
“Tolong hentikan wanita itu! Dia buronan!”
Bab 46: Keutuhan Keluarga
Hening.
Kiara menatap nanar suasana kamarnya yang remang. Di tengah kesunyian itu, hatinya terasa semakin sakit. Tulang-tulangnya juga terasa sangat ngilu, terlepas dari tubuhnya yang sudah terasa sangat lemas. Seolah tak ada tenaga yang tersisa dan mempu menopang kehidupannya.
Kiara benar-benar sedang berada pada titik paling buruk dalam kehidupannya. Sialnya, meski sudah tidak berdaya dengan luka-luka berikut sepi yang perlahan membunuhnya, ia masih belum bisa menerima kenyataan. Mengenai keluarganya yang sudah meninggalkannya. Parahnya, Franki juga sampai meninggalkannya. Juga, Rara yang ia salahkan sebagai penyebabnya.
Kiara menjadi terisak-isak ketika mengingat semua itu. Ia masih duduk di sudut kasur dengan tubuh berselimut, ketika angin tiba-tiba berembus sangat kencang. Entah apa yang terjadi, mungkin di luar sana akan turun hujan. Sementara dari kemarin setelah ditinggalkan keluarganya, selain mengurung diri, ia juga membiarkan salah satu jendela kamarnya setengah terbuka.
Meski awalnya Kiara tak mempermasalahkan embusan angin yang bahkan semakin kencang, tetapi penampakan seorang wanita berwajah pucat di depan jendela dan sudah ada di dalam kamarnya, membuat Kiara bergidik. Bahkan karenanya, Kiara sampai menggunakan kedua tangannya untuk menopang tubuh dan mundur.
Wanita berwajah pucat pengena terusan panjang warna putih hingga menutupi kaki itu membuat Kiara teringat Rara.
“Kau siapa?” ucap Kiara lirih dengan dada yang menjadi berdebar-debar. Ia yakin, meski memiliki garis wajah menyerupai Rara, wanita itu pasti bukan Rara.
Lantaran wanita itu mulai mendekatinya dengan langkah yang terbilang sangat pelan bahkan tak menghasilkan suara, Kiara memaksa otaknya untuk bekerja, secepatnya mengingat siapa wanita di hadapannya. Bersamaan dengan itu, Kiara yang juga semakin mundur ke seberang bantal di sebelahnya juga menyadari, suhu di kamarnya menjadi terasa begitu dingin. Sampai-sampai, ia terus merinding seiring rasa takut yang juga mendadak menggeliat. Bayangkan, ada wanita aneh tiba-tiba ada di dalam kamarnya sesaat angin berembus sangat kencang. Wanita yang tidak ia ketahui dari mana asalnya sebab jika dari jendelanya meski jendelanya juga dalam keadaan terbuka, itu terbilang mustahil. Terlebih, di luar jendela kamarnya merupakan balkon tinggi, terlepas dari rumahnya yang memiliki dua orang petugas keamanan dan selalu siaga selama 24 jam.
Makin Kiara mengingat sambil terus menatap wanita itu, Kiara menyadari jika sosok pengena terusan putih itu adalah Piera.
Kiara menggunakan apa pun yang bisa ia gunakan untuk mengusir Piera. Dari bantal guling, boneka, juga bantal biasa yang ada di sekitarnya dan ia hantamkan ke arah Piera. Sialnya, semua benda yang ia lemparkan justru tembus. Sia-sia.
“Demi Tuhan! Kenapa kamu di sini? Bukankah kamu sudah mati?!” hardik Kiara masih berusaha menghindar.
“Mana mungkin aku bisa tenang, sedangkan kau saja selalu mengungkit kesalahanku?!” balas Piera dengan nada suara yang terdengar datar.
Piera semakin mendekat bahkan sampai naik ke kasur kemudian menggerakkan kedua tangannya. Piera terkesan akan mencekik Kiara. Dan seketika itu, Kiara terkesiap, terjaga dan terbangun dari mimpi buruknya.
Dengan napas tersengal-sengal, Kiara menekapkan kedua tangannya ke wajah. “Apa ini? Mimpi macam apa?!”
Ketika Kiara memastikan suasana, semua bantal berikut boneka yang biasanya ada di kasurnya juga terkapar berantakan di lantai. Sedangkan ketika ia memastikan jendela yang saat di mimpi dalam keadaan terbuka, menjadi sumber kehadiran Piera, semuanya benar-benar sama. Tidak ada yang berubah dari yang ada di mimpinya. Mimpi yang juga terasa sangat nyata. Kiara merasa apa yang dialaminya bukan mimpi, tetapi benar-benar nyata.
“Piera terlihat sangat marah ....” Kiara kembali menekap wajahnya menggunakan kedua tangan.
Kiara menyadari jika suhu di kamarnya menjadi terasa sangat dingin. Pun meski ia tidak menyalakan AC. Karenanya, ia beranjak dan memunguti semua bantal berikut dua boneka teddy bear berwarna putih gading yang berhasil membuat hatinya perih, sebelum menutup jendela. Itu boneka pasangan pemberian Franki ketika ulang tahun pernikahan mereka yang ke 25. Dan semakin ia menatap kedua boneka tersebut, hatinya menjadi semakin sakit seiring rindu terhadap Franki yang seketika membuncah, tak bisa ia bendung lagi.
Kiara terisak-isak memeluk kedua boneka itu. “Papa ke mana? Kalian ke mana?” isaknya.
***
Di waktu yang sama, Kimo juga terbangun dari tidurnya. Ia baru saja mimpi buruk. Sekitar wajahnya dipenuhi buih keringat. Masih wanita yang mirip Rara. Wanita pucat yang mengenakan turusan panjang warna pitih. Juga, wanita pucat yang hanya diam memandanginya dengan raut sarat luka.
Lantaran ia dan Rara tidur terpisah, ia pun bergegas meninggalkan kamar dan memastikan Rara yang tidur di kamar sebelah. Selain kamar Rara tidak dikunci, ternyata wanita itu juga masih sibuk di depan laptop. Jemari Rara bergerak sangat cepat ketika mengetik.
__ADS_1
“Kenapa belum tidur?” tanya Kimo sambil menghela napas pelan.
Rara terkesiap dan refleks menoleh ke samping. “Aku enggak bisa tidur?” balas Rara dengan gurat kesedihan yang terlihat jelas.
Kimo berangsur masuk. “Jangan kebanyakan duduk. Jangan memfosir diri!” tegurnya mulai mengomel.
Rara tertunduk sedih. “Perasaanku rasanya enggak enak banget. Padahal aku yakin semuanya baik-baik saja.”
Kimo sudah di sebelah Rara. “Simpan dokumennya, ayo kita tidur.” Sebelah tangannya menepuk-nepuk pelan bahu Rara.
Tak lama kemudian, Kimo menyelimuti tubuh Rara. Ia duduk di tepian, sebelah wajah Rara sambil menepuk-nepuk pelan dada wanita itu.
Meski Kimo tidak mau bercerai, tetapi Rara masih membatasi hubungan mereka. Termasuk mengenai mereka yang harus menjadi tidur terpisah. Kendati demikian, Kimo menghargai keputusan Rara. Kimo sadar, wanita itu belum bisa menerima kenyataan perihal obat aborsi yang mereka yakini karena Kiara. Rara masih trauma, meski wanita itu masih peduli bahkan terlihat jelas sangat mencintai Kimo.
Keresahan hati Rara yang tak kunjung sirna, juga disertai keinginan kuat yang tiba-tiba saja muncul sejak sore tadi. Rara ingin menginap di rumah Kimo, atau setidaknya menginap bersama keluarga Kimo.
“Kenapa?” tanya Kimo kemudian lantaran Rara justru kembali membuka matanya.
“Pengin tidur ke rumahmu,” balas Rara singkat.
Kimo paham maksud Rara. “Kamu bilang ini rumahku?” Karena Kimo tidak mungkin membawa Rara dekat dengan Kiara yang ia takuti justru akan kembali melukai istri berikut anaknya.
Rara tertunduk lesu. Ia mengamati jendela seberang Kimo, dalam kebungkaman. Terus saja begitu bersama Kimo yang juga tetap terjaga untuknya.
Kebersamaan kini memang membuat mereka merasa ada yang kurang. Tak lain mengenai keutuhan keluarga yang tak kunjung mereka dapatkan. Terlebih, mereka sadar bila keluarga selalu menjadi pokok sekaligus alasan utama mereka dalam menjalani kehidupan.
***
“Saatnya makan siang, kan?” sergah Franki dengan sangat semringah.
Tak mau merusak suasana. Kimi langsung mengangguk sambil memasang senyum ceria.
“Makan siang kali ini akan spesial karena kita akan makan siang bersama,” sambung Franki yang justru menghentikan kata-katanya.
“Bukan mama baru, kan?” tebak Kimi dengan polosnya.
Pertanyaan Kimi refleks membuat Franki terbatuk-batuk.
“Papa sampai segugup itu!” cibir Kimi sembari berkemas meraih ponsel di sebelah tangan kanannya dan ia masukkan ke dalam tas tangannya.
Franki berdeham keras. “Seumur Papa lagi semangat-semangatnya nunggu cucu, kali, Mi! Kamu juga mulai cari calon, ya, biar Papa punya banyak cucu!”
Kimi menjadi lesu. “Nantilah, Pa. Aku masih trauma. Takut dapat mertua kayak mama.”
Kimi berjalan tak bersemangat menghampiri Franki yang masih berdiri bahkan menahan kop pintu. Meski menikah memang menjadi harapan terbesarnya saat ini termasuk keutuhan keluarga, tetapi jika melihat kekejaman Kiara pada Rara, membuatnya ngeri.
__ADS_1
Setelah mendekap sebelah lengan Franki berikut menyandarkan kepalanya pada bahu pria yang memiliki garis wajah berikut sorot mata tajam layaknya Kimo, ia punengulas senyum. Mencoba menyemangati sang papa yang juga masih delima atas nasib keluarga mereka.
“Kita akan makan siang bareng Kak Kimo dan Kak Rara. Jadi kamu harus bersemangat! Ah, iya! Calon cucu!”
Franki begitu bersemangat.
“Ah, serius, Pa?!” sambut Kimi antusias.
Franki mengangguk mantap di antara senyumnya. “Iya. Tapi sebelum bertemu mereka, bagaimana kalau kita beli hadiah buat Kak Rara?”
Kimi langsung memikirkan perihal hadiah untuk Rara. “Yang penting jangan makanan, Pa. Karena kalau makanan, kayaknya Kak Rara bahkan Kak Kimo masih trauma.”
“Eh, bagaimana kalau kita beli beberapa daster buat Kak Rara?” usul Kimi kemudian.
“Ide bagus!” saut Franki makin bersemangat.
***
Ketika mereka berada di butik dan Kimi sedang memilih daster untuk Rara, sedangkan Franki izin ke kamar mandi, Kimi dikejutkan oleh sosok Steffy yang nyaris menusuk punggungnya, andai saja ia tidak balik badan.
Kimi yang baru saja mengambil daster berupa gaun selutut dengan ukuran besar warna biru muda, langsung menatap tajam Steffy berikut pisau kecil yang masih mengarah kepadanya.
Steffy mengenakan jaket levis kedodoran, berikut topi yang sengaja diturunkan untuk menutupi sebagian wajah. Selain itu, Steffy juga mengubah rambutnya menjadi warna oren menyala.
“Kamu mengikutiku? Kamu pikir aku takut?!” ucap Kimi kesal.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Steffy yang sempat kebingungan pun langsung menusukkan pisaunya ke arah perut Kimi.
Tak mau menyerah, Kimi menghindar, melemparkan gaun pilihannya ke wajah Steffy. Tak hanya itu, karena Kimi juga bergerak cepat merobohkan rak gantung pakaian di sekitarnya, ke arah Steffy yang seketika itu tersungkur.
“Tolong! Ada penjahat yang berusaha membunuh saya! Dia membawa pisau!” teriak Kimi sambil menganati suasana sekitar.
Meski tidak begitu ramai, tetapi beberapa dari mereka langsung mendekat. Apalagi di sekitar Kimi juga sudah berantakan. Mereka mendapati Steffy yang ditunjuk-tunjuk Kimi, sedang berusaha bangkit sambil menyingkirkan tumpukan pakaian berikut raknya yang menindih.
“Wanita itu buronan!” tambah Kimi. Sialnya, tidak ada yang membantunya menangkap Steffy. Mereka hanya menjadi penonton baik.
Steffy yang kalang kabut langsung melarikan diri. Sedangkan Kimi yang geregetan dan tak mau kehilangan Steffy, segera mengejar. Kimi berlari, mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejar Steffy di tengah keramaian pusat perbelanjaan kunjungannya.
“Tolong hentikan wanita itu! Dia buronan!” teriak Kimi sambil terus mengejar.
Steffy terus berlari tak kalah kencang dari Kimi. Pun meski beberapa kali, ia sampai menabrak pengunjung mal yang menghalangi langkahnya dikarenakan mal sedang ramai pengunjung.
“Kau pikir aku akan melepaskanmu setelah kau menghancurkan keluargaku?!” teriak Kimi.
Bersambung ....
__ADS_1
Masih semangat mengikuti ceritanya? Ayoo, tangkap Steffy rame-rame. Karungin, jual ke tempat ternak buaya buat dijadikan makanan mereka!
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaa!