Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 61 : Cemburu


__ADS_3

“Pelangi benar-benar cemburu. Dan ketika aku menganggap cemburu merupakan hal sepele, tentu aku salah karena aku saja sangat pencemburu.”


Bab 61 : Cemburu


Kim Jinnan langsung menghela napas dalam, kemudian menggeleng tak habis pikir, setelah ia meraih ponselnya yang layarnya sampai pecah. Bukan tanpa alasan, karena benar-benar beralasan, hingga Pelangi sampai semarah itu. Bahkan, ponsel milik Kim Jinnan sampai menjadi korban. Namun, semudah itu? Semudah itu Pelangi yang ia kenal selalu bersikap tenang, langsung mengamuk jika terbakar api cemburu?


Sesaat setelah menelan ludah sembari menatap ponsel, Kim Jinnan bergegas, kembali melangkah cepat menuju kamar mandi. Kamar mandi yang pintunya masih tertutup rapat sedangkan isak tangis Pelangi juga masih terdengar di belakangnya.


“Mesengger, kan?” seru Kim Jinnan dan sengaja bertutur dengan hati-hati.


Pelangi tidak menjawab.


“Ngie ... buka pintunya. Jangan begini. Aku beneran bisa marah kalau kamu begini,” lanjut Kim Jinnan.


“Jinnan, kamu terlalu egois!” seru Pelangi.


Kim Jinnan terdiam bingung bersamaan dengan dadanya yang seperti baru saja dipukul benda sangat keras sekaligus kokoh. “Egois?” ulang Kim Jinnan dalam hati. “Kok sakit, ya?” gumamnya.


“Jinnan! Ayo kita makan!” seru Zean dari luar sembari menggedor-gedor pintu.


Kim Jinnan refleks menoleh dan kemudian kembali menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. “Ngie?” panggilnya masih berusaha.


“Jinnan? Ngie ....?” Suara Zean terdengar semakin mendekat. Kim Jinnan yakin, bocah itu pasti sudah sampai masuk kamar mengingat tadi, ia tidak mengunci pintunya.


Dan tak kurang dari satu menit, suara berikut Zean, ada di hadapan Kim Jinnan. Zean menatap terkejut ponsel yang ada di tangan Kim Jinnan dan ia ketahui sebagai ponsel pria itu.


“Wah Jinnan ... kok layar ponselmu pecah gitu?” tanya Zean yang kemudian menatap penasaran ponsel yang dimaksud.


“Habis tersambar tornado, Zean,” balas Kim Jinnan dengan entengnya.


“Tor-tornado? Gila banget! Itu keren, Jinnan. Kok bisa, sih? Terus, tornadonya kayak apa? Aku kepo ih!” Zean begitu antusias menanti penjelasan Kim Jinnan


“Tuh Ngi-ngie yang tahu ... tapi Ngi-ngie masih di dalam.” Kim Jinnan melakukan gerakan wajah menunjuk pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.


“Oh, begitu?” sergah Zean yang kemudian menggedor-gedor pintu kamar mandi sembari memanggil-manggil Pelangi.


“Ngie ... cepat dong keluar? Kok lama banget, sih? Sudah sampe lebaran semut, nih!”


Zean tak hentinya meronta-ronta, meminta Pelangi untuk keluar, tetapi yang bersangkutan justru tidak berkomentar.


“Ngi-ngie enggak balas-balas, jangan-jangan dia pingsan?” ucap Zean kemudian yang menjadi sangat cemas.


“Pingsan? Pingsan bagaimana?” sergah Kim Jinnan yang menjadi tak kalah cemas.


“Pingsan itu mata merem terus enggak sadar mirip tidur, lho. Nah, Ngi-ngie bisa begitu kalau sudah terlalu pusing. Bahkan sekadar kelaparan, Ngi-ngie juga bisa pingsan!” jelas Zean.


Meski merasa konyol dengan penjelasan awal Zean, tetapi penjelasan selanjutnya bocah itu membuat dada Kim Jinnan berdebar-debar. “Ngie!” Kim Jinnan benar-benar mengkhawatirkan keadaan istrinya.


Namun tak lama setelah itu, Zean yang sampai menempelkan telinganya pada pintu pun berkata, “ada suara air dari shower bak rendam. Berarti Ngi-ngie lagi mandi!”


Anggapan tersebut membuat Kim Jinnan mengerutkan dahi dan kemudian ikut menempelkan telinganya juga pada pintu.


“Ya sudah, ayo kita makan dulu. Soalnya, Ngi-ngie kalau mandi berendam bisa lama banget, tembus berjam-jam. Biasa, ... kebiasaan ciwi-ciwi!” Zean terkikik geli dan kemudian membawa paksa Kim Jinnan. Ia menggandeng pria itu untuk ikut bersamanya.


“Jinnan ... aku beneran penasaran mengenai tornadonya.”


“Itu rahasia kita. Jangan sampai ada yang tahu.”


“Baiklah. Aku janji, ini rahasia kita!”


“Zean, biasanya, Ngi-ngie bisa tembus berapa lama kalau sudah berendam?”


“Berjam-jam!”


“Ngapain sampai selama itu, memangnya sampai sikat-sikat toilet?”


Bukannya kembali menjawab, Zean justru terbahak.


“Zean ... Zean. Enggak tahu apa, aku takut Ngi-ngie nekat? Apalagi, tadi saja, Ngi-Ngie sampai banting ponsel ....” Kim Jinnan menjadi kepikiran Pelangi.


Kim Jinnan memang bergabung makan bersama keluarga Pelangi. Tapi tidak dengan hati dan pikirannya yang terus sibuk memikirkan Pelangi.

__ADS_1


Sekitar satu jam kemudian, Kim Jinnan telah terjaga di sebelah pintu kamar mandi Pelangi yang masih tertutup rapat. Dan dari dalam, Kim Jinnan mendengar suara shower masih menyala terlepas dari semerbak aroma bunga sabun yang juga tercium sangat kuat.


Kim Jinnan memang sengaja tidak bersuara. Sengaja membuat Pelangi tidak mengetahui keberadaannya. Sebenarnya, Kim Jinnan tidak mempermasalahkan lamanya Pelangi dalam mandi. Yang ia permasalahkan, apakah wanitanya itu benar-benar mandi, atau ... melakukan hal lain bahkan nekat yang berakibat fatal?


Beruntung, sekitar lima belas menit kemudian dari waktu tunggu ke dua Kim Jinnan, akhirnya Pelangi keluar dari dalam bersamaan dengan semerbak bunga yang tercium sangat kuat. Tak hanya itu, kabut asap juga sampai menyertai Pelangi yang mengenakan pakaian handuk, berikut kepalanya yang juga turut terbungkus handuk.


Pelangi melangkah loyo dan tidak mengetahui keberadaan Kim Jinnan yang sampai ia tinggalkan. Di sisi pintu, Kim Jinnan yang sudah tertinggal berangsur menyusul Pelangi, dengan langkah yang terbilang santai. Sesekali, Pelangi akan memijat kepala menggunakan kedua tangan, di mana tak lama setelah itu, Pelangi juga menjadi menghentikan langkahnya tepat sebelum ia sampai lemari pakaian yang ada di hadapannya.


Pelangi yang menyadari jantungnya berdentam tidak wajar, mengerling dan bahkan cukup terengah-engah. Pelangi yakin, di belakangnya ada yang mengikuti dan itu pasti Kim Jinnan. Jadilah, Pelangi yang telanjur marah pada sang suami, memutuskan untuk melanjutkan tujuannya dalam mengambil pakaian di lemari.


“Mau sampai kapan kamu mendiamkanku?” keluh Kim Jinnan dengan nada suara yang masih tenang.


Pelangi masih mengabaikan Kim Jinnan. Ia mengambil piama merah muda dari lemari, di mana setelah itu, ia juga berlalu kembali menghindari Kim Jinnan. Meski yang ada, sebelah tanga Kim Jinnan dengan kuat menahannya disusul pria itu yang sampai menarik tubuh Pelangi hingga mereka tepat berhadapan nyaris tak berjarak.


“Jinnan, aku benar-bebar tidak mau berdebat, apalagi berdebat sama kamu!” Pelangi masih menunduk, masih malas dan memang sengaja menghindari Kim Jinnan.


“Kamu pikir, aku mau berdebat sama kamu?” balas Kim Jinnan meyakinkan dengan nada suara yang semakin lirih dan terdengar cukup berat layaknya apa yang baru saja ditegaskan.


Lantaran Pelangi masih menunduk, Kim Jinnan berinisiatif membingkai wajah sang istri menggunakan kedua tangannya. Ia menuntun dan terbilang paksa, wajah Pelangi untuk balas menatapnya.


“Jinnan!” tegas Pelangi dengan suara tinggi.


“Mau sampai kapan kamu menghindariku?” Berbeda dengan Pelangi, Kim Jinnan justru semakin bertutur lirih dengan nada suara yang jauh lebih sabar.


“Kamu itu egois. Kamu itu enggak peka! Kurang apa aku sama kamu? Bahkan pria yang bukan pasanganku saja selalu menjagaku dengan banyak cara! Namun, kamu yang suamiku masih sengaja membuka kesempatan!” tegas Pelangi cepat. “Tanpa harus kujelaskan apa yang terjadi, seharusnya kamu tahu!”


Pelangi menyingkirkan cepat tangan Kim Jinnan dengan kekuatan penuh. Dan setelah itu, ia segera melangkah cepat bahkan sampai berlari meninggalkan Kim Jinnan.


“Dia yang mulai bahkan aku mengabaikannya. Kamu juga tahu itu!” tahan Kim Jinnan yang kemudian menyusul dengan langkah cepat.


Pelangi yang masih lari pun berkata, “karena kamu kasih kesempatan, siapa juga yang enggak mau? Bahkan kamu tahu alasannya, kenapa kamu pura-pura bodoh!”


Tepat setelah memasuki kamar mandi, Pelangi balik badan dan menatap tegas Kim Jinnan. “Aku enggak pakai aplikasi lain. Kenapa kamu masih pakai! Aku dan bahkan semua orang-orang dalam hidupku enggak ada yang pakai aplikasi lain! Kenapa kamu masih pakai juga? Masih ada yang ditunggu? Kenapa kamu menikahiku?!” tegasnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Kim Jinnan yang sedari awal diam menyimak, nyaris menjawab tetapi Pelangi mendadak menutup pintu kamar mandi bahkan sampai membantingnya.


Pelangi yang awalnya bersandar pada pintu, berangsur merunduk bersamaan dengan air matanya yang kembali pecah. Pelangi kembali terisak-isak dan sampai sesenggukan.


“Ayo keluar. Katakan padaku apa yang harus aku lakukan?” pinta Kim Jinnan kemudian.


Dari balik pintu, Pelangi yang masih terduduk terisak-isak pun berseru, “seharusnya kamu mikir, inisiatif enggak usah tanya-tanya!”


Kim Jinnan menghela napas dalam. “Nanti kalau apa yang aku lakukan masihnkurangnbahkan salah, kamu marah lagi!” balas Kim Jinnan dengan nada lirih. Kim Jinnan telah menyadari jika apa yang terjadi, perihal kemarahan Pelangi, itu karena kesalahannya.


Namun, dari balik pintu, Pelangi masih tersedu-sedu sembari mendekap erat piamanya.


“Ayo keluar, ... enggak enak kamau marahan begini,” bujuk Kim Jinnan lagi.


Meski Pelangi juga tidak mau bertengkar dengab Kim Jinnan, tetapi untuk kali ini, Pelangi benar-benar mara


kepada pria itu. Sebab, orang lain saja bisa menjaganya dengan banyak cara, tetapi kenapa Kim Jinnan yang merupakan suaminya, tidak?


***


“Aku benar-benar marah kepadamu!” tegas Pelangi tepat ketika ia membuka pintu tetapi masih mendapati Kim Jinnan terjaga di sana.


Kim Jinnan berkecak pinggang sambil menghela napas dalam. “Mau sampainkapan?” pintanya sekaligus mengeluh.


Pelangi yang sudah berpiama bahkan kepalanya saja tak lagi terbungkus handuk, masih mengabaikan Kim Jinnan. Kim Jinnan pun segera merih sebelah tangan Pelangi dan menahannya.


“Jangan menyentuhku!” tegas Pelangi yang kemudian mengipratkan tahanan tangan Kim Jinnan.


“Jadi, aku harus membalasnya, menghubunginya, bahkan semuanya, begitu?” tegas Kim Jinnan meminta penjelasan.


Pelangi yang awalnya sudah tergasa menuju pintu dan Kim Jinnan yakini akan keluar, berangsur menghentikan langkah. “Kalau kamu berani membalas apalagi menghubunginya, lebih bak kamu tidur di luar saja!” tegasnya sesaat setelah balik badan dan membuatnya menatap Kim Jinnan. Tentu, kali ini ia menatap pria itu dengan sangat bengis atas kemarahan yang tengah ia rasakan.


“Asal sama kamu, aku mau tidur di luar. Ya, ... asal sama kamu, aku mau melakukan semuanya bahkan hal yang kubenci sekalipun!” Kim Jinnan meyakinkan sambil mendekati Pelangi.


Menyadari itu, Pelangi segera melanjutkan langkahnya.


“Jangan pergi, Ngie!” pinta Kim Jinnan tegas.

__ADS_1


Pelangi memang sempat menghentik langkahnya, tetapi itu hanya berlangsung sementara lantaran setelah itu, ia kembali meninggalkan Kim Jinnan. Jadilah, Kim Jinnan bergerak cepat lari kemudian menarik sebelah tangan Pelangi dan membawa paksa wanitanya untuk kembali masuk kamar.


Kim Jinnan segera menutup bahkan mengunci pintunya di mana Pelangi juga menyandar pada pintu, dan menghadapnya.


“Kami tidak boleh menyentuhku!” tegas Pelangi masih menatap sengit Kim Jinnan.


“Sampai kapan?” balas Kim Jinnan yang juga menatap serius Pelangi.


Pelangi menepis malas tatapan Kim Jinnan lantaran ia masih sangat marah.


“Ya sudah, ayo kita makan.” Kim Jinnan menyerah.


Pelangi pun segera balik badan dan kemudian membuka kunci kamarnya. Namun tak lama setelah itu, kedua tangan Kim Jinnan mendekapnya erat dari belakang.


“Sepuluh menit lagi. Biarkan aku seperti ini,” lirih Kim Jinnan yang kemudian memejamkan kedua matanya disusul mengendus dalam kepala Pelangi yang masih setengah basah.


Sedangkan yang terjadi pada Pelangi, wanita itu mendengkus kesal dan kemudian terdiam.


***


Bahkan hingga mereka berbagi tempat tidur, Pelangi masih memunggungi Kim Jinnan sembari menutup tubuhnya rapat-rapat menggunakan selimut.


“Ngie ... jalan-jalan sebentar, yuk, keluar. Aku enggak bisa tidur kalau kamu terus begin,” pinta Kim Jinnan yang sedari awal menatap sedih punggung Pelangi.


“Serius, malam ini aku beneran hanya kasih punggung?” sesalnya yang kemudian nekat mendekat dan mendekap Pelangi.


“Kim Jinnan, jangan menyentuhku!” tegas Pelangi di tengah kedua matanya yang masih terpejam.


“Anggap saja aku enggak dengar permintaanmu!” balas Kim Jinnan.


Pelangi menghela napas dalam dan kemudian mendengkus sebal seiring ia yang juga membuka matanya.


“Bukankah seperti ini jauh lebih nyaman? Nyatanya ... dari tadi, kamu juga enggak bisa tidur, kan?” ujar Kim Jinnan yang sampai meletakkan dagunya di sebelah pundak Pelangi. Kemudian, ia juga sampai mencium sebelah wajah Pelangi.


“Malam ini aku tidak akan macam-macam, karena papa bilang, hari ini kalian sangat sibuk dan kamu sampai kelelahan,” sambung Kim Jinnan.


Pelangi berdeham dan kemudian memejamkan matanya.


“Tapi enggak tahu besok pagi. Sekitar pukul tiga, ya? Kamu pasang alarm?” lanjut Kim Jinnan.


“Ujung-ujungnya!” cibir Pelangi.


Kim Jinnan terkikik dan kemudian berangsur membalikkan tubuh Pelangi dengan hati-hati. “Aku akui aku salah,” ucapnya sambil menatap dalam wajah Pelangi yang masih cemberut. “Maaf ....”


“Jangan hanya minta maaf,” tepis Pelangi yang membiarkan Kim Jinnan menciumi wajahnya.


“Iya. Aku beneran enggak akan pakai aplikasi lain!” janji Kim Jinnan.


Namun ketika Kim Jinnan nyaris menyambar bibir Pelangi, wanita itu langsung menekap bibir Kim Jinnan dan kemudian mendorongnya pelan agar menjauh.


“Aku ngantuk. Capek. Capek tubuh, capek hati, emosi juga,” ucap Pelangi yang kemudian mendekap tubuh Pelangi dan menyemayamkan wajahnya di dada Kim Jinnan.


“Aku masih merasa bersalah,” balas Kim Jinnan sembari mendekap tubuh Pelangi.


“Aku juga masih sangat marah,” balas Pelangi yang sudah terpejam di tengah kenyataannya yang sudah terpejam. Sebab bertengkar dengan Kim Jinnan sangat membuatnya tidk nyaman.


“Honey moon, yuk?” ajak Kim Jinnan kemudian.


Dan mendengar itu, Pelangi menjadi terdiam kendati kedua matanya sudah sampai terbuka sempurna.


“Honey moon?” pikir Pelangi mengulang ajakan sang suami.


Bersambung ....


Mohon maaf lahir dan batin, semuanyaaaa buat yang menjalankan. Tapi Author minta maaf sedalam-dalamnya jika selama kebersamaan kita meski sebatas di cerita, Author sudah nyakitin kalian, baik yang sengaja maupun tidak disengaja, ya.


Semoga kita bisa menjadi lebih baik lagi dan terus begitu ♥️♥️🌟🌟🌟💐


Author masak opor. Kalau kalian dekat, pasti Author bagi 😁


BTW, Author punya cerita baru. Judulnya : Istri Kesayangan Sang Tuan. Baca yaa😁

__ADS_1


__ADS_2