Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 30 : Mendadak Risau


__ADS_3

“Aku tidak mencintai Kim Jinnan. Namun, kenapa aku takut dia menyakitiku? Kenapa aku tidak rela dia mengistimewakan, apalagi sampai bersama wanita lain?”


Bab 30 : Mendadak Risau


“Katakan padaku Kim Jinnan, ... apa yang akan membuatmu menyerah? Apa yang harus aku lakukan agar kamu melupakanku?”


Pertanyaan Pelangi yang terdengar sangat putus saja, sengaja Kim Jinnan abaikan. Bagaimana mungkin itu terjadi padanya, sedangkan ia sangat menginginkan Pelangi? Bahkan, alasan Kim Jinnan bekerja keras mengurus perusahaan, karena Kim Jinnan ingin memberikan kehidupan terbaik untuk Pelangi di masa depan.


Suasana mendadak senyap lantaran baik Kim Jinnan maupun Pelangi, sama-sama diam. Pelangi dengan keputus-asaannya, sedangkan Kim Jinnan dengan pemikirannya perihal apa yang bisa membuat Pelangi mau membalas cintanya?


“Bukankah seharusnya kita bergabung dengan mereka yang sedang sibuk di dapur?” ucap Kim Jinnan akhirnya.


“Paling semuanya juga sudah beres,” balas Pelangi yang sebenarnya ingin menyingkirkan kepala Kim Jinnan dari pangkuannya.


“Baiklah. Kita tunggu saja di sini. Aku masih punya waktu tiga puluh lima menit.” Kim Jinnan sampai memastikan waktu pada arloji yang menghiasi pergelangan tangan kirinya.


“Oh iya, rantangmu masih di sini. Nanti sekalian bawa, ya,” ucap Pelangi.


“Enggak mau ah ... kamu saja yang antar ke rumahku. Biar sekalian main jangan aku terus yang ke sini,” balas Kim Jinnan dengan santainya sambil bersedekap seiring kedua matanya yang kian terpejam.


“A-apa maksudmu? Kesannya aku yang memaksamu buat ke sini? Toh kamu ke sini juga tanpa undangan, kan? Kamu ke sini karena inisiatifmu sendiri?” cibir Pelangi.


Pelangi mendapati Kim Jinnan yang menjadi mesem tanpa perubahan berarti. “Tapi aku sangat berharap kamu juga mau main ke rumahku.”


“Untuk apa aku main ke rumahmu? Cari mati? Gila saja ... itu sih namanya bunuh diri!” balas Pelangi masih mencibir. Bahkan kali ini, Pelangi sampai bersedekap sambil memasang wajah angkuh.


Kim Jinnan tergelak. “Terserahlah. Aku mau istirahat dulu, apalagi hari ini, aku juga menyetir sendiri.”


Pelangi dan Kim Jinnan masih dalam keadaan yang sama, ketika Kishi datang membawa dua piring pasta dan meatball yang untuk toping-nya sampai ditaburi parutan keju.


Kishi membawakan dua piring milik Kim Jinnan dan Pelangi, sedangkan Dean yang ada di belakangnya, sampai membawa dua piring dan salah satunya milik Kishi. Sementara Mofaro yang rambutnya sudah sampai diikat tinggi, membawa sepiring miliknya sendiri.


“Makasih banyak, Ki ...,” ucap Pelangi sembari tersenyum tulus.


Jauh di lubuk hatinya, Pelangi merasa jauh lebih lega, setelah Kim Jinnan membicarakan perihal Feaya kepada Keinya. Selanjutnya, Pelangi hanya tinggal meyakinkan Kishi maupun Dean melaui perhatian yang harus ia berikan.


“Ya ampun, ... Kim Jinnan benar-benar sengaja bikin aku cemburu!” cibir Mofaro dalam hatinya.

__ADS_1


Mofaro bergegas melangkah dan duduk di sebelah Pelangi. Sedangkan Kishi dan Dean memilih duduk bersebelahan di sofa kecil yang ada di sebelahnya.


“Kenyangkan dulu perut kita. Tidak usah memikirkan mereka,” bisik Dean tanpa menatap Kishi lantaran fokusnya telanjur tertuju pada pasta di piringnga.


“Mmm ... selamat makan, De!” balas Kishi lirih dan menghiasi wajahnya dengan senyum semangat.


Dean sudah mulai menggerakkan garpunya dan siap menikmati pasta buatannya. Dan tak beda dengan Dean, Kishi yang langsung mengangguk setelah mendapat titah dari Dean, juga melakukan hal serupa.


“Jinnan ... bangunlah,” lirih Pelangi.


“Dia hanya pura-pura tidur, biarkan saja,” balas Mafaro yang kemudian mencoba menyuapkan pastanya pada Pelangi, tetapi Peangi langsung menggeleng.


“Kamu makan saja. Jangan pedulikan aku,” ujar Pelangi dan sukses membuat Mofaro cemberut.


Mofaro tak hanya kecewa. Sebab pemuda itu juga sampai kehilangan nafsu makan. Mofaro melepas garpunya dan membiarkannya terkapar di piring, sedangkan tatapan sengitnya mengunci wajah Kim Jinnan, yang masih tiduran di pangkuan Pelangi.


Baik Pelangi maupun Kim Jinnan sendiri belum menikmati pasta mereka. Meski ketika ponsel Kim Jinnan tiba-tiba berdering, pria muda itu segera membuka matanya dan memastikan ponselnya.


“Kan, beneran cuma pura-pura,” cibir Mofaro yang semakin geram pada Kim Jinnan. “Ah tidak ... daripada Rafaro, sepertinya mahluk bernama Kim Jinnan ini jauh lebih mengancam!” batinnya yang menjadi waspada.


Mofaro merasa harus secepatnya bertindak. “Ya. Aku harus melakukan hal untuk mempertegas hubunganku dengan Pelangi!” gumamnya yang begitu yakin dengan keputusannya.


“Pak Jo itu siapa?” tanya Pelangi yang diam-diam menatap penasaran ponsel Kim Jinnan. Pelangi ikut memastikannya dari balik pundak pria itu. “Bisa jadi, kan, namanya sengaja diubah buat mengelabuhiku?” batin Pelangi yang tetap saja curiga kepada Kim Jinnan.


Rasa curiga yang tiba-tiba tumbuh memenuhi naluri Pelangi, membuat Pelangi tak canggung memastikan layar ponsel Kim Jinnan. Ya, Pelangi curiga jika yang menelepon Kim Jinnan justru wanita-wanita pria itu. Terlebih hingga detik ini, Pelangi masih sangat sulit percaya kepada Kim Jinnan.


Kim Jinnan menoleh dan mendapati wajah Pelangi persis ada di hadapannya. Wajah gadis itu ada di pundaknya. Itu juga yang membuat Kim Jinnan tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Kim Jinnan langsung mencium kening Pelangi dan membuat gadis itu membatu.


Pelangi langsung terdiam tak percaya kendati kedua mata bulatnya langsung memelotot. Tak ubahnya dengan Mofaro yang kebetulan menoleh dan mrnatap kebersamaan keduanya. Mofaro sampai menjatuhkan piring pastanya hingga menimbulkan riuh dalam kebersamaan.


Kishi dan Dean yang awalnya begitu menikmati pasta mereka juga refleks memelankan kunyahan mereka. Terlebih, baik Kishi maupun Dean tidak mengetahui perihal apa yang sebenarnya terjadi. Namun kini, mereka mendapati Mofaro yang menatap sengit Kim Jinnan, sedangkan yang bersangkutan terlihat adem ayem saja. Kim Jinnan bahkan tengah tersenyum santai sambil mengelus punggung hidung Pelangi.


Dean dan Kishi menjadi mencemaskan keadaan kini. Terlebih mereka sadar, Kim Jinnan dan Mofaro sama-sama keras.


“De ... aku deg-degan, sumpah. Kayaknya Mo bakalan tetap sakit hati, deh, meski Ngi-ngie bukan sama Rafa,” bisik Kishi sambil mengunyah pelan pasta yang ada di dalam mulutnya.


Dean menatap Kishi. “Jangan terlalu dipikirkan. Biarkan mereka menyelesaikan semuanya untuk kedewasaan mereka. Bukankan ini juga, yang menjadi tujuanmu melepaskanku dari Ngi-ngie? Agar aku membiarkan Ngi-ngie menyelesaikan urusannya sendiri?” ucapnya sarat perhatian.

__ADS_1


Kishi, dengan segenap pembenarannya terhadap balasan Dean, segera mengangguk. “Iya. Kamu benar.”


“Iya, Pak Jo, selamat sore ... apa?!” Kim Jinnan yang awalnya begitu santai bahkan masih mengelus punggung hidung Pelangi, mendadak tak berkutik.


Pelangi bahkan bisa menurunkan jemari Kim Jinnan dari punggung hidungnya, dengan sangat mudah. Namun, yang membuat Pelangi bingung, selain menjadi mendadak diam, wajah Kim Jinnan juga menjadi pucat pasi.


“Iya, saya akan segera ke sana Pak Jo. Terima kasih.” Kim Jinnan menurunkan ponselnya dari telinga.


“Ada apa?” tanya Dean yang melihat ketidakberesan dari keadaan Kim Jinnan.


Kim Jinnan berangsur menoleh meski ia melakukannya dengan cukup kaku tak ubahnya robot. “Enggak,” ucapnya sambil tersenyum masak. “Kakek masuk rumah sakit lagi. Tapi sepertinya kali ini cukup parah. Sori, aku enggak bisa gabung. Sori juga pastanya. Tapi makasih banget, lho, sudah dibuatin.”


Kemudian tatapan berikut fokus Kim Jinan teralih pada Pelangi. “Aku pergi dulu. Dah ... salam buat papa mamamu, sama Zean juga. Dia masih tidur, kan?” ucapnya sembari mengacak pelan poni Pelangi.


Kim Jinnan segera beranjak tanpa menunggu balasan Pelangi. “Aku pergi dulu. Sampai jumpa,” serunya sambil berlalu.


“Hanya begitu? Beneran gitu, kakeknya sakit?” batin Pelangi yang melepas kepergian Kim Jinnan dengan hati yang mendadak terasa hampa.


Karena hingga detik ini, Pelangi masih takut, Kim Jinnan hanya mempermainkannya. Pria itu tidak benar-benar mencintainya dan hanya akan membuatnya terluka. Namun, kenapa Pelangi harus takut? Bukankah seharusnya ia bahagia? Mereka bukan siapa-siapa, kan?


“Aku tidak mencintai Kim Jinnan. Namun, kenapa aku takut dia menyakitiku? Kenapa aku tidak rela dia mengistimewakan, apalagi sampai bersama wanita lain?” batin Pelangi yang menjadi dilanda kerisauan luar biasa.


Kepergian Kim Jinnan yang tiba-tiba, membuat Pelangi tidak baik-baik saja. Lain halnya dengan Mofaro yang menjadi bersemangat dan segera meraih piringnya yang ajaibnya tidak pecah. Pun dengan pastanya yang tetap ada dalam piring. Hanya garpunya saja yang terpisah dari piring berikut pasta.


“Ini piring mahal, apa piring ajaib?” batin Mofaro yang sampai memandangi piringnya hingga bagian bawah, seiring ia yang juga bangkit untuk kembali duduk di sofa.


“Kamu tidak baik-baik saja,” ucap Dean yang menjadi mencemaskan Pelangi. Mata saudarinya itu sampai memerah dan bahkan berkaca-kaca.


Mofaro yang baru akan duduk sampai tidak jadi. Ia menatap Pelangi dan memandang wajah gadis itu lebih rinci. Benar kata Dean, Pelangi tidak baik-baik saja. Mata gadia itu tak hanya menjadi merah, melainkan juga berkaca-kaca.


“Kata siapa? Ini efek ngantuk. Mataku sampai panas, sedangkan aku selalu ingin menguap. Ya sudah. Aku tidur dulu, nanti kamu tolong simpenin pastaku, ya, De!” Pelangi meninggalkan kebersamaan dengan buru-buru.


“Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku menjadi serisau ini?” batin Pelangi seiring jemarinya yang sampai memilin ujung kemeja bagian perut yang dikenakan.


Bersambung ....


Malam ini, masih ada 1 episode lagi, ya. Semoga kalian enggak bosan 😁😁. Oh, iya, yang belum baca cerita Author yang judulnya “Menjadi Istri Tuanku” baca yuk. Ceritanya enggak kalah seru, kok.

__ADS_1


Dan satu lagi, Author juga lagi PO novel cetak Author. Kalian tinggal pilih mau yang mana. Masuk grup Author, ya. Di grup Chat. Kalian bebas tanya-tanya di sana ♥️


__ADS_2