Pelangi sambil menatap sedih Yuan.
Yuan mengangguk kecil dua kali. “Iya.”
Pelangi refleks menelan ludah di tengah kenyataannya yang kembali merasa sangat resah. “Aku kan masih di bawah umur, Pa,” ujarnya.
“Tapi kalau tiba-tiba kakek Jungsu memintamu menikah dengan Kim Jinnan, bagaima?” lanjut Yuan. “Papa berbicara seperti ini, karena Papa yakin, kakek Jungsu pasti akan menanyakan itu kepadamu.”
Seketika itu juga, jantung Pelangi menjadi berdegup lebih kencang. “Yang benar saja, Pa?” keluhnya. “Seenggaknya, aku nikahnya maunya tujuh sampai sepuluh tahun lagi!” pinta Pelangi.
Pelangi buru-buru mengangguk. “Iya, Pa.”
“Sama Kim Jinnan?” lanjut Yuan.
Namun kali ini, Pelangi tak kuasa menjawab. Jangankan mengangguk atau bahkan menggeleng, Pelangi justru kebingungan.
“Terus sama siapa? Atau Papa tolak saja permintaan kakek Jungsu?” lanjut Yuan.
“Bisa, enggak, aku enggak ambil keputusan sekarang?” tawar Pelangi yang merasa kewalahan.
Yuan menggeleng sambil menyesalkan balasannya. “Enggak bisa, Sayang. Kamu harus kasih keputusan.”
“Kalau kamu memang enggak mau, lupakan saja Kim Jinnan. Kalian masih tetap bisa berteman, kan?” lanjut Yuan lagi.
Seharusnya, apa yang Yuan katakan memang benar. Melupakan Kim Jinnan seperti apa yang selama ini Pelangi minta kepada pria itu. Namun, kenapa Pelangi juga tidak rela melakukannya? Kenapa Pelangi tidak rela melepas Kim Jinnan?
“Hayo, bagaimana?” tanya Yuan lagi yang begitu sabar menghadapi Pelangi. Yuan sampai membelai kepala Pelangi dan sesekali mencium kening gadis itu.
__ADS_1
“Tapi aku enggak boleh egois. ... aku enggak boleh menghalangi langkah Jinnan jika memang ada wanita lain yang siap menikah dengannya,” batin Pelangi. Namun, baru memikirkan itu saja, dada Pelangi mendadak sakit dan sesak.
“Kamu bisa membicarakan ini dengan Jinnan,” lanjut Yuan sambil mengelus pundak Pelangi. Gadis itu menjadi menunduk loyo dan terlihat jelas tidak bisa menerima kenyataan.
Yuan berpikir jika Pelangi sudah mulai memiliki rasa lebih kepada Kim Jinnan. “Daripada jadi rebutan Mo dan Rafa terus? Hubungan kalian masih tetap baik, kan?” lanjutnya masih mencoba memberi solusi terbaik.
“Enggak, Pa ....” Pelangi masih menunduk.
Yuan mengernyit dan menatap tak mengerti Pelangi. “Enggak bagaimana?”
Pelangi memberanikan diri menatap Yuan. “Enggak karena aku enggak mau menghalangi langkah Jinnan. Aku enggak bisa nahan dia karena aku sendiri belum siap menikah.”
Yuan mengangguk-angguk dan masih menyimak.
“Jadi, enggak seharusnya juga aku nahan dia. Biar dia menikah dengan wanita yang lebih siap saja. Toh, Jinnan pasti juga ada pilihan lain.” Pelangi yakin dengan keyakinannya. Bahkan meski setelah itu, hatinya menjadi terasa sakit.
“Jadi, kamu masih masu berjuang untuk Rafa?” tanya Yuan yang kali ini sampai bersedekap.
Pelangi menjadi terkesiap ketika nama Rafaro disebut Yuan. Namun ia segera menggeleng. “Enggak juga, Pa ... beneran aku enggak sama siapa-siapa,” ucapnya meyakinkan.
“Terus kamu milih siapa?” lanjut Yuan lagi dan membuat Pelangi merasa semakin tersudut.
Sambil menggeleng dan menatap Yuan, Pelangi pun berkata, “aku enggak tahu, Pa ... aku bingung ... pokoknya aku bingung dan aku enggak bisa kasih jawaban.”
Seperti yang Pelangi katakan, Yuan juga melihat anak gadisnya itu kebingungan. Bahkan, Pelangi cenderung tertekan.
Yuan sadar, meski usia Pelangi sudah cukup untuk memikirkan cinta, tetapi selama ini, Pelangi terlalu sibuk menjaga perasaan orang lain. Pelangi terlalu sibuk menjaga perasaan Mo maupun Rafa, hingga Pelangi tidak bisa membedakan mana yang cinta, juga mana yang sekadar menjaga?
Di tengah kebingungan itu, Pelangi mendekap Yuan dan menyandarkan wajahnya di dada pria itu. Di mana semakin, ketenangan mulai Pelangi dapatkan. Seperti biasa, Yuan memang selalu bisa membuatnya tenang meski mereka hanya terjebak dalam kebersamaan yang membuat mereka sama-sama diam.
“Bisa enggak, semuanya berjalan dengan semestinya? Aku ingin begitu. Aku ingin seperti Papa dan mama. Tidak harus terburu-buru seperti ini, sedangkan aku saja enggak tahu dengan perasaanku?” keluh Pelangi.
“Benar-benar belum ada yang spesial, Pa. Aku enggak mau buru-buru nikah.” Pelangi benar-benar masih dengan keputusannya. Karena hingga detik ini, Pelangi belum mengerti perihal perasaan berikut cintanya akan berlabuh pada siapa? Apakah benar-benar Kim Jinnan? Rafaro? Mo? Atau justru orang lain yang bahkan belum Pelangi kenal?
“Papa selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Sayang,” ucap Yuan sambil membalas dekapan Pelangi.
“Iya, Pa. Makasih banyak. Aku tahu. Aku tahu kalau Papa selalu mengupayakan yang terbaik untukku dan keluarga kita! Aku sayang Papa! Sayang banget!” ucap Pelangi yang sampai berlinang air mata.
Yuan sangat berharap Pelangi mendapatkan laki-laki yang tepat. Laki-laki yang bertanggung jawab dan bisa membahagiakan Pelangi. Semoga, secepatnya harapannya terjadi!
Bersambung ....
__ADS_1
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa. Kita bertemu di bab selanjutnya. Bulan depan 🤣🤣🤣🤣🤣