
“jika kamu memintaku untuk menilai masa lalumu dan melupakanmu karena hal itu, tentu sangat tidak adil untukmu yang sudah membuat banyak perubahan positif. Bahkan, ... kamu selalu membantu dan tak segan berkorban termasuk untuk kebahagiaan orang lain.”
Bab 81 : Ungkapan Cinta
Kainya masih terisak-isak ketika Daniel datang. Pria itu tak hanya membuka pintu kamar Kainya dengan hati-hati. Sebab ketika melangkah mendekati pun, Daniel masih melakukannya dengan hal yang sama. Ia melakukan semuanya dengan hati-hati.
Seperti ketika ia meninggalkan Kainya sekitar setengah jam yang lalu, wanita itu masih meringkuk membelakangi pintu. Yang berubah dari Kainya hanya posisi tubuhnya yang semakin tertekuk bak udang rebus.
“Kak Kai ... ini aku.”
Kainya terdiam. Tak habis pikir olehnya, kenapa Daniel harus kembali datang? Kenapa Daniel mulai keras kepala dan tidak menuruti permintaannya?
“Maaf ....”
Kali ini suara Daniel terdengar gelisah, sarat penyesalan. Hal tersebut membuat Kainya waswas. Apakah adiknya itu telah melakukan kesalahan fatal? Hal tersebut pula yang membuat Kainya buru-buru menyeka air mata dan buru-buru mengakhiri ringkukannya. Kainya bangun dan duduk sambil menatap Daniel penuh tanya. Di hadapannya, Daniel berdiri sambil menunduk. Gelagat Daniel membuat Kainya semakin yakin, jika apa yang ia pikirkan memang benar.
“Daniel?”
“Maaf ....”
“Jelaskan. Aku tidak memintamu untuk minta maaf.” Kainya mulai tak sabar lantaran Daniel terkesan bertele-tele.
Perlahan, Daniel memberanikan diri untuk menatap Kainya. Ia menatap wanita itu dengan penuh penyesalan. “Jangan marah, ya?”
Kainya mengangguk, menuntun Daniel untuk cerita. Ia melakukannya tanpa mengurangi tatapan seriusnya dari pria muda di hadapannya. Jarak mereka tak kurang dari dua meter. Di tengah suasana kamar yang masih remang-remang, juga Daniel yang kiranya belum ada satu jam meninggalnya. Kainya yakin, Daniel baru sekitar setengah jam meninggalkannya. Namun, kenapa Daniel kembali bahkan dengan ekspresi yang sarat penyesalan?
“Steven memaksaku untuk cerita. Semuanya. Semua yang membuat Kakak tiba-tiba berubah. Juga, ... semua yang berkaitan dengan Kak Kai, ... termasuk masa lalu Kak Kai ....”
Pengakuan Daniel sukses membuat hati Kainya seolah melesak. Apa maksud Daniel mengatakan semuanya kepada Steven yang jelas sengaja ia hindari karena ia merasa malu dan tak pantas bersama pria itu?
“Daniel, kamu lancang!” ucap Kainya kecewa seiring air matanya yang menjadi rebas tanpa bisa ditahan lagi untuk ia sembunyikan layaknya sebelumnya. “Seharusnya kamu enggak asal cerita,” keluhnya.
“Terserah Kak Kai ....” Daniel menghela napas dalam. “Seenggaknya aku merasa jauh lebih lega karena sudah enggak ada rahasia ....” Ia benar-benar masa bodo layaknya ucapannya.
“Lega kepalamu! Bagaimana dengan aku?!” omel Kainya terisak-isak.
“Jika Kak Kai memang cinta, kenapa harus gengsi? Aku saja yang mencintai Kak Kai enggak malu, bahkan tetap usaha meski Kak Kai terus menolakku?” Daniel kembali menghela napas dalam, meski untuk kali ini, ia melakukannya lantaran merasa tak habis pikir kepada Kainya.
“Kak Kai lebih milih tetap diam dan menahan semuanya tetapi kehilangan Kak Steven tanpa kebenaran, apa membiarkan Kak Steven tahu, tetapi Kak Steven juga mau mengerti?” lanjut Daniel.
“Tapi semuanya enggak semudah yang kamu pikirkan, Danel!” balas Kainya serba salah. Sebab seperti pernyataannya, masa lalu dan masa depannya sangat sulit dipersatukan.
“Enggak semudah yang aku pikirkan? ... masa, sih? Memangnya Kak Kai sudah coba?” balas Daniel dengan entengnya sambil menatap Kainya dengan pandangan tidak yakin. “Bahkan Kak Kai kabur sebelum perang! Duh ... malu-maluin!” tambahnya makin tak habis pikir. “Ayolah, Kak. Mana Kak Kai yang pemberani! Jangan jadi pecundang seperti ini, dong!”
“Pecundang? Aku seperti pecundang ...?” batin Kainya yang merasa apa yang Daniel katakan tentangnya memang benar.
“Kakak harus tetap jadi Kak Kai yang pemberani lagi! Super hero semuanya! Bahkan aku rasa, itu juga yang menjadi alasan Kak Steven susah melepaskan Kakak! Kak Steven jatuh cinta pada ketangguhan Kak Kai!”
Kainya menjadi mendengkus sebal lantaran Daniel justru menjadi menggodanya.
“Tengok, gih ... Kak Steven lagi masak di dapur. Ingat, jangan mentang-mentang enggak ada papi sama mami, kalian bisa bebas! Karena kehadiranku di sini buat jadi satpam kalian!”
Kainya merengut. Masih sebal pada gaya Daniel. “Apaan, sih. Enggak jelas banget!” gerutunya yang kemudian turun dari kasur. Ia merapikan asal tampilannya berikut menyisir asal rambutnya yang terurai menggunakan jemari.
Daniel menatap geli ulah Kainya. “Mau serapi apa pun, intinya Kak Kai belum mandi! Bahkan baju saja belum ganti! Masih yang tadi!”
Kainya terdiam beberapa saat. “Kalau aku ganti baju, ... terlalu mencolok enggak sih?”
“Enggak sekalian mandi, cuma ganti baju?” balas Daniel sanki sambil bersedekap dan tersenyum mengejek.
Kendati demikian, kali ini Kainya tidak marah. Ia justru mempertimbangkan usul Daniel. “Mandi ...?”
“Ya sudah, cepat sana!” balas Daniel yang kali ini mengomel.
__ADS_1
Kainya langsung bergegas lari menuju lemari yang ada di seberang kasur keberadaannya. Ia membuka lemari dan memilih piama panjang warna kuning dari sana. Kemudian, masih dalam keadaan buru-buru, Kainya langsung masuk ke kamar mandi.
Bagi Daniel, melepas dan merelakan memang tidak mudah. Apalagi untuk melepas dan merelakan Kainya yang sudah menjadi cinta pertamanya. Namun, ... jika Steven bisa membuat Kainya keluar dari trauma khususnya trauma masa lalu yang selalu membuat Kainya terganggu, Daniel adalah orang pertama yang akan mengantarkan Kainya kepada Steven. Daniel akan menjadi tameng untuk hubungan Kainya dengan Steven. Apa pun dan bagaimanapun perasaan berikut hatinya yang pastinya akan terluka. Daniel benar-benar rela melepas Kainya berikut cintanya kepada pria yang bisa membuat Kainya bahagia tanpa syarat.
***
Mungkin sepuluh menit kemudian, setelah Kainya melakukan semuanya dengan cepat, ia telah sampai di dapur dan membuktikan ucapan Daniel. Karena di dapur, Steven sedang masak.
Steven masak sendiri tanpa ada yang membantu. Kainya memastikannya dan memang tidak ada orang lain di sana.
Di meja yang posisinya ada di tengah-tengah dapur, sudah ada tiga porsi steak yang tersaji di piring. Pun dengan tiga mangkuk kecil yang Kainya yakini merupakan sausnya. Dan yang Kainya tahu, Steven memang mahir dalam urusan memasak.
“Ven?” ucap Kainya kemudian sambil menyelipkan anak rambut sebelah kanannya ke belakang telinga.
Mendengar suara Kainya, Steven yang sampai mengenakan celemek hitam, menjadi terkejut. Ia segera menoleh sambil menekan penyerap asap yang keberadaannya persis di atas kepalanya. “Oh, Kai ...? Sudah?” ucapnya. Kali ini ia mematikan kompor kemudian meninggalkan centong sup yang awalnya tengah ia gunakan untuk mengaduk sup di panci.
Steven meninggalkan area kompor dan segera mencuci tangannya di wastafel yang keberadaannya hanya terpaut tiga meter dari keberadaan kompor.
Kainya masih berdiri di tempat, sedangkan Steven yang sampai mengelap tangannya dengan handuk tangan yang tergantung di laci bawah wastafael, segera menghampiri Kainya. Tak lupa, ia juga melepas celemek dari tubuhnya, di mana, Kainya langsung mengambil alih celemeknya.
“Bagaimana? Apakah kamu sudah merasa lebih baik?” tanya Steven kemudian sesaat setelah menghela napas pelan.
Sambil melipat celemek Steven yang kemudian ia taruh di tepi meja, Kainya mengangguk pelan. Sedangkan yang terjadi pada Steven, pria itu semakin mendekati Kainya.
Seperti biasa, tatapan penuh cinta kembali menjadi tatapan yang Steven berikan kepada Kainya. Sebelah tangan Steven juga tak segan membelai kepala Kainya kemudian menyelipkan anak rambut sebelah kiri Kainya ke belakang telinga. Sedangkan yang terjadi pada wanita itu, Kainya ... Kainya memilih menunduk tanpa berani menatap Steven.
Dengan sebelah tangan menahan sebelah wajah Kainya, Steven berkata, “jika kamu memintaku untuk menilai masa lalumu dan melupakanmu karena hal itu, tentu sangat tidak adil untukmu yang sudah membuat banyak perubahan positif. Bahkan, ... kamu selalu membantu dan tak segan berkorban termasuk untuk kebahagiaan orang lain.”
Kainya yang bungkam tak berkomentar, memilih untuk tetap menunduk seiring rasa nelangsa yang tiba-tiba menyerangnya. Steven ... pria itu mencintainya dengan sempurna.
“Bahkan dengan caramu menjagaku, berharap aku melupakanmu hanya karena masa lalumu, ... itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kamu orang baik. Itu sudah cukup membuktikan, bahwa kamu sangat peduli bahkan mencintaiku.”
Kainya masih tertunduk tanpa berkomentar. Membiarkan Steven memandanginya dengan leluasa. Di tengah suasana dapur yang cukup remang, dengan aroma tumisan bawang putih cincang yang begitu harum bercampur dengan aroma daun bawang segar di sup misoa yang baru saja Steven buat. Juga aroma steak sapi yang sukses membuat Kainya lapar, lagi-lagi Steven bertindak dengan banyak kepedulian.
“Lebih baik kamu pulang. Nanti pasti aku makan.” Kainya menatap Steven penuh kerisauan. Meski lidah berkata Steven harus pergi dan bahkan meninggalkannya, tetapi jauh di lubuk hatinya, ia sangat mengharapkan pria di hadapannya tetap bersamanya. Kainya sangat berharap Steven selalu meyakinkan cinta kepadanya, lantaran jika sudah begitu, hati dan perasaan Kainya menjadi jauh lebih tenang. Kainya benar-benar menjadi jauh lebih damai. Seperti kebahagiaan yang akhir-akhir ini membersamainya sebelum ancaman dari Intan datang. Juga, ... layaknya sekarang ketika Steven justru memeluknya dengan mesra. Pria itu, ... mendekapnya penuh kehangatan. Jadi, apa yang baru saja ia katakan pada Steven hanyalah basa-basi dalam mendapatkan perhatian pria itu.
“Bodoh ... jangan memintaku meninggalkan apalagi melupakanmu. Aku tidak akan melakukannya walau kamu memaksa. Aku akan tetap bersamamu, ... dengan semua masa lalu berikut kekuranganmu. Aku mencintaimu tanpa harus membuatmu meninggalkan bagian dari dirimu. Karena aku mencintaimu, ... aku mencintai Kainya, bukan orang lain!”
Kainya yang terdiam dan memang hanya menyimak, menjadi terisak-isak. Perihal cinta Steven yang tetap sempurna bahkan sekalipun pria itu mengetahui masa lalu termasuk kekurangannya. Rasanya, apa yang menimpanya benar-benar seperti mimpi.
“Nikah, yuk?” terlebih ketika kata-kata itu juga terucap dari bibir Steven.
Kainya menjadi bergidik bahkan lemas seketika. Ia tidak salah dengar, kan? Steven mengajaknya menikah? Pria itu sungguh-sungguh, atau hanya asal ucap?
Steven berangsur menyudahi pelukannya tanpa benar-benar melepaskan Kainya. Sebelah tangannya yang tidak merangkul punggung Kainya, menjadi sibuk mengelap air mata wanita itu.
“Bagaimana dengan keluargamu?” tanya Kainya yang masih berlinang air mata.
Steven menggeleng pelan sambil menyeka setiap air mata Kainya. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Kamu yakin?” balas Kainya memastikan.
Steven mengangguk.
“Bagaimana dengan waktu dua tahun yang aku jadikan syarat kepadamu?” tanya Kainya lagi.
“Apakah harus menunggu selama itu? Sedangkan di sekeliling kita banyak wabah yang berusaha mengambilmu dariku? Ben, ... Gio, ... dan entah siapa lagi? Kamu pikir meski aku hanya diam, aku baik-baik saja dan bahkan bisa menerima?” keluh Steven dengan suara lirih.
Kainya berangsur memalingkan tatapannya dari Steven. Ia justru menatap tiga steak sapi yang sudah tersaji di piring. “Lalu, apa bedanya kamu sama aku, kalau kamu saja hanya memberiku sup misoa, sedangkan di sini ada tiga posrsi steak?” keluh Kainya.
Balasan Kainya sukses membuat Steven mengerutkan dahi. “Hmmm?”
“Aku lapar. Kita bahasnya sambil makan saja,” balas Kainya kemudian yang buru-buru berlalu dari hadapan Steven.
__ADS_1
Kainya bermaksud duduk di kursi seberang, tetapi Steven justru menahan sebelah tangannya kemudian mendekapnya erat dari belang.
“Kenapa selalu mengalihkan pembicaraan ketika aku sedang serius?” ucap Steven yang kemudian menyemayamkan dagunya di sebelah bahu Kainya. Tak lama setelah itu, ia juga sampai mengendus leher Kainya sambil memejamkan matanya.
Gugup menyerang Kainya yang menjadi serba salah, terlebih ketika senyap mendadak menyelimuti kebersamaan lantaran Steven juga hanya diam. Pria itu begitu nyaman menyemayamkan wajah di leher Kainya.
“Ven, di rumah ada Daniel. Dia mata-mata mami sama papi,” ucap Kainya waswas.
“Sebentar saja. Biarkan aku seperti ini lima menit saja.” Steven tetap dengan keputusannya.
Kainya menjadi tersipu dengan sebelah tangannya yang berangsur membelai kepala Steven.
“Mengenai tante Intan,” ucap Steven kemudian.
“Mmm, ... kenapa?” balas Kainya dan siap menyimak.
“Biarkan saja dia. Biarkan dia lelah sendiri. Dan jika memang perlu, kamu lawan saja. Bukan kesalahan jika pada kenyataannya tante Intan sudah berani mengancam bahkan meneror,” lanjut Steven. “Batin dan jiwa tante Intan pasti mengalami guncangan yang begitu besar. Jadi dia sampai nekat seperti itu.”
“Melebihi guncangan tsunami sampai-sampai, semua orang dia ancam?” balas Kainya terdengar sewot.
Steven mesem. “Ya jangan disamakan dengan tsunami ... coba, jika dia kembali mengancam, langsung rekam saja kemudian serahkan ke polisi sebagai bukti.”
“Boleh juga, sih, ide kamu, Ven ....”
“Mm ... begitu saja.”
“Iya. Tapi ini sudah lebih dari lima menit. Sudah dulu, nanti Daniel keburu datang.”
Di balik pintu dapur, Daniel yang diam-diam menyimak, sampai menitikkan air mata. “Meski menyakitkan, tetapi aku bahagia karena akhirnya, Kak Kai benar-benar mau membuka hatinya. Dia mau membuka diri dan bersikap sebebas itu,” batin Daniel yang memilih meninggalkan dinding sebelah pintu tempatnya menyandarkan punggung. Ia berlalu meninggalkan area dapur.
Tak lama setelah kepergian Daniel, Kainya keluar dari dapur dengan wajah yang menjadi berseri-seri. Dan tak beda dengan Kainya, Steven yang terlihat begitu semringah juga segera mengambil mangkuk dan menyiapkan sup misoa buatannya.
***
“Daniel ... Daniel, ayo kita makan!” seru Kainya. Ia mencari-cari Daniel di tengah suasana rumahnya yang terbilang sepi.
Kainya menemukan Daniel tengah tengkurap di salah satu sofa panjang yang menghiasi ruang keluarga. Kainya pun bergegas menghampiri sambil memanggil Daniel dengan suara yang lebih pelan.
“Daniel, kamu tidur di situ? Ayo kita makan dulu. Kak Steven sudah selesai masak.” Kainya menepuk-nepuk pelan punggung Daniel, kemudian membelai wajah pria itu.
Dengan wajah berikut tatapan berdosanya Daniel pura-pura mengulet sambil membentangkan tangannya. “Aku ketiduran?” ucapnya pura-pura bodoh.
“Ya sudah, cuci muka sama cuci tangan dulu, ayo!” Kainya membawa paksa Daneil untuk bangkit.
“Semangatnya ... pasti sudah baikan!” celoteh Daniel yang justru sengaja menyandarkan tubuhnya ke punggung Kainya.
“Ya ampun, Daniel! Tubuhmu sudah berat. Nanti punggungku patah!” omel Kainya.
“Kalau sama aku patah, kalau sama Steven enggak. Huh!” cibir Daniel dan sukses membuat Kainya kikuk.
Kainya benar-benar salah tingkah dibuatnya dan segera mencubit perut Daniel sebelum berlalu sang adik itu berlalu meninggalkannya.
“Perutku bebes lemak. Aman!” ucap Daniel dengan bangganya.
Kainya menggeleng geli menanggapi ulah Daniel, sebelum akhirnya bergegas menuju Steven yang sudah menunggu di depan pintu dapur yang keberadaannya terpaut dua ruangan dari ruang keberadaan Kainya. Pintu dapur bisa terlihat jelas dari keberadaan Kainya, dan Steven sendiri bisa melihat Kainya dengan jelas.
“Dani, cuci muka sama tangan dulu!” seru Kainya sambil melangkah tergesa menyusul Daniel yang ternyata langsung ke dapur bahkan sudah ada di hadapan Steven yang menanggapinya dengan senyum santai.
Bersambung ....
Selamat malam dan selamat beristirahat, ya!
Salam sayang,
__ADS_1
Rositi.