Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 13 : Lamaran dari Athan


__ADS_3

“Menghilang, bukan berarti nggak peduli lagi, kan?”


Season 2 Bab 13 : Lamaran dari Athan


Rara sedang memasak di dapur apartemen, ketika Kimo pulang dan langsung menghampirinya. Mendapati langkah mendekat, Rara yang awalnya sedang mengaduk sup, segera menoleh untuk memastikan. Pun meski hanya dari aroma parfum yang tercium, ia sudah tahu itu suaminya.


“Kamu sudah pulang?” sapa Rara berhias senyuman.


Meski Rara terlihat baik-baik saja. Wanita itu bahkan masih tersenyum layaknya biasa. Dan meski di matanya, sang istri adalah wanita hebat yang bisa menyelesaikan segala sesuatunya, tetapi Kimo tidak bisa membayangkan, berapa banyak luka berikut air mata di balik semua ketegaran itu.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Kimo. Meski tahu, pertanyaannya akan membuat Rara bingung, tetapi ia ingin mendengar cerita lain berupa keluhan dari istrinya. Terlebih, apa yang Rara dapatkan dari mamanya begitu menyakitkan. Tak pantas rasanya jika ia bersikap baik-baik saja, apalagi sampai membiarkannya.


Kimo terus melangkah mendekati Rara, hingga akhirnya ia berdiri di sebelah Rara.


Rara menatap aneh Kimo. “Kamu ini kenapa, sih?” Meski pada kenyataannya, ia juga tahu, Kimo sedang mengkhawatirkannya. Namun setegar-tegarnya Rara, jika Kimo sudah mendesaknya penuh kepedulian, yang ada Rara akan merasa sangat nelangsa.


“Maaf, ya. Mama pasti sudah sangat keterlaluan. Nyatanya kamu memilih pulang ke apartemen,” sesal Kimo sembari menatap Rara.


“Memang sudah jadi risikoku, kan? Sudah nggak usah dipikirkan. Lebih baik kamu mandi, terus kita makan,” balas Rara sembari berbenah mematikan kompor sebelum meraih mangkuk dan mengisinya dengan sup.


“Kamu mau pindah, nggak? Lebih baik kita tinggal di tempat yang jauh dari jangkauan mamaku, biar kamu bisa hidup dengan tenang,” tawar Kimo sarat penyesalan sekaligus kesedihan.


Rara menggeleng. “Nggak perlu. Biarkan saja mamamu melihat hubungan kita. Aku yakin, mamamu akan semakin sering mengamati kita, melebihi sebelumnya.”


“Kamu yakin?” tanya Kimo memastikan.


Rara segera mengangguk. “Meski hubungan kita rumit, yang pentingkan kita tetap mesra,” tambahnya sengaja menggoda Kimo.


Kimo mesem. “Berasa nonton iklan teh,” godanya. “Ya sudah, kalau gitu, aku mau langsung makan soalnya tadi nggak sempat makan siang.”


Kimo langsung menuju kursi makan yang ada di sebelahnya kemudian menariknya dan segera duduk di sana.


Melihat Kimo yang lemas, Rara pun menjadi cemas. “Ada masalah, ya? Kamu bilang, karyawan-karyawanmu ribet?” tanyanya sembari menghampiri Kimo dengan semangkuk sup ayam dan sayuran.


Kimo langsung menyambutnya dan bersiap menikmatinya. Ada brokoli, wortel, juga tofu selain daun seledri yang masih tampak begitu hijau.


“Aku bisa mengatasi mereka. Aku lemas gara-gara belum makan,” ucap Kimo setelah menyeruput satu sendok supnya dan kemudian menikmatinya dengan lahap. “Aku suka supnya! Ini sangat enak! Tetapi kayaknya akan lebih enak lagi, kalau dikasih rendaman nori kering!”


Rara tersenyum tulus. Rasa bahagia membuatnya mendapatkan banyak ketenangan hanya karena melihat Kimo begitu lahap memakan supnya.


“Andai makan siang besok juga ada sup kayak gini!” keluh Kimo yang sampai mengerucutkan bibir tak beda dengan anak kecil.


Setelah Rara amati, Kimo itu sangat menyukai sup. Sup tidak begitu berminyak dengan isi yang tidak terlalu banyak. Jadi, kalaupun akan membuat sup daging bahkan tulang, Rara harus menyeduhnya lebih dulu untuk membuang minyaknya.


“Biar rasanya nggak berubah, setiap sebelum jam makan siang, aku akan datang ke kantor mengantarkannya untukmu,” balas Rara sambil menopang wajahnya menggunakan kedua tangan. Ia sengaja melirik genit Kimo yang langsung tersenyum lepas menyambutnya.


“Kujamin, uang bulananmu nambah!” ujar Kimo antusias.


“Itu wajib! Buat beli rumah, kan? Gabung sama tabunganku, yuk? Please, jangan nolak terus. Kamu bilang, nggak seru kalau kita terus tinggal di sini?”


Meski Rara memiliki uang tabungan cukup, tetapi Kimo tidak mau menggunakannya bahkan meski itu untuk membeli rumah yang akan mereka tempati bersama. Kimo bilang, uang Rara ya hak Rara dan seharusnya Rara gunakan untuk bersenang-senang. Sedangkan untuk urusan kebutuhan hidup mereka, Kimo bilang itu tanggung jawab Kimo.


“Uangmu buat beli kesukaanmu saja,” ucap Kimo sewot yang bahkan sampai melahap sisa supnya dengan cepat.


Rara cemberut. “Kesukaanku kan hanya sama kamu. Kalau enggak, uang tabunganmu buat menyicil beli rumah, dan uangku buat beli mobil?” usulnya antusias.

__ADS_1


“Emang kamu bisa menyetir, gitu? Bawa motor saja nggak bisa?” balas Kimo sambil menatap Rara tidak yakin.


Rara nyengir. “Maksudku, beli mobilnya biar kamu nggak naik taksi terus.”


Kimo langsung menggeleng.


“Ya sudah, anggap saja aku taksi langgananmu. Aku yang akan mengantarmu ke manapun kamu mau?” sergah Rara. “Kalau kamu tetap nggak mau, aku marah, lho!” ancamnya kemudian sambil bersedekap memasang ekspresi marah.


Kimo terdiam untuk beberapa saat, kemudian menghela napas. “Baiklah. Kapan kita pilih rumah, juga beli mobil?”


Meski Kimo meliriknya sebal, tetapi Rara langsung girang bahkan sampai bertepuk tangan.


“Mengenai waktunya, disesuaikan dengan jadwalmu saja. Jadwal kerjaku kan bebas,” ucap Rara kemudian.


“Bebas apanya? Selalu menguras waktu iya!” cibir Kimo.


Rara meringis. “Semenjak menikah, aku kan selalu atur waktu biar bisa quality time terus sama kamu,” protesnya.


Kimo mengangguk-angguk sembari memberikan mangkuknya yang sudah kosong pada Rara.


“Ini sudah, apa lagi?” tanya Rara bingung sambil menerima mangkuknya.


“Lagi,” balas Kimo yang kemudian mengempaskan tubuhnya pada sandaran kursi tempatnya duduk disusul mengeluarkan ponselnya dari saku sisi celana.


Rara tersenyum girang dan bergegas mengisi mangkuknya dengan sup. Kebahagiaannya memang selalu bertambah ketika Kimo menyukai bahkan sampai menambah, masakan yang ia buat.


Ketika Rara kembali ke Kimo, pria itu langsung menyuguhkan ponselnya dan berisi pemandangan beberapa bangunan rumah.


“Pilih,” ucap Kimo cuek yang kemudian langsung melahap supnya.


“Aku sengaja pilih lokasi yang nggak begitu jauh dari rumah Yuan dan Keinya,” ucap Kimo jauh lebih santai dari sebelumnya sembari menatap Rara.


“Wah! Aku pilih, ya ... oh, iya, Kimo ... nanti temani aku nonton film lucu, ya! Barusan aku donload gara-gara dikasih tahu teman,” ucap Rara tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel Kimo.


“Mmm ... terserah kamu. Toh kalau aku nggak nurut kamu, bisa langsung kamu suruh tidur di luar,” balas Kimo santai dan sengaja menyindir.


“Nah, itu kamu tahu!” Rara terkikik.


Kimo sedikit maju dan menarik hidung Rara menggunakan jemari kanannya. Ketika Rara juga akan mengambil sup untuknya, bel apartemen bunyi. Menandakan bila seseorang di luar sana menekannya.


“Kimo, kamu ada janji sama orang?” tanya Rara bingung dan belum sempat memangkukkan supnya.


Kimo mengerutkan dahi kemudian menggeleng. “Enggak, sih. Ya sudah, aku lihat dulu. Kamu makan dulu saja,” ucapnya yang langsung bergegas meninggalkan tempat duduknya.


“Ah, mungkin itu Yura yang butuh sesuatu?” pikir Rara yang kemudian mengisi mangkuknya dengan sendok sup yang sudah ia pegang.


Ketika Rara baru memboyong supnya ke meja, Kimo datang sembari menggerutu. “Ada apa? Siapa yang datang?”


“Siapa lagi kalau bukan Athan? Heran, berani-beraninya dia ke mari!” cibir Kimo geram.


Rara mengerutkan dahi. “Ngobrol aja baik-baik. Kayaknya dia juga belum tahu kalau kita sudah menikah,” balasnya santai sembari menyendokkan supnya dan menikmatinya.


“Kamu bisa ngomong kayak gitu, karena kamu bukan aku. Lihat dia di CCTV pintu saja sudah bikin aku malas. Apalagi tadi dia juga sampai bawa buket mawar merah!” Kimo melirik sinis sambil bersedekap.


Rara masih menanggapinya dengan santai sambil menikmati sup. “Kalau begitu, ayo kita temui dia. Kalau dibiarkan bisa bahaya bikin kamu marah-marah nggak jelas begini.” Ia mengulurkan tangannya dan berusaha menggandeng Kimo.

__ADS_1


Lantaran Kimo tak kunjung membalasnya, Rara segera bangkit dan menuntun Kimo melalui kemeja bagian perut pria itu. Namun ketika baru setengah jalan, Kimo tiba-tiba menggandengnya.


***


Yang Athan tahu, Rara tinggal di apartemen Keinya. Dan sesuai data yang ia dapat, ia mendatangi apartemen tersebut.


Setelah hampir 5 bulan tidak bertemu atau sekadar bertukar kabar. Setelah semua yang ia lalui berikut kebersamaannya dengan Rara, Athan mantap mengambil keputusan untuk melamar wanita itu. Athan yakin, Rara tidak hanya bisa menjadi istri yang baik, melainkan juga ibu sambung yang baik untuk Pelangi. Jadi, bermodal buket mawar merah berukuran besar dan cincin yang sudah ia siapkan berikut keyakinan tersebut, Athan berniat melamar Rara, malam ini juga.


Semakin lama Athan menunggu rasanya semakin tegang saja. Apalagi ketika hampir lima menit menunggu setelah ia menekan bel, pintu apartemen akhirnya terbuka. Meski yang ada, kehadiran Kimo di belakang Rara yang kemudian bersedekap sembari menatapnya garang layaknya biasa, langsung menghadirkan suasana tidak nyaman tersendiri.


“Hai, Than? Apa kabar?” sapa Rara.


“Ngapain kamu ke sini, pakai bawa acara bunga segala?” saut Kimo.


Athan yang sempat menatap Rara sambil menyuguhkan senyum termanisnya, langsung menatap sebal Kimo sesaat setelah pria itu ikut berkomentar.


“Sudah sekian lama menghilang, tahu-tahu nongol lagi!” Kimo mengatakan itu tanpa menatap Athan.


“Menghilang, bukan berarti nggak peduli lagi, kan?” balas Athan enteng.


Kimo bergumam sambil mengangguk. “Orang-orang seperti kamu memang begitu.”


Lantaran Kimo terus mengoceh, Rara mengelus sebelah lengan pria itu. “Terus, kamu ke mari ada perlu apa?”


Senyum di wajah Athan kian lepas tatkala ia menatap wanita itu, tepat setelah pertanyaan tersebut terlontar. “Bukankah semua wanita selalu menyukai kejelasan?”


Kimo langsung mengerutkan dahi, melirik Athan curiga.


“Ra, aku tahu, aku bukan pria baik,” ucap Athan yang langsung tertahan lantaran Kimo tiba-tiba berucap.


“I-ini, maksudnya, kamu mau kasih kejelasan ke Rara, sejenis melamar?” ucap Kimo dengan tangan kanannya yang menahan sebelah lengan Athan.


Athan menatap sebal Kimo. “Sekalipun aku tahu kamu pacar Rara, tetapi nggak menutup kemungkinan kalau Rara mau menikah sama aku, kan?” tegasnya. “Semua wanita lebih menyukai kejelasan, daripada hubungan lama tanpa kejelasan. Aku yakin,”


Kali ini ucapan Athan kembali terhenti lantaran Rara justru berkata, “Kimo bukan tipikal yang kamu pikirkan. Kimo bahkan sudah dari awal hubungan kami, kasih kejelasan ke aku. Kalau nggak begitu, mana mungkin aku milih Kimo, kan? Sedangkan dua hari yang lalu, aku dan Kimo sudah resmi menikah.”


Bak disambar petir di siang bolong, Athan langsung kehilangan semuanya. Semua keyakinan berikut semangatnya benar-benar hilang dalam waktu sekejap.


“Sungguh, kalian sudah menikah?” tanya Athan tak percaya.


Athan menatap Rara dan Kimo silih berganti.


Rara segera mengangguk. “Serius. Kami pakai cincin,” balasnya yang kemudian memamerkan cincin yang ia kenakan berikut Kimo. Ia menunjukkan cincin yang dimaksud.


“Meski semua wanita membutuhkan kejelasan, tetapi tidak untuk istri orang yang hanya butuh kejelasan dari suaminya, kan?” ucap Kimo sembari melirik sebal Athan.


Rara melirik Kimo sembari mengulas senyum. Berbeda dengan Athan yang menjadi tertunduk sedih.


“Kalau memang sudah nggak ada yang perlu dibicarakan, kami masuk dulu,” pamit Rara.


Athan tidak berkomentar dan tetap menunduk.


Bagi Athan, meski Rara dan Kimo bukan orang asing dalam hidupnya, tetapi melamar wanita yang ia cintai justru di hadapan suami si wanita yang belum ia ketahui, teramat membanting harga dirinya.


Kalau saja aku cari info lebih lanjut mengenai Rara, pasti nggak akan semalu ini! Batin Athan yang yakin, Kimo merasa sangat menang atas lamarannya yang ditolak mentah-mentah oleh Rara!

__ADS_1


***


__ADS_2