
“Jangan pergi apalagi menjadi orang lain hanya untuk menghindari suatu hal. Dan jangan pernah menyakiti dirimu hanya untuk menghindariku!”
Bab 13 : Kunjungan Kim Jinnan dan Kakeknya
“Kim Jinnan bilang, malam ini dia akan datang bersama kakeknya,” ucap Pelangi sambil menyesap sup di sendoknya yang masih mengepulkan asap.
Keinya langsung mengerutkan dahi, menunjukkan ekapresi kurang nyaman. “Sebenarnya, apa maunya Kim Jinnan?” keluhnya.
Yuan yang baru menyesesap sup di sendoknya pun berkata, “ya Pelangi, ... masa iya kamu?”
Keinya melirik sebal Yuan. “Pa,” ucapnya penuh penekanan. “Kim Jinnan masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan. Belum lagi, mengenai kebiasaannya yang play boy. Masih begitu sudah gencar ngajak anak gadis nikah!”
“Kalaupun kamu terpaksa menikah sama dia, siksa saja dia!” ucap Dean yang kemudian meminum air minumnya. “Tapi aku enggak sudi kalau kamu sampai nikah sama dia!” tambahnya sembari meletakkan gelas yang masih terisi setengah.
Pelangi yang masih diam sembari mengunyah pelan makanan dalam mulutnya, berangsur melirik Yuan.
Di meja makan, hanya Zean yang diam tak berkomentar. Zean begitu asyik menikmati sate telur puyuh tanpa menoleh ke sekitar. Padahal, biasanya bocah itu paling rese. Akan bertindak layaknya orang dewasa, bahkan tak segan berkomentar pedas.
Yuan menghela napas pelan. “Kalau Ngi-ngie?”
Mendapat pernyataan dari Yuan, Pelangi langsung menunduk lesu.
“Kalau Papa diminta pendapat, Papa enggak hanya lihat Jinnan dari kebiasaan buruknya di masa lalu. Papa bilang masa lalu, karena nyatanya, Kim Jinnan sudah mulai berubah. Jinnan yang sekarang jadi serius kerja dan benar-benar menunjukkan perubahan yang bagus. Kakeknya sendiri yang bilang ke Papa.” Yuan kembali menikmati supnya. “Hampir setiap hari kakek Jungsu mengabari Papa.”
“Jadi, Papa memang sudah berniat menjodohkan Pelangi dengan Jinnan?” ujar Dean cepat sambil mengerucutkan bibirnya.
Keinya menatap sebal suaminya yang baginya telah tega mempertaruhkan masa depan sekaligus kebahagiaan Pelangi, hanya untuk pemuda tidak jelas seperti Kim Jinnan.
Pelangi meletakkan sendoknya begitu saja di tepi mangkuk supnya. “Aku pusing,” keluhnya sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Kirim aku ke luar negeri saja, agar aku bisa terhindar dari Kim Jinnan,” ucapnya kemudian sesaat setelah menghela napas kemudian mendesah.
Melalui tatapan dalamnya, Pelangi mencoba meyakinkan Yuan maupun Keinya, perihal keputusan yang baru ia katakan.
“Ngie ...?” lirih Dean cemas.
“Aku serius.” Pelangi benar-benar dengan keputusannya. “Seperti rencana awal Papa. Aku keluar negeri, agar Kim Jinnan menyerah sendiri.”
“Aku ikut?” ujar Dean cepat tanpa menunggu reaksi Yuan dan Keinya perihal keputusan Pelangi.
“Terserah ...,” balas Pelangi tak mau ambil pusing. “Kalau memang enggak ada tujuan, ya jangan.”
Yuan balas menatap Keinya yang langsung terlihat murung bahkan gelisah. Yuan yakin, Keinya pasti tidak tega dan memang tidak rela melepas Pelangi belajar ke luar negeri hanya demi menghindari kejaran Kim Jinnan.
“Kalian enggak usah khawatir,” ujar Pelangi yang menjadi serba salah. Namun jauh di lubuk hatinya, sebenarnya ia juga merasa sangat sedih lantaran sejauh ini, Pelangi benar-benar ingin menghabiskan waktunya bersama keluarga. Kalaupun Pelangi harus kuliah bahkan bekerja, ia juga ingin kembali, pulang di hari itu juga untuk berkumpul dan menghabiskan sisa waktunya bersama keluarga.
Suasana kebersamaan di meja makan mendadak diselimuti kesedihan. Bahkan Pelangi tak kuasa menahan air matanya. “Satu tahun. Aku yakin satu tahun cukup. Biarkan aku seperti Mofa dan Rafa. Aku akan mempercepat waktu kuliahku.”
“Jika selama itu, Kim Jinnan masih menunggumu, bagaimana?” ujar Dean.
Pelangi terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya menghela napas dan membuat bahunya semakin turun. Pelangi tertunduk lemas.
“Tegaskan kepada Jinnan untuk tidak mengejarmu!” ucap Zean akhirnya.
Lima tusuk sate telur puyuh telah Zean habiskan. Bocah itu segera meraih segelas air minumnya kemudian meminumnya.
“Kamu makan telur puyuh sebanyak itu, kolesterol, lho. Bisulan ... bisulan!” ujar Dean terheran-heran sambil menggeleng.
“Aku kan cuma makan telur puyuh dua puluh lima biji. Telur puyuh sangat penting untuk pertumbuhan otak dan tulangku,” balas Zean mencibir.
Keinya berdeham. “Selama Ngi-ngie kuliah di luar negeri, kita juga ikut dan pindah?” ucapnya susah payah lantaran dadanya sudah telanjur sesak.
“Enggak usah, Ma ...,” tolak Pelangi. “Papa punya tanggung jawab besar di sini. Toh, selain itu, aku juga berpikir, ini bagus untuk kemandirianku. Hanya satu tahun. Atau, paling lama tiga tahun?”
Keinya menghela napas pasrah dengan bahu yang semakin turun, ketika Pelangi sampai mengatakan akan menetap di luar negeri selama tiga tahun.
“Seenggaknya setengah tahun sekali, kamu juga akan mendapat libur dua minggu sampai satu bulan. Selain itu, jika memang kamu serius ingin ke luar negeri, Papa akan meminta oma dan opa untuk menjagamu.” Yuan menatap serius Pelangi.
Seketika itu juga, suasana mendadak hening. Semua mata di sana tanpa terkecuali Pelangi, menatap tak percaya Yuan. Karena dengan kata lain, Yuan akan melepas Pelangi begitu saja?
“Tapi demi Tuhan, ... Papa enggak rela melepasmu jauh-jauh dari Papa.” Yuan mengatakan itu sambil terus menatap serius Pelangi.
Mata Yuan berkaca-kaca. Karena jauh di lubuk hatinya, kejadian hari ini di mana Pelangi sampai dirundung teman-teman sekelas gadis itu saja sudah membuatnya takut sekaligus marah. Yuan tidak mau sesuatu yang buruk kembali bahkan lebih parah menimpa Pelangi ketika anak sambungnya itu jauh darinya.
“Lebih baik Papa kehilangan hubungan baik dengan keluarga kakek Jungsu, ketimbang Papa harus melepasmu keluar negeri.” Hingga detik ini, Yuan masih menatap serius Pelangi.
Semakin lama, kedua mata Yuan semakin merah bahkan basah. Semua yang ada di sana melihat betapa Yuan sedang merasa sangat sedih. Pun dengan suara Yuan yang sudah terdengar semakin sengau.
__ADS_1
“Karena sampai kapan pun, tidak ada yang lebih berharga dari Ngi-ngie yang selalu akan menjadi bayi Papa.” Akhirnya air mata Yuan lumer. Yuan segera menyekanya sembari memasang senyum selepas mungkin. Senyum tulus atas kebahagiaan sekaligus sikap tegas yang baru saja ia ambil.
Apa yang Yuan lakukan sukses membuat semua yang ada di sana menangis haru. Tanpa terkecuali, Zean yang buru-buru menunduk sambil diam-diam menyeka air matanya.
“Aku yang salah, ya?” ucap Zean kemudian.
Semuanya saling lirik tanpa ada yang benar-benar membalas.
“Bukannya kamu fans garis kerasnya Kim Jinnan?” sindir Dean.
“Iya. Soalnya dia keren. Aku suka gaya Kim Jinnan,” balas Zean tanpa keraguan.
Semuanya hanya menggeleng sambil menghela napas sebelum akhirnya melanjutkan makan malam mereka.
“Baiklah, ayo kita habiskan makan malam kita sebelum Kim Jinnan dan kakeknya datang,” ucap Yuan sambil mengambil kembali menggerakkan sendok dan garpu di tangannya untuk menyantap makanan yang masih tersisa.
Semuanya kembali bersemangat. Mereka optimis Yuan bisa mengakhiri usaha Kim Jinnan. Pun meski dari semuanya, Zean justru menjadi terlihat galau.
“Kalau kamu galau begitu, ya sudah kamu saja yang menikah dengan Kim Jinnan, Zean,” tegur Dean yanng masih menghabiskan sisa makanan di piringnya.
“Memangnya aku cowok aapaan! Gini-gini, aku masih normal!” balas Zean sewot.
“Sudah ... sudah ... habiskan saja makanan kalian, lalu setelah itu kalian lanjut belajar.” Keinya menatap tak habis pikir Zean dan Dean. Keduanya yang duduk berhadapan masih saja tidak akur meski mereka baru saja sama-sama bertukar air mata.
“Oh, ya, De ... memangnya kamu belum punya pacar? Katanya kamu keren dan di sekolah punya banyak fans?” lanjut Zean dan sukses membuat yang bersangkutan tersedak.
Pelangi segera mengangsurkan air minumnya pada Dean yang duduk di sebelahnya, dan langsung diterima baik oleh Dean yang juga langsung meminumnya.
“Papa enggak bermasalah kalau Dean punya pacar,” ujar Yuan dengan entengnya.
Kemudian Yuan melirik Keinya. Dan Keinya yang segera meraih segelas air minumnya, berangsur mengangguk sembari menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.
“Mama oke. Seneng malah,” ucap Keinya yang kemudian meminum air minumnya. Kemudian ia melirik Pelangi. “Ngi-ngie kalau ada pilihan sendiri, juga jalani saja. Mama sama Papa percaya, kok, pilihan kalian memang yang terbaik buat kalian.” Ia menatap santai Pelangi dan Dean sebelum menatap Yuan untuk membenarkan.
Sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya, Yuan segera mengangguk. “Benar kata Mama. Kalian, ... tumbuh dan nikmatilah masa yang seharusnya kalian jalani. Bersenang-senang, belajar, menyusun masa depan.”
Ketika Dean dan Pelangi menjadi kikuk bahkan tampak malu-malu, Zean justru menjadi bersemangat. “Berart“ nanti, kalau aku sudah SMA, aku boleh pacaran sama Rora, ya, Pa? Ma ...?”
Pelangi dan Dean refleks mencebik, sedangkan Yuan dan Keinya menjadi terkikik.
***
Sekitar pukul setengah delapan, tak lama setelah Yuan dan keluarganya selesai makan malam, Kim Jinnan dan kakek Jungsu datang. Keduanya tidak datang dengan tangan kosong, sebab bingkisan aneka buah, aneka ramuan herbal, juga sarang burung walet yang terkenal berharga mahal, menyertai kehadiran mereka. Tentunya, Yuan dan Keinya juga meminta ART rumah mereka untuk memanggilkan Pelangi.
“Maaf jika kehadiran kami menganggu waktu kalian,” ucap kakek Jungsu. Pria tua yang memiliki kantung mata besar itu tak hentinya tersenyum.
“Bukan masalah, Tuan Jungsu. Kami sama sekali tidak merasa terganggu atas kunjungan kalian. Justru, kami merasa senang bahkan tersanjung, terlebih kami sudah menganggap kalian sebagai bagian dari keluarga kami,” balas Yuan ramah.
“Dan mengenai Pelangi, kami juga sudah membebaskannya untuk menentukan pilihan. Namun sepertinya untuk saat ini, Pelangi sedang sangat bersemangat untuk mempersiapkan kuliahnya,” sambung Keinya tak kalah ramah dan selalu menghiasi wajah cantiknya dengan senyum.
Bagi Keinya, meski kakek Jungsu sudah terlihat sangat berumur, wajah pria tua itu saja sampai disertai banyak gelambir daging dan kulit yang mengendur, tetapi kakek Jungsu begitu ramah. Kakek Jungsu selalu tersenyum, sampai-sampai, mata kakek Jungsu yang sangat sipit menjadi semakin tidak terlihat.
Sangat berbeda dengan Kim Jinnan. Karena ketika kakek Jungsu terlihat begitu santai bahkan ramah, Kim Jinnan cenderung pendiam dengan senyum yang sangat jarang menghiasi wajahnya. Selain itu, Kim Jinnan juga tak hentinya menunduk dan terlihat jelas menyembunyikan sesuatu, justru terkesan tegang bahkan tertekan.
“Aku penasaran, Pelangi itu anak rumahan. Pasti dia selalu menceritakan semuanya termasuk mengenai kasus wallpaperku! Ya, pasti Pelangi sudah cerita!” batin Kim Jinnan yang menjadi uring-uringan sendiri. “Duh ... mau ditaruh mana mukaku ini? Dan kenapa juga, Om Yuan dan Tante Keinya juga terus menatapku seperti itu?” batin Kim Jinnan makin tak berkutik, terlebih Yuan dan Keinya kerap menatap menelisik ke arahnya.
Kim Jinnan yakin, apa yang sedang Yuan dan Keinya lakukan, karena keduanya sedang mencoba menilainya. Sialnya, Kim Jinnan yang sadar diri juga takut, Pelangi sampai cerita jika selain Kim Jinnan yang terkenal play boy, Kim Jinnan juga sampai dicap mesum.
“Wah ... kalau begitu keadaannya, saya juga turut bahagia mengetahuinya. Pelangi akan menjalani apa yang dia sukai. Dan kalaupun keadaan juga memungkinkan, sebenarnya Jinnan juga masih ingin melanjutkan jenjang pendidikannya,” ujar kakek Jungsu semringah.
Keinya dan Yuan membalasnya dengan senyum yang tak kalah semringah.
“Namun karena Jinnan juga memiliki tanggung jawab di perusahaan,” lanjut kakek Jungsu sembari menepuk-nepuk keras sebelah bahu Kim Jinnan. “Kenapa bocah ini selalu menunduk dan terlihat begitu tegang? Apakah dia sudah melakukan kesalahan fatal?” pikirnya.
“Dia benar-benar harus tinggal untuk mengurus perusahaan,” sambung kakek Jungsu yang lagi-lagi tertawa lepas.
Dengan senyum yang masih begitu lepas, Keinya mempersilakan kedua orang di hadapannya untuk menikmati teh Jepang beraroma bunga sakura yang telah Yuan racikan.
“Terima kasih banyak, Tan,” balas Kim Jinnan yang sebenarnya masih sangat sungkan.
“Iya ... iya, tidak usah sungkan,” balas Keinya.
Keinya bisa tersenyum begitu lepas lantaran akhirnya, Yuan tidak akan memberikan Kim Jinnan kesempatan.
Dan ketika Pelangi datang, bahkan gadis itu masih mengenakan piama lengan panjang layaknya saat makan malam, suasana di sana menjadi langsung berubah.
__ADS_1
“Tuan Jungsu, ini anak pertama saya, Pelangi ....” Yuan sampai berdiri merangkul Pelangi dan mengenalkannya kepada kakek Jungsu.
Kakek Jungsu yang turut bangkit dari duduknya, menatap kagum Pelangi. Lain halnya dengan Kim Jinnan yang hanya tersenyum tipis menatap Pelangi yang sukses membuatnya tersipu.
“Kamu memang sangat cantik seperti mamamu. Jauh lebih cantik dari yang di foto-foto Jinnan.” Lakek Jungsu yang begitu bersemangat, sampai menepuk-nepuk bahu Pelangi.
Pelangi menunduk sambil tersenyum sopan. “Dengan kata lain, foto-fotoku juga ada dalam satu file dengan foto fulgar di ponsel mesumnya? Astaga ...,” batin Pelangi yang mendadak merasa menjadi hina.
“Dia masih terlihat sangat muda, Jinnan ....” Kali ini, kakek Jungsu menatap Jinnan.
“Usianya baru sembilan belas tahun,” ujar Keinya.
Kakek Jungsu mengangguk-angguk dan kemudian tertawa kecil. “Hanya beda tiga tahun lebih muda dari kamu!” ucapnya yang kemudian menepuk sebelah lengan Jinnan jauh lebih keras dari sebelumnya.
“Ya sudah. Mari kita duduk. Pelangi, ajak Kim Jinnan ke depan atau gabung bersama Dean,” ujar Yuan kemudian sambil menatap Pelangi penuh ketulusan.
Pelangi yang balas menatap Yuan segera mengangguk setuju. “Iya, Pa ....”
Ketika menatap Kim Jinnan, tatapan Pelangi berubah menjadi sebal. “Ayo,” ucapnya yang bahkan terdengar malas.
Kemudian Yuan menatap kakek Jungsu. “Biarkan anak-anak mengobrol terpisah saja, Tuan Jungsu. Saya takut mereka kurang nyaman dengan obrolan kita yang sudah berumur.”
“Permisi, Om ... Tante ....” Kim Jinnan pamit sambil membungkuk sopan.
Kim Jinnan segera mengikuti Pelangi yang melangkah ke depan, keluar rumah menuju taman yang di sertai kolam ikan besar. “Gila om Yuan Fahreza, sama anak sambung enggak ada celah sedikit pun. Om Yuan terlihat begitu tulus kepada Pelangi ...,” batin Kim Jinnan yang seketika itu turut berhenti melangkah di depan kolam ikan sebelah Pelangi.
Di kolam ikan besar tersebut yang sampai dipagar terali besi, ada banyak ikan koi warna-warni berukuran besar.
“Aku akan kuliah di luar negeri,” ucap Pelangi dengan nada suara yang tetap saja terdengar mengandung banyak rasa kesal kendati ia sudah berusaha sesopan mungkin.
“Ya ... tadi orang tuamu sudah mengisyaratkan itu.” Kim Jinnan memasukkan kedua tangannya pada kedua saku sisi celana bahan warna hitam yang dikenakan. Tak beda dengan kesehariannya, kali ini Kim Jinnan juga mengenakan kemeja lengan panjang warna biru tua, meski dasi berikut jas yang biasanya menyertai, tak dikenakan lagi.
“Nah, maka dari itu, jangan menungguku lagi,” balas Pelangi yang menjadi sangat bersemangat.
Pelangi memang merasa sangat senang jika sudah melakukan hal yang bisa mengusir apalagi menyakiti Kim Jinnan. Terlebih Pelangi, benar-benar ingin memberi play boy seperti Kim Jinnan, pelajaran. Ya, pria yang masih memiliki darah Korea itu pantas mendapat pelajaran darinya agar tidak semena-mena dan insaf tak jadi play boy lagi. Pun dengan kebiasaan Kim Jinnan yang nyatanya terbilang mesum.
“Apa hubungannya? Lima tahun menunggumu, aku juga sanggup. Bahkan jika memang lebih, aku santai-santai saja. Toh, apa yang kita lakukan juga untuk kebaikan masa depan kita, kan?” balas Kim Jinnan sambil menatap serius Pelangi.
Pelangi menatap sebal Kim Jinnan sambil bersedekap. “Kita? Memangnya kamu pikir, kita apa?” ucapnya sambil menggeleng tak habis pikir.
“Aku sudah memutuskan hanya akan menikah denganmu. Tidak dengan wanita lain.” Kim Jinnan mengatakannya dengan serius.
“Enggak mempan. Aku enggak mempan kamu perdaya begitu. Sana cari saja wanita lain ....” Pelangi benar-benar malas berurusan dengan Kim Jinnan.
“Ngie ... aku akan melakukan semuanya,” ucap Kim Jinnan kemudian dengan nada suara yang jauh lebih lirih sekaligus serius.
Pelangi menghela napas dalam kemudian menatap Kim Jinnan. “Aku tidak mencintaimu. Aku mencintai pria lain. Jadi, tolong lupakan aku.”
Pernyataan dari Pelangi sukses mengonyak-ngonyak hati Kim Jinnan. “Siapa?” tanyanya penasaran.
“Kau tidak perlu tahu!” balas Pelangi sambil melirik sinis Kim Jinnan yang kembali ia punggungi.
“Jadi, karena itu juga, kamu ingin ke luar negeri? Hanya untuk menghindariku?” balas Kim Jinnan yang sampai menebak-nebak.
Pelangi tidak menjawab dan hanya melirik sinis Kim Jinnan.
“Jika memang begitu, kamu tidak perlu melakukannya. Karena apa pun yang terjadi, bahkan sekalipun kamu pergi ke luar negeri dan mengatakan kamu mencintai pria lain, aku tidak peduli!” tegas Kim Jinnan.
“Tetap di sini dan jangan pernah pergi. Kamu tidak akan mungkin bisa lama-lama jauh dari keluargamu,” tambah Kim Jinnan.
“Jinnan, aku mohon, lupakan aku,” balas Pelangi.
Kim Jinnan menggeleng tegas di tengah tatapan seriusnya yang masih mengunci kedua manik mata Pelangi. “Jika memang kita belum sama-sama siap, tidak ada salahnya, kan, kita jadi teman dekat dulu?” pintanya serius.
“Jangan pergi apalagi menjadi orang lain hanya untuk menghindari suatu hal. Dan jangan pernah menyakiti dirimu hanya untuk menghindariku!” Tatapan Kim Jinnan kali ini begitu intens dan nyaris membius Pelangi yang buru-buru menepisnya.
Sebelah tangan Kim Jinnan mengacak puncak kepala Pelangi. “Mulai sekarang kita teman baik,” ucapnya yang kemudian sengaja meninggalkan Pelangi.
Kim Jinnan mengamati suasana taman di halaman rumah keluarga Yuan Fahreza yang tampak begitu segar dengan aneka bunga yang menghiasi di sana. Setelah mengamati lebih teliti, ternyata tanaman yang tertanam di sana bukan sekadar tanaman biasa. Tak hanya harganya yang mahal, melainkan juga khasiatnya. Sebagian dari tanaman yang ada, merupakan tanaman anti nyamuk dan bagus untuk menghalau radiasi.
Pelangi menatap lelah punggung Kim Jinnan. “Sepertinya, akan cukup sulit membuatnya mengerti,” batinnya.
Bersambung .....
Kim Jinnan minta jadi teman dekat 😂😂😂😂
__ADS_1
Terus ikuti dan dukung ceritanya sampai akhir, yaa 😍