
“Berjuang adalah kunci untuk meraih masa depan, tanpa terkecuali dalam urusan cinta. Bahkan di luar sana, banyak yang susah payah berjuang hanya untuk bernapas lebih lama.”
Bab 27 : Berjuang Hingga Akhir
Pukulan berat menjadi dampak dari kematian Feaya, bagi Kishi dan Dean. Kedua sejoli tersebut masih saja merasa bersalah, merasa bertanggung jawab atas kenyataan yang terjadi.
Dan dari kenyataan tersebut juga, Kishi menjadi merenung, apakah hubungannya dan Dean memang tidak seharusnya terjadi? Namun kenapa? Kishi dan Dean saling mencintai, dan mereka juga selalu menjaga satu sama lain? Bahkan semenjak memutuskan untuk meresmikan hubungan, mereka juga selalu berusaha melengkapi satu sama lain, sekaligus saling mengupayakan yang terbaik.
Kishi tidak ingin menyerah. Apalagi meninggalnya Feaya bukan kemauan Kishi atau pun Dean. Juga bukan ulah mereka baik tanpa direncanakan apalagi sampai disengaja. Namun, apakah jika terus bersama bukan keegoisan?
“Aku enggak bersalah ...,”
“Dean juga enggak bersalah ....”
“Kami enggak ada yang bersalah termasuk Feaya. Ini resmi kecelakaan.”
Kishi yang masih mengenakan seragam sekolah, semakin menekuk tubuhnya di sudut kasur. Punggung rapuhnya yang sempa menyandar pada sandaran kasur berangsur tertekuk seiring ia yang juga memeluk erat kedua lututnya. Kishi meletakkan dagunya di atas lutut. Pandangannya kosong dipenuhi luka.
Di ufuk barat sana, semburat warna jingga baru saja menguasai. Senja tengah mempertegas kemenangannya, atas penantian panjangnya terhadap mentari. Sebab setelah berjuang menanti pergantian malam bahkan hingga fajar kembali tenggelam, akhirnya, Senja yang kadang harus semakin bersabar karena pertemuannya dan mentari tak juga terjadi, bisa menampilkan diri. Dan inilah kemenangan senja setelah perjuangan panjangnya.
“Tidakkah aku seperti senja, sedangkan Dean mentari?” Kishi yang masih loyo, mengamati keadaan itu dari jendela kaca yang masih sedikit terbuka dan tidak tertutup tirai.
“Jika saling mencintai saja terus dihadang cobaan, bagaimana yang hanya mencintai sendiri?” Kali ini, Kishi yang tertunduk sedih sampai berlinang air mata.
“Karena saling mencintai, tidak cukup untuk menggenggam masa depan.” Suara Rafaro terdengar dari belakang.
Meski sangat pelan, Kishi berangsur menoleh ke arah pintu. Ia mendapati Rafaro yang tengah masuk. Pria itu melangkah tegas sambil menatapnya cemas.
“Aku, ... dan Pelangi saling mencintai. Namun karena Pelangi tidak mau berjuang untuk masa depan kami, hasilnya jadi seperti ini. Kami hanya saling melukai, padahal kami saling mencintai.” Rafaro duduk di seberang sudut keberadaan Kishi. Ia masih menatap gadis itu penuh keyakinan.
Dengan kata lain, hari ini Rafaro langsung tidak kembali ke kantor. Dan kenyataan tersebut membuat Kishi merasa semakin bersalah.
“Berjuang adalah kunci untuk meraih masa depan, tanpa terkecuali dalam urusan cinta. Bahkan di luar sana, banyak yang susah payah berjuang hanya untuk bernapas lebih lama.”
Kishi menyimak kata-kata Rafaro dengan mata berkaca-kaca. Ia menatap pemuda itu dan berharap apa yang didengarnya juga akan menjadi hal yang ia yakini sekaligus jalani.
“Kamu enggak salah. Dan kalian enggak salah. Sudah jalannya untuk seperti ini,” tambah Rafaro.
“Ayo semangat. Cepat keluar. Dean sudah menunggumu. Temui dia.”
“Ingat, Kishi. Jangan bodoh. Kalian tidak salah. Kalian saling mencintai. Dan kalian sudah berjuang sejauh ini.”
“Aku masih lemes,” jawab Kishi akhirnya sambil menyeka air matanya.
Kishi menatap Rafaro sangat lama sambil sesekali berkedip seiring air matanya yang tak hentinya mengalir.
Rafaro menghela napas dalam. “Mau digendong?” tawarnya.
Kishi berangsur menggeleng sambil sekali lagi menyeka air matanya. “Dean saja sudah sering cemburu ke kamu,” ujarnya.
“Tentu, aku kan laki-laki baik. Banyak yang mau jadi pacar aku, sedangkan pria-pria di luar sana juga jadi iri hati ke aku!” balas Rafaro dengan bangganya.
Kishi yang masih menyeka air matanya menggunakan punggung tangannya pun berkata, “tapi papa Kimo jauh lebih baik darimu atau pun Mo ....”
Rafaro memelotot dan menatap Kishi tak percaya. “Papa Kimo ...? Maksudmu, ... kamu mau jadi duri di hubungan mama sama papa?”
Rafaro sampai berkecak pinggang. Ia juga menjadi kerap menghela napas dan sesekali menepis tatapan Kishi.
Namun, kenyataan tersebut justru membuat Kishi menjadi menangis ketakutan. “Bukan begitu ... maksudku, papa Kimo jauh lebih keren ketimbang anak-anaknya!”
“Aku enggak mau tahu. Pokoknya aku marah!” tepis Rafaro yang sampai memunggungi Kishi sambil bersedekap.
“Rafaro ...!” Kishi sampai merangkak kemudian menempel di punggung Rafaro dengan kedua tangan yang melingkar di leher pemuda itu.
Kenyataan Kishi yang sampai jengkel dan menangis ketakutan, sukses membuat Rafaro tergelak. “Seumur-umur, Rora saja enggak semanja ini, lho, ke aku!” ucapnya di sela tawanya.
__ADS_1
“Biarin!” balas Kishi yang masih terisak-isak. Kishi mengerucutkan bibirnya sambil kembali menyeka air matanya menggunakan sebelah punggung tangannya.
“Aku panggil Dean, tapi kamu kayak gini terus, ya? Biar dia tambah cemburu terus kalian jadi berantem?” ucap Rafaro yang menjadi terkikik.
“Iiih!” protes Kishi yang sampai mengacak-acak susunan rambut Rafaro yang benar-benar menjadi berantakan, di mana setelah itu, Kishi langsung kabur.
“Ya ampun, jailnya kamu!” teriak Rafaro yang masih saja tertawa.
Rafaro tidak berani memastikan keadaan rambutnya, yang kali ini. Sebab ia yakin, susunan kepalanya tak ubahnya tumpukan jerami. “Bocah itu benar-benar bikin ketampananku berkurang!” uringnya.
***
Dengan langkah yang berangsur memelan, Kishi yang masih tersenyum kendati di sekitar matanya basah, mendapati Dean yang sampai terkejut akibat kehadirannya. Dean duduk menunggu di salah satu sofa kecil yang ada di ruang keluarga rumah Rafaro.
Dan mendapati mata Kishi yang merah bahkan sampai basah, Dean yang mencemaskan kenyataan tersebut, refleks beranjak dan berdiri dari duduknya. Lain halnya dengan Kishi yang menjadi salah tingkah dan kemudian memilih menunduk demi menepis perhatian berlebihan Dean.
Beruntung, Dean tidak banyak berkomentar. Pemuda tersebut hanya menuangkan kekhawatirannya melalui gestur tubuh, selain tatapan cemas yang terus saja ia tujukan kepada Kishi.
“Tadi, aku sengaja jalan kaki. Bagaimana jika kita ke luar sebentar? Ke rumahku?” ujar Dean yang masih berdiri di depan sofa bekasnya duduk.
Kishi yang semakin menunduk, berangsur mengangguk sambil melangkah mendekati Dean.
Dean segera melangkah mendahului Kishi. Namun, Dean sengaja melangkah pelan. Dan ketika mereka baru saja meninggalkan rumah Rafaro, suara berisik dari motpr gede menghentikan langkah mereka. Mofaro pulang dengan mengendarai motor. Pemuda itu mengenakan perlengkapan lengkap. Dari helm juga sarung tangan. Dan tak lama setelah itu, Mofaro menjadi tak hentinya menekan klakson motornya.
Mofaro menepikan motor gedenya tepat di hadapan Dean dan Kishi. Pemuda berambut gondrong bergelombang itu segera melepas helmnya. “Wah ... wah ... lagi pada berantem, ya?” godanya dengan gaya pecicilannya yang khas.
“Apaan, sih, Om! Kepo!” semprot Kishi yang berdiri tepat di besebelah belakang Dean. “Lagian kenapa jam segini Om sudah pulang? Masa iya, kerja jam segini sudah pulang? Om pasti makan gaji buta, ya?!”
Mofaro yang langsung terbahak, menyapukan tangan kanannya yang masih mengenakan sapu tangan kulit berwarna hitam, pada wajah Kishi dan berakhir mencubit hidung minimalis gadis itu.
“Pesekkk!” ledek Mofaro gemas.
“Om, aku susah bernapas, Om!” protes Kishi kelabakan sendiri, untung Dean segera menahan tangan Mofaro dengan gaya yang terlihat cukup marah.
Dean yang mendekap kepala Kishi sambil mengelus-elus hidung gadis itu yang sampai menjadi sangat merah, berangsur mengangguk dan menatap Mofaro. “Iya.”
“Asyik! Enggak sia-sia aku pulang cepat!” ujar Mofaro semakin bersemangat.
“Tapi Kim Jinnan juga sedang main di rumah, sih,” tambah Dean.
Mendengar itu, Kishi menjadi tertawa lepas. Tawa lepas yang terdengar sangat jahat. Membuat Mofaro yang sudah sangat terluka hanya karena mendapat informasi tambahan dari Dean, menjadi semakin kesal.
“Ketawamu jahat banget, Sek!” omel Mofaro gemas dan tak segan mencubit bibir tipis Kishi penuh tenaga.
“Aaa!” pekik Kishi kesakitan.
“Mo-fa-ro!” tegas Dean yang kali ini benar-benar marah lantaran Mofaro sama sekali tidak menghargainya sebagai kekasih Kishi.
Mofaro segera mengakhiri ulahnya, dan Dean juga langsung mengelus-elus bibir Kishi sarat perhatian.
“Itu sebenarnya yang namanya Kim Jinnan enggak ada kerjaan apa bagaimana, kenapa jam segini sudah ngapelin anak orang?!” cibir Mafaro yang menjadi uring-uringan.
Dean dan Kishi yang masih kesakitan, tidak berkomentar. Di mana, Dean sampai menunduk untuk memastikan bibir kekasihnya itu, baik-baik sata dan tidak sampai pecah-pecah apalagi berdarah.
“Dean, beneran si Kim Jinnan ada di rumahmu?!” tambah Mafaro lagi masih uring-uringan.
“Iya, lihat saja sana,” balas Dean yang kali ini balas menatap Mofaro sambil tetap mendekap kepala Kishi menggunakan sebelah tangannya.
“Ngapain cuma lihat? Aku mau bikin dia kesal!” balas Mofaro yang kemudian kembali mengenakan sarung tangannya. “Kamu setuju, kan, kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyanya sambil menatap Dean penuh kepastian.
Dean tidak menjawab. Yang ada, pemuda itu justru menelan ludah sambil membuang wajah, menepis tatapan Mofaro.
“Semprul kamu!” omel Mofaro yang tak segan mendorong dada Dean, sebelum akhirnya mengenakan helm dan kembali menyalakan mesin motornya.
“Yang mau kamu kencani ken Pelangi, jadi tanyakan langsung saja ke orangnya. Awas, Kim Jinnan jauh lebih galak dari bokap!” ujar Dean mengingatkan.
__ADS_1
“No problem! Aku enggak takut, karena takut hanya berlaku untuk orang lemah dan payah!” tegas Mofaro yang kemudian menutup kaca helemnya. “Yuk sekalian aku bonceng. Di roda. Kamu di depan, Kishi di belakang! Hahaha ....”
Setelah sampai tertawa lepas, Mofaro segera mengemudi dengan kecepatan penuh, dibarengi dengan suara motor yang begitu berisik.
“Terkadang aku mikir, kalau dia kebanyakan hormon?” ujar Dean sembari melepas kepergian Mofaro yang sudah keluar dari are halaman rumah.
“Aku pikir juga begitu. Mo kebanyakan hormon. Jadi ibaratnya, Yin dan Yang dalam jiwa dia itu enggak seimbang,” balas Kishi yang juga melepas kepergian Mofaro sambil menerka-nerka.
Kemudian Dean berdeham, menatap Kishi yang sampai membuatnya menunduk, hingga akhirnya berkata, “sekarang kita bahas hubungan kita.”
Kishi yang balas menatap Dean pun berangsur mengangguk. “Iya. Maksudku juga begitu,” lirihnya.
Balasan Kishi sukses membuat Dean takut. Apalagi, raut wajah Kishi begitu dihiasi banyak keseriusan. Bahkan, Dean seolah mendapati jurang pemisah yang membuat mereka begitu berjarak.
Mereka memang dekat, tetapi tidak dengan pemikiran mereka. Dean yakin, Kishi yang merasa bersalah atas apa yang menimpa Feaya, menjadi memiliki pandangan lain terhadap hubungan mereka.
“Kishi, tidak sampai berpikir untuk pisah, kan?” pikir Dean harap-harap cemas.
“Tidak masalah, kan, jalan kaki?” ucap Dean basa-basi demi meredam ketakutan yang tidak bisa ia tepis apalagi akhiri.
Kishi menghela napas sambil mengusap-usapkan kedua tangannya di depan wajah. Ia melakukan itu tanpa berkomentar atau pun sekadar melirik Dean. Dan kenyataan tersebut sukses membuat Dean mulai merasa jengkel, hingga pemuda itu nekat meraih sebelah tangan Kishi agar tidak hanya saling usap tanpa mengindahkannya.
“Jangan berpikir macam-macam, ya, Ki ... awas saja kalau kamu macam-macam apalagi lari meninggalkanku!” ucap Dean sambil terus melangkah menggandeng Kishi meninggalkan pelataran rumah Rafaro.
Kishi menghela napas pelan sambil menatap takjub ketampanan wajah Dean yang memiliki hidung menjulang, berikut bibir berisi yang tampak begitu mempesona, terlepas dari kedua manik mata Dean yang berwarna biru tak ubahnya mata Yuan.
“Aku berpikir untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Tidak apa-apa, kan?” ucap Kishi akhirnya setelah mereka meninggalkan gerbang rumah Rafaro.
Dean refleks menghentikan langkahnya diikuti juga oleh Kishi. Kemudian, Dean menatap Kishi dengan dahi berkerut. Dean tidak mengerti dengan cara pikir Kishi. Sedangkan bukannya menjawab, Kishi justru menepis tatapan Dean bahkan berangsur menunduk.
“Aku benar-benar takut ...,” ucap Kishi.
“Ki ....” Sebelah tangan Dean yang bebas, segera meraih sebelah tangan Kishi yang masih bebas juga.
Melalui tatapan sekaligus genggaman tangannya, Dean berusaha meyakinkan Kishi. Terlebih, Kishi tidak hanya terlihat ragu. Karena gadis itu juga terlihat sangat gelisah bahkan ketakutan.
Kishi berangsur menengadah dan membuatnya menatap Dean. “Rafaro bilang ... saling mencintai tidak cukup untuk menggenggam masa depan. Sedangkan aku, selalu ingin bersamamu hingga akhir. Benar-benar akhir.” Kishi berangsur menunduk.
“Lalu, apa yang kamu takutkan,sedangkan aku juga bersamamu?” Dean tahu, obrolannya dan Kishi terbilang berlebihan di usia mereka yang masih sangat belia. Namun, dari awal Dean menjalin hubungan dengan Kishi, memang karena Dean ingin menghabiskan waktunya bersama gadis itu hingga akhir. Benar-benar hingga akhir layaknya apa yang Kishi inginkan. Layaknya apa yang baru saja gadis itu katakan.
“Apakah kamu juga mau berjuang untuk kita hingga akhir? Karena saling mencintai saja tidak menjamin bisa membuat kita bersama,” pinta Kishi sambil menatap Dean dengan mata yang berkaca-kaca.
Kenyataan kini tidak hanya membuat Kishi tertekan. Karena setelah kecelakaan yang menimpa Feaya dan sampai membuat gadis tersebut meninggal, Kishi takut akan ada banyak hal dalam hubungannya dan Dean, yang jauh lebih mengerikan. Karenanya, Kishi ingin mengambil keputusan untuk masa depan hubungannya dan Dean, agar mereka tidak hanya saling melukai layaknya Rafaro dan Pelangi.
“Karena jika memang tidak, lebih baik mulai sekarang kita membiasakan diri untuk menjadi teman saja,” lanjut Kishi yang kali ini kembali menatap Dean.
“Jadi, aku benar-benar harus menunggumu belajar di luar negeri?” tanya Dean.
Kishi menggeleng dan sukses membuat hati Dean berdesir.
“Kenapa begitu?” tanya Dean gelagepan. Antara syok sekaligus takut.
“Karena aku enggak bisa jauh-jauh dari kamu. Kita lanjut sekolah sama kulian di Indo saja ....”
Dean langsung tersipu sekaligus terkikik. “Kamu tuh, ya! Paling jago buat aku uring-uringan!” ucapnya sembari mengacak-acak gemas punggung kepala Kishi yang juga menjadi tersipu bahkan tertawa sambil menunduk.
“Karena mencintai pemuda hebat sepertimu yang bahkan memiliki rupa begitu menawan, aku juga harus menjadi wanita yang lebih kuat, dan tentunya, tidak kalah hebat!” batin Kishi sambil menatap Dean dengan malu-malu.
Bersambung ....
Terus ikuti, dan dukung ceritanya, ya. Like, komen, dan votenya Author tunggu. Yuk, ramaikan ^^
Tetap semangat dan sehat selalu!
Rositi.
__ADS_1