Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 94 : Lahirnya Si Kembar


__ADS_3

“Ayo, berjuang! Karena melahirkan sudah jadi bagian dari perempuan! Kodratnya perempuan ya melahirkan!”


Bab 94 : Lahirnya Si Kembar


Sudah tak terhitung berapa banyak, Rara melangkah. Mondar-mandir tidak jelas, di mana ada kalanya, Rara sampai tak bisa menahan air mata saking sakitnya. Gelombang cinta dalam proses pembukaan yang wanita itu rasakan benar-benar dasyat. Tak pernah Rara merasakan sakit sesakit sekarang. Sakit yang sampai membuat tubuhnya gemetaran, berkeringat dingin saking lemasnya.


Pun dengan Kimo yang tak hentinya menemani sambil mencengkeram sebelah tangan Rara menggunakan kedua tangan. Selain itu, Kimo juga tak hentinya menenangkan Rara dengan kata-kata sarat perhatian sekaligus cinta. Kimo tak hentinya merangkul, menciumi kepala istrinya penuh kasih, meski yang ada, kemarahanlah yang ia dapatkan dari Rara.


“Sakit banget, Kimo! S-sakit sesakit-sakitnya, Kimo!” Rara terpejam sangat erat. Selain berhenti melangkah, ia yang sampai menghadap Kimo juga mencengkeram erat kedua tangan Kimo bersamaan dengan rahangnya yang mengeras akibat gigi-giginya yang bertautan kencang. Ia menahan semua itu, bertahan dan terus berusaha berjuang.


Kimo bahkan turut merasakan sakit luar biasa atas kenyataan Rara. Bukan sekadar cengkeraman yang wanita itu lakukan, melainkan perihal kesakitan luar biasa yang wanita itu halau. Tubuh Rara yang sampai kuyup keringat, menandakan betapa kuatnya rasa sakit yang sedang menerjang istrinya.


“Kalau memang sakit banget, ... kita sesar saja! Cari aman biar kamu juga enggak sesakit ini!” bisik Kimo tepat di sebelah telinga Rara.


Rara yang masih menunduk, menyandarkan kepalanya ke dada Kimo, segera menggeleng. “Enggak! Aku mau normal!” rintihnya.


“Normal dan sesar sama saja. Ini hanya proses, dan kita pilih yang biar kamu enggak merasakan sakit seperti ini,” bujuk Kimo lagi, masih berusaha meyakinkan Rara.


“Enggak! Aku tetap mau normal, Kimo ... tinggal enam pembukaan lagi!” balas Rara memohon dan kembali berlinang air mata.


“I-iya, iya ... ya sudah ... ayo, kita jalan lagi biar pembukaannya nambah. Enam pembukaan lagi. Semangat! Si kembar sudah enggak sabar buat keluar,” ujar Kimo masih berusaha menenangkan.


Rara berangsur menarik kepalanya dan menengadah. Ia menatap Kimo di antara lelah berikut sisa tenaga yang tak seberapa. Kimo menyambutnya dengan senyum tulus. Wajah Rara benar-benar pucat, sedangkan pandangannya sudah sangat sayu. Terhitung, sudah tiga jam lamanya wanita itu menahan sakit layaknya sekarang.


Kimo berangsur mundur, kembali menyambung langkah untuk Rara, agar pembukaan istrinya itu segera bertambah.


Rara mengikuti tuntunan Kimo dengan gemetaran berikut buih keringat yang semakin dasyat. Ia terus berjuang melawan semua rasa sakit demi segera bertemu dengan buah hatinya. Namun, tiba-tiba saja hati ingatan Rara dihiasi penuturan Piera yang mengatakan, perihal Rara yang beruntung karena Piera sudah mau melahirkan Rara.


“Pantas ibu bilang seperti itu. Ternyata, ... melahirkan sesakit ini ...,” batin Rara. “Ya sudah, Ra. Jangan mengeluh apalagi menangis terus. Di dunia ini, wanita yang melahirkan bukan hanya kamu.” Rara menyemangati dirinya sendiri.


“Bahkan di dunia ini banyak yang punya banyak anak dan nyatanya, mereka baik-baik saja! Ayo, berjuang! Karena melahirkan sudah jadi bagian dari perempuan! Kodratnya perempuan ya melahirkan!” Sekali lagi, Rara meledak-ledak dalam hati. “Toh, Kimo ada dan selalu siaga buat kamu. Dan bahkan ... lihat, mertuamu datang. Papa dan mamamu datang! Mereka semua mendukungmu!”


Dari depan, Kiara dan Franki sampai setengah berlari menghampiri Kimo dan Rara. Kimo dan Rara sendiri ada di halaman sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak. Di halaman sana sendiri suasana terbilang sepi. Hanya Kimo dan Rara yang berjalan-jalan di sana. Hanya bebera perawat berikut beberapa orang termasuk pasien yang melintas di lorong seberang.


“Ra, ... kamu mau makan apa? Nanti mama carikan? Ayo, coba mau makan apa?” tawar Kiara. “Mau es krim? Mau cokelat? Buah? Ah! Salad buah! Kamu suka salad buah, kan?!” Kiara begitu bersemangat.


Rara yang menjadi terharu, kembali berlinang air mata. Dan mendapati hal tersebut, Kimo pun mengambil alih keadaan.


“Ya sudah, Ma ... siapkan semuanya saja. Nanti kalau mau, pasti Rara makan,” ucap Kimo.


“Ya sudah, Papa sama Mama cari semua makanan kesukaan kamu, ya!” sergah Franki yang kemudian bergegas menggandeng tangan Kiara meninggalkan kebersamaan Kimo dan Rara.


Meski masih menahan sakit dan berbicara pun tidak kuat, Rara melepas kepergian Franki dan Kiara. Keduanya yang bahkan sudah mengenakan pakaian pesta karena awalnya akan menghadiri resepsi pernikahan Kainya dan Steven, terlihat begitu bersemangat.


“Ayo, pelan-pelan lagi,” bujuk Kimo dan sukses membuyarkan lamunan Rara.


Rara mengangguk pasrah. “Semakin cepat bergerak, semakin cepat juga pembukaannya, ya?” ujarnya.


“Iya, ... apa mau tiduran miring ke kiri, kayak saran dokter. Bisa, kan?” balas Kimo.


“Ya sudah. Jalan setengah jam lagi. Syukur-syukur langsung pembukaan sembilan!” ujar Rara optimis.


Kimo jadi kepikiran membuat Rara mengalihkan rasa sakitnya. Sejenis melakukan hal yang sangat Rara gemari. Menonton acara lucu, atau ... mendengarkan musik. Dan memikirkan itu, Kimo segera mengeluarkan ponselnya. Mencari acara lucu yang ia maksud dan ia sodorkan pada Rara sambil terus mengajak istrinya itu berjalan.


Kendati ada kalanya berhenti dan sampai terpejam menahan sakit, tetapi tawa lepas juga kadang menjerat Rara ketika adegan-adegan lucu yang mereka tonton memuncak. Semua itu terus berlanjut layaknya semestinya. Bahkan tangan Kimo yang mengendalikan ponsel sampai mati rasa. Namun, setelah satu jam berlalu dari perjuangan mereka, aliran darah tiba-tiba mengalir dari rahim Rara.


“K-kimo ... Kimo, ada yang mau keluar! K-kimo, ayo ke dokter!” sergah Rara yang tak lagi merasakan sakit seperti sebelumnya. Dirasanya, memang ada yang akan keluar dari perutnya. Itu juga yang membuat kedua tangannya berpegangan erat pada kedua bahu suaminya.


Kimo yang panik mendapati banyak aliran darah bahkan memang ada yang akan keluar dari rahim istrinya, sampai refleks membuang ponselnya hanya untuk membopong Rara.

__ADS_1


“Lho ... lho ... kenapa itu dibuang?!” sergah Rara kebingungan, mengantarkan Kimo pada kenyataan. “Itu ponsel jangan dibuang! Ambil cepat! Kamu ini!”


“Sudah, biarin saja, enggak ada yang ambil juga!” balas Kimo dengan entengnya dan bergegas pergi sambil membopong Rara.


Rara menghantam-hantam punggung Kimo. “Enggak ada yang ambil bagaimana? Cepat itu ponsel mahal! Banyak foto sama berkas-berkas penting juga! Kalau sampai yang ambil orang jahat bagaimana?” omelnya.


Alhasil, karena Rara terus mengomel, Kimo terpaksa putar balik untuk mengambil ponselnya, sebelum akhirnya kembali mencari dokter untuk mempersiapkan persalinan.


***


Saat-Saat mendebarkan itu akhirnya tiba. Kimo bahkan sampai tidak berani melihat prosesnya kendati ia tetap terjaga di sisi Rara, membiarkan sebelah tangannya dicengkeram seerat-eratnya oleh sang istri.


Rara tak hentinya mengatur napas sebelum mengejan. Dan tepat di ejanan ke tiga, akhirnya anak laki-laki pertama mereka lahir dengan tangis yang memekak. Tangis yang begitu tersedu-sedu, membuat Kimo dan Rara yang terdiam detik itu juga, sampai merinding.


Baik Kimo dan Rara dibuat terperangah, tak percaya melihat bayi laki-laki yang tampak bercahaya walau masih bergelepot darah. Dan saking bahagianya, linangan air mata mengalir dari kedua sudut mata mereka.


Tak lama kemudian, tak kurang dari satu menit, Rara kembali mengatur napas dan siap mengejan melahirkah anak ke duanya. Menyadari hal tersebut, Kimo dilema. Antara terjaga untuk Rara, atau menjaga anaknya lantaran ia takut, anaknya tertukar. Beruntung, di waktu yang sama, Kiara dan Franki datang. Keduanya masuk dengan tergesa dan nyaris menghampiri kebersamaan Rara dan Kimo yang didampingi oleh seorang dokter bersalin.


Kimo segera berlari menghampiri keduanya.


“Kimo ...!” rengek Rara.


Sambil menoleh menatap Rara, Kimo yang sudah ada di depan Kiara dan Franki pun berkata, “bentar, Sayang ....” Kemudian tatapan Kimo tertuju pada Kiara dan Franki. “Ma, Pa ... tolong awasin. Takut anakku tertukar atau malah ditukar!” bisiknya yang kemudian buru-buru lari, kembali menghampiri Rara. Kimo benar-benar parno dan takut semua itu benar-benar terjadi.


Kimo kembali terjaga dan menggenggam erat sebelah tangan Rara. Ia siap menemani persalinan Rara untuk anak ke dua mereka. Anak kedua mereka yang diprediksikan juga masih laki-laki.


***


Sesuai titah anaknya, Kiara dan Franki terjaga di sisi cucu pertama mereka yang dibersihkan di ruang sebelah Rara menjalani persalinan. Antara percaya dan tidak percaya, Franki dan Kiara yang tak kalah terperangah dari Rara dan Kimo, juga sampai berderai air mata.


“Ganteng banget, ya? Putih bersih begini,” ucap Kiara yang membelai lembut wajah cucu pertamanya.


Balasan Franki sukses membuat Kiara tersipu karena geli. Kenapa juga Franki begitu antusias seolah menyambut anak sendiri? Dan kalau saja Kimo mendengar komentar Franki, anaknya itu pasti langsung protes.


Lama-lama, Kiara yang awalnya hanya membelai-belai cucunya menjadi geregetan dan justru mengambil alih memandikan cucunya. Dan ketika cucu ke duanya datang, Kiara juga sigap memandikannya lagi sebelum diserahkan kepada suster untuk diurus tali pusar dan seperangkatnya. Sedangkan Franki yang masih terjaga di sana, dengan begitu bahagianya mengemban cucu pertamanya. Franki terus menimang sambil berjalan-jalan ke sana-kemari bahkan tanpa terasa sampai di depan Kimo dan Rara.


Rara sendiri benar-benar sedang merasa sangat lemas setelah melahirkan dua anak sekaligus. Ia bersandar pada tubuh Kimo yang masih terjaga, merangkul sekaligus menciuminya penuh cinta. Sungguh, benar-benar drama persalinan yang luar biasa. Dan rasa sakit itu benar-benar hilang ketika Rara melihat anaknya yang begitu tampan. Bahkan Franki begitu bangga memamerkannya kepada mereka.


“Ya ampun, ganteng banget kayak Papa ...,” ujar Kimo antusias.


“Mirip Papa bagaimana? Jelas-jelas mirip Kakek ...,” ucap Franki sambil terus menimang-nimang.


“Lho lho, kok begitu? Ah, Papa ini baper!” keluh Kimo yang langsung tidak terima.


Sialnya, Franki menanggapinya sambil tertawa santai dan terus menimang-nimang cucunya. Mendapati itu, Rara hanya tersipu dan membiarkan keduanya terus berdebat bahkan berebut anak pertamanya.


“Kakek kasih nama ....”


“No! Urusan nama dan seperangkatnya, itu hak paten aku, Pa! Kan aku juga yang bikin! Aku Papanya!”


Ketika Franki dan Kimo semakin sibuk berdebat, Kiara datang sambil mengemban cucu ke duanya. Kiara datang dengan begitu semringah.


“Lihat ... Adek ganteng sudah datang,” pamer Kiara sambil menimang-nimang tak kalah dari Franki.


Aura kebahagiaan di sana benar-benar kental. Rara merasa menjadi wanita, istri sekaligus menantu seutuhnya atas kehadiran kedua anak yang baru ia lahirkan. Ia menatap kebersamaan ini sambil terus bersandar pada Kimo, dengan hati yang berbunga-bunga.


“Nanti, kalau ASI eksklusifnya sudah beres, kasih adik lagi,” ucap Kiara kemudian sesaat setelah membantu Rara untuk memberikan ASI untuk pertama kalinya pada anak pertama.


Rara dan Kimo langsung celingukan.

__ADS_1


Dan Franki yang kali ini mengemban cucu ke duanya langsung antusias mendengar usul Kiara. “Berarti enam bulan lagi langsung program lagi, ya? Wah ... Papa bakal langsung menyiapkan kamar bayi lagi! Sekalian beberapa, sekalian buat anak Kimi!”


Sayangnya, dengan tidak bersemangat, Kimo langsung menggeleng sesaat setelah sampai menghela napas. “Enggak ... enggak ... nanti tunggu beberapa tahun lagi. Aku saja masih gila lihat Rara kesakitan kayak orang gila. Dan mengenai anak selanjutnya, kami pikirkan nanti saja.”


Kimo yakin dengan keputusannya. Apalagi, yang ia pentingkan sekarang ini adalah mengurus kedua anaknya dan tentunya membantu Rara kembali pulih agar bisa menjalankan perannya sebagai ibu yang baik untuk anak-anak mereka.


Rara benar-benar menghargai keputusan suaminya. Dan sekali lagi, ia merasa beruntung menjadi istri Kimo. Menjadi istri sekaligus ibu dari anak-anak pria itu.


“Ya sudah, ... kita fokus urus si kembar dulu.” Dan Kiara juga tak mau egois pada Kimo dan Rara. Toh, mendapat cucu kembar yang begitu tampan sekaligus sehat, terbilang langka. Tak semua nenek bisa seberuntung dirinya, kan? Belum lagi jika melihat masa lalunya yang sempat menentang keras hubungan Rara dan Kimo.


***


Keesokan paginya, Yuan dan Keinya berikut Pelangi datang berkunjung. Ketiganya bahkan Pelangi langsung antusias melihat anak kembar Rara dan Kimo.


“Yes ... Om Yuan sudah datang. Wah ... bau-baunya bakal dapat kado apartemen, nih!” goda Kimo sambil membopong anak pertamanya yang baru saja diberi ASI oleh Rara.


Rara dan Keinya yang duduk berdampingan, tersenyum menanggapi kedekatan suami mereka. Pun meski Keinya cukup kewalahan lantaran Pelangi begitu ingin mengelus bahkan gemas pada anak Rara yang sedang diberi ASI langsung.


Yuan tersenyum sambil menggeng menanggapi godaan Kimo yang membuatnya tak habis pikir. “Jangan mirip Papa, ya ... mirip Om saja!” ucapnya sambil menatap anak yang Kimo emban dengan jarak lebih dekat. Mungkin tiga meter jarak kebersamaan mereka dari Keinya dan Rara. Mereka berdiri di sofa seberang ranjang rawat keberadaan Rara.


“Coba, sekalian belajar gendong,” ujar Kimo kemudian.


Yuan terdiam bingung dan refleks menoleh pada Keinya. Sebab, Yuan merasa tidak yakin bisa mengurus bayi yang baru berusia dua hari itu.


“Enggak apa-apa, Yu ... Kimo yang baperan saja, langsung bisa. Apalagi kamu yabg sudah biasa urus Pelangi?” ujar Rara di sela tawanya.


Dengan dada yang berdebar-debar, berikut gugup yang turut melanda, akhirnya Yuan memberanikan diri menggendong. Pelangi yang melihatnya langsung heboh dan meminta untuk diantar ke Yuan. Jadilah, Kimo dan Keinya bertukar posisi. Kimo duduk di sisi Rara, sedangkan Keinya berdiri di sisi Yuan bersama Pelangi yang begitu antusias pada anak kecil.


“Ngingi sabar. Sebentar lagi dedeknya Pelangi juga lahir,” ujar Kimo yang sudah duduk di kasur Rara, tepat di sebelah istrinya itu.


Semua yang di sana tersipu mendengar penuturan Kimo. Keinya menatap Yuan yang masih terlihat tegang, dengan sangat tenang.


Sambil menoleh dan menatap Keinya berikut Pelangi, Yuan berkata, “bawa pulang saja, yuk?”


Pelangi yang sampai mendongak demi bisa menatap bayi yang sedang diemban papanya, langsung antusias dan tak hentinya mengangguk.


“Jangan asal bawa pulang ... sembarangan kamu, Yu!” omel Kimo.


“Aku tukar pakai apartemen, ya? Kamu minta berapa? Sepuluh cukup?” balas Yuan dengan santainya sambil menimang-nimang kendati fokus pandangannya terus tertuju pada Kimo.


“Sembarangan kamu, Yu! Satu saja, perjuangannya luar biasa. Aku hanpir gila gara-gara menemani Rara menjalani persalinan!”


“Kan tadi kamu yang minta apartemen. Aku kasih apartemen, kamu enggak mau!” Yuan tergelak diikuti juga oleh Keinya. Sedangkan yang terjadi pada Rara, wanita itu hanya menggeleng geli sambil fokus memberi ASI.


“Ya enggak sampai ada acara ditukar sama anak juga, kali!” cibir Kimo sewot dan semuanya menyambutnya dengan tawa.


“Terus, mau dikasih nama siapa?” ujar Keinya kemudian.


Kimo dan Rara kompak bertukar tatapan. Keduanya diam sambil menghiasi wajah mereka dengan senyuman.


Bersambung .....


Yuk, kasih usul nama buat si kembar anak Kimo dan Rara. Nanti Author tampung 😆😆


2 Episode menuju tamat, yaaa.


Athor mau fokus garap novel ini dulu. Jadi, novel : Menjadi Istri Tuanku, dan Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh) bakalan slow update. Tapi semoga masih bisa update tiap hari. Tapi, kan tinggal dua hari lagi, ini sudah tamat wkwkwk


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2