Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 28 : Pukulan Berat


__ADS_3

“Jika Tuhan tidak mungkin menguji umatnya melebihi batas kemampuan, seberapa kuat aku, sampai-sampai, Tuhan kembali memberiku cobaan yang begitu menyakitkan? Apakah tidak mendapat restu dari mama Kiara, juga kepergian ibu, belum cukup membuat Tuhan yakin, aku pantas hidup bahagia?”


Season 2 Bab 28 : Pukulan Berat


Hal terakhir yang Rara ingat, ia sedang menjalani perjalanan dari bandara setelah pulang berbulan madu, bersama Kimo.


Kimo mengemudikan mobil mereka yang sempat dititipkan kepada salah satu sopir di restoran Keinya, sedangkan Rara yang kelelahan memilih tidur. Karena entah atas dasar apa, akhir-akhir ini, terhitung semenjak mereka pergi berbulan madu, selain gampang lelah, Rara juga menjadi gampang tidur. Jangankan melihat bantal, sofa, apalagi kasur, merasa nyaman seperti duduk menyandar pada Kimo di bangku tunggu saja, Rara bisa langsung tidur bahkan sangat lelap. Sampai-sampai, di beberapa kesempatan, Kimo jadi malas jalan-jalan dan hanya menghabiskan waktu di hotel lantaran kalau sudah tidur, Rara juga sangat sulit dibangunkan. Belum lagi, musim dingin berikut salju yang sedang berlangsung di Korea Selatan juga tidak memungkinkan Kimo terus-menerus menggendong Rara, yang bahkan hanya akan semakin membuatnya kerepotan, apalagi kalau mereka juga sampai berbelanja.


Pernah di satu kesempatan, di hari ke dua mereka di Korea, saat menunggu kedatangan bus, Rara justru ketiduran sambil menyandar pada Kimo tanpa bisa dibangunkan, sampai-sampai, Kimo terpaksa menggendong Rara memasuki bus. Di mana, semua mata yang melihat langsung menjadikan mereka fokus perhatian. Meski tentu, decak kagum menjadi satu-satunya hal yang mereka layangkan meski tidak secara langsung.


Namun kini, Rara dibingungkan dengan kondisinya. Tak hanya perihal rasa sakit yang seolah menyekap sekujur tubuhnya tanpa ampun, melainkan perihal suasana keberadaannya. Ia sedang terbaring di ranjang rawat sebuah rumah sakit dengan fasilitas elite. Meski tidak sampai ada mesin penopang kesehatan sejenis EKG yang sampai menyertainya, hanya sebatas selang infus yang terselip di punggung tangan kirinya, tetapi Rara mendapati kepalanya dibungkus perban. Entah apa yang terjadi sebenarnya, karena ia sama sekali tidak ingat. Hanya saja, jika ia sampai menjadi pasien, bagaimana dengan Kimo yang mengemudikan mobil?


Belum sempat Rara mencari suaminya dengan perasaan wanita itu yang menjadi sangat hancur, bahkan air matanya menjadi tak henti berlinang sedangkan tubuhnya juga sulit digerakkan, jerit histeris Kiara yang tiba-tiba terdengar, membuat Rara semakin tegang. Rasa takut membuat harapan Rara semakin surut.


Mengenai keadaan Kimo, sungguh hanya mengenai keadaan suaminya yang Rara harapkan baik-baik saja. Sulit bagi Rara mengungkapkan perasaannya saat ini.


Rara dan Kimo baru saja pulang berbulan madu, tetapi kenapa mereka harus mengalami kecelakaan? Bahkan kini, tak hanya jerit histeris Kiara yang tak hentinya memaki Rara, karena ibu mertua yang tidak menganggapnya itu juga sampai memukulnya secara brutal kemudian berusaha mencekiknya, andai saja Keinya dan Angela tidak menahannya.


“Tante, cukup! Rara tidak bersalah! Jadi tolong, berhentilah bersikap kasar kepada Rara!” bentak Keinya yang sampai mendorong tubuh Kiara agar menjauhi sekaligus menyudahi ulah brutalnya kepada Rara.


Kejadian sekarang semakin menguatkan dugaan Rara, bahwa sesuatu yang buruk telah menimpa Kimo. Sayangnya, lidahnya justru terasa begitu kelu, sulit untuk digerakan padahal ia sangat ingin bertanya pada Angela yang dengan begitu telaten, menyeka air matanya. Rara ingin bertanya kepada ibu mertua Keinya yang sampai mendekapnya hangat, mengenai keadaan Kimo.


“Semuanya baik-baik saja. Kamu jangan berpikir macam-macam. Yang penting kamu cepat sembuh saja,” bisik Angela menyertai belaian-belaian lembut yang begitu dipenuhi kasih sayang. Belaian tulus yang tidak pernah Rara dapatkan lagi dari ibu kandungnya, apalagi ibu mertuanya.


Yang Rara lihat, Keinya sampai menggiring paksa Kiara keluar dari kamar rawatnya. Benar-benar kenyataan yang membuat perasaan Rara seperti dicabik-cabik. Sayangnya, semua luka yang ia tampung dan semakin menyiksanya itu, hanya tertuang dalam tangis berikut sesengggukan yang tidak berkesudahan, sampai-sampai, sesak di dadanya semakin tidak terelakkan. Semua luka-luka itu seolah saling berlomba, berusaha menjatuhkannya dengan segala cara.


Rara kehilangan semua keberanian sekaligus kekuatan yang selama ini ia gunakan untuk bertahan. Tekad yang selalu bermodal nekat benar-benar tidak lagi menyertainya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” batin Rara terpejam pasrah. “Aku harus bangun. Aku harus mencari Kimo!” Sialnya, sekalipun ia sudah berteriak, suara yang dihasilkan benar-benar lirih.


Menyadari Rara sulit bersuara, Angela segera meraih air mineral kemasan dalam botol, dan memuntun Rara mimum melalui sedotan yang sampai ia pasang.


“Mimum. Pelan-pelan ...,” pinta Angela.


Rara menyambutnya antusias, di antara luka berikut isak tangis yang masih berlangsung.


Dari pintu yang ia punggungi dan sengaja ia jaga agar Kiara tak lagi masuk dan membuat ulah, Keinya meratapi keadaan Rara. “Kenapa Rara sampai sulit berbicara? Dia baik-baik saja, kan? Dia hanya kebingungan saja, kan? Bukan karena masalah serius?” batinnya.


Keinya dan Angela merasa sedikit lebih tenang, ketika akhirnya Rara berdeham dan batuk-batuk, di mana tak lama setelah itu, perlahan-lahan, wanita itu mencoba belajar untuk berbicara. Tentu, Kimo adalah satu-satunya tujuan yang Rara inginkan. Di antara kesedihan berikut air mata yang tak kunjung usai, Rara merintih, meminta bertemu Kimo.

__ADS_1


“Kimi baik-baik saja,” bisik Keinya menyakinkan sambil menyeka air mata Rara yang masih terbaring lemah.


Rara menggeleng lemah. “Kalau Kimo baik-baik saja, mana mungkin kalian sampai menangis. Mana mungkin mama Kiara sampai semarah tadi?” isak Rara dengan suara yang masih terdengar sangat lirih.


Keinya jadi ikut terisak-isak.


“Ini hari apa? Aku ingin tahu, seberapa lama aku di sini,” pinta Rara kemudian. Ia menatap kedua wanita di sebelahnya dengan memelas. Benar-benar memohon.


Keinya menatap Angela sarat kesedihan bahlan putus asa. “Mi, aku titip Rara sebentar,” pintahnya lirih.


Angela yang terlihat jauh lebih tegar, segera mengangguk.


Rara semakin dibuat bingung. Kenapa Keinya sampai menitipkan dirinya kepada Angela? Keinya mau ke mana? Dan kenapa juga, mereka tak kunjung menceritakan perihal keadaan Kimo?


Sambil menelan ludah dan masih membuatnya kesulitan, Rara kembali menangis. “Jika Tuhan tidak mungkin menguji umatnya melebihi batas kemampuan, seberapa kuat aku, sampai-sampai, Tuhan kembali memberiku cobaan yang begitu menyakitkan? Apakah tidak mendapat restu dari mama Kiara, juga kepergian ibu, belum cukup membuat Tuhan yakin, aku pantas hidup bahagia?” batin Rara terpejam pasrah. Bersamaan dengan itu, ia menjadi teringat kebersamaan terakhirnya dengan Kimo.


Dalam ingatan Rara, hal terakhir yang wanita itu ingat, Kimo masih memperlakukannya dengan sangat baik. Masih rutin membukakan pintu berikut memasangkan sabuk pengaman sebelum akhirnya pria itu memutari mobil dan bersiap di balik kemudi.


“Tidurlah. Kamu terlihat sangat kelelahan. Wajahmu saja sampai terlihat begitu pucat. Besok, sebelum aku ke kantor, kita ke rumah sakit buat cek kesehatan kamu,” ucap Kimo saat itu sambil mulai berkemudi.


Rara mengangguk, menyanggupi ucapan Kimo. Sebab, selain karena ia tidak ingin sakit lagi dan itu akan membuatnya terbatas dalam beraktivitas, Rara juga sadar diri jika kesehatan berikut perubahan pola hidupnya, tidak baik-baik saja. Pun dengan kesehatan Kimo. Pusing dan mual yang masih kerap menyerang suaminya itu, membuatnya tidak baik-baik saja. Rara takut jika sesuatu yang fatal justru menimpa Kimo.


Keinya menatap Rara tanpa bisa menyembunyikan keresahannya.


“Kimo baik-baik saja,” ucap Keinya meyakinkan.


Rara menyikapinya dengan menggeleng. “Jika aku belum boleh menemuinya, tolong, biarkan kami berkomunikasi melalui panggilan video.”


Keinya tak kuasa menjawab dan justru melirik Angela yang balas meliriknya tanpa bisa menyembunyikan kebingungannya.


“Kimo belum siuman,” ucap Keinya kemudian.


Rara terpejam pasrah. “Lukanya parah? Apa ...?”


Keinya menggeleng kemudian menggenggam erat sebelah tanga Rara yang menggenggamnya. “Kimo kuat! Dia sangat mencintaimu! Kalian saling mencintai! Dan kalian akan baik-baik saja!”


Sambil menahan luka-luka yang masih betah menjadi teman baiknya, Rara hanya mampu mengiyakan anggapan Keinya. Semoga, Kimo, bahkan mereka akan baik-baik saja!


Keinya tahu, apa yang menimpa Rara merupakan pukulan berat. Bahkan, ia tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi padanya jika ia ada di posisi Rara.

__ADS_1


***


Di sebuah ruang rawat ICU dengan berbagai fasilitas mesin pembantu kelanjutan kehidupan, dari selang infus, selang makanan, katater, monitor berikut ventilator selaku alat bantu pasien bernapas melalui selang yang dimasukkan lewat mulut, kondisi Kimo masih tampak memprihatinkan dan belum ada kemajuan yang berarti.


Saking parahnya keadaan Kimo, dokter hanya membatasi satu orang yang boleh masuk ke ruangannya. Itu pun harus menjalani prosedur mengutamakan kebersihan demi keamanan Kimo sendiri. Termasuk mengenakan pakaian berikut penutup kepala layaknya apa yang Kiara kenakan. Dalam pakaian setelan panjang warna biru, wanita yang sangat menentang hubungan Kimo dan Rara itu terisak-isak keluar dari ruang rawar Kimo.


Franki dan Kimi yang terjaga di luar ruang rawat Kimo, ruang tunggu, segera menyudahi duduk mereka sembari menatap bingung Kiara.


Menyadari itu, Kimi mendekati, kemudian merangkul Kiara, mencoba menyalurkan sisa tenaga yang ia punya. Karena biar bagaimanapun, kecelakaan yang menimpa Kimo juga menjadi pukulan berat untuk semuanya termasuk dirinya.


Kiara menekap wajahnya erat-erat seiring tangisnya yang kembali pacah. “Pokoknya Mama enggak mau! Mama enggak sudi kalau Rara masih dekat-dekat Kimo! Mereka harus bercerai!” isaknya.


Franki dan Kimi langsung bertatap cemas di antara kegelisahan yang bertambah. Kemudian mereka kompak menggeleng.


“Jaga ucapanmu. Tenangkan dirimu. Jangan membuat keadaan yang sudah buruk, menjadi semakin buruk,” tegur Franki.


“Jika memang Mama sayang Kak Kimo, sedangkan Mama juga tahu, Kak Kimo sangat mencintai Kak Rara, kenapa Mama tidak merestui mereka? Mama nggak kasihan, melihat mereka harus begini?” ucap Kimi sarat kekecewaan.


Kiara terdiam dan menatap Kimo tidak percaya. Kemarahan juga nyaris meledak andai saja ia tidak melihat siapa Kimi. “Kenapa di saat situasi seperti ini, kalian masih saja belum bisa mengerti? Kimo seperti ini, Kimo menjadi kecelakaan bahkan sial, gara-gara Rara!” tegasnya dengan suara lirih. Karena untuk berucap di depan kamar rawat Kimo juga dibatasi agar tidak mengganggu keadaan Kimo sendiri yang harus diperlakukan secara intensif.


Kimi dan Franki sudah tidak bisa mengontrol Kiara lagi. Mereka pasrah, dan memilih diam tanpa kembali berkomentar pun meski Kiara meminta.


Franki mendekati Kimi. “Jaga mama. Jangan sampai mama melakukan tindakan nekat apalagi mengamuk Rara lagi. Papa mau jenguk Rara,” bisiknya.


Kimi mengangguk tanpa perubahan ekspresi yang berarti. Masih sarat kesedihan dan terbatas dalam menuangkannya lantaran Kiara masih saja bersikeras memisahkan Kimo dan Rara yang jelas-jelas saling mencintai. Namun tak lama kemudian, ia menuntun Kiara untuk duduk di bangku tunggu yang ada. Bangku tunggu yang sempat mereka gunakan sebelumnya. Hanya saja, Kiara menolak dan memilih kembali masuk ke ruang rawat Kimo.


***


Keinya melangkah dengan lesu meninggalkan ruang rawat Rara. “Andai, Kainya baik-baik saja. Dia tidak mengalami kecemasan yang membuat kesehatannya semakin memburuk, pasti polisi bisa meminta keterangan darinya. Karena Daniel bilang, tak lama setelah mereka menjumpai mobil Rara dan Kimo, ada mobil yang juga melintas dari arah berlawanan,” batin Keinya yang terhenti lantaran ia tidak sengaja berpapasan dengan Franki.


Bersambung ....


Author tahu ini juga pukulan berat buat kalian. Author aja nulisnya sambil nangis. Gak kuat. Tapi tolong tetap dukung ceritanya, ya!


Saran-saran dari kalian untuk cerita ini juga Author tunggu.


Salam sayang,


Rositi.

__ADS_1


__ADS_2