Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 102 : Menuju Masa Depan


__ADS_3

Bab 102: Menuju Masa Depan


Di antara sepoi angin yang menyibak dan meninggalkan kesan sejuk, Kimo sekeluarga tengah menjalani sesi foto kelulusan Mofaro dan Rafaro. Kimo berdiri di belakang, sedangkan dari kanan, Mofaro, Rafaro, Elia, berikut Rara, duduk di kursi yang sengaja disusun cukup melingkar. Sementara itu, Rora yang juga memegang buket bunga layaknya keempat orang yang duduk di belakangnya, duduk di paha Elia dan Rafaro.


Potret keluarga bahagia benar-benar menyelimuti kebersamaan keluarga Kimo yang kali ini sampai disertai Elia, sesuai permintaan Rafa, berikut rencana awal mereka. Ketika Mofaro, Elia, berikut Rafaro diminta untuk foto bertiga, Mofaro mendadak membentangkan kertas HVS bertuliskan “Masih Jomlo”. Dan akibat kenyataan tersebut pula, Mofaro sukses membuat semuanya tertawa.


“Enggak, kok. Sebenarnya Mo punya pacar. Bahkan ada beberapa. Modus saja ngakunya jomlo terus, padahal ponselnya saja sampai ada beberapa biar enggak ketahuan sama setiap pacarnya!” jelas Rafaro dan sukses membuat Mofaro menggeragap.


“Apaan, sih?” Mofaro sampai mendelik ketika melirik Rafaro.


“Lihat saja ... jadi play boy, bahkan tukang bohong, biasanya jodohnya susah!” ujar Elia yang kemudian mendapat timpukan toga dari Mofaro, tepat di tengah-tengah keningnya.


“Ya ampun, Mo!” keluh Elia yang sampai merengut sambil mengelus-elus bekas timpukan Mofaro.


“Kalau play boy susah jodoh, kenapa Kim Jinnan bisa mendadak menikah bahkan sama cewek yang dicintai?” tantang Mofaro.


“Itu mukjizat, Mo! Enggak ada yang tahu, kan, kalau di kehidupan sebelumnya sebelum menjalani reinkarnasi, Kim Jinnan merupakan orang yang sangat baik, dan karena itu juga, di kehidupan sekarang, Jinnan jadi hoki?” kilah Elia dan sukses membuat Rafaro semakin sibuk tertawa.


“Ah kamu ... kebanyakan baca novelnya Mom, ini! Kamu habis baca novel yang “Cinta CEO Dan Tuan Putri”, kan?” tuding Mofaro. “Persis sama jalan cerita yang kamu jelasin!”


Elia hanya menyeringai dan membalas Mofaro dengan senyum tak berdosa.


Melihat tumbuh kembang anak-anak mereka yang mulai beranjak dewasa, Kimo dan Rara merasa waktu berlalu dengan sangat cepat. Padahal seingat mereka, kemarin mereka baru saja saling mengumpat. Ya, mereka baru saja mengenal dan tidak pernah berpikir akan bersama dalam ikatan cinta, lantaran semenjak mengenal saja, mereka sudah tidak cocok. Jangankan saling menghargai, karena akur saja terbilang sangat jarang.


Kimo dan Rara masih ingat, andai saja Yuan dan Keinya tidak terus-menerus menyatukan mereka, tentu tidak akan ada sepasang putra kembar mereka yang sangat keren, berikut si cantik Rora yang begitu anggun. Pastinya, mereka juga tidak mungkin mendapatkan banyak pembelajaran hidup, apalagi perjalanan hubungan mereka, sungguh tidak mudah, terlebih di awal hubungan mereka yang penuh dengan konflik bahkan drama.


“Hai ... selamat, ya!” sapa Yura yang tiba-tiba datang.


Yura yang menikah dengan Gio memang sedang liburan di Australia. Terlebih, orang tua Yura yang tak lain juga merupakan orang tua Yuan, memiliki rumah di Australia. Di mana, Yura dan Gio langsung antusias meminta ikut serta meramaikan wisuda Mofaro dan Rafaro, ketika mengetahuinya.


Yura bersama Gio, berikut Nathasya gadis cantik bermanik mata cokelat seusia Elia, mereka datang sambil membawa dua buket besar. Satu dibawa Yura dan kemudian langsung diberikan kepada Rafaro, satunya lagi dibawa Nathasya dan diberikan kepada Mofaro.


“Selamat, ya!” Tak beda dengan Yura dan Gio, Nathasya juga menyalami Mofaro, Elia, berikut Rafaro secara berurutan. Tentu, kehadirannya beserta orang tuanya juga disambut hangat oleh ketiganya yang sampai beranjak dari tempat duduk mereka.


“Ya ampun ... manisnya! Sikat, ah!” gumam Mofaro tak lama setelah Nathasya berlalu, kembali pada Yura dan Gio.


Tentu, Elia dan Rafaro yang masih bisa mendengar Mofaro dengan jelas, langsung tertawa dan sibuk menekap mulut mereka, demi meredamnya.


“Pasangan setres!” cibir Mofaro sambil menatap sebal kebersamaan Elia dan Rafaro yang semakin mesra saja, meski keduanya baru beberapa jam bertemu. 


Dua jam sebelum berangkat menghadiri acara wisuda, Rafaro dan Mofaro memang sengaja menjemput orang tua mereka yang datang bersama Rora dan Elia di bandara. Jadi, mereka juga melakukan persiapan dengan waktu yang sangat tipis, hingga akhirnya tampil maksimal di acara peresmian mereka menjadi lulusan terbaik.


“Mo, sudah, ih. Jangan siapa-siapa dikejar!” tegur Elia yang sampai menepuk keras sebelah paha Mofaro yang memang masih duduk di sebelahnya.


“Menurutku enggak apa-apa, sih, aku punya gebetan bahkan banyak pacar, asal cintaku cuma buat istriku!” ujar Mofaro acuh.


“Tapi biasanya, masa lalu mengenai mantan, selalu jadi setan jika dibahas dengan pasangan. Enggak usah ingkar, coba deh bayangin kalau pasanganmu punya banyak mantan? Terus, mantan pasanganmu masih suka hubungin pasanganmu?” ujar Elia dan sukses membuat Mofaro diam. 


“Hidup itu terlalu mudah untuk dipahami, Mo. Cukup bercermin dan lakukanlah apa yang ingin kamu dapatkan. Karena apa yang kita lakukan, juga akan menjadi yang kita dapatkan.” Elia menghela napas dalam.


“Kamu, ya ... aku tuh sudah move on dari kamu, eh kamu bikin aku meleleh lagi!” keluh Mofaro sambil menatap sebal Elia.


Elia tertawa. “Apaan, sih?”


“Raf ... kok kamu santai-santai saja, aku godain Elia?” ujar Mofaro kemudian.


Rafaro menggeleng tak habis pikir. “Pacarku enggak mempan digodain sama kamu, bahkan meski rupa kita nyaris sama. Karena hubungan itu menyangkut hati dan kepercayaan, Mo!”

__ADS_1


Sekali lagi, apa yang Rafaro balaskan juga tak beda dengan apa yang Elia katakan kepada Mofaro. Bahkan boleh dibilang, keduanya selalu bisa melemparkan bom waktu yang membuat Mofaro, sampai tidak bisa berkata-kata. 


“Ya sudahlah, aku mau insyaf dan enggak jadi play boy lagi. Tapi kalian comblangin aku sama cewek itu, dong!” Mofaro yang awalnya lemas, mendadak bersemangat ketika melihat Nathasya. Membuat Elia dan Rafaro yang masih senyum-senyum, menjadi berkode mata. 


“Usaha sendirilah. Biar dia merasa lebih berarti karena kamu lebih berjuang!” ujar Rafaro.


“Emang gitu, Li?” tanya Mofaro yang kemudian meminta pendapat Elia.


Elia buru-buru mengangguk. “Saranku, karena dia anak dari ‘orang kita’, kamu jangan main-main!” Elia menatap Mofaro penuh peringatan.


“Putusin semua pacar kamu, dan mulai serius kejar dia!” tambah Rafaro yang kemudian melirik Mofaro.


Setelah menatap Elia, Mofaro berangsur melirik Rafaro. Sedangkan Rafaro yang kebetulan masih menatap Mofaro, berangsur membalas kembarannya itu sambil mengangguk.


“Jaga sikapmu, Mo. Kamu sudah dewasa,” ucap Rafaro dengan santainya.


“Santai sajalah, Mo. Aku dan Rafa saja santai. Kami sama-sama menyusun masa depan dulu,” tambah Elia sambil menatap dan meyakinkan Mofaro. Terlebih di mata Elia, Mofaro begitu terobsesi untuk menjalin hubungan.


“Bilangnya santai-santai ... menyusun masa depan dulu, eh tahu-tahunya nikah kayak Ngi-ngie!” cibir Mofaro sambil melirik kesal kedua sejoli di sebelahnya.


Rafaro dan Elia kembali tertawa. Hingga Yura dan keluarga kecilnya yang sedang mengobrol dengan Kimo dan Rara di depan sana, menjadi heran sendiri.


“Mereka memang begitu, ya? Kelihatannya asyik banget?” ujar Yura yang sampai ikut bahagia melihat kebersamaan ketiga sejoli yang sampai saling sikut sambil tertawa lepas di belakang sana.


“Biasa. Kalau sudah bareng ya begitu,” ujar Rara sambil mengulas senyum.


“Eh, Ra ... itu yang sama anak kembarmu, anaknya Steven sama Kainya, kan?” tambah Yura lagi yang menjadi penasaran pada sosok Elia.


“Cantik banget kayak Kainya, ya?” ujar Gio yang menjadi sibuk mengamati Elia.


Yura langsung berdeham sekeras mungkin, seiring ekspresi wanita itu yang menjadi dikuasai kekesalan. “Jelas-jelas dia cantik karena Steven terlalu tampan!” ucapnya sampai mengumpat.


“Mami sama Papi kebiasaan. Sudah tua juga, masih saja cemburu-cemburuan!” uring Nathasya yang menjadi menunduk dan merengut sebal.


***


“Eh, omong-omong, si Elena apa kabar? Dia masih sama Atala, apa sudah bubar?” Mofaro benar-benar ingin tahu, terlebih hubungan Elena dan Atala terbilang hubungan yang memiliki konflik terbilang rumit.


Elia berangsur mengangguk. “Masih.”


“Lah, terus si Irene, gimana ceritanya?” Mofaro makin antusias.


Rafaro yang awalnya tidak berkomentar dan menjadi penyimak baik, menghela napas pelan sebelum akhirnya berkata, “enggak usah ikut campur urusan orang, Mo.”


“Urusan orang bagaimana? Begitu-begitu, Elena juga orang kita, kok!” Mofaro mendengkus bersamaan dengan dahinya yang menjadi dihiasi banyak kerut. “Kasihan. Mereka sama-sama korban.” 


Sekali lagi, Mofaro menghela napas dalam dan bahkan jauh lebih dalam dari sebelumnya. “Ya ampun ... enggak kebayang kalau aku jadi mereka.”


“Yang jelas, masalah yang menimpa, bikin mereka tambah dewasa. Selain itu, mereka juga lebih mencintai satu sama lain. Aku lihatnya begitu. Intinya, mereka baik-baik saja,” ujar Elia yang akhirnya angkat suara.


“Tapi, si Atala, sampai nikah sama Irene juga, apa bagaimana?” tambah Mofaro.


*** 


Bersama Elena yang ia gandeng erat, Atala melangkah tergesa menelusuri koridor rumah sakit. Kedua mata Atala terus mencari-cari dan menatap saksama setiap ruangan yang mereka lalui. Karena tadi, ketika ia dan Elena baru saja mengunjungi sebuah restoran Korea untuk makan siang, Arkan menelepon dan mengabarkan jika Irene akan menjalani persalinan.


Elena yang terus mengikuti tuntunan Atala, menangkap banyak kecemasan bahkan ketakutan yang sedang menguasai pria itu. Bahkan dalam menggandengnya saja, Atala sampai membuat tangannya terasa sakit. Hanya saja, Elena yang sadar keadaan Atala seperti apa, memilih bungkam dan menahan rasa sakitnya.

__ADS_1


“At, belok kiri. Itu ada papan keterangan kalau di sana merupakan ruang bersalin.” Elena yang juga ikut memastikan setiap ruangan yang mereka lalui, sengaja mengingatkan Atala lantaran ruang bersalin yang menjadi tujuan mereka, ada di seberang kiri dan nyaris mereka lalui.


“Ah iya.” Atala segera putar balik dan memasuki koridor keberadaan ruang bersalin yang Elena ingatkan.


Di salah satu bangku tunggu yang ada di sana, Arkan duduk gelisah. Pria itu kerap menghela napas dan mengembung-kempiskan mulutnya, terlepas dari wajah berikut sekitar lehernya yang sudah sampai berkeringat.


“Bagaimana?” sergah Atala setelah mereka sampai di hadapan Arkan.


Arkan terbengong-bengong kebingungan menatap kehadiran Atala dan Elena. “Ya masih proses,” ucapnya sembari beranjak mengakhiri duduknya.


“Di dalam ada yang nemenin, kan?” lanjut Atala lagi yang kemudian menggandeng Elena untuk memasuki salah satu ruang bersalin dan tadi sempat Arkan tunjuk sebagai ruang bersalin keberadaan Irene.


“Hih, At! Jangan masuk! Nanti Irene ngamuk! Lagian, di dalam sudah ada papah sama mamah!” tegur Arkan.


Waktu memang telah meluruhkan keegoisan yang nyaris menghancurkan hubungan Irene dengan keluarganya, khususnya orang tua, dan juga Atala. Boleh dibilang, semenjak pertemuan Arkan dengan Atala dan Elena, di depan restoran pilihan Atala, semua itu mulai mencair akibat Arkan yang mengetahui kenyataan, memberanikan diri untuk membicarakannya dengan orang tuanya. 


Seperti anggapan Elena, baik Irene maupun Atala, merupakan korban. Dan memang sungguh tidak ada gunanya, jika mereka hanya sibuk mendebatkan kenapa kesalahan fatal yang terjadi harus ada? Terlebih melakaukan perubahan menjadi lebih baik, jauh lebih diutamakan ketimbang saling menyalahkan sekaligus meratapi kesalahan.


Meski pintu tertutup rapat, tapi jerit kesakitan Irene, masih bisa mereka dengar dengan baik, dan kenyataan tersebut membuat ketiganya bergidik ngeri.


Di tengah kenyataannya yang menjadi sungkan, Arkan pun berkata, “maksudku memberimu kabar Irene mau lahiran, karena aku menghargai perjuanganmu yang masih saja berusaha tanggung jawab, meski semenjak mengetahui kebenaran, orang tuaku juga menjadi sangat membenci kamu.”


Memang benar, orang tua Irene langsung membenci Atala dan melarang Irene memiliki hubungan dengan Atala, meski yang salah dalam kasus mereka adalah Anton. Hanya saja, mungkin karena orang tua Irene telanjur kesal kepada Anton, Atala yang notabene anak Aton juga sampai mendapat imbasnya. Terlepas dari itu, mengenai keputusan Atala yang ingin mengadopsi anak Irene juga langsung ditolak keras, sebab orang tua Irene akan mengambil alih semua tugas sekaligus kewajiban tersebut.


“Please, ya, At. Daripada terjadi hal yang tidak diinginkan, ... lebih baik kamu jangan di sini, deh. Nanti pasti aku kabarin, kok!” lanjut Arkan lagi yang masih berusaha membujuk Atala.


Elena yang sadar keberadaan Atala bisa membuat keadaan tidak baik-bak saja, berangsur mengguncang sebelah lengan Atala yang masih menggandengnya. Di mana, detik berikutnya, Atala langsung menoleh dan menunduk menatapnya. 


Melalui tatapan cemas yang dilakukan, Elena menuntun Atala untuk segera meninggalkan kebersamaan. Sebelum orang tua Irene mengetahui keberadaan mereka, dan kenyataan tersebut bisa berakibat fatal.


“Sori, ya. Tapi serius, nanti aku kabari, kok!” Arkan berusaha meyakinkan.


Kendati berat, Atala yang menjadi merasa sangat bersalah, akhirnya menyerah dan mengikuti tuntunan lemah Elena.


“Demi Tuhan, At. Kamu sama sekali enggak bersalah untuk kasus ini. Mungkin memang sudah jalannya harus begini? Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah, dari semua rencana terbaik umat-umatnya.” Elena berangsur mendekap sebelah lengan Atala.


Meski apa yang Elena katakan memang benar, tapi entah kenapa, Atala tidak bisa menyudahi rasa bersalahnya. Rasanya, sungguh tidak adil jika kebahagiaan sahabatnya justru dirampas oleh orang terdekat Atala sendiri.


“Padahal yang salah papahmu, tapi justru kamu yang merasa terpuruk begini?” batin Elena yang sampai mengelus punggung Atala.


“Maaf, ya?” lirih Atala yang kemudian menoleh, dan menatap Elena penuh cinta, kendati penyesalan berikut rasa bersalah, masih menghiasi tatapannya.


Elena mengulas senyum sambil mengangguk pelan. Sambil terus melangkah meninggalkan rumah sakit, Elena yakin, Atala hanya membutuhkan waktu untuk terbiasa mengakhiri rasa bersalahnya. Dan melalui cinta mereka, Elena juga yakin bisa menghapus semua luka yang sampai membuat Atala trauma.


“Makasih, ya?” lirih Atala yang kali ini sampai menatap Elena dengan banyak cinta.


Elena mengangguk ceria. “Kamu harus terbiasa. Pelan-pelan.”


Atala menghela napas dalam. “Iya ....” 


Tatapan Atala yang menjadi lurus ke depan, menjadi kosong.


“Atala?” panggil Elena cemas. Elena sampai menjadi gelisah dan tak sabar menunggu balasan Atala.


“Aku melihat, masa depan kita semakin dekat!” ucap Atala kemudian sambil menahan tawa.


“Ya ampun ... aku pikir, kamu kenapa-kenapa!” keluh Elena sambil merengut sebal.

__ADS_1


“Tapi syukurlah ... akhirnya kamu bisa ketawa lagi!” batin Elia kemudian yang menjadi ikut bahagia melihat kebahagiaan mulai kembali membersamai Atala.


Bersambung .....


__ADS_2