
“Apakah semua orang yang baru menikah juga merasa seperti baru jatuh cinta untuk pertama kalinya? Segugup dan setegang ini?”
Bab 10 : Balada Pengangin Baru (1)
Masih dengan begitu bersemangat, Fanki sengaja mengenakan setelan jas terbaiknya. Ia memilih srtrlan hitam berikut dalaman kemeja panjang putih, sedangkan untuk dasinya, warna maroon menjadi pilihannya. Anehnya, sang istri justru hanya bermalas-malasan sambil bermain game di tabletnya.
“Ma, kok masih belum siap-siap juga?” tegur Franki.
“Loh, memangnya kenapa? Orang lagi santai kok dilarang,” balas Kiara tak acuh.
“Nggak usah pura-pura amnesia, deh, Ma. Sore ini, Kimo anak kita kan menikah,” sergah Franki penuh penenakan tetapi masih dengan gaya sabar.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet sambil menekan-nekankan telunjuk kanannya di sana, Kiara berkata, “nikah-nikah kok nggak ada pesta? Dadakan pula kayak tahu bulat saja!”
“Lah ... kok malah ngeluh? Kan situ penyebabnya!” balas Franki sengaja menyindir sembari meluruskan posisi lilitan dasinya.
Kiara menatap sebal sang suami. “Papa, kenapa Papa terus menyalahkan Mama? Yang harus disalahkan kan si Rara itu! Kalau kalian terus menyalahkan Mama, Mama jadi tambah tertekan. Ini saja Mama sudah merasa nggak enak banget, jadinya seharian ini memang sengaja santai ....”
Franki melirik tak habis pikir sang istri. Kiara mendadak melakukan peregangan tubuh. Dari tangan, punggung, juga leher.
“Kalau begitu Papa pergi sendiri saja. Sengaja pergi awal biar bisa lebih santai juga kayak Mama!” ujar Franki sengaja menyindir berikut melirik Kiara.
Kiara mendengkus lengkap dengan melirik sebal sang suami. “Kalau sampai terjadi sesuatu pada Kimo dan keluarga kita, Mama nggak segan bikin perhitungan ke Rara!”
Fanki terpaksa balik badan dan menatap Kiara. “Sudah, deh, Ma ... ingat kata Kimo. Kalau Mama takut suatu hal terjadi hanya karena Kimo menikahi Rara, itu sama saja Mama nggak percaya dengan kemampuan kita. Nggak punya harga diri, malahan.”
“Papa, kenapa Papa ngomong kayak gitu!”
“Kalau kita memang lebih baik dari Rara dan ibunya, kenapa kita harus takut?!” saut Franki dengan nada tinggi.
“Papa dan Mama terus saja bertengkar,” tegur Kimi yang sengaja masuk lantaran ketika tadi ia tidak sengaja melewati kamar orang tuanya, ia mendengar percekcokan keduanya. Belum lagi, pintu kamar Franki dan Kiara tidak tertutup rapat. Jadi suara umpatan dari keduanya terdengar begitu jelas.
Semenjak Kimo memutuskan untuk menikahi Rara bahkan sengaja mempercepat pernikahan walau tanpa pesta, juga Kimo yang memilih angkat kaki dari rumah berikut semua urusannya, Franki dan Kiara memang menjadi sering bertengkar. Pun meski terkadang, Franki yang memiliki sifat konyol sengaja memancing emosi Kiara melalui sindiran.
Fokus Franki teralih pada Kimi. “Kimi, cepat ganti baju. Kita ke pernikahan kakakmu sekarang!”
“Nggak usah, Kimi! Kalau Papa memang mau pergi, ya sudah disuruh pergi sendiri!” sergah Kiara yang kemudian menyelonjorkan kakinya dan mengambil posisi sesantai mungkin sambil memangku tabletnya.
Kimo terdiam bingung menatap kedua orang di hadapannya yang sama kerasnya dengan keyakinan masing-masing.
“Aku nggak mungkin memilih satu di antara kalian, karena aku sangat menyayangi kalian,” ucap Kimi sambil tertunduk sedih.
***
Ketika Franki datang ke apartemen yang ia ketahui menjadi tempat tinggal Rara dan Kimo, selaku pernikahan keduanya dilangsungkan. Ia disambut oleh Rara yang mengenakan gaun pengantin selutut warna putih, berlengan pendek dengan dada sabrina. Tanpa rias mencolok, sedangkan rambut panjang Rara diikat ke belakang. Wanita yang dipilih Kimo menjadi istri itu menyambutnya dengan seuluas senyum yang terasa begitu canggung. Dan melihat suasana yang benar-benar sederhana, membuat Franki merasa sangat bersedih sekaligus bersalah.
“Papa datang?” tanya Rara lirih.
Franki yang sempat tertegun menatap Rara segera mengangguk sambil tersenyum, kendati yang ada, ia sampai menitikkan air mata.
Dari belakang Rara terdengar sedikit keramaian orang-orang berbincang.
“Ayo, Pa. Masuk,” ajak Rara kemudian lantaran Franki hanya diam di depan pintu sambil melongok suasana di dalam apartemen.
“Papa telat? Bukankah acaranya pukul tujuh malam sedangkan sekarang baru pukul lima?” Franki terheran-heran. Suasana ramai dengan obrolan menandakan jika pesta sudah dimulai.
Rara mengulas senyum. Masih senyum yang sarat rasa canggung. “Iya, Pa. Acaranya dimajukan. Tadi sekitar pukul setengah tiga. Kebetulan, Kimo pulang lebih awal, sedangkan penghulunya juga datang lebih awal karena ada urusan mendadak.”
“Mungkin, Tuhan juga nggak kasih aku sama Kimo izin, melakukan hubungan di luar pernikahan. Alhamdullilah, masih bisa ditahan sampai sah!” batin Rara kemudian.
__ADS_1
Kebahagiaan yang menyelimuti Rara kali ini, tidak semata karena akhirnya ia dan Kimo resmi menikah. Sebab, bisa menahan Kimo ketika pria itu tidak bisa menahan nafsu juga bagian kebahagiaan tak terkira untuknya. Karena dengan kata lain, mereka lolos menjalani hubungan sesuai batasan aman.
Rara memimpin jalannya langkah, ketika Franki tiba-tiba merangkulnya dengan canggung. Hal tersebut langsung membuat Rara refleks mendongak.
“Jadi istri Kimo, harus jauh lebih sabar, ya. Kimo itu mirip mamanya. Nggak sabaran dan maunya menang sendiri!”
Rara tersipu sambil mengangguk-angguk membenarkan kata-kata Franki. Kimo ... pria yang langsung terdiam tak percaya menatap Franki itu, memang tidak sabaran. Kalau tidak, tentu mereka juga akan memiliki malam pertama layaknya pengantin pada kebanyakan. Bukan malah sore pertama. Tetapi ketika Rara mencoba kembali menahannya apalagi keluarga Yuan dan Keinya terjaga untuk mereka di luar, Kimo berdalih, “sudah nikah kan bebas. Masa masih suruh nunggu juga?” Mengingat itu semua, perasaan Rara benar-benar campur aduk.
***
Di ruang keluarga apartemen Keinya yang sudah menjelma menjadi kantor penerbitan sekaligus rumah untuk Rara, Franki duduk di sebelah Rara dan Kimo, bergabung dengan keluarga Yuan dan Keinya. Benar-benar hanya mereka tidak ada orang lain. Di mana, Franki sudah berulang kali berterima kasih krpada mereka yang begitu perhatian sekaligus peduli kepada Kimo dan Rara.
Kimo menggenggam sebelah tangan Rara yang kebetulan bersebelahan dengan sebelah tangannya. Rara membalasnya dengan menggenggam balik tanpa menatap atau sekadar melirik Kimo.
Kimo menghela napas pelan. “Apa cuma aku yang berharap mereka cepat-cepat pulang, biar aku bisa berduaan lagi sama Rara?” batin Kimo berusaha bersikap setenang mungkin.
Belum lama Kimo berujar, tiba-tiba Franki mendapat telepon dan itu dari Kimi yang mengabarkan Kiara jatuh di kamar mandu dan sampai pingsan.
“Pingsan?” ulang Franki. Antara terkejut sekaligus cemas.
Mendengar itu, semua yang ada di sana tanpa terkecuali Kimo, juga menjadi ikut cemas. Apalagi, kebersamaan tidak dihiasi suara lain selain obrolan, sedangkan Franki menjawab telepon tak jauh dari mereka--di depan jendela seberang kebersamaan, dengan suara yang cukup keras ketika mengulang kata pingsan.
“Pingsan?” gumam Kim Yeon Seok dan Philips dalam waktu yang sama.
Mereka semua langsung bertukar pandangan dengan gurat cemas yang menyelimuti tanpa terkecuali Rara dan Kimo.
“Sayang, siapa yang pingsan? Tapi tadi, itu Kimi yang telepon,” bisik Rara sambil menggenggam lebih erat tangan Kimo yang masih menggenggamnya.
Kimo yang mengerutkan dahi membalas Rara dengan menggeleng. “Kenapa, Pa?” ujar Kimo ketika Franki mengantongi ponselnya ke saku celana hitam yang dikenakan.
Franki langsung menatap Kimo tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya. “Mama jatuh di kamar mandi, dan sekarang masih pingsan. Papa pamit pulang dulu, ya,” balasnya sambil menghampiri kebersamaan.
Merasa sangat tidak nyaman di tengah tubuhnya yang masih terasa sangat remuk, Rara mendekap erat sebelah lengan Kimo yang melangkah sangat cepat mengikuti Franki. Mendapati hal tersebut, Kimo refleks memelankan langkah sambil menatap Rara.
“Pelan-pelan ... serius masih sakit banget,” keluh Rara lirih.
“Sakit banget?” balas Kimo berbisik juga sambil sesekali menatap wajah Rara yang jelas menahan sakit.
Rara mengangguk. “Tubuhku rasanya remuk apalagi punggungku!” gerutunya yang kemudian melirik kesal Kimo.
Bak tak berdosa, Kimo buru-buru menepis tatapan Rara dengan menengadah.
Kesibukan Rara dan Kimo dalam berbisik-bisik, berikut Rara yang terlihat sulit berjalan cepat menarik perhatian Franki yang sudah menunggu di dalam lift.
“Sepertinya kalian nggak perlu ikut dulu?” ujar Franki.
Kimo dan Rara yang hanya tinggal tiga meter dari hadapan Franki, tertegun bingung.
Dengan mata kerap berkedip berikut gugup yang melanda, Franki berkata. “Papa tahu ... Papa juga pernah jadi pengantin baru!”
Rara dan Kimo bak tersekakmat dan berangsur menoleh untuk bertukar pandang.
“Nggak apa-apa, Pa. Kasian, Mama kan lagi sakit,” ujar Rara mencoba mencairkan kecanggungan.
“Kamu kelihatan kelelahan,” balas Franki memberi pengertian.
“Ya sudah. Kita ikut saja. Nanti kamu bisa langsung istirahat,” ujar Kimo berusaha mengambil keputusan terbaik.
Rara mengangguk setuju, dan disambut hal yang sama oleh Franki, setelahnya.
__ADS_1
Kimo mengakhiri dekapan tangan Rara karena ia lebih memilih merangkul istrinya agar lebih leluasa membantu Rara melangkah.
***
“Orang suruhan Mama bilang, kalau Kak Kimo dan Rara juga ikut Papa pulang, Ma,” ucap Kimi sembari mendekati Kiara yang setengah berbaring di tengah kasur tanpa mengenakan selimut.
Kiara mendengus kesal. “Pastikan Rara dan Kimo tidak ada kesempatan bersama apalagi sampai menjalani malam pertama!”
Kimi mengangguk ragu. “Jadi, Mama akan tetap pura-pura sakit, agar Kak Kimo menjaga Mama?” ucapnya memastikan.
Kiara melirik. “Mau bagaiman lagi? Mama nggak sudi kalau harus punya cicit dari Rara!” cibirnya. “Biarkan Kimo menikahi wanita lain saja. Bagaimana denganmu? Kamu, juga sudah siap, kan?”
Kimi terdiam ragu. Gadis cantik berambut panjang itu justru tertunduk kebingungan hingga Kiara mengdengus kesal.
“Kimi, mengenai kamar Kimo, sudah dipastikan tidak ada embel-embel rias seperti sebelum Papa pergi, kan?” tambah Kiara.
Lagi-lagi, Kimi mengangguk. “Semua rias sudah dibuang. Selimut berikut kasur juga sudah dibuat kotor,” ucapnya tanpa menatap Kiara lantaran menunduk masih menjadi hal yang membuatnya merasa jauh lebih nyaman.
Tanpa menatap Kimi, Kiara berkata, “bagus ... biar Rara tahu rasa!”
***
Sesampainya di kediaman keluarga Kimo, Rara dibingungkan dengan suasana rumahnya yang sangat mengah melebihi kediaman ayah Gio. Pantas saat itu Kimo protes dan mengatakan bila rumah orang tuanya jauh lebih megah bahkan besar. Bahkan saking besarnya, Rara tidak yakin bisa kembali ke tempat yang seharusnya. Bisa jadi, ia akan tersesat bila belum terbiasa.
Tapi kira-kira, Tante Kiara sudah setuju, belum, ya? batin Rara harap-harap cemas.
“Kalian langsung ke kamar saja. Biar Papa yang memastikan Mama,” sergah Franki.
Keduanya berpisah di lantai pertama setelah meninggalkan ruang tamu. Di mana ketika Kimo menuntun Rara menaiki anak tangga yang meghubungkan ke lantai atas, Franki melangkah cepat menuju lorong seberang. Di sana ada pintu dua muka berukuran besar. Menurut Kimo, itu pintu kamar Franki dan Kiara.
Setelah tertatih, bersusah payah melewati setiap tangga, Kimo yang tidak sabar melihat langkah Rara akhirnya membopong istrinya itu. Sedangkan Rara yang terlihat gugup berangsur berpegangan pada kemeja putih bagian dada Kimo.
“Sayang, bisa melakukan yang levih romantis lagi?” pinta Kimo tanpa menatap Rara.
“Kimo, ingat, kita di mana?” balas Rara yang menjadi tersipu.
“Sebelumnya, semuanya baik-baik saja. Kalaupun ada ulah Kimo yang membuatku tegang, tidak sampai setegang dan segugup ini ...,” batin Rara. “Tetapi sekarang, melihat tatapan Kimo saja, aku langsung sangat tegang,” tambah Rara masih berbicara dalam hati. Dan meski ia menjadi tidak berani menatap Kimo, tetapi ia juga kerap diam-diam menatap Kimo. Tak beda ketika seseorang yang baru jatuh cinta dan itu benar-benar untuk pertama kalinya.
“Apakah semua orang yang baru menikah juga merasa seperti baru jatuh cinta untuk pertama kalinya? Segugup dan setegang ini? Tetapi, kenapa Keinya tidak pernah bilang ini kepadaku?” pikir Rara masih bertanya-tanya dalam hatinya.
Tanpa menatap Rara, Kimo yang mendapati Kimi baru keluar di ujung ruangan yang nyaris berhadapan dengan kamarnya, segera berbisik. “Ra, kalau di depan mama sama Kimi, kamu harus lebih romantis. Nggak usah mikir anrh-aneh. Maaf, sudah bikin kamu nggak nyaman.”
“Mulai sekarang, jangan sering minta maaf lagi, ya. Rasanya, kata maaf jadi awal firasat yang nggak enak,” balas Rara masih berbisik juga kemudian menyandarkan wajahnya pada dada Kimo, sebab ia memang melihat Kimi berjalan mendekati tangga yang akan sedangereka tuntaskan. Tinggal empat anak tangga lagi.
“Kamu sudah pulang? Bagaimaba kabarmu? Kenapa tidak pernah mrnghubungi Kakak lagi?” sapa Kimo serius, tepat ketika ia baru menginjakkan kakinya di lantai ruang keberadaan Kimi, di depan anak tangga yang menghubungkan lantai atas dan bawah.
Kimi celingukkan, antara gugup dan juga bingung.
“Turunkan aku,” bisik Rara sembari mencengkeram bawah kerah Kimo.
“Nggak perlu. Jangan sungkan pada siapa pun, apalagi keluargaku,” balasnya sambil menatap Rara.
Kimi yang diam-diam meliriknya, makin merasa risi.
“Kimi, mulai sekarang, melakukan apa pun kepada Rara, sama halnya melakukan itu kepadaku. Semoga kalian bisa cepat akrab,” lanjut Kimo sembari menatap Kimi di antara senyumnya.
Kimi tertunduk sedih tanpa memberikan jawaban yang pasti. Gadis berwajah imut itu juga melepas kepergian punggung Kimo yang masih membopong Rara menuju ujung kamar sana, dengan pandangan hampa.
Di sekeliling lantai atas keberadaan mereka memang hanya dihuni empat kamar besar, memutari ruang keluarg dalam skala besar. Di mana di ujungnya merupakan kamar Kimi dan Kimo, sedangkan tengahnya merupakan home teather dan satu ruang kosong yang sudah Franki ubah menjadi kamar untuk bayi Kimo dan Rara.
__ADS_1
Mereka terlihat sangat serasi ... Kak Kimo juga terlihat sangat mencintai Rara. Bagaimana mungkin aku bisa memisahkan mereka, apalagi sampai membuat mereka tidak melakukan hubungan suami istri termasuk malam pertama? pikir Kimi bingung. Permintaan Kiara membuatnya dalam posisi sulit. Memisahkan Kimo dan Rara? Memangnya dia bisa?