
*****
“Perang akan segera dimulai, Yu. Aku akan membuat Keinya meninggalkanmu. Aku akan membuat Mami dan Papi mengambil Keinya dari kamu!”
Bab 61 : Rencana Awal
****
Yura tengah duduk sambil menyelonjorkan kaki di sofa ruang bersantai. Ia tengah larut membaca buku, tetapi dering ponsel Yuan yang terus terulang begitu mengganggunya. Saking kesalnya, Yura menutup paksa bukunya, kemudian menatap kesal ponsel Yuan yang ada di meja hadapannya.
“Cukup Kimo yang bikin aku kesal. Yang lain nggak usah bikin gara-gara!” batin Yura sambil mengatur napas.
Yura menghela napas pelan cukup lama sambil terus menatap ponsel Yuan. Di layar ponsel Yuan, nomor yang menelepon merupakan nomor baru tak berkontak. Namun karena sampai berulang lebih dari lima kali semenjak Yura menutup buku, Yura terpaksa menjawab telepon tersebut.
“Hallo?!” bentak Yura tanpa bisa mengontrol emosinya.
“H-hai ...? Ini aku,” balas dari seberang. Suara seorang pria yang terdengar gugup.
Yura mengerutkan dahi. “Siapa!”
Pria di seberang tidak langsung membalas, membuat kekesalan Yura semakin bertambah.
“Ini aku, Ben. Yang di lift.”
“Sejujurnya, dari awal aku melihatmu, aku langsung jatuh cinta kepadamu. Aku benar-benar jujur! Jadi, yang terjadi di lift itu hanya pura-pura agar aku bisa mendapatkan nomor ponselmu.”
Tiba-tiba saja Yura merinding. Suara pria di seberang terdengar begitu lembut dalam artian dipenuhi perhatian. Kenyataan tersebut tentu tidak seharusnya terjadi lantaran ponsel yang tengah Yura gunakan, merupakan ponsel Yuan. Pertanyaannya, apa hubungan pria di seberang dengan Yuan? Apakah ada hubungan terlarang di antara ke duanya, atau pria di seberang yang memang mencintai Yuan?
Tanpa pikir panjang, atas rasa takutnya jika pria di seberang bermaksud buruk bahkan parahnya mencintai Yuan, Yura buru-buru mengakhiri sambungan telepon. Dan demi menjauhkan pria tersebut dari Yuan, Yura juga sampai memblokir nomor tersebut.
Yura mendengkus kemudian mendesah, merasa ngeri sekaligus tak habis pikir. Ia meletakan ponsel Yuan di meja, kemudian berjalan mondar-mandir di depan meja.
“Dunia ini sungguh mengerikan. Yuan Oppa ditaksir pria? Sulit dipercaya!” Yura merasa kecolongan. Mengenai kasus ini, ia merasa memiliki andil menyelesaikannya. Andai, ia tidak hanya menghabiskan waktunya untuk memikirkan Kimo yang jelas-jelas selalu menolaknya. Andai, ia memiliki waktu untuk mengurus keluarganya termasuk Yuan yang harus menghadapi keluarga Kainya, sedangkan Yura juga tahu, Yuan sangat mencintai Keinya.
Dengan masa lalu yang membuat hubungan Yuan dan orang tua Keinya buruk, sedangkan Kainya juga sulit dikendalikan dan selalu berusaha memisahkan Yuan dari Keinya, seharusnya sebagai adik, Yura membantu Yuan untuk keluar dari zona tidak nyaman itu. Bukan malah sibuk dengan cinta yang jelas tidak mengharapkannya.
Yura menggigit kuat bibir bawahnya. “Kak Kei enggak boleh tahu tentang ini. Tapi, Oppa, ... Oppa masih normal, kan? Takutnya, karena Oppa terlalu lelah menghadapi Kainya, Oppa jadi ‘ganti haluan’.” Yura menunduk sedih. Merasa sangat bersalah jika dugaannya, Yuan menjadi tidak tertarik pada wanita saking frustrasinya menghadapi Kainya, benar adanya. “Kainya benar-benar keterlaluan. Aku harus memberinya pelajaran!”
Ketika Yura baru saja akan berlalu sambil menenteng buku bacaannya, seseorang terdengar menekan tombol kunci pintu apartemen dari luar.
“Itu pasti Oppa!” Yura bergegas menuju pintu yang jelas bertolak belakang dengan tujuan awalnya.
****
Yuan menatap bingung Yura yang berlari menghampirinya. “Ada apa? Kenapa buru-buru begitu?”
“Ah ... Oppa!” Yura tidak bisa mengendalikan kegelisahan yang membuatnya gugup.
Yuan masih menatap bingung sang adik. “Terus?”
Yura seolah mendapatkan angin segar. Ia pun segera memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai kesehatan Yuan.
“Kapan Oppa menikahi kak Kei?”
“Memangnya kenapa?” Yuan menanggapi dengan santai sambil meninggalkan Yura.
__ADS_1
“Oppa, aku serius.” Yura mengejar Yuan.
“Secepatnya.” Yuan berjalan menuju meja di ruang bersantai yang menjadi ruangan pertama setelah sekat pintu masuk. Ia meraih ponselnya di meja kemudian mengantonginya ke celana kolor hangat yang dikenakan.
“Yes! Oppa masih cukup aman!” batin Yura girang.
Yura kembali mengikuti Yuan yang berjalan menuju kamar seberang. “Tapi hubungan Oppa sama kak Kei, baik-baik saja, kan? Hubungan kalian sudah sampai tahap apa? Apakah kalian sudah ...?”
Yuan balik badan kemudian menatap Yura yang ada di hadapannya. Yura terlihat gugup, seperti menyembunyikan sesuatu. “Maksudnya, kamu minta ponakan lagi?” ujar Yuan tidak serius.
Yura langsung mengangguk dan terlihat begitu bersemangat. Kenyataan itu juga yang membuat Yuan mencemaskan Yura. Yuan langsung menahan kepala wanita di hadapannya dan menempelkan sebelah telapak tangannya di kening Yura.
“Oppa! Aku serius! Aku mau banyak keponakan yang lucu-lucu seperti Pelangi!” keluh Yura sesaat melepaskan diri dari Yuan.
Yuan masih bergeming menatap prihatin Yura.
“Oppa ... aku serius.”
Yuan mengangguk tanpa mengubah tatapannya kepada Yura. “Dengan syarat, mulailah membiasakan diri tanpa Kimo. Lupakan Kimo.”
Mata Yura menjadi bergetar. Tatapannya juga berubah goyah menepis tatapan Yuan. Tidak yakin, bahkan sakit, terpancar dari matanya walau ia berusaha menyembunyikannya.
“Kimo enggak keren. Kimo juga enggak tampan. Kerenan Oppa, kan? Oppa juga lebih tampan. Satu lagi, Kimo itu galak!”
Meski ragu sekaligus berat, Yura mengangguk dan menunduk. Cukup lama semua itu berlangsung. Di mana, dengan mata berkaca-kaca, ia kembali menatap Yuan. “Tapi Oppa harus janji, Oppa akan baik-baik saja bersama kak Kei. Kalian akan secepatnya menikah dan segera memberiku banyak keponakan. Mami dan papi juga pasti mengharapkan hal yang sama, meski saat ini, mami dan papi harus pergi ke Seul untuk sebuah urusan.”
Yuan tersenyum lepas. Aneh sekali, apa yang membuat Yura tiba-tiba berubah? Apakah tadi, Kimo melakukan hal di luar nalar yang membuat Yura berubah pikiran? Pikirnya.
“Demi Oppa, aku harus melupakan semua tentang Kimo. Aku harus lebih fokus pada Ben serta Ben yang lain yang mencoba menggoda Oppa!” batin Yura dengan tekad yang semakin bulat.
***
Apakah ia terlalu buru-buru mengungkapkan cintanya?
Jika melihat Keinya yang dingin dan teramat cuek ketika mereka di lift, apa yang terjadi kini memang lumrah. Ben dan Keinya baru bertemu kemarin, sedangkan malam ini, untuk pertama kalinya, Ben menelepon dan langsung mengungkapkan cintanya kepada Keinya.
Bagi Ben memang wajar karena dirinya jatuh cinta pada Keinya di pandangan pertama. Tapi tidak untuk Keinya yang sedari awal terlihat tidak tertarik kepada Ben, di mana kenyataan tersebut justru membuatnya semakin tertantang. Apalagi di mata Ben, wanita bernama Keinya itu istimewa.
Sesaat setelah terdiam dan mencengkeram ponselnya menggunakan tangan kanan, pria berberewok tipis dengan manik mata tajam khas orang negara timur tengah tersebut, langsung menghubungi Kemal.
Dalam dua kali sambungan terhubung, Kemal langsung menjawabnya. “Beri saya alamat Tuan Philips. Saya ingin menemui Keinya!”
“N-namanya, Kainya, ... bukan Keinya, Tuan,” ujar Kemal mengoreksi.
“Ya-ya, siapa pun itu. Wanita di mal apartemen Fahreza Grup itu!”
“Ba-baik, Tuan!”
“Kalau bisa, beri saya CCTV apartemen Fahreza Grup untuk kejadian hari kemarin. Saya ingin tahu, apakah Keinya memang tinggal dan punya hunian di sana, atau hanya kebetulan untuk suatu hal.”
“Kainya, Tuan. Bukan Keinya,” ujar Kemal sesaat setelah berdeham dan kembali mengoreksi ucapan Ben.
Ben makin gugup dan merasa bodoh karena terus dikoreksi dalam memanggil Keinya. “Terserah saya mau memanggilnya siapa!” omelnya yang kemudian mengakhiri sambungan telepon mereka.
Tak habis pikir olehnya, kenapa ayahnya justru mengutus Kemal menjadi orang kepercayaannya, padahal terkadang, Kemal bekerja dengan sangat lambat bahkan tak segan mengoreksi ucapannya. Apalagi, selain yakin nama wanita itu Keinya dan ia mendengar hal tersebut dari Kemal, seharusnya Kemal juga tahu bahwa dikoreksi apalagi dibantah bukanlah hal yang ada dalam kamus hidup Ben. Ben teramat benci kenyataan tersebut, apalagi sampai kapan pun, keputusannyalah yang paling dan selalu benar, tanpa bantahan dari siapa pun apalagi Kemal.
__ADS_1
“Oke. Akhir-akhir ini, Mam sama Dady sibuk memintaku menikah. Dan dalam waktu dekat, aku benar-benar akan menikah! Aku akan menikah dengan Keinya!” Ben yakin, meski Keinya mengabaikannya, meski kemungkinan Keinya akan menolaknya juga ada bahkan besar, Ben yakin bisa mendapatkan Keinya bagaimanapun caranya.
***
“Lamaran dari Ben?” Khatrin terheran-heran bahkan tak percaya. Baru pulang dari Korea, ia sudah disuguhi lamaran untuk Kainya.
Philips yang ada di hadapan Khatrin juga tak kalah bingung. Apalagi, selain baru saja mendapatkan penolakan untuk tawaran kerja sama yang Philips tawarkan, Ben juga tiba-tiba mengajukan banyak kerja sama kepada perusahaan Philips bahkan sampai berniat menikahi Kainya.
“Demi kebahagiaan Kainya. Agar Kainya melupakan Yuan, tak ada salahnya kita coba, Mi. Ini di luar bisnis dan kerja sama Papi dengan Ben. Jika Kainya mau dan merasa nyaman, bersama Ben, masa depan Kainya pasti akan cemerlang.”
“Sebentar, Pi ... Ben itu ...?” Khatrin berusaha mengingat-ingat siapa Ben.
“Dia pengusaha muda di bidang properti. Darah bisnisnya dia dapatkan dari ayahnya yang asli dari negara Timur Tengah. Jadi kemungkinan besar, Kainya akan dibawa ke sana juga sangat besar.”
Kainya yang mengintip dari balik tembok lorong ruang keluarga keberadaan Philips dan Khatrin, tersenyum sarkastis. Dengan tampilannya yang sudah kembali cantik sekaligus berkelas, ia melangkah mendekati kedua orang tuanya sambil memasang wajah tak berdosa. Ia menatap santai sekitar dan langsung menyambut kedua orang tuanya yang menatapnya, dengan senyum lepas.
“Jakarta bikin aku merasa lebih baik. Tapi kayaknya bakal lebih seru kalau kita liburan ke Mesir. Akhir-akhir ini aku sering membaca tentang peninggalan Mesir kuno dan itu sangat menarik. Aku ingin melihat pasar tradisional di sana yang menjual aneka barang antik. Mami sama Papi, bakal kasih aku izin buat pergi ke sana, kan?”
Khatrin dan Philips kompak saling menoleh hingga mereka menjadi bertatapan. “Ini kesempatan emas”—kata-kata tersebut tertuang di ekspresi wajah mereka.
“Aku harus mendapatkan perjodohan itu dan mengirimkan Keinya untuk menjalaninya. Aku dengan Yuan, Keinya pergi ke Timur Tengah dengan pria bernama Ben!” pikir Kainya bersemangat.
Kainya masih menatap orang tuanya dengan penuh senyuman. Ia kembali memasang wajah tak berdosa yang selama ini ia gunakan untuk mengelabuhi orang-orang.
Khatrin segera merangkul Kainya dan menuntun putrinya itu untuk duduk di sofa panjang di ruang keluarga kebersamaan mereka. Kemudian, Philips yang cukup tegang juga menyusul. Philips duduk di sofa kecil di hadapan Kainya.
“Begini, Sayang. Ada yang harus Mami Papi katakan ke kamu.” Khatrin membuka obrolan.
Wajah Kainya berubah menjadi sangat sedih. Ia menatap Khatrin dan Philips, silih berganti. “Apakah Mami dan Papi juga sudah tahu?” Kainya sungguh dengan rencananya.
Khatrin dan Philips kembali berkode mata. Namun, Philips menggeleng dan bermaksud meminta Khatrin untuk membiarkan Kainya bercerita.
“Apa?” ucap Khatrin sambil membelai kepala Kainya.
“Aku benar-benar merasa bersalah bahkan berdosa untuk masalah ini.” Kainya menatap kedua orang di sampingnya, dengan mata berkaca-kaca.
Khatrin dan Philips sendiri menjadi bingung, kenapa Kainya terlihat begitu bersedih. Bahkan meski biasanya mereka meminta Kainya untuk melupakan Yuan, Kainya hanya diam tanpa perlawanan kemudian meninggalkan mereka. Apakah kesedihan kali ini karena Kainya telah sadar dan menyesal telah mencintai pria jahat tak bertanggung jawab seperti Yuan?
“Sebenarnya Keinya masih hidup, Mi ... Pi ....”
Pengakuan Kainya barusan bak bom waktu yang memorak-porandakan kehidupan Philips apalagi Khatrin. Katrin yang terlihat sangat terkejut sampai terdiam dan menitikkan air mata, menatap tak percaya Kainya.
Bahkan Khatrin masih ingat, setiap kata sekaligus ekspresi Kainya yang memberinya fakta menyedihkan tentang Keinya. Namun, kenapa kini anak gadisnya itu justru mengatakan hal aneh yang justru semakin membuatnya semakin bersedih? Apakah Kainya sangat merasa frustrasi, lantaran cintanya kepada Yuan yang begitu besar hanya dipermainkan? Tiga tahun berlalu dan Kainya masih belum bisa melupakan Yuan, pasti membuat anak gadisnya itu sangat tersiksa.
Dengan dada yang terasa sesak, Khatrin mendekap Kainya, memeluknya erat demi mengurangi beban yang selalu menyiksa anak gadisnya. Ia tak mau bila ia kembali kehilangan Kainya setelah Keinya tiada. Setelah Keinya pergi meninggalkannya sedangkan Khatrin belum sempat membahagiakan Keinya. Jadi, mengenai perjodohan, serta lamaran yang Ben lakukan memang patut dicoba.
Khatrin merasa harus mengatakannya pada Kainya. Ben—pria itu pria baik-baik. Pengusaha muda yang umurnya seumur Yuan. Meski Khatrin belum mengenal pria itu, karena Ben melamar Kainya, peluang Ben memiliki ketertarikan khusus pada Kainya juga besar. Dengan kata lain, Ben pasti bisa mencintai Kainya. Dan Khatrin yakin, Ben jauh lebih bertanggung jawab dari Yuan.
“Perang akan segera dimulai, Yu. Aku akan membuat Keinya meninggalkanmu. Aku akan membuat Mami dan Papi mengambil Keinya dari kamu!” batin Kainya.
Diam-diam, Kainya tersenyum sarkastis dalam dekapan Khatrin. “Meski aku tidak bisa berenang, bukan berarti aku tidak bisa mendapatkan ikan, kan?” batin Kainya lagi. Bahagia rasanya akhirnya ia menemukan cara untuk memisahkan Yuan dan Keinya.
“Ini baru rencana awalku. Selanjutnya, aku benar-benar akan menghancurkan semuanya!” Kainya yang masih berbicara dalam hatinya, sungguh tengah menyiapkan sederet rencana pamungkas agar ia berhasil mendapatkan semua keinginannya.
*****
__ADS_1