Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 99 : Kasus yang Harus Diselesaikan


__ADS_3

“Apa hubungan Kim Jinnan dengan Pelangi? Serius, Kim Jinnan ini suami Pelangi?”


Bab 99 : Kasus yang Harus Diselesaikan


“Kehamilan Ngi-ngie, membuatku bersemangat!” ujar Kishi sembari menatap Dean.


Kishi terus tersenyum lepas semenjak awal pertemuan mereka, di depan gerbang sekolah. Namun kali ini, pengakuan gadis di sebelahnya, sukses membuat Dean ingin tahu lebih lanjut mengenai maksudnya.


“Bersemangat buat nikah muda juga, begitu?” tanya Dean yang benar-benar penasaran.


Sambil terus melangkah, Kishi justru tertawa lepas dan buru-buru menggunakan sebelah tangannya untuk menekap mulut, sebelum akhirnya ia menatap kekasihnya. “Seenggaknya, tunggu sampai usiaku dua puluh tiga atau dua puluh lima tahun. Biarkan aku menyelesaikan pendidikanku, menjadi wanita sukses yang bisa dibanggakan khususnya untuk keluarga dan juga kamu.”


“Memangnya dari awal kamu enggak tahu, kalau aku sudah lama bangga sama kamu? Gini-gini, aku juga fans berat kamu, lho!” balas Dean dengan entengnya sambil membenarkan posisi kaitan tas di pundak kanannya.


“Hahaha ... apa sih, Dean? Kok akhir-akhir ini, kamu jadi sering ngegombal?” tepis Kishi.


“Kalau aku diem terus, kamu mikirnya aku enggak perhatian? Nanti kamu curhat sama Zean, dan kabar kita jadi viral!” balas Dean dengan entengnya, apalagi sejauh ini, Kishi memang terbilang dekat dengan Zean. Keduanya sering bersekongkol mengerjakan misi rahasia.


“Hahaha ... jangan macam-macam lho, kamu sama Zean!" balas Kishi yang justru mengancam Dean.


“Aku cemburu, lho, kalau ada yang lebih penting dari aku, bahkan meskinitu Zean.” Dean sengaja meraih dan menggandeng sebelah tangan kekasihnya.


“Hahaha ... aku suka kalau kamu cemburu!” Kishi menggeleng geli di antara kebahagiaan yang sampai membuatnya lelah tersenyum.


“Hati-hati saja, karena aku sangat pencemburu!” tegas Dean.


“Oh, iya, De ... si Elia lagi sakit.” Kishi menatap serius Dean di mana mereka mulai memasuki kelas.


“Sakit lagi?” ujar Dean memastikan.


Kishi segera mengangguk dan terus melangkah sambil terus memperhatikan langkahnya mengingat beberapa murid di kelas juga masih lalu-lalang dan menghalangi langkah mereka. “Iya. Dari kemarin masih diinfus.”


“Kangen Rafaro, berarti!” tebak Dean yakin.


Kishi kembali tertawa. “Kamu kan tahu, Kishi ada masalah dengan pencernaannya. Malah kangen Rafaro? Apa hubungannya?”


“Tentu berhubungan dong. Segala sesuatu itu bersumber dari diri kita, termasuk mengenai hal-hal yang serius. Contohnya, terlalu mikir ini itu, jadi setres dan tertekan. Ya otomatis langsung menyerang ke kesahatan dan biasanya ke pencernaan dulu.” Dean meyakinkan Kishi.


“Iya, deh. Tapi nanti, sepulang sekolah, aku mau jenguk dia.” Kishi segera mengeluarkan tisu basah dari tasnya.

__ADS_1


“Ya sudah, nanti kita bareng.” Dean mengambil beberapa helai tisu basah untuk mengelap meja dan tempat duduk miliknya, agar Kishi juga bisa leluasa ketika mendekatinya.


***


Di kamarnya, Elia masih tidur meringkuk dengan rasa lemas yang membuat gadis itu tak berdaya. Kainya yang memasuki kamar Elia dengan hati-hati sampai tidak tega melihatnya.


“Sayang, ayo makan buburmu. Nanti baru tidur lagi,” ujar Kainya yang kemudian duduk di sebelah dada Elia.


“Memangnya sudah ada setengah jam, Mah?” lirih Elia sesaat setelah sampai mengulet.


“Sudah, bahkan lebih.” Karena setengah jam sekali, kalau bukan bubur nasi dan sayuran yang diproses hingga sangat lembut, Elia akan meminum jus pir atau sup hangat, agar gadis itu lekas sehat.


Kainya yang menjelma menjadi perawat untuk Elia, juga tak hanya mengurus mengenai makanan berikut jus yang harus Elia konsumsi. Sebab, mengenai infus berikut obat, sudah Kainya hafal. Kainya memang sudah belajar pada suaminya mengenai dasar-dasar penanganan medis, dan akan langsung Kainya terapkan ketika keluarganya sakit layaknya sekarang.


Setelah dibantu duduk oleh Kainya yang kini sibuk menyuapinya, fokus Elia tertuju pada ponsel yang ada di nakas di hadapannya. Ia berangsur meraih ponsel tersebut dengan hati-hati.


“Kenapa?” tanya Kainya sambil terus mendulangi Elia.


“Rafa bilang, dia mau telepon,” balas Elia masih sibuk sendiri sambil sesekali mengunyah.


“Kalian ini. Ayo, aa, lagi.”


Kainya menertawakan balasan Elia.


“Mamah juga gitu, kan? Meski Mamah sudah nikah sama papah bahkan punya anak, Mamah enggak pede kalau papah lihat Mama dalam tampilan kacau?” tahan Elia.


Meski masih tertawa, tapi Kainya membenarkan anggapan Elia yang terlihat jelas sangat bersemangat ingin sembuh.


“Aku beneran bosan sama tifus, Mah.”


“Itu kapsul cacing dari Mo, enggak kamu minum?”


“Takut ada jampi-jampinya, Mah! Hahaha ....”


“Ya ampun, kamu ini!”


***


Di kampus, kehadiran Kim Jinnan yang sengaja menjemput Pelangi, sukses membuat mata-mata di sana langsung menjadikan keduanya sebagai pusat perhatian. Tentu tak lain karena mereka memang mengenali Kim Jinnan, khususnya kaum hawa. Akan tetapi, Arkan juga langsung mengenali sosok Kim Jinnan yang kedatangannya dikawal pak Jo dan seorang ajudan.

__ADS_1


Tentu Pelangi yang baru keluar dan awalnya tidak bersemangat, dengan sebuah masker yang menyita sebagian wajahnya khususnya hidung, menjadi sangat bersemangat. Sampai-sampai, ketika Pelangi langsung bergegas menghampiri Kim Jinnan, wanita muda itu tidak tahu, jika di belakangnya, Arkan yang awalnya masih berusaha meyakinkannya, justru menatap kesal Kim Jinnan.


“Kok kamu ke sini?” ujar Pelangi lantaran hari ini saja, ia masih dikawal oleh seorang ajudan layaknya biasa.


“Ya apa salahnya? Aku mau lihat kamu. Mastiin kamu baik-baik saja.” Kim Jinnan sibuk membelai kepala Pelangi yang berdiri di hadapannya.


“Jadi, kamu bakalan balik kerja?” tanya Pelangi.


Kim Jinnan yang berangsur menyudahi kesibukannya dalam membelai kepala Pelangi, berangsur mengangguk. “Iya. Kamu pulang, istirahat, yah.”


“Apa hubungan Kim Jinnan dengan Pelangi? Serius, Kim Jinnan ini suami Pelangi?” pikir Arkan yang masih mengamati kebersamaan Pelangi dan Kim Jinnan, daru balik pintu kelasnya.


“Aku mau ikut kamu.” Pelangi merajuk manja dan sampai menyandarkan kepala berikut tubuhnya pada Kim Jinnan.


Kenyataan tersebut membuat pak Jo mendadak menahan senyum, terlepas dari Kim Jinnan sendiri yang sudah melakukannya lebih dulu.


“Zean saja kamu ajak. Kenapa aku enggak?” tuntut Pelangi yang sampai menengadah dan menatap kesal suaminya.


“Kemarin itu kan aku hanya cek lapangan bentar, Ngie.”


“Enggak! Pokoknya aku ikut!”


Lantaran Pelangi semakin bersihkeras, Kim Jinnan pun menyerah. “Iya ... iya. Kamu ikut.”


Kim Jinnan segera merangkul Pelangi dan membawanya dalam kepergiannya.


“Jinnan, aku lapar.”


“Ya sudah, kita sekalian cari makan.”


Melepas kepergian Pelangi dan Kim Jinnan, membuat Arkan yakin, Kim Jinnan memang suami Pelangi. “Pantas Pelangi sama sekali enggak mau berpaling. Sampai sekarang saja, Irene masih belum bisa move on dari Kim Jinnan. Belum lagi, ... Kim Jinnan begitu menyayangi Pelangi? Kok bisa, ya? Biasanya para wanita yang tunduk ke Kim Jinnan. Ini, kok, ... justru Kim Jinnan yang kelihatan takut banget sama Pelangi?” pikir Arkan.


Arkan sampai keluar dari persembunyiannya demi menatap lebih rinci apa yang Kim Jinnan lakukan untuk Pelangi. Kini, setelah sampai merangkul tubuh Pelangi dan menyimpannya dalam dekapan, di tengah keduanya yang terus berjalan diikuti pengawal mereka, baik Kim Jinnan maupun Pelangi, menjadi sibuk mengelus-elus perut Pelangi. Pastinya, kebersamaan mereka tak luput dari perhatian, apalagi sosok Kim Jinnan sendiri sudah menjadi ikon pengusaha muda berwajah tampan yang memiliki banyak penggemar.


“Ya sudahlah. Aku langsung cabut ke sekolah Elena biar dia enggak kegatelan ganggu hubungan Atala sama Irene!” pikir Arkan yang melangkah mengikuti kepergian rombongan Kim Jinnan dan Pelangi.


Sambil terus melangkah, Arkan juga terus berpikir keras. Mengenai hubunga Irene dengan Atala. Perihal Irenr yang justru membebaskan Atala, padahal jelas-jelas, Atala merupakan ayah dari anak yang Irene kandung.


“Lagian si Atala enggak mikir banget. Kayak enggak ounya otak saja! Irene lagi hamil, masih saja ganjen sama cewek lain! Si Elena juga mikir. Sama-sama wanita dan bisa hamil, tega-teganya dia bikin Irene tambah susah!” Arkan terus merajuk dalam hati. Bahkan, Arkan yang sudah telanjur kesal sangat ingin membuat Atala dan Elena malu, agar keduanya menyesal telah menyakiti Irene.

__ADS_1


Arkan yakin, semua yang sudah ia rencanakan, akan segera ia selesaikan tanpa membuatnya menghabiskan banyak waktu.


__ADS_2