Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 41 : Permintaan Menikah


__ADS_3

“Jinnan ... ayo, kita menikah!”


Bab 41 : Permintaan Menikah


Yuan dan Keinya baru saja menghembuskan napas lega. Keduanya bahkan masing menatap satu sama lain, dengan sebelah tangan Keinya yang masih menyeka air mata suaminya. Mengenai pernikahan Pelangi, mereka baru saja membicarakan itu.


Tentang Yuan yang untuk pertama kalinya menangis bahkan sampai tersedu-sedu, lantaran jika Pelangi yang Yuan anggap sebagai bayinya benar-benar akan menikah, dengan kata lain, Yuan adalah satu-satunya orang yang akan merasa sangat dilema. Bagaimana mungkin Yuan bisa kuat, membiarkan orang lain bahkan Athan, menjadi wali yang akan melepas sekaligus menikahkan Pelangi? Yuan benar-benar merasa nelangsa menghadapi kenyataan itu.


Biasanya, mungkin Yuan yang akan selalu menjadi manusia paling tegar. Manusia paling sempurna yang bisa melakukan semuanya terlebih jika menyangkut kebajagiaan keluarganya. Namun kini, demi mengurangi luka tak berdarah yang mendadak menimpa suaminya, Keinya sampai merengkuh dan mendekap hangat kepala berikut punggung suaminya.


Yuan dan Keinya sudah duduk selonjor di tengah kasur besar mereka. Mereka juga sudah mengenakan selimut dan memang sudah akan tidur. Namun, belum juga reda luka yang Yuan rasa, dari balik pintu terdengar suara raungan Pelangi. Gadis itu berseru sambil mengetuk-ngetuk pintu.


Yuan dan Keinya yang sempat bertatapan, segera bergegas untuk memastikan. Tak lupa, Yuan menyeka cepat air matanya. Keduanya melakukan semuanya dengan buru-buru. Tak hanya ketika menyibak selimut dan kemudian turun dari tempat tidur. Melainkan juga ketika mereka melangkah.


Yuan membuka pintunya dan mendapati bayinya sudah berlinang air mata. Pelangi terlihat jelas ketakutan. Mendapati itu, Keinya pun segera merengkuh anak pertamanya.


“Ngi-ngie ... tenang, Ngie-ngie, ... kamu kenapa?” lirih Keinya berusaha menenangkan Pelangi.


Kedua tangan Keinya tak hentinya membelai kepala berikut punggung Pelangi.


“Kakek Jungsu meninggal, Ma ... Pa ... pak Jo menghubungiku dan mengatakan jika Jinnan juga kecelakaan! Mobil Jinnan sampai terbalik dan sekarang, Jinnan juga sedang dirawat, di rumah sakit yang sama dengan kakek Jungsu!” tutur Pelangi sambil terisak-isak.


Pelangi menengadah, menatap kedua orang tuanya penuh kesedihan.


Kabar buruk! Jantung Yuan dan Keinya nyaris melesak hanya karena mendengar itu.


“Kita ke rumah sakit, ya?” sergah Yuan kemudian berusaha mengurangi kesedihan Pelangi walau hanya sedikit. Ia mengelus punggung Pelangi sembari cukup membungkuk demi menyelaraskan wajah mereka.


“Ya sudah ... Mama juga ikut. Mama sama Papa, ganti pakaian dulu sebentar,” sela Keinya.


Belum pernah Yuan dan Keinya melihat Pelangi sesedih bahkan sehancur sekarang. Mereka benar-benar tidak menyangka jika Kim Jinnan dan semua tentang pria muda itu begitu berdampak untuk putri mereka.


***


Tak kurang dari satu jam, akhirnya Yuan dan Keinya berikut Pelangi, tiba di rumah sakit. Pak Jo terjaga di depan ruang ICU keberadaan Kim Jinnan dirawat. Ruang tentunya berbeda dari ruang rawat kakek Jungsu.


Pak Jo dan kedua pria yang biasanya mengawal Kim Jinnan, terlihat sangat berduka. Mata ketiganya sembam terlepas dari hidung mereka yang juga sampai merah. Dan ketiganya segera membungkuk sopan menyambut kehadiran Yuan sekeluarga.


“Bagaimana kronologinya?” sergah Yuan yang langsung menghadap pak Jo.


Ketika Yuan dan Keinya memilih meminta penjelasan perihal kronologi yang terjadi, Pelangi justru langsung masuk ke ruang rawat Kim Jinnan. Di ranjang rawatnya, kepala Kim Jinnan dibungkus perban. Sedangkan beberapa luka baret dengan darah yang mengering juga menyertai wajah tampan pria itu. Dan Kim Jinnan yang sampai mengenakan selang oksigen jelas terluka parah. Tak hanya mengenai fisik, melainkan juga hati bahkan mentalnya.


Melihat semua itu, Pelangi benar-benar merasa bersalah. Hatinya terenyuh dan seolah ada benda tak kasat mata yang mengjajar habis-habisan jantung berikut hatinya. Dan semua itu sampai berdampak pada langkahnya. Langkah Pelangi menjadi sangat pelan di tengah tubuh gadis itu yang sampai gemetaran.


“Jinnan sudah enggak punya siapa-siapa karena Tuhan telah mengambil kakek Jungsu untuk kembali ke sisi-Nya.” Bibir mungil Pelangi tak hentinya meracau. “Padahal ... tadi kamu masih baik-baik saja. Kamu masih jail dan selalu menghiburku ... namun, kenapa kini kamu membisu?”


“Bangunlah Jinnan ... aku enggak bisa lihat kamu seperti ini.” Kini Pelangi telah sampai di hadapan Kim Jinnan Di sisi wajah pria itu, setelah membuatnya memakan waktu cukup lama hanya untuk melangkah.


Tangan kanan Pelangi yang gemetaran berangsur bergerak, mengarah pada kepala Kim Jinnan yang terbungkus perban. Dan bersamaan dengan itu, air mata yang sempat reda, kembali luruh berjatuhan. Air mata yang sebagiannya sampai menimpa wajah Kim Jinnan, lantaran Pelangi juga berangsur melayangkan kecupan di sebelah wajah pria itu.


“Saat aku ragu, ... kamu selalu meyakinkanku. Dan saat aku marah, kamu selalu membahagiakanku ... ah tidak ... yang benar itu, kamu selalu berusaha memberiku yang sempurna,” batin Pelangi sembari meratapi wajah Kim Jinnan.

__ADS_1


Meski mereka belum mengenal lama, tetapi Kim Jinnan memang sukses mengalihkan dunia Pelangi. Ya, Pelangi tak hanya peduli, melainkan menyanyangi. Akan tetapi, ada satu hal yang tiba-tiba melintas di pikiran Pelangi. Mengenai impian terakhir kakek Jungsu. Kakek Jungsu sangat ingin melihat Kim Jinnan dan Pelangi menikah bahkan meski sekadar pernikahan gantung. Kakek Jungsu hanya mengharapkan itu sebagai cita-cita terbesarnya.


Tak lama kemudian, kedua mata Kim Jinnan mendadak bergerak-gerak, dan kenyataan tersebut langsung membuat Pelangi sangat berharap.


“Jinnan?!” panggil Pelangi.


Pelangi segera meraih dan menggenggam erat sebelah tangan Kim Jinnan menggunakan kedua tangannya. “Jinnan!” sekali lagi, Pelangi kembali berseru dengan harapan menggebu yang memenuhi dadanya.


Dahi Kim Jinnan menjadi berkerut samar. Pria itu menyeringai seperti menahan sakit sedangkan sebelah tangannya yang tidak digenggam Pelangi berangsur meraba kepalanya.


“Ngie ...?” panggil Kim Jinnan dengan suara yang terdengar sangat lemah.


“Iya ...?” balas Pelangi yang tak kuasa menghalau kesedihan berikut air matanya. Ia masih menggenggam kedua tangan Kim Jinnan dengan sangat erat.


Mata Kim Jinnan masih sangat sayu. Pun dengan bibir berisi pria itu yang sampai pias dan kering. Dan dengan kenyataan semua itu, Kim Jinnan menatap Pelangi dengan espresi yang begitu lugu.


“Kenapa kamu menangis seperti itu?” tanya Kim Jinnan dengan suara yang masih sangat lirih.


Pelangi segera menggeleng tanpa perubahan berarti.


“Aku pikir, aku mimpi buruk? Namun, kenapa aku di sini? Tapi tadi, ... aku mimpi buruk ....” Kim Jinnan merasa sangat bingung.


Dan di mata Pelangi, Kim Jinnan tampak linglung.


“Jinnan ... ayo, kita menikah!” ajak Pelangi serius.


Bersamaan dengan itu, Yuan dan Keinya baru saja masuk dengan Yuan yang membuka pintu dan membiarkan Keinya masuk lebih dulu.


“Jinnan, maafkan aku!” tangis Pelangi kian pecah.


Pelangi terisak-isak sambil menunduk.


“Jadi, ... semuanya bukan mimpi buruk, Ngie?” tanya Kim Jinnan yang juga menjadi berlinang air mata.


“Kau benar-benar pergi? ... kau bahkan belum pernah memarahiku atau mengatakan tidak untuk semua kesalahan yang kulakukan! Kau bahkan belum melihatku mengucapkan janji suci pernikahan seperti yang kau inginkan. Termasuk anak-anakku, ... kau bilang ingin bermain dan mengurus mereka?!” batin Kim Jinnan yang menjadi tertunduk sedih.


***


“Kamu hanya terbawa emosi. Jangan gegabah, Ngie ... pernikahan bukan hanya mengenai kepedulian, tetapi untuk masa depan bahkan selama-lamanya.” Keinya bertutur serius kepada Pelangi.


Di ruang tunggu yang ada di depan ruang rawat Kim Jinnan, keduanya duduk. Sedangkan Yuan tak hentinya mondar-mandir di hadapan keduanya.


“Lihat apa yang terjadi pada mama dan ayahmu. Bahkan kami memulainya dengan kesiapan. Namun pada akhirnya kami mengakhiri dengan persiapan.” Keinya masih berbicara mencoba mmeberi Pelangi pengertian.


“Enggak apa-apa. Kalau pun Mama belum kasih restu, biarkan kami nikah gantung. Mama bisa mengamati kesiapan sekaligus perkembangan hubungan kami.” Pelangi yang sedari awal menunduk, akhirnya angkat suara dan memberanikan diri menatap Keinya.


“Kami sudah berjanji kepada kakek Jungsu. Dan kami harus menepatinya!” Pelangi masih berusaha meyakinkan.


“Enggak bisa! Mama enggak setuju!” tegas Keinya masih dengan suara lirih. Kendati demikian, ia menatap tegas Pelangi.


“Yang membuatmu enggak setuju, apa, Ma?” ujar Yuan yang sampai bersedekap dan menatap penasaran Keinya.

__ADS_1


Keinya menghela napas dalam dan setelah itu, ia mendadak bungkam.


“Kamu belum siap melepas Pelangi?” ujar Yuan lagi. “Mereka akan tinggal di rumah kita. Pelangi bahkan membiarkan kita melihat perkembangan hubungan mereka?”


“Tapi pernikahan bukan permainan, Yu!” tolak Keinya sambil menatap Yuan dengan pandangan keberatan.


“Anak-anak mau dan kita sudah sama-sama tahu keadaannya,” ujar Yuan lagi masih berusaha meyakinkan Keinya.


“Sekarang kami menikah. Dan tiga tahun lagi, semuanya akan ditentukan. Jika semuanya masih sama tetapi Mama masih meragukan kami, kami akan kembali mengoreksi apa yang salah dalam hubungan kami.” Pelangi menunduk sopan.


Yuan dibuat terenyuh atas kenyataan tersebut. Ia menatap sedih Pelangi yang memiliki hati begitu mulia. Tak peduli jika sebelumnya, pernikahan Pelangi merupakan kenyataan yang sangat melukainya. Terlepas dari semua itu, kenyataan Keinya yang sampai menghela napas dalam bahkan berakhir dengan mendesah, diyakini Yuan lantaran istrinya itu kewalahan. Keinya kewalahan menghadapi cobaan.


“Oke, Ma?” tuntun Yuan sambil menatap Keinya penuh harap.


Yuan sampai berjongkol di depan Keinya. Kedua tangannya menyentuh kedua lutut wanita itu.


“Rahasiakan pernikahan kami jika itu memang perlu,” pinta Pelangi. “Semuanya benar-benar demi kakek Jungsu dan Jinnan. Aku ingin Jinnan selalu bersamaku.”


Permintaan yang baru saja terlontar dari mulut Pelangi membuat Keinya tak kuasa dengan keputusan sekaligus egonya.


“Kamu tahu apa yang kamu katakan, Ngie?” tanya Keinya memastikan sambil menatap serius Pelangi.


Pelangi yang masih menatap Keinya pun berangsur mengangguk.


“Jika kamu menikah, kamu akan terikat. Bahkan usiamu bari sembilan belas tahun!” Keinya masih meyakinkan.


“Pernikahan gantung yang rahasia. Dan tiga tahun lagi, kami baru akan tinggal bersama!” Pelangi juga tak kalah dari Keinya. Ia juga berusaha meyakinkan mamanya.


“Enggak usah terlalu memaksa. Kalian menikah ya menikah saja. Apa salahnya?” ujar Yuan berusaha netral.


“Pa ...?” tahan Keinya.


“Kalau pun mereka gagal dan harus berpisah, ya enggak apa-apa. Mau bagaimana lagi? Sudah jalannya. Papa yakin, mereka akan selalu belajar.” Yuan kembali meyakinkan.


Keinya yang menengadah berangsur memejamkan kedua matanya. “Ya Tuhan ...!” keluhnya merasa frustasi.


Karena sampai kapan pun, Pelangi akan selalu menjadi bayi untuk Keinya. Sedangkan bagi Keinya yang merupakan seorang ibu dan bahkan tahu betapa sulitnya mereka berjuang sebelum bertemu Yuan, Keinya benar-benar takut, Pelangi hanya salah langkah.


Dari belakang, pintu ruang rawat Kim Jinnan berangsur terbuka. Sebuah kaki yang berpijak pada kursi roda tampak menjadi pemandangan pertama dari sana. Itu Kim Jinnan yang didorong oleh Pak Jo, terlapas dari kedua ajudan yang masih menyertai.


Dan bersamaan dengan itu, dunia Keinya seolah melambat. Sebab baginya, masa depan sekaligus nasib Pelangi akan segera ditenukan.


Kim Jinnan, ... apakah pria itu bisa dipercaya? Apakah pria itu bisa membahagiakan Pelangi seperti Yuan memanjakan sekaligus menjaga mereka? Keinya benar-benar dilema.


Bersambung ....


Lalu menurut kalian harus bagaimana? 😂😂😂


Apakah Pelangi benar-benar akan menikah dengan Jinnan?


Ikuti dan terus dukung ceritanya, yaa. Bantu share ceritanya juga boleh banget.

__ADS_1


Selamat istirahat dan sehat selalu 💓


__ADS_2