
“Jika kamu memang tidak bisa menghargai hubungan orang lain, setidaknya kamu harus menghargai hubunganmu dengan orang yang kamu cintai.”
Bab 63 : Bertemu Keinya
****
“Menurutmu, apa yang bisa membuat Kainya melupakan Yuan?” tanya Rara sambil menikmati kripik kentang di sela obrolan teleponnya dengan Kimo. “Sepertinya Kainya kebanyakan makan boraks, makanya cintanya ke Yuan jadi awet banget.” Rara duduk di kursi kerja di dalam kamarnya yang menghadap jendela. Sesekali, ia menaikkan kedua kakinya ke kursi kemudian menekuknya. Selain itu, ia juga akan bersandar santai sambil menatap langit-langit kamar.
“Jodohkan saja dengan mantan suami Keinya, agar mantan suami Keinya enggak jadi duri hubungan kita!” balas Kimo menggebu-gebu dari seberang sana.
Rara terkikik. “Si Athan sudah berubah, tahu ....”
“Berubah jadi Ninja Hatori pembela kebenaran dan keadilan? Itu sih tipu daya dia, biar kamu simpati!” cibir Kimo.
“Hahaha ... tapi kemarin aku minta dia buat cari si Tiara.”
“Terus, dia mau dan menyerahkan diri ke kamu, begitu?”
“Heum. Dia bilang mau cari Tiara dan memperjelas hubungan mereka.”
“Wah ... hubungan kalian ternyata dekat banget, ya? Athan sampai tunduk begitu? Ya ... ya ....”
“Iih, apaan sih? Jago banget kalau nyindir. Oh, iya. Aku harus siap-siap.”
“Memangnya mau ngapain?”
“Mau menemani Keinya membeli keperluan sekalian main sama Pelangi.”
Kimo tak langsung merespons. “Nanti malam kita menonton, ya? Bioskop di bawah apartemen situ saja biar dekat. Kamu yang pilih mau menonton apa, nanti aku minta orangku buat beli tiketnya,” sergah Kimo.
Rara tak langsung menjawab. “Tiga hari ke depan Yuan pergi, kan? Memangnya kamu enggak mau ke sini, kita mengobrol bareng, nanti aku sekalian belajar masak buat kamu?” Rara mengingatkan. Ia yakin Kimo lupa hingga kekasihnya itu mengajaknya menonton.
“Ya ampun, Sayang ... begini ….”
“Tunggu-tunggu. Kamu memanggil “Sayang”, tapi kayak mau menerkam aku hidup-hidup gitu ...?” protes Rara.
Dari seberang terdengar Kimo yang mendengkus kemudian mendesah. “Ya ampun, Flora ... begini. Berhubung besok Yuan akan pergi, jadi kita harus kasih mereka waktu buat quality time. Itu kenapa aku mengajak kamu ke bioskop!”
“Dasar pria mesum!” cibir Rara yang kehilangan ekspresi. Semangat hidupnya juga seolah berkurang dikarenakan ucapan Kimo justru membuatnya teringat kejadian ketika pria itu mengantarnya ke apartemen Keinya, setelah sempat menginap di apartemen Kimo, tepatnya setelah mereka bertemu Gio dan Piera.
Ketika di lift menuju apartemen Keinya dan hanya berisi mereka berdua, tiba-tiba saja terjadi kejadian di luar dugaan Rara. Awalnya, sebelah tangan Kimo yang tidak menenteng tas Rara hanya mengelus-elus kepala Rara. Namun tak lama kemudian sementara lift masih meluncur ke lantai tujuan mereka yaitu lantai 20, sebelah tangan Kimo justru mengunci pinggang Rara disusul pria itu yang mengendus leher Rara bahkan meninggalkan tanda cinta di sana. Dan karena itu juga, Rara yang sangat terkejut menjadi marah besar kepada Kimo, mengecap kekasihnya itu sebagai pria mesum.
“Kok mesum, sih?”
“Memang kamu mesum. Nanti malam aku enggak mau menonton bioskop. Aku mau maraton menonton drama Korea saja!”
“Ya sudah aku ikut menonton drama Korea. Menonton drama Korea juga nggak apa-apa asal sama kamu.”
“Tapi lihat nanti saja.” Rara mendadak berubah pikiran.
“T-tunggu, jangan ditutup dulu. Jangan lihat nanti juga. Sebentar lagi aku bakalan rapat sampai sore dan enggak pegang ponsel. Memangnya kamu enggak kangen aku?”
__ADS_1
Kimo begitu mengharapkan kebersamaan. Sedangkan jika Kimo sering ke apartemen Keinya, Yura pasti akan semakin terluka. Rara tidak mau jika itu sampai terjadi terlebih sampai sekarang, hubungannya dan Yura jauh dari kata baik. Jangankan mengobrol atau sekadar saling sapa, menatap saja Yura sering menepisnya.
“Ya sudah, kalau begitu kita menonton Frozen 2 saja.” Rara mengambil keputusan demi menjaga perasaan Yura.
“Frozen, 2? Baiklah. Aku akan memesan tiketnya. Kamu mau disiapkan makanan atau camilan apa? Sekalian minumnya biar nanti langsung masuk bioskop.” Kimo langsung menyanggupi.
Rara tersenyum geli. Ia yakin sebenarnya Kimo kurang setuju jika mereka menonton Frozen 2.
Kalau dipikir-pikir, Rara merasa sudah keterlaluan karena selalu membuat Kimo mengalah dalam setiap perdebatan berikut perbedaan mereka.
****
“Itu Pelangi, Mi!” lirih Kainya sambil menunjuk Pelangi yang tengah digendong Rara.
Kainya terpaksa membawa Khatrin menemui Keinya demi melancarkan rencananya. Dari kemarin, semenjak Kainya cerita Keinya masih hidup, baik Khatrin maupun Philips langsung bersikeras meminta bertemu Keinya. Bahkan meski Kainya mengatakan bertemu dengan Keinya bukan perkara mudah lantaran nyawa Keinya dan Pelangi menjadi taruhannya.
Di saat Kainya merasa kebingungan bagaimana caranya membuat Khatrin bisa mengamati Keinya dari kejauhan, tanpa membuat Khatrin tahu tempat tinggal Keinya berikut cerita bohong yang kembali Kainya katakan, Keinya justru sedang membeli keperluan di mal yang masih satu atap dengan apartemen Fahreza Grup. Apartemen yang menjadi tempat tinggal Keinya dan bersebelahan dengan apartemen Yuan. Karenanya, Kainya merasa malaikat kebahagiaan selalu menyertainya dan itu menandakan apa yang Kainya lakukan juga bukan sebuah kesalahan.
Khatrin tersenyum sambil berlinang air mata. Pandangannya begitu fokus mengamati Pelangi yang sedang ditimang-timang oleh Rara. “Pelangi mirip banget sama masa kecil kalian, bedanya mata Pelangi sipit. Cantiknya ... lucu banget. Kulitnya putih banget kayak Keinya!”
“Kainya terdiam. Mami mulai banding-bandingin, deh!” batinnya.
Bagaimanapun, warna kulit Kainya dan Keinya memang cukup berbeda jika diamati lebih teliti. Karena dari kecil, kulit Keinya memang lebih putih dari kulit Kainya yang lebih jatuh ke kuning langsat.
“Sabar, Kai. Warna kulit bisa diubah, seperti cinta Yuan yang bisa diubah ke kamu!” batin Kainya menyemangati dirinya sendiri.
“Nah, itu Keinya!” ujar Kainya sambil menunjuk ke arah Keinya.
“Cantiknya!” lirih Khatrin terucap begitu saja.
Hati Kainya berdesir mendengarnya. Rasa perih memilin di sana.
Dirasa Kainya, Khatrin begitu memperhatikan Keinya dan Pelangi, padahal Khatrin baru melihat ke duanya dari kejauhan. Di mana tiba-tiba saja, rasa iri langsung menguasai Kainya dan Kainya takut, ia akan tersingkir jika Pelangi dan Keinya benar-benar kembali ke sisi Khatrin.
“Kok Keinya sama Pelangi kelihatan bahagia banget, ya, Kai? Kamu bilang, mereka hidup tertekan?” Khatrin terheran-heran. “Keinya juga kelihatan merawat diri. Pakaiannya kembaran sama Pelangi. Lucu. Mereka juga pakai pakaian mahal, loh, Kai. Lihat. Yang dipakai Keinya dan Pelangi itu yang ada di majalah fashion terbitan terbaru!”
Mendengar itu, Kainya semakin kesal dan refleks terpejam pasrah. “Yuan memang mengubah hidup Keinya menjadi Ratu!” batinnya yang kemudian berdeham. “Bagus, ya, Mi? Berarti aku berhasil membahagiakan Keinya dan Pelangi, dong?” ucapnya sambil tersenyum dan berusaha sesantai mungkin.
“Wah? Jadi kamu yang bikin mereka begitu?” Khatrin berbunga-bunga sambil menatap Kainya tak percaya. “Kamu memang yang terbaik!” lanjutnya sambil menahan ke dua lengan Kainya.
“Aku memang yang terbaik!” batin Kainya yang menjadi tersipu sambil menyelinapkan anak rambutnya ke belakang telinga. Seperti biasa, rambut panjang bergaya blow dry-nya ia gerai dan membuatnya terlihat begitu menawan. Berbeda dengan Keinya yang sering mengikat rambut lurus berwarna hitamnya dan selalu tampil sederhana layaknya sekarang.
“Kai, Mami mau ke Keinya. Mami mau gendong Pelangi,” rengek Khatrin.
“Enggak, Mi. Tahan. Sabar sebentar lagi. Lusa pasti kita bisa boyong mereka ke rumah.” Kainya mengatakan itu dengan hati yang berdebar-debar. Kainya takut, Khatrin nekat menemui Keinya dan membuat rencananya berantakan.
Paling tidak, Kainya harus memastikan Yuan tidak menghalangi rencananya. Selebihnya mengenai apa yang akan Keinya lakukan bahkan sekalipun nantinya Keinya menyangkal semua cerita bohong Kainya, Kainya tidak peduli karena Kainya yakin, dirinya bisa mengalahkan Keinya yang ia yakini juga tak segan mengalah kepadanya.
Kainya pura-pura memastikan waktu melalui arloji di pergelangan tangan kirinya. “Oh, iya, Mi. Sudah waktunya. Sebentar lagi aku harus kontrol kaki, Mi.”
“Yah ... sudah waktunya, ya? Cepat banget, ya? Padahal Mami masih kangen Pelangi. Mami juga ingin meluk Keinya anak Mami. Keinya yang malang.” Khatrin kembali bersedih dan sampai menitikkan air mata. “Hidup ini kejam banget. Meski apa yang kita rindukan sudah ada di depan mata, karena suatu hal, kita harus menahannya.”
__ADS_1
“Itulah yang aku rasakan kepada Yuan, Mi. Bahkan aku lebih sakit dari sakit yang Mami keluhkan!” batin Kainya.
“Semoga orang-orang jahat yang mempersulit hidup orang lain seperti mantan suami Keinya, bisa secepatnya mendapatkan balasan azab!”
Lanjutan Khatrin membuat Kainya bergidik. “Tapi aku enggak termasuk. Aku begini karena Keinya yang memulainya!” batin Kainya.
“Sabar, Mi. Lusa kita pasti bisa kumpul bareng mereka.” Kainya terpaksa merangkul dan membawa paksa Khatrin meninggalkan Pelangi dan Keinya.
“Kei, aku ke wahana permainan, ya!” sergah Rara tak lama setelah Kainya membawa pergi Khatrin.
Keinya yang tengah memilih bayam merah, segera balik badan. Ia menatap Rara sambil tersenyum kemudian mengangguk. “Nanti aku menyusul, setelah mengantar belanjaan ke apartemen.”
“Oke!” Rara segera berlalu meninggalkan Keinya.
****
Hari ini, Ben sengaja mendatangi apartemen Fahreza Grup tempatnya bertemu Keinya. Dengan keyakinan dirinya akan kembali bertemu Keinya, Ben yang awalnya nyaris memasuki lift untuk menuju lift di apartemen ia bertemu Keinya, tidak sengaja mendapati Keinya di area mal yang memajang sayuran. Kenyataan tersebut langsung membuat Ben buru-buru menghampiri Keinya.
Dengan penuh semangat, akhirnya Ben yang tak hentinya tersenyum berhasil berdiri di sebelah Keinya. Wanita itu mengisi ranjang belanjaan dengan banyak sayuran berikut keperluan dapur lainnya seperti minyak, daging, termasuk bumbu rempah.
“Hai?” sapa Ben sesaat setelah menghela napas dalam.
Keinya yang mengambil brokoli refleks menoleh. Bukan karena ia mendengar suara seseorang menyapa tepat di sebelahnya, melainkan karena suara tersebut membuatnya teringat pada Ben yang sempat mengelabuhinya di lift. Benar saja, ketika memastikan, Keinya mendapati wajah semringah Ben yang langsung menyambutnya. Bahkan pria berberewok tipis tersebut sampai mendorongkan ranjang belanjaannya.
“Kamu rajin banget, ya, sampai belanja keperluan sendiri? Kamu, suka masak juga?” Ben sangat menyukai cara Keinya mengabaikannya. Baginya, itu menandakan wanita yang tengah ia dekati itu bukan wanita gampangan.
Keinya menghela napas pelan sambil memasukkan beberapa lemon yang ia pilih dan dikantongi, ke ranjang belanjaan yang diambil alih Ben. “Aku hanya menyukai suamiku, tidak ada yang lain.”
Keinya begitu santai. Ia mengulas senyum kemudian memamerkan cincin pengikat dari Yuan yang menghiasi jari manis tangan kanannya.
Untuk beberapa detik, Ben tak berekspresi. Ia cukup terkejut dengan apa yang Keinya maksud. Bukan mengenai status berikut cincin berlian yang ia yakini sangat mahal, tetapi ia seolah merasakan kebenaran dari apa yang Keinya pamerkan. Wanita di hadapannya benar-benar sudah menikah?
“Kalau aku mau, aku juga bisa memasang banyak cincin di jariku dan mengaku aku sudah menikah,” ucap Ben tak mau menyerah.
Keinya menatap Ben tegas. “Suamiku pencemburu,” ucapnya mengingatkan.
“Bahkan kalaupun kamu bilang suamimu anggota mafia atau malah Firaun yang terkenal sangat kejam sekalipun, aku tetap enggak takut,” balas Ben santai sambil menatap Keinya penuh senyum. Senyum tulus ketika seseorang jatuh cinta dan benar-benar hanya mengandung banyak kebahagiaan.
“Ketika sedang cemburu, suamiku lebih menyeramkan dari siapa pun termasuk mafia atau pun Firaun.” Keinya berusaha merebut ranjang belanjaannya.
Ben menahannya, bahkan sengaja mendekatkan wajahnya pada wajah Keinya yang ada di hadapannya, hingga Keinya buru-buru mundur.
“Kalau begitu, panggil suamimu untuk menemuiku sekarang!” tegas Ben yang memang tidak percaya.
Keinya mulai kesal. “Suamiku sedang bekerja. Tapi bila kamu memaksa, aku akan mengaturkan waktu agar suamiku bisa menemuimu.”
Tak lama setelah menatap marah Ben, ke dua ajudan Keinya datang dan mengambil alih ranjang belanjaan milik Keinya.
“Tolong, jangan menggangguku lagi. Jika kamu memang tidak bisa menghargai hubungan orang lain, setidaknya kamu harus menghargai hubunganmu dengan orang yang kamu cintai.” Setelah mengatakan itu sambil menatap Ben tajam, Keinya melangkah meninggalkan kebersamaan disusul oleh ke dua ajudannya meninggalkan Ben begitu saja.
“Benarkah dia sudah menikah? Apakah ini yang membuat Tuan Philips belum memberi kepastian lamaranku?” gumam Ben mulai merasakan sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
****