
“ Kim Jinnan!”
Kim Jinnan langsung terdiam bengong, ketika Zean tiba-tiba muncul dari balik punggung Pelangi. Tentu, hadirnya Zean di perusahaan cukup membuat Kim Jinnan terusik, terlebih di siangnya ketika Kim Jinnan datang ke perusahaan Pelangi, untuk makan siang bersama layaknya biasa, bocah itu belum ada.
Zean terus berlari meninggalkan Pelangi yang masih ada di dalam perusahaan, kendati pintu utama telah dibuka dan sampai ditahan untuk tetap terbuka, oleh seorang satpam yang berjaga.
“Jinnan ... kamu pasti bingung, ya, kenapa aku ada di sini?” tanya Zean dengan cerianya sambil terengah-engah, di mana jemari mungilnya juga sampai menepuk-nepuk perutnya yang buncit. “Tadi aku ke sini bareng Dean, tapi Dean sudah pulang katanya mau ke toko buku bareng si Kishi!” lanjutnya memberi tahu lantaran Kim Jinnan masih terlihat kebingungan.
“Kamu mau ikut kami?” Kim Jinnan mengangguk dua kali sambil mengulas senyum lantaran gemas dengan ulah Zean. Kemudian, ia berangsur turun dari mobil untuk menyusul Pelangi, di mana karena hal tersebut juga, Zean yang awalnya ada di hadapannya dan menghelangi jalannya, berangsur minggir.
“Jinnan ... aku digendong, dong ... tadi aku dari lantai sembilan, jalan kaki lewat tangga darurat, karena liftnya rusak dan sedang diperbaiki. Kakiku rasanya jadi sebesar kaki gajah!” rengek Zean yang langsung mendekap tubuh Kim Jinnan.
Zean bahkan sampai membenamkan wajahnya ke pantat Jinnan, di mana Jinnan yang awalnya masih menatap Pelangi dan sampai mencemaskan sang istri atas pengakuan yang baru saja Zean lontarkan, juga langsung mengemban Zean.
“Zean ... beratmu sudah dua puluh lima kilo, yah!” tegur Pelangi yang tinggal sekitar sepuluh meter lagi dari kebersamaan Zean dan Kim Jinnan.
Kim Jinnan yang menahan senyum, jelas kewalahan. Ia mendekap tubuh Zean yang sampai mendekap tengkuknya cukup erat, selain Zean yang sampai bergelendot manja kepadanya. “Serius, dalam dua hari ini, berat badanmu naik drastis, ya? Katanya mau perut kotak-kotak?” ujarnya.
“Ini gara-gara mama masak rendang terus. Sate, ayam bakar, kan semuanya makanan favoritku. Mana tahan aku, kalau cuma makan sedikit!” balas Zean jujur.
“Lagi pula, kenapa juga, gendong aku saja, kamu sampai keberatan? Pas gendong Ngi-ngei, kamu biasa saja? Ayo, jangan pura-pura, ... kamu pikir, aku enggak tahu, kalau kamu sering gendong-gendong Ngi-ngie?” Zean menatap Kim Jinnan berikut Pelangi yang sudah semakin dekat dari mereka, dengan tatapan jail.
“Ya ampun, kamu ini!” cibir Pelangi kesal.
Lain halnya dengan Kim Jinnan yang menjadi tersipu dan hanya menahan tawanya, tak ubahnya pak Jo berikut sang ajudan, yang juga mengalami hal serupa.
“Makanya kamarnya dikunci, biar aku enggak ngintip!” balas Zean yang menjadi cekikikan dan sengaja merayakan kemenangannya. Pun meski Pelangi sampai menjitak kepalanya dengan cukup keras.
Pak Jo langsung mengambil alih bawaan Pelangi berubah beberapa dokumen dalam dua buah map yang awalnya Pelangi dekap, selain totebag hitam, yang awalnya Pelangi tenteng.
“Heran kamu, makin ke sini, makin jail bahkan genit!” omel Pelangi. “Berapa usiamu? Belum waktunya, ih!”
Zean hanya menambah tawanya hingga semakin lepas tanpa mau turun dari gendongan Kim Jinnan.
“Kamu tambah genit memang, Zean. Tapi omong-omong, kamu sudah sunat, belum?” ujar Kim Jinnan yang sampai menunduk demi menatap wajah Zean.
__ADS_1
“Ah, enggak, ah! Nanti ‘punyaku’, habis kalau disunat!” balas Zean yang menjadi merasa ngeri sekaligus takut.
Jawaban polos Zean sukses membuat semuanya tertawa lepas, apalagi Kim Jinnan yang sudah sampai menangis. Sungguh, sebelum mengenal Pelangi, Kim Jinnan belum pernah tertawa sampai menangis, hanya karena apa yang ada dalam kehidupan Pelangi tanpa terkecuali Zean sang adik.
“Memangnya kamu juga sudah sunat, ya, Jinnan?” tanya Zean penasaran.
Zean tak lagi tertawa lepas apalagi jail layaknya sebelumnya. Sungguh, membahas sunat, membuat bocah itu menjadi sangat serius dan cenderung takut.
“Ya sudah ... kalau belum sunat kan enggak boleh nikah!” balas Kim Jinnan yang masih tertawa.
“Oh, iya, ya?” balas Zean dengan polosnya.
“Nah, iya ... makanya kamu sunat, ya? Nanti aku yang bilang ke papah mamah. Kalau enggak, acara sunatnya sebelum aku sama Ngi-ngie resepsi, biar acara resepsi kita jadi bareng?” balas Kim Jinnan masih semangat menanggapi sekaligus menggoda Zean.
“Ah, enggak, ah ... aku kan nikahnya masih lama. Aku masih di bawah umur, ih, Jinnan ... sunatnya nanti saja. Toh, sepertinya, Dean juga belum sunat!” balas Zean lagi.
“Dean sudah sunat, ih. Sebelum sekolah SD, Dean juga sudah sunat!” ujar Pelangi meluruskan anggapan Zean, bersamaan dengan tawa Kim Jinnan, pak Jo, berikut ajudan Kim Jinnan, yang masih berlangsung karena Zean.
“Ah, masa, sih?” Zean segera menoleh ke belakangnya, demi menatap Pelangi yang ada di sana.
“Ih, enggak percaya. Tanya saja sendiri,” balas Pelangi yang akhir-akhir ini menjadi semakin gemas kepada Zean.
“Ya sudah, deh ... nanti aku lihat punya Dean yang sudah disunat. Coba kayak apa? Sakit enggak?” ujar Zean pasrah.
Dan apa yang Zean lontarkan kali ini, kembali membuat tawa pecah dalam kebersamaan mereka.
“Sudah ... sudah ... Zean, ingat, mulai hari ini, pakaian yang akan kamu pakai di acara resepsi kami, akan ditentukan. Jadi kamu juga jangan sampai tambah gendut, nanti pakaiannya enggak muat,” lanjut Pelangi. “Sudah, turun ... itu kasihan Jinnan keberatan.”
“Ih ... Ngi-ngie ... gendong adik itu enggak bakalan berat. Yang berat itu gendong hutang, sama gendong dosa! Ah, kamu ini ... sudah nikah, bahkan mau kuliah juga, masih saja enggak ngerti!” balas Zean sambil turun dari gendongan Kim Jinnan.
Sungguh, semakin hari, Zean memang semakin menyebalkan. Apa kabar Dean yang selalu menjadi korban dari sifat menyebalkan Zean? Pelangi benar-benar tidak bisa membayangkan, betapa tersiksanya seorang Dean. Pantas saja, akhir-akhir ini, Dean jadi rutin mengunci pintu kamar karena mungkin tidak mau diganggu oleh Zean.
Zean segera memasuki mobil lebih dulu, di tengah kenyataannya yang masih sangat ceria. Dan karena tak ada lagi tempat duduk penumpang selain di tengah, Zean yang awalnya minta dipangku Kim Jinnan, mengalah duduk di pinggir seperti titah yang Pelangi berikan, jika Zean memang ingin ikut mereka.
“Untung kamu pakai sepatu flat, kalau sampai pakai heels?” lirih Kim Jinnan sambil memijat-mijat kaki Pelangi dan sampai membuatnya sampai membungkuk.
__ADS_1
“Iya ... soalnya papa wanti-wanti, aku sama keluargaku enggak boleh berpenamilan berlebihan, kalau di depan karyawan. Biar bisa buat contoh juga, kalau kami yang memiliki kehidupan lebih dari cukup, juga tetap menjalani hidup dengan sederhana,” balas Pelangi.
“Bagus sih, cara papah. Kalu begitu, besok kita juga begitu,” balas Kim Jinnan.
Pelangi memengangguk sambil mengulas senyum. “Iya ... aku setuju. Cara hidup papa benar-benar keren!” lirihnya.
“Dan aku juga langsung menerapkannya, semenjak kamu protes terus,” balas Kim Jinnan dan sukses membuat Pelangi tersipu.
Pelangi memang tidak sampai mengeluh, tetapi Kim Jinnan yang masih ingat pengakuan Zean, jadi cemas sendiri, dan berinisiatif memijati kaki istrinya.
“Pacaran saja terus, di depanku yang masih di bawah umur!” sindir Zean yang sampai memunggungi kedua sejoli di sebelahnya. Zean sengaja menyibukkan diri dengan menatap suasana luar yang semakin gelap. Karena khusus malam ini, mereka memang pulang lebih malam dari biasanya, dan parahnya, sudah ada acara fitting pakaian untuk resepsi, dan tidak bisa mereka hindari.
Sindiran dari Zean, membuat Pelangi dan Kim Jinnan menahan tawa, terlepas dari mereka yang menjadi semakin mesra, semenjak Kim Jinnan semakin perhatian kepada Pelangi, dan Kim Jinnan bilang, akibat mencontoh gaya seorang Yuan. Pun meski Pelangi yang merasa sangat dimanjakan, juga tak segan marah-marah kepada sang suami. Namun karena di pagi ini, Pelangi sampai ditegur Keinya, dan diminta untuk lebih bersabar sekaligus menghormati Kim Jinnan, semenjak siang tadi ketika mereka makan siang, Pelangi juga sudah mulai belajar untuk lebih bisa mengontrol emosi sekaligus kemanjaannya.
“Nanti, aku tidur sama kalian, ya?” ujar Zean kemudian dan sampai menyandar manja di pangkuan Pelangi yang memang duduk di tengah mereka.
“Boleh ... boleh!” saut Kim Jinnan yang langsung semangat sambil terus memijat-mijat kaki Pelangi.
“Tapi jangan berisik, ya, soalnya aku mau beresin materi buat kuliah,” ujar Pelangi mengingatkan.
“Siap ... paling nanti kamu ngomel-ngomel lagi, hahahaha!” balas Zean yang kemudian minta dipijat juga kepada Kim Jinnan.
“Ya sudah sini ...,” ujar Kim Jinnan yang segera menyudahi pijatannya dari kaki Pelangi.
“Ngie ... geser, kamu yang di pinggir, Jinnan kan mau pijitin aku!” usir Zean yang memang sudah tidak tahan.
“Ya ampun kamu ini!” Pelangi sampai tidak mengenakan sepatu flatnya lantaran Zean sangat tidak sabar.
“Ya ampun ... Jinnan baik banget. Enggak salah, aku ngefans dan sayang sama kamu!” puji Zean tak ubahnya bos yang bahkan sampai menggunakan kedua tangannya sebagai bantal sambil menyandar pada sandaran tempatnya duduk.
“Eh, bentar, deh ... aku mau kentut!” ucap Zean tiba-tiba dan langsung membuat Pelangi mengomel.
“Tahan ... sebentar ... mobilnya berhenti dulu, terus kamu kentut di luar!” tuntut Pelangi.
“Tapi aku jangan sampai ditinggal, ya?” rengek Zean yang tak lagi bisa bersantai-santai lantaran harus menahan kentut. “Ih, serius, Ngie ... enggak enak banget kalau kentut saja harus ditahan!” racaunya.
__ADS_1
Lain halnya dengan Pelangi yang terus memarahi Zean, Kim Jinnan dan kedua orang di depan mereka justru sampai sakit perut karena menahan tawa.
Bersambung .....