
“Kalau aku tahu bagaimana caranya mengubah ibu mertuaku, sudah dari dulu aku melakukannya.”
Episode 16 : Berbakti Kepada Mertua
“Jadi, ini ceritanya, si Ben, jadi berondongnya ibu mertuaku, apa bagaimana?”
Pertanyaan Kimo yang terdengar begitu polos berikut ekspresi pria itu, tak lantas membuat sakit hati Kainya menepi. Entahlah, tetapi mendengar pria yang mencintainya justru digosipkan menjadi korban Piera yang notabene merupakan wanita penggoda, rasanya ada sembilu yang sibuk menyayat di hatinya.
Mendapati Kainya justru cemberut, Kimo pun makin bingung. “Ekspresimu menandakan kalau kamu cemburu ke ibu mertuaku,” sindir Kimo yang mulai memutar video yang Kainya maksud.
Tak lama setelah itu, Kainya justru tiba-tiba menoyor kepala Kimo.
“Aduh ... ini maksudnya apa? Kenapa kamu malah menoyor kepalaku? Sakit tahu, Kai!” keluh Kimo sembari memegangi bekas toyoran Kainya, dan menatap tak habis pikir wanita yang bersangkutan.
Kainya mendengus kesal bahkan gelisah. “Sudah nggak usah banyak komentar! Kamu ini cerewetnya melebihi ibu-ibu yang lagi nawar harga sayur di pasar!”
Kimo menggeleng tak habis pikir. “Nggak sadar diri banget, kamu! Bentar lagi, kamu juga bakal jadi ibu-ibu!” cibir Kimo yang kemudian memutuskan fokus pada video yang akhirnya ia putar setelah sempat tertunda lantaran Kainya sampai menoyor kepalanya.
“Aku pikir, kamu akan dengan Gio. Tetapi ternyata justru nyangkut di Ben ....” Kimo tersenyum geli melihat sosok Ben di video tersebut.
Selain malu, Kainya juga makin sebal pada Kimo yang sibuk mengejeknya.
“Jika aku memintamu untuk menungguku, apakah kamu mau?” ucap Ben serius sekaligus berharap. Kemudian Ben menunduk sembari menggigit bibir bawahnya. “Satu minggu tidak bertemu, apakah kamu tidak merindukanku?”
“Ehm!” Kimo berdeham geli dan sengaja mengejek Kainya.
“Kimo, cukup! Fokus ke masalah yang aku maksud saja!” omel Kainya yang sangat ingin mencabik-cabik Kimo, andai saja ia tidak memiliki perlu dengan pria itu.
Kimo berdeham dan berusaha sesantai mungkin. Meski hal tersebut tidak mudah ia lakukan lantaran apa yang Ben lakukan untuk Kainya benar-benar membuatnya geli. Jadi, ia sengaja menggigit lidahnya agar tidak kebablasan tertawa atau sekadar senyum-senyum sendiri.
“Katakan padaku, apa yang bisa membuatmu percaya, bahwa aku benar-benar mencintaimu?”
“Aku serius, Kai ... setelah ini, jika kamu sudah melihat video ini dan bersedia memberiku kesempatan, tolong hubungi aku.”
“Kamu tahu, satu minggu terakhir, aku merasa sangat tertekan. Wanita bernama Piera itu ... dia mengubah segalanya. Jika sesuatu terjadi padaku, kamu menemuinya untukku?”
Setelah video itu berakhir, Kainya langsung berdeham. “Kecelakaan Ben itu sengaja dibuat. Dengan kata lain, ada yang sengaja ingin membunuh Ben. Rem mobil Ben dirusak, sedangkan CCTV di restoran terakhir sebelum Ben menyetir justru tiba-tiba rusak!”
Kainya begitu serius menjelaskan. Sedangkan Kimo justru ditawan bimbang. Biar bagaimanapun, Piera itu ibu mertuanya, dan Kimo juga memiliki kewajiban berbakti kepada wanita itu.
Kimo terdiam sembari menghela napas dalam. “Aku harus bagaimana?” tanyanya kemudian sembari memberikan ponselnya kepada Kainya.
“Kamu harus membantuku menemui ibu mertuamu!” balas Kainya menggebu.
Kimo mengerutkan dahi. “Untuk?” ucapnya sambil memiringkan kepalanya, menatap tak mengerti Kainya.
Kainya memelotot tak percaya. “Hei, Kimo! Kamu sadar, bertanya seperti itu kepadaku? Ayolah, jangan terus-menerus bercanda! Aku jauh-jauh datang ke mari hanya untuk meminta bantuanmu karena aku tidak mungkin memintanya kepada Rara!” ucapnya geram.
Kimo tertunduk lesu. “Tetapi apa yang akan kamu lakukan dengan video itu? Kamu pikir itu bisa menjadi barang bukti?” ia menatap Kainya penuh kepastian.
“Video itu belum cukup menjadi bukti Kai! Apalagi kamu tahu sendiri ibu mertuaku siapa? Suaminya sangat mencintainya. Bahkan Tuan Roy rela menyingkirkan anak dan istri pertamanya hanya untuk menyenangkan ibu mertuaku!”
__ADS_1
“Percayalah, Kai. Aku melakukan ini tak semata bentuk berbaktiku kepada ibu mertuaku, tetapi karena aku juga peduli kepadamu.”
“Ben itu orang hebat. Jika memang kamu berpikir video itu bisa menjadi bukti, kamu cukup menyerahkannya kepada polisi tanpa perlu menemui ibu mertuaku lebih dulu.”
Kainya yang serba salah menjadi terdiam bingung.
“Tetapi tolong, jangan mengatakan ini kepada Rara. Aku tidak mau istriku semakin tertekan dengan apa yang ibu Piera lakukan, kalaupun apa yang kamu pikirkan memang benar,” tambah Kimo memohon.
Hidup Rara sudah terlalu berat hanya karena ulah Piera. Jadi, jika apa yang Kainya curigai juga benar, Kimo tidak tahu apa yang akan terjadi kepada istrinya. Belum lagi, penghakiman dari Kiara juga belum usai. Bisa jadi, fakta baru mengenai Piera juga akan membuat mamanya itu mengolok-olok Rara.
“Kasian Rara. Tapi aku jadi kesal sendiri ke ibu mertuamu!” lirih Kainya yang tiba-tiba saja menjadi kembali geram.
Kimo tertunduk. “Kalau aku tahu bagaimana caranya mengubah ibu mertuaku, sudah dari dulu aku melakukannya. Kalau begitu sudah dulu. Aku harus balik kerja apalagi aku sudah janji ke Rara buat pulang cepat.”
“Oh, oke. Thanks, ya. Maaf juga sudah ganggu waktumu. Mengenai ini, aku pastikan nggak sampai ke Rara, kecuali Rara yang tahu sendiri,” balas Kainya ramah.
Kimo mengangguk dan kemudian berlalu meninggalkan Kainya.
“Kasian Kimo sama Rara. Nggak kebayang kalau aku yang jadi mereka,” batin Kainya.
***
Rara terdiam bingung ketika rombongan ibu-ibu bergaya glamor justru masuk ke restoran milik Keinya, sedangkan ia ada di sana dan sedang menyusun beberapa buku berikut materi promosi web novelnya.
“Ini restoran istrinya Yuan Fahreza, kan?” celoteh salah satu dari ibu-ibu, dan mengenakan gaun putih selutut tak berlengan.
Yang membuat Rara tidak baik-baik saja, tentu karena Kiara menjadi bagian dari ibu-ibu tersebut. Apa yang harus ia lakukan, sedangkan menghindar sudah sangat terlambat lantaran rombongan ibu-ibu yang kiranya ada tujuh orang berikut Kiara tersebut, sudah ada di pelupuk matanya?
“Nah, pas menikah, kabarnya Yuan juga kasih istrinya helikopter!” tambah si wanita berambut panjang bergelombang warna pirang yang berdiri persis di sebelah Kiara bahkan sampai menggandeng sebelah lengan Kiara. “Eh, omong-omong, Yuan itu sahabat Kimo anakmu, kan, Jeng?” sambungnya.
Semua teman Kiara menatap tak percaya pada Kiara.
“Oh, iya, apa kabar Kimo? Sudah move on dari Steffy, belum? Kabarnya si Steffy juga gagal menikah dari yang sekarang? Kayaknya kena karma tuh, si Steffy!”
“Iya! Sudah selingkuh sama calonnya Kimi, ditinggal pula pas hari pernikahan sudah tinggal hitungan minggu!”
“Ya sama kayak yang Steffy lakukan ke Kimo. Pas lagi sayang-sayangnya justru selingkuh!”
Ketika teman-temannya sibuk membicarakan banyak hal bahkan mengenai Kimo, fokus Kiara justru tertuju kepada Rara yang berdiri tak jauh dari area resepsionis, semenjak Kiara tak sengaja melihat Rara dari kejauhan bahkan ketika wanita bertubuh mungil itu masih memunggungi kedatangan rombongannya.
Tadinya, Rara sedang menyusun beberapa buku di rak buku. Dan dari beberapa menit lalu, ketika Rara tidak sengaja menoleh pada kedatangan Kiara berikut rombongan, wanita yang diperistri Kimo itu menatap Kiara dengan sungkan.
Kini, jarak Kiara dan Rara tak kurang dari lima meter, karena Kiara dan rombongan baru saja memasuki pintu masuk terbuat dari kaca hingga meski dari kejauhan, mereka bisa melihat suasana luar atau sebaliknya.
“Jeng Kiara, kalau Kimo masih belum bisa move on, kenalkan saja sama sepupu saya. Anaknya cantik, pintar, bahkan jadi konsultan di Singapura. Pokoknya Kimo pasti suka!”
Untuk beberapa saat, dunia Rara seolah berputar melambat. Pun dengan jantungnya yang justru semakin lama menjadi seolah tak berdetak. Rara menunggu bagaimana respons mama mertuanya yang justru langsung meliriknya dengan sadis.
“Boleh. Kasih foto sama nomor hape-nya, yah, Jeng. Jarang-jarang, kan, ada wanita cantik, pintar, mapan, dari keluarga baik-baik pula?!” Kiara mengatakan itu penuh penekanan sembari melirik Rara dan sengaja menyindir.
“Ah, oke oke. Langsung saya kirim lewat WA, ya Jeng!”
__ADS_1
Ketika Kiara dan temannya itu sibuk bertukar pesan WhatsApp, Rara sengaja mendekati mereka dengan perasaan dongkol. Akan tetapi, Rara berusaha mengendalikan diri tanpa mengungkap hubungannya dengan Kiara.
“Selamat siang? Ada yang bisa saya bantu?” sapa Rara sopan sesaat setelah membungkuk. Ia menatap wajah-wajah wanita paruh baya di hadapannya, dengan begitu sopan.
Beberapa karyawan di sana memang masih tampak bersiap-siap. Ada yang masih menyelesaikan merias ruangan mengingat besoknya, restoran tersebut baru akan diresmikan. Di mana, di resepsionis tak jauh dari Rara, ada yang khusus menjual sekaligus membagikan vocer makan.
Semua karyawan di sana mengenakan atasan hem warna ungu, sedangkan bawahannya kompak mengenakan celana pensil warna hitam. Sedangkan Rara yang menyapa mereka, menggunakan celana pensil warna putih berikut kaus berwarna senada yang dipadukan dengan jas berwarna peach. Itu juga yang membuat rombongan Kiara menatap Rara dengan bingung.
Rara tersenyum lebih lebar. “Saya Manager di sini,” ucapnya yang kemudian menunjukkan tanda pengenal yang terkalung di lehernya.
“Waah, keren sekali. Baru datang langsung disambut langsung oleh managernya!” saut wanita yang sempat berkirim pesan WhatsApp dengan Kiara. Ia sampai menepukkan kedua tangannya kemudian mengamati suasana restoran lebih rinci.
Memasuki Keinya Restoran, mereka seperti memasuki perpustakaan dikarenakan di bagian tengahnya dihiasi rak-rak buku yang tingginya sekitar 2 meter. Keberadaan rak-rak buku tersebut menjelma menjadi sekat restoran karena jumlahnya runtut dari tengah hingga ujung ruangan. Dan yang paling istimewa, di sepanjang anak tangga yang menghubungkan lantai keberadaan mereka dengan lantai atas, sampai dihiasi bunga hias warna-warni yang terlihat begitu cantik seperti bunga asli. Dan jika melihat konsep restoran cantik bak taman impian bernuansa santai tersebut yang juga dihiasi buku di sepanjang anak tangga, sepertinya, buku memang menjadi ikon utama selain masakan sendiri.
“Kenapa restoran ini berbeda dari restoran lain dan terkesan sangat menonjolkan buku?” tanya salah satu dari mereka.
Rara masih tersengum ramah dan kemudian berkedip sendu. “Keinya Restoran memang sengaja menjadikan buku sebagai ikon utama selain aneka menu makanan spesial yang juga akan menjadi ciri dari restoran kami. Jadi, selain bisa dibeli bahkan dalam jumlah banyak, buku-buku di sini juga bisa dibaca bahkan dimiliki secara gratis.”
“Aneka bacaan bahkan buku anak termasuk buku pelajaran, ada di sini. Karena selain buku ibarat jendela dunia, saya dan Ibu Keinya selaku pemilik restoran juga memiliki penerbitan buku.”
Rara menjelaskan begitu detail. Termasuk mengenai web novel yang baru diluncurkan dan sedang mengadakan lomba menulis dengan banyak hadiah menarik.
“Di Dream Zone! semua orang memiliki kesempatan untuk menjadi penulis. Dan semua orang juga bebas mendapatkan bacaan favorit mereka. Karena Dream Zone! tidak hanya menempatkan cerita berdasarkan kepopuleran, tetapi juga kualitas!”
“Kalaupun tulisan itu belum banyak peminat, tetapi jika tulisan berkualitas, kami akan senantiasa mempromosikannya dan meletakannya di halaman utama. Ini cukup adil karena menjadi penulis yang mengutamakan segi kualitas, tidaklah mudah.”
Hanya Kiara yang tidak menyimak, sedangkan keenam temannya begitu antusias bahkan sampai mengangguk-angguk menyimak setiap penjelasan Rara. Rara sampai menunjukkan secara detail web novel yang dimaksud melalui layar monitor yang keberadaannya di sebelah resepsionis. Jadi, semua orang yang baru masuk di sana akan langsung melihatnya. Apalagi keberadaan monitor sendiri ada di beberapa sudut ruangan dan bisa dijangkau lebih mudah.
“Wah, seru, nih! Anak saya juga hobi menulis!”
“Nah, kalau begitu, dicoba saja, Jeng! Sistim penilaian sendiri kan tidak begitu memberatkan bagi pemula!”
Ketika teman-teman Kiara sibuk berdiskusi, Kiara justru memisahkan diri ke belakang sambil bersedakap dan melirik Rara sinis. Sayangnya, Rara menanggapinya dengan santai, bahkan tak lama setelah itu, Kimo juga telepon.
“Iya, Sayang?” jawab Rara sembari pamit pada kebersamaan teman-teman Kiara sembari membungkuk sopan berikut mengulas senyum. “Supnya sudah sampai? Kamu sudah makan supnya?”
Meski marah kepada Kimo, bahkan harus terikat dengan pekerjaan dinas yang mengharuskan Rara terjaga di restoran, Rara tetap menyempatkan memasak sup kesukaan Kimo dan sengaja menggunakan jasa ojek online lantaran tidak bisa mengantarnya langsung, memang mengutus orang untuk mengantarkannya kepada Kimo.
Rara menghampiri seorang pelayan di sana. “Tolong perlakukan ibu yang pakai dress kuning itu dengan baik. Di gudang stok makanan ada air minum kemasan botol, kan? Tolong berikan kepada beliau berikut rombongannya.”
“Tolong, sampaikan salam saya kepadanya!”
“Sayang, memangnya ada tamu ibu-ibu siapa? Kenapa seperhatian itu?” tanya Kimo dari seberang terdengar penasaran.
Rara terdiam ragu. Tiba-tiba saja, ia teringat dengan Kimo yang memilih membantah permintaannya. Di mana, pria itu nekat menolong Piera demi baktinya kepada mertua. Dan sepertinya, apa yang Kimo rasakan semalam sedang ia rasakan kepada Kiara. Ia yang ingin tetap berbakti, berbuat sebaik mungkin kepada Kiara meski wanita itu terua menolaknya.
Dengan berat sekaligus menyesal, Rara berkata, “Sayang, maaf, ya, buat yang semalam. Aku egois ... keras kepala ... padahal kamu hanya ingin menjadi menantu yang berbakti.”
Pelayan yang Rara minta untuk memberikan air mineral kemasan botol, melangkah di hadapan Rara. Wanita muda itu membawa air kemasan botol, dalam dusnya dan membawanya pada rombongan Kiara.
Teman-teman Kiara langsung menyambutnya dengan hangat. Keenam wanita paruh baya itu mengambil air kemasan berisi 600 ml yang disuguhkan sembari mengulas senyum kepada Rara sesaat setelah pelayan yang mengantarkan menunjuk pada Rara. Dari senyum mereka, Rara menangkap rasa terima kasih. Hanya saja, dari semuanya, Kiara yang menjadi tujuan Rara justru tak acuh dan tidak mau menerima air mineral yang sampai diangsurkan dengan sopan oleh pelayan.
__ADS_1
Cara Kiara bersikap dingin tersebut membuat keenam temannya menatapnya heran. Apalagi, tak lama setelah itu, Kiara justru memilih angkat kaki meninggalkan kebersamaan bahkan restoran.