
“Meski masa lalu dan latar belakang seseorang tidak dapat diubah, setiap masa depan masih bisa diubah, kan?”
Bab 81 : Akhir Kisah
***
“Mungkin aku adalah satu di antara orang yang paling kesepian di tengah keramaian tahun baru. Karena ketika semua orang menyambut dan merayakan tahun baru penuh kebahagiaan sambil berbincang hangat dengan orang-orang yang tulus mencintai mereka, tak ada satu pun ucapan perhatian yang kudapatkan meski dari sebuah pesan yang mampir di gawai. Termasuk dari Gio yqng sudah mengetahui jati diriku sekaligus masa lalu kami,” batin Kainya yang menyendiri di sudut ruang keluarga apartemen Keinya.
Kainya sengaja menyibukan diri dengan gawai, padahal kenyataan tersebut hanya bagian dari tak-tiknya yang kesepian. Apalagi, ponsel Kainya benar-benar sepi tanpa telepon apalagi pesan meski pesan promosi dari operator seluler.
Meski Yura juga belum memiliki pasangan, sekarang wanita bermata sipit itu sedang asyik tak jauh dari Kainya sambil berkirim pesan. Sedangkan para pasangan lainnya, dari orang tua Kainya, orang tua Yuan, Yuan dan Keinya berikut Pelangi yang tak kunjung kembali tidur, terlihat begitu menikmati kebersamaan, meski hanya duduk di tikar lantai sembari menikmati jamuan dari Kimo dan Rara yang sedari awal langsung mengambil alih, menyiapkan segala-sesuatunya termasuk bakar-bakar.
Ketika Kainya memilih meninggalkan ponselnya di meja kecil tak jauh dari tempatnya sempat terjaga, ponsel tersebut justru berdering menampakkan Ben sebagai pengirim pesan WhatsApp. Di mana, tak lama setelah itu, Ben juga sampai menelepon. Akan tetapi, Kainya tidak mengetahuinya lantaran ia telanjur sibuk membantu Rara dan Kimo memolesi jagung dengan margarin sebelum dipanggang.
“Tahun baru kemarin, apa yang kalian lakukan?” tanya Kimo sambil memolesi jagung dengan margarin.
“Aku tetap dengan naskah-naskahku. Bahkan tahun baru kemarin aku enggak tidur karena kejar target ditambah suasana berisik petasan dan kembang api yang membuatku sulit fokus,” balas Rara yang tengah menggoreng kentang tak jauh dari Kimo.
“Sebelum bersamaku, kamu memang rnggak pernah bahagia, ya? Hidupmu hanya sibuk kejar target!” cibir Kimo.
“Karena aku memang pekerja keras!” balas Rara sambil tersenyum bangga. Ia sengaja pamer, tetapi sepertinya Kimo masih akan tetap membalasnya.
Kimo memoles hidung Rara menggunakan kuas margarin yang tengah ia gunakan.
“K-kimo!” keluh Rara yang kemudian menggetok kepala Kimo menggunakan spatula yang tengah ia gunakan untuk membolak-balik kentang goreng.
Kainya menatap tak habis pikir ke dua sejoli di sebelahnya yang terlihat begitu bahagia, bahkan seolah-olah dunia hanya milik keduanya. “Omong-omong, kapan kalian menikah?” tanya Kainya sengaja bergabung dengan obrolan.
Rara mendengkus lantaran masih kesal kepada Kimo. “Tahu tuh, Kimo!”
“Kamu adalah orang pertama yang akan kami undang!” saut Kimo antusias.
Kainya menggeleng sambil tersenyum geli. “Awas saja kalau aku bukan yang pertama kalian undang!”
Rara terkikik sambil menggeleng.
“Memangnya kapan?” sambung Kainya sambil menatap Rara dan Kimo silih berganti.
Di dapur yang cukup luas itu, ketiganya berbincang hangat meski di masa lalu, Kainya ibarat hama hubungan sahabat mereka. Di mana, karena kenyataan itu juga, mereka juga merasa terganggu dengan kehadiran wanita tersebut. Bahkan mereka sempat berpikir untuk membuat Kainya jatuh cinta kepada pria lain agar wanita itu tidak terus-menerus mengganggu Yuan dan Keinya. Namun sekarang, mereka justru terikat dalam obrolan hangat yang bahkan disertai canda tawa.
“Tanggal dua puluh bulan dua, dua ribu dua puluh. Ingat itu, Kai. Awas saja kalau kamu sampai lupa. Awas saja kalau kamu kondangannya enggak di atas seratus juta! Kalau kamu sampai kondangan di bawah seratus juta, kamu hanya aku kasih air mineral gelas, dan itu pun tanpa sedotan!” Kimo terus mengoceh sampai-sampai, Rara dan Kainya dibuat sakit perut saking tidak tahan menahan tawa.
“Ya ampun, ternyata Kimo perhitungan banget, ya, Ra, melebihi pemilik indekos atau kontrakan kalau kita telat bayar? Kamu yakin, masih mau nikah sama dia?” sela Kainya sembari memegangi perut berikut menekap mulutnya.
“Berani kamu mengganggu hubungan kami, kudoakan kamu makin jauh jodoh!” saut Kimo sambil menunjuk-nunjuk wajah Kainya menggunakan jagung yang sedang ia bakar.
“Siapa juga yang mengganggu hubungan kalian? Jangan asal mendoakan, Kimo. Kamu ini,” keluh Kainya masih berusaha meredam tawanya.
“Ya sudah, kalau begitu bilang ke Gio kalau kamu sudah siap!” celetuk Kimo.
Rara yang baru saja mencampur kentang gorengnya dengan bumbu perasa dan posisinya membelakangi Kainya maupun Kimo, menjadi terusik. Rara bahkan refleks balik badan. “Kok kamu enggak cerita-cerita, Kai? Selamat, ya!” ucapnya antusias.
Dengan kata lain, Kainya akan menjadi istri dari saudara tirinya meski hingga detik ini memang tidak ada pengakuan dari pihak keluarga Gio maupun Piera. Pikir Rara.
__ADS_1
Kainya kebingungan. “Ya ampun, apa-apaan, sih! Kimo, kamu ini hobi banget ngegosip, deh! Lagi pula, aku dan Gio enggak ada hubungan apa-apa!”
Kimo langsung mengambil alih pembicaraan. “Tapi aslinya ingin punya hubungan lebih, kan?” godanya.
Rara tersipu saking bahagianya lantaran akhirnya Gio mau membuka hati untuk wanita lain, setelah kenyataan pahit yang harus pria itu hadapi. Lain halnya dengan Kainya yang menjadi salah tingkah di tengah wajah wanita itu yang justru menjadi bersemu.
“Sayang ... Sayang, lihat, pipi Kainya jadi merah begitu! Hahaha ... Kainya langsung segugup itu!” sambung Kimo yang makin membuat Kainya ketar-ketir menahan malu.
“Oke, Kimo. Bila ucapan memang doa, aku aminkan apa yang kamu tuduhkan kepadaku!” batin Kainya yang diam-diam tersenyum bahagia.
Dari depan, Yura melangkah dengan fokus tatapannya yang terus tertuju pada layar ponselnya. “Gaes ... coba lihat, deh. Wanita ini, Tiara yang menembak kamu bukan, Ra? Viral, loh. Beritanya enggak hanya tersebar di media online, tetapi juga berita-berita televisi!”
Ke tiga orang di sana kompak memastikan karena penasaran. Mereka menatap layar ponsel Yura yang memang menampilkan berita yang dimaksud.
[Viral! Ganjaran Untuk Pelakor!]
Dalam berita tersebut dijabarkan dengan sangat rinci mengenai kasus Tiara. Tentang Tiara dan Athan yang sengaja menjebak Keinya. Penderitaan Keinya, juga awal terbongkarnya kebohongan Tiara yang ternyata sudah terbiasa mengencani sekaligus merusak hubungan orang demi mendapatkan banyak keuntungan khususnya finansial. Dan terakhir, mengenai Tiara yang sampai menembak Rara kemudian bersumpah akan terus mengganggu kehidupan Keinya. Yang membuat keadaan semakin menyudutkan Tiara, tak lain karena ada bukti rekaman percakapan Tiara yang menegaskan kebenciannya terhadap Keinya.
Setelah membaca berikut menonton salah satu berita tentang Tiara, Kainya dan Kimo refleks menoleh dan menatap Rara, seolah-olah, dari pandangan mereka meyakini, semua berita itu merupakan perbuatan Rara. Apalagi, semua orang tahu Rara sangat ahli membuat artikel berita. Itu kenapa, tidak ada orang lain yang menurut mereka jauh lebih pantas untuk dicurigai.
Rara segera menggeleng. Ia menatap ke tiga wajah di hadapannya dengan wajah meyakinkan. “Ini bukan aku. Aku enggak tahu masalah ini. Lagi pula, sampai sekarang saja, ponselku masih disita Kimo, sedangkan selama hampir satu minggu terakhir, semua aktivitasku juga dipantau kamu, kan?” Tatapannya berakhir pada Kimo.
Kimo mengerucutkan bibir kemudian mengangguk, membenarkan pembelaan Rara. “Sudah jangan bahas dia lagi. Biarkan itu jadi pembelajaran buat kita semua khususnya Tiara.”
Semuanya kompak mengangguk. Namun, Rara berangsur menunduk sedih. Ia tahu kenapa Kimo tak sampai menyebut Tiara dengan sebutan pelakor atau apa pun itu yang berhubungan dengan perusak hubungan orang. Sebab, pria itu memang sengaja menjaga perasaan Rara dikarenakan Piera juga tak beda dengan Tiara. Buktinya, setelah Kainya dan Yura pergi membawa kentang goreng berikut jagung bakar, Kimo yang membawa sate berikut cumi-cumi bakar, langsung berkata, “kamu enggak apa-apa, kan? Mengenai Tiara serta apa pun yang dilakukannya di masa lalu?”
Rara yang membawa ranjang kecil berisi aneka saus segera balik badan. Ia menengadah kemudian menatap Kimo dengan senyum yang begitu tenang. “Meski masa lalu dan latar belakang seseorang tidak dapat diubah, setiap masa depan masih bisa diubah, kan?”
Rara mencebik kemudian meninggalkan Kimo.
“Mengenai tanggal tadi, itu juga benar, lho ...,” sambung Kimo berusaha menahan Rara.
Rara yang awalnya melangkah enteng penuh ceria, berangsur menghentikan langkahnya.
Kimo melangkah mendekati Rara. “Pertengahan bulan ini, Keinya dan Yuan akan menikah. Dan pada saat itu juga, orang tuaku akan pulang. Orang tuaku ingin bertemu denganmu.”
Rara balik badan dengan sangat cepat. “Pernikahan macam apa yang bisa dilaksanakan begitu cepat tanpa persiapan?” keluhnya.
“Pernikahan kita!” jawab Kimo enteng.
Rara menggeleng, menepis balasan Kimo di antara kegelisahan yang detik itu juga menyekapnya.
“Aku enggak mau kita capek dengan mengundang banyak orang di pernikahan. Jadi aku sengaja pilih konsep pernikahan private kayak Yuan dan Keinya. Konsep out door di dekat pantai.”
Rara tersenyum tak percaya.
“Tebak, sudah sampai mana persiapan pernikahan yang telah kulakukan?” sambung Kimo.
Rara mengernyit, menatap Kimo tak percaya. “Hei! Kamu enggak akan menikahi diri sendiri, kan? Kenapa kamu enggak bilang-bilang apalagi membahasnya dengan aku?”
“Menikah denganku, kamu akan menjadi ratu. Bisa kupastikan, semua konsep yang kupilih ya seleramu!” balas Kimo ceria sekaligus bangga.
Rara terdiam penasaran bersama senyum yang seketika membersamai, terlepas dari ia yang kemudian merengek meminta Kimo menjelaskan lebih rinci. Sialnya, Kimo sengaja abai dan seolah sengaja agar Rara makin penasaran.
__ADS_1
***
Keinya menatap kedatangan Rara dan Kimo dengan senyum lepas. Jauh di lubuk hatinya, melihat kekompakan Rara dan Kimo membuat kebahagiaan meletup-letup di sana. Ia seolah sedang menikmati musim semi di mana banyak bunga yang bermekaran di tengah suasana yang teramat sejuk. Seperti halnya ketika ia menatap wajah terlebih mata Yuan. Begitu banyak ketulusan sekaligus kebahagiaan yang seketika itu menyelimutinya. Keinya berharap, kisah cinta Rara dan Kimo juga berakhir indah. Tanpa ada luka apalagi pihak ke tiga layaknya apa yang pernah singgah dalam hidupnya. Cukup Keinya saja yang mengalami sakitnya dikhianati dan dicampakkan dalam waktu bersamaan.
“Selamat tahun baru!” bisik Yuan yang kemudian melayangkan kecupan mesra di kening Keinya dan berhasil menarik Keinya dari renungan.
Keinya yang tersipu kemudian berkata, “selamat tahun baru juga, Yu!” Kecupan mesra juga ia layangkan di sebelah pipi Yuan yang langsung terlihat terkejut kemudian menatap Keinya dengan senyum yang benar-benar lepas.
Di balkon keberadaan mereka, suara bising kembang api tengah menggelegar setelah Jakarta sempat diguyur hujan deras. Bahkan, Kimo juga tak mau ketinggalan dan bersiap menyalakan kembang api berukuran besar, hingga Yuan yang masih menggendong Pelangi, menggiring Keinya masuk dan menutup pintu kaca selaku pemisah dengan balkon kebersamaan di luar sana.
“Happy new year 2020!” seru semuanya yang kemudian saling berangkulan kemudian berjabat tangan, tetapi buru-buru masuk lantaran hujan deras kembali mengguyur.
“Kalau hujan deras terus, Jakarta bisa dikepung banjir!” keluh Kainya sambil mengeringkan asal wajah berikut tangannya menggunakan tisu yang ia ambil dari meja ruang kebersamaan. Yang membuatnya terkejut, layar ponselnya tiba-tiba menyala dan itu merupakan telepon masuk dari Ben.
“Pria arogan ini!” Kainya sengaja mengabaikan Ben dan memilih menyibukkan diri dengan Khatrin berikut Philips. Termasuk meski Kainya mendapati layar ponselnya yang ia biarkan di meja, kembali menyala.
***
Senyap. Baik Athan maupun Tiara yang saling berhadapan, memilih bungkam. Dari penampilannya yang menjadi semakin kurus, Tiara terlihat kehilangan banyak berat badannya. Bahkan tubuh wanita itu hanya menyisakan tulang dan kulit yang jauh dari kata cantik apalagi istimewa. Di mana mandangnya saja, Athan jadi tidak tega.
“Selanjutnya jangan pernah ke sini lagi!” lirih Tiara tanpa menatap lawan bicaranya.
Tanpa menatap Tiara, Athan mengangguk. “Kupastikan, ini terakhir kalinya aku menemuimu.”
Tiara bergumam sambil mengangguk karena kecewa. Tentu bukan jawaban itu yang ia harapkan keluar dari mulut Athan.
“Hari ini merupakan hari pernikahan Keinya dan Yuan,” lanjut Athan yang kemudian berdeham.
“Tolong, habisi mereka untukku!” saut Tiara antusias. Ke dua tangannya yang sempat mengepal di atas meja pembatasnya dan Athan, segera meraih sebelah tangan pria tersebut. Ia menggenggam erat tangan itu sambil menatapnya dengan sangat memohon.
Athan menatap Tiara. Wanita itu terlihat semakin menyedihkan di tengah air mata berikut permohonan dendam yang terus Tiara layangkan.
“Aku mohon. Aku enggak minta kamu buat menyakiti Pelangi. Hanya Keinya atau Yuan. Itu saja!”
Athan menggeleng kemudian melepaskan genggaman Tiara melalui sebelah tangannya yang tidak ditahan wanita itu. “Aku ke sini karena aku ingin kita benar-benar bercerai. Mulai sekarang, kita tidak memiliki hubungan apa pun, dan semua yang berhubungan denganmu bukan urusanku lagi.”
Bak tersambar petir di siang bolong, Tiara kebas dan sangat tidak percaya dengan apa yang Athan katakan.
“Maaf.” Athan tak kuasa menatap Tiara lagi.
Tiara menggeleng dan terus menepis perminta-maafan dari Athan.
“Jalanilah sisa waktumu untuk menjadi manusia yang lebih baik,” sambung Athan penuh pengertian, menatap Tiara dalam, kemudian mengangguk, menuntun wanita itu untuk mengikuti sarannya.
“Than, aku mohon!”
“Aku mohon habisi Keinya atau Yuan karena hanya dengan begitu, rasa sakit sekaligus dendamku terobati.”
Meski Tiara terus memohon dengan tulus di tengah air mata yang terus berlinang, Athan tetap mengabaikannya. Pria itu berlalu sambil menunduk tanpa menoleh sedikit pun.
“Benarkah semuanya telah berakhir? Athan benar-benar meninggalkanku dan dengan kata lain, aku tidak punya siapa-siapa lagi?” Tiara yang seketika itu menjadi menggeragap, melepas kepergian punggung Athan dengan tatapan bergetar yang semakin tidak jelas lantaran air matanya terus berlinang. Rasa kehilangan membuncah, menutup setiap harapan yang ia yakini hanya menyisakan angan. Inikah akhir dari cerita tentangnya?
*****
__ADS_1