
“Cemburu. Kenapa rasanya jauh lebih menyakitkan dari menahan rindu?”
Bab 50 : Cemburu
*****
Ada yang salah. Pasti memang ada yang salah. Yuan sudah berulang kali mengoreksi dirinya. Ada yang salah hingga Keinya mendiamkan bahkan terlihat sengaja menjaga jarak darinya. Seingatnya, seharian ini semuanya baik-baik saja sebelum Keinya masak. Tunggu, ketika ia menghampiri wanitanya itu di dapur, itu merupakan awal dirinya mendapatkan ekspresi bahkan tanggapan berbeda dari Keinya yang begitu dingin, marah, tapi juga sedih. Sedangkan Yura, adik perempuannya itu langsung terlihat ketakutan dan jelas menyembunyikan sesuatu.
Kejadian di dapur sore tadi, pasti awal mulanya. Awal mula Keinya bersikap dingin padanya karena suatu hal yang membuat Keinya marah sekaligus bersedih.
Tidak mungkin tidak terjadi kesalahan, sedangkan dari sore hingga makan malam berlangsung, Keinya begitu dingin kepada Yuan. Keinya memang tak lantas mengabaikannya dalam artian tidak mengurusnya. Namun, meski wanita itu masih merawat Yuan dengan baik, Keinya sama sekali tidak mengajak Yuan berkomunikasi. Jangankan berbicara, melirik wajah Yuan saja tidak.
Yuan yang duduk selonjor menyandar pada sandaran ranjang tidurnya yang megah nan luas, segera menghubungi Keinya melalui ponsel yang sudah ia genggam. Seperti sedari sore tadi, teleponnya juga tidak dibalas. Jadi, Yuan yang sudah tidak tahan terus didiamkan tanpa alasan, segera menyingkirkan selimut tebal dari tubuhnya.
Yuan meraih tripod yang bersebelahan dengan sandal hangat khusus untuk di rumah yang turut ia kenakan, kemudian bergegas meninggalkan kamarnya dengan langkah terseok sekaligus tergesa. Tangan berikut kaki kanannya memang belum bisa melakukan aktivitas secara normal. Bahkan dokter menganjurkannya untuk tidak banyak bergerak agar tulang yang patah dan sampai sekarang masih diperban, bisa lebih cepat menyatu.
Dengan tertatih sekaligus menahan sakit luar biasa di kaki berikut tangan kanannya yang bahkan masih bengkak, Yuan meninggalkan apartemennya dan masuk ke apartemen Keinya tanpa izin.
Buih keringat membanjiri wajah berikut sekitar leher Yuan, terlepas dari rasa sakit yang menjadi berkali lipat, lantaran Yuan justru mendapati Keinya terduduk melamun di tepi kasur sambil memeluk kedua lutut dan meletakkan dagunya di atas lutut.
Benar, pasti memang ada yang salah sampai-sampai Keinya mendiamkannya dan terlihat begitu sedih layaknya sekarang.
“Cemburu. Kenapa rasanya jauh lebih menyakitkan dari menahan rindu?” batin Keinya.
Keinya menyeka air matanya. Hatinya sangat sakit ketika mengingat kata-kata Yura mengenai cinta pertama Yuan yang bahkan fotonya masih tersimpan di dompet Yuan.
“Di dompet Oppa ada foto cinta pertamanya!”
“Tentu dia seorang gadis yang begitu manis. Senyumnya sangat manis! Aku pikir, Oppa akan menemukan gadis itu untuk dinikahi.”
“Ayolah, Kei. Enggak lucu. Kamu sudah punya anak, masa masih cemburu?” batin Keinya lagi.
Keinya mencoba menasihati dirinya sendiri sambil terus mengelap air mata yang tak hentinya berlinang, selain menyibak rambut panjangnya yang kali ini digerai. Sementara di ranjang bayi sebelahnya, Pelangi sudah tidur dengan sangat lelap sambil meringkuk membelakanginya.
Ketika Keinya mengalihkan tatapannya ke arah pintu yang keberadaannya tujuh meter darinya, jantungnya menjadi berdebar-debar. Sejak kapan Yuan datang dan berdiri di depan pintunya yang kebetulan tidak dikunci, setelah beberapa jam lalu, Rara datang dan menghabiskan waktu bersamanya?
Yuan terlihat jelas kelelahan. Wajah Yuan kelewat pucat dan terlihat jelas menahan sakit, selain Yuan yang sanpai kuyup keringat. Kenyataan tersebut membuat Keinya terlonjak. Keinya buru-buru menghampiri Yuan sambil mengelap tuntas air matanya, tanpa mengenakan sandal lebih dahulu dan Keinya lalui begitu saja.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu ke sini sendiri?” Keinya mengumpat dalam hati, kenapa ia sampai tidak mendengar ketika Yuan menekan tombol kunci apartemen berikut langkah pria itu yang disertai tripod?
Yuan menggeleng tegas, menolak tuntunan Keinya yang menggiringnya ke sofa dan keberadaannya tak jauh dari pintu.
Keinya menatap Yuan penuh tanya.
“Kenapa?” tanya Yuan lirih sambil menatap serius Keinya.
__ADS_1
Keinya mengerutkan dahi. Masih tidak mengerti.
“Aku enggak mungkin menanyakan perubahanmu kepada orang lain, kan?” lanjut Yuan dan sukses membuat Keinya bergeming.
Keinya menunduk dalam.
“Bicaralah. Katakan kalau memang ada yang mengganggu pikiranmu, aku pasti akan menjawab sejujur-jujurnya.” Yuan masih menunggu tanggapan kekasihnya.
Bukannya menjawab, Keinya justru tetap menunduk.
Yuan menghela napas dalam, mulai merasa lelah dengan emosi berikut pikirannya. Kemudian ia geser, membuatnya benar-benar masuk kamar Keinya diikuti juga oleh Keinya yang jelas hanya mengimbanginya.
Keinya menatap tak percaya apa yang Yuan lakukan. Pria itu tak hanya menutup pintu kemudian menguncinya. Karena Yuan juga mengantongi kuncinya di saku sisi celana piama panjang yang dikenakan.
“Aku akan tidur bersamamu, kalau kamu tetap enggak mau cerita!” ancam Yuan sambil menatap serius Keinya.
Keinya syok bahkan menggeragap. “Yu—?”
Yuan mengabaikan Keinya. Ia berlalu dengan langkah tertatih menuju ranjang megah bernuansa putih di hadapannya. Keinya yang masih kebingungan terpaksa mengikuti. Selain ia tidak bisa menghindari Yuan apalagi sampai keluar kamar, keadaan Yuan juga membuatnya sangat cemas.
Yuan duduk dengan hati-hati dibantu Keinya. Buih keringat terus berjatuhan dari wajah berikut leher Yuan. Wajah Yuan yang sempat pias juga menjadi merah padam. Sakit di kaki kanannyalah penyebabnya. Bahkan ia sampai mencengkeram kuat selimut di sekitar yang ia duduki. Namun, seberapa pun sakit dari lukanya, didiamkan Keinya jauh lebih menyakitkan. Yuan bahkan menjadi tidak tenang dan terus saja terjebak dalam kegelisahan.
Diamnya Yuan adalah kemarahan pria itu. Keinya tahu itu. Namun, apakah Keinya harus mengakui bahwa ia cemburu?
Cemburu membuat Keinya marah sekaligus bersedih dalam waktu yang sama. Rasa yang terus saja menyiksanya tanpa henti. Lantas, apakah kecemburuannya akan mendapatkan penangkal, atau justru menjadi awal mula keretakan hubungannya dan Yuan?
Memangnya, seberapa penting cinta pertama, sampai-sampai masih saja hidup, meski hubungan mereka hanya tinggal dalam kenangan masa lalu?
Ah tidak ... tiba-tiba saja Keinya berpikir jika cinta di masa lalu pasangan kita tak hanya menjadi penyebab cemburu, melainkan penghancur dalam segala hal. Faktanya, semua ketulusan yang selama ini Yuan berikan langsung ternoda hanya karena rasa cemburunya. Bahkan karenanya, Keinya kembali menjauhi Yuan, ketika Keinya yakin, Yuan sudah duduk dengan benar.
“Sakit, lho, Kei. Lebih sakit dari kaki dan tangan kananku,” keluh Yuan terdengar sangat menderita.
Keinya bergeming masih memunggungi Yuan.
“Dengan caramu mendiamkan aku, itu jauh lebih menyiksa, padahal sebelumnya baik-baik saja.” Yuan terengah-engah dan terdengar sangat sesak.
Hati Keinya berdesir dan meninggalkan rasa perih yang begitu menyiksa, di sana. Namun sekali lagi, kecemburuannya juga tak kalah membuatnya tersiksa dari ketika ia harus melihat Yuan kesakitan layaknya sekarang.
“Kalau kamu benar-benar mencintaiku bahkan ingin secepatnya menikahiku, kenapa kamu masih menyimpan foto wanita lain yang katanya cinta pertamamu?” tegas Keinya dengan dada yang semakin sesak.
Yuan menatap Keinya tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Kamu tahu dari mana?” ucapnya sesaat setelah terdiam kebingungan.
Pertanyaan Yuan justru semakin menghancurkan hati Keinya karena dengan kata lain, pria itu membenarkan, perihal foto wanita si cinta pertama itu di dalam dompet.
“Buang foto itu!” tuntut Keinya sambil menatap kesal Yuan.
__ADS_1
Yuan langsung menggeleng cepat. “Aku enggak bisa!” ucapnya berat.
“Kalau begitu, jangan menyentuhku!” Keinya mengipratkan kuat tahanan tangan Yuan hingga tangan berikut Yuan terempas dan terbanting ke kasur.
“Aku mencintaimu, tapi aku juga enggak bisa melupakannya begitu saja, Kei!” erang Yuan.
“Mati saja kalau kamu memang begitu! Aku enggak mau nikah sama kamu kalau kamu masih menyimpan foto itu!” tangis Keinya sambil berjalan menuju pintu. Langkahnya mengentak-entah, selaku luapan dari kekesalannya.
Yuan mencoba bangun. “Apa gunanya membuang foto, kalau pada kenyataannya aku juga tetap ingat dia? Ayolah, Sayang. Memangnya kamu enggak punya cinta pertama?”
“Yu!” tangis Keinya kian pecah.
“Sttt, nanti Pelangi bangun.”
Keinya yang telanjur kesal dan tidak tahan jika harus melihat Yuan, memilih berlalu dan mengunci diri di kamar mandi.
“Foto di dompet? Kenapa baru dipermasalahkan? Bukankah seharusnya dia sudah tahu dari awal?” gumam Yuan terheran-heran. Ia mencoba bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Di dalam sana, Keinya tengah meraung-raung di tengah suara keran yang terdengar mengalir deras.
“Sayang, ayo keluar. Iya aku minta maaf, aku salah. Maaf, ya? Mengenai foto, terserah kamu. Ambil gih.”
Tak lama setelah itu, Keinya keluar dengan buru-buru. Seolah-olah, wanita itu baru saja mendapatkan nyawa tambahan hingga tampak begitu bersemangat.
Keinya langsung merogoh saku celana piama Yuan tempat keberadaan kunci kamarnya. Wanita itu menatap Yuan dengan amarah yang berkobar-kobar, kemudian meninggalkannya dengan langkah tidak sabar.
***
Cemburu juga tengah menyiksa Yura. Di antara remang cahaya kamar yang hanya mengandalkan lampu meja di nakas sebelah tempat tidur, ia terus teringat kejadian ketika Kimo meraih sebelah pergelangan tangan seorang wanita yang tak lain Rara, sedangkan sebelah tangan Kimo menenteng ransel wanita tersebut. Di mana, meski ulah Kimo ditepis keras oleh Rara yang terlihat begitu risi bahkan marah, Kimo tetap melakukannya.
Sore tadi, Yura melihat kejadian itu, ketika Yura baru keluar dari apartemen Yuan dan letaknya hanya bersebelahan dengan apartemen Keinya, yang menjadi tujuan Kimo berikut Rara.
Yang membuat Yura semakin hancur, Kimo justru mengenalkan Rara sebagai kekasih sekaligus calon istri Kimo. Dan mengingat itu, hati Yura benar-benar sakit. Entah sudah berapa banyak tisu yang digunakan Yura untuk mengelap air mata berikut ingus yang tak hentinya mengalir. Sampai-sampai, lantai berikut kasur Yura sudah menjelma menjadi lautan tisu.
“Wanita itu jauh dari kata lebih baik dariku. Tampilannya juga sangat sederhana. Apa yang Kimo lihat dari dia? Padahal Mami Papi Kimo sudah merestuiku menjadi menantunya!”
Yura terus terisak-isak bersama rasa sakit yang semakin melilit, tak kunjung reda apa lagi meninggalkannya. Dan satu-satunya penangkal yang bisa mengakhiri semua itu hanyalah Kimo.
Kimo harus minta maaf dan mengatakan jika apa yang dikatakan hanya kebohongan. Rara bukan wanita yang akan dijadikan istri. Karena yang akan Kimo nikahi hanyalah Yura!
*****
Cemburu juga tengah menyiksa bahkan membunuh Rara secara perlahan. Ketika ia tidak sengaja melihat pemberitahuan di aplikasi Facebook perihal akun bernama Gio Arya Wiguna, baru saja mengirimkan kiriman setelah lama tak membuat kiriman, justru sebuah foto prewedding pria itu dengan wanita lain. Detik itu juga Rara kebas. Dunia Rara seolah hancur. Ponselnya terjatuh begitu saja pada kasur. Namun, Rara yang dalam posisi tengkurap dan sudah berselimut justru semakin menatap saksama layar ponselnya, hingga layar tersebut gelap dengan sendirinya.
“Salahku apa, sih? Kok kamu jahat banget ke aku? Padahal selama kita pacaran bahkan kamu melamar dan mengajak aku nikah, aku selalu berusaha jadi pasangan yang baik. Apa karena aku bukan anak konglomerat seperti calon istrimu yang sekarang?” Rara terisak-isak, sesenggukan dan buru-buru menutup kepalanya dengan selimut. Tak lupa, ia juga membenamkan wajahnya ke bantal agar suara tangisnya tidak terdengar hingga keluar kamar.
******
__ADS_1