
“Lho ... memangnya sejak kapan ada standar khusus untuk menjadi seorang ibu? Semua wanita bahkan mereka yang enggak bisa melahirkan sekalipun, merupakan ibu yang sempurna, Ra!”
Bab 95 : Ibu Sempurna
Nyatanya, mengurus bayi bukanlah perkara mudah terlebih bagi Rara dan Kimo yang masih minim pengalaman. Tak jarang, Kiara akan mengomel dan membuat suasana yang sudah ramai tangis si kembar, menjadi semakin mencekam.
Mula-mula, Kimo dan Rara memang begitu siaga, bahu-membahu mengurus si kembar yang mereka namai Mofaro--untuk anak pertama, juga Rafaro--untuk anak ke dua mereka. Bahkan sepulang dari kantor, juga di tengah kesibukannya bekerja di rumah, Kimo begitu rajin menyiapkan makanan dan tak segan menyuapi Rara yang sibuk mengurus sekaligus memberi ASI anak mereka. Akan tetapi, pada akhirnya, baik Kimo maupun Rara sama-sama kewalahan dan tak jarang sampai tertidur sambil terduduk di lantai, menyandar pada ranjang bayi Mofaro dan Rafaro.
Baik Mofaro maupun Rafaro memang terbilang sangat kuat mengonsumsi ASI. Keduanya begitu gampang lapar. Belum sepuluh menit minum ASI saja, keduanya sudah heboh menangis dan hanya akan diam ketika mulut mereka tersumpal. Dan Mofaro maupun Rafaro begitu cepat menghisap semua yang masuk ke mulut mereka. Sampai-sampai, Kimo mengecap keduanya sebagai bayi rakus.
Hari ini, Kiara datang tak sekadar membawa perlengkapan bayi berikut makanan untuk Rara maupun Kimo. Sebab, Kiara yang tidak tahan melihat keadaan Rara yang terlihat sangat kelelahan sedangkan ASI Rara juga semakin menipis, juga sampai membeli sofur. Kiara tak mau cucu kembarnya terus menangis karena kelaparan, sedangkan kenyataan itu juga bisa membuat Rara semakin tertekan bahkan parahnya, menantunya sampai mengalami baby blues.
“Aku mau kasih mereka ASI eksklusif minimal sampai enam bulan, Ma ...,” tolak Rara ketika Kiara sudah sampai membuatkan dua botol susu formula.
“Kalau keadaan memungkinkan, Mama oke oke saja.”
“Tapi lihat kamu yang kelelahan bahkan sampai kurus begitu, sedangkan ASI kamu sampai kehabisan dan anakmu kelaparan terus, ... enggak ada pilihan lain selain dikasih pendamping sofur, Ra.”
“Nanti, ... kalau sudah memungkinkan, baru, kamu stop sofur enggak apa-apa.” Kiara meyakinkan menantunya yang terlihat semakin dilema.
“Merawat bayi itu enggak mudah. Apalagi, kita enggak benar-benar tahu apa yang bayi rasakan termasuk ketika mereka merasakan sakit. Mama hargai kerja keras kamu sama Kimo dalam memberikan yang terbaik buat anak-anak kalian. Namun, demi kebaikan bersama termasuk kesehatan kalian, memang enggak ada pilihan lain.” Kiara benar-benar masih berusaha meyakinkan.
Rara tak lantas berkomentar. Sebab, ia merasa dilema bahkan gagal menjadi seorang ibu jika tidak bisa memberikan ASI eksklusif. Rara ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya melalui ASI eksklusif.
Kimo yang kebetulan ada di situ, berdiri di antara Rara dan Kiara, mengangguk setuju terhadap usul Kiara. “Iya, Sayang. Demi kebaikan bersama. Dikasih sampingan sofur saja. Biar nanti kalau malam-malam kita bisa gantian jaga. Kamu yang tidur, aku yang buat sofur.”
Kiara menyambut hangat keputusan Kimo dengan senyum lega. “Derajat seseorang enggak diukur dari susu yang diminum, kok, Ra. Kita hanya cari jalan terbaik. Baik untuk kamu, juga anak-anakmu.”
“Kamu enggak mau anak-anakmu terus menangis karena kelaparan, kan? Enggak usah mikir macam-macam apalagi memikirkan asumsi sekaligus penilaian orang.” Kiara masih berusaha meyakinkan.
Lantaran Rara masih tertunduk murung, Kimo pun berangsur merangkul dan mendekap hangat istrinya itu. Kimo berusaha menenangkan sekaligus meyakinkan. “Maksud kami baik, Sayang. Demi kamu, juga si kembar. Kami ingin yang terbaik buat kalian,” lirihnya sambil mengelus-elus punggung Rara.
“Tapi aku merasa gagal jadi seorang ibu, kalau aku enggak kasih ASI eksklusif pada anak-anakku,” isak Rara. Sungguh, sangat sakit rasanya jika Rara menilik penilaian orang-orang perihal wanita yang gagal menjadi seorang ibu hanya karena tidak bisa memberi ASI eksklusif.
Kiara dan Kimo kompak mengernyit bingung. Keduanya sampai bengong untuk beberapa saat. Merasa heran sekaligus khawatir. Atas dasar apa, Rara berbicara seperti tadi? Apakah ada yang memicu Rara sampai berpikir seperti itu? Jangan-jangan, ... Rara sudah sampai mengidap baby blues?
“Lho ... memangnya sejak kapan ada standar khusus untuk menjadi seorang ibu? Semua wanita bahkan mereka yang enggak bisa melahirkan sekalipun, merupakan ibu yang sempurna, Ra!” Kimo berusaha meyakinkan. Ia menatap Rara penuh keseriusan. “Dan sempurna itu enggak hanya dilihat dari satu kriteria, melainkan banyak! Karena Tuhan kasih kita dua mata, biar kita enggak hanya lihat dari satu sisi saja!”
“Sudah ... sudah. Ra ... dibawa santai saja. Yang penting Mofaro sama Rafaro, sehat, kan? Enggak nangis terus karena kelaparan?” Kiara berusaha menengahi.
Samabil menunduk dan berusaha menatap mata Rara yang masih menyandar di dadanya, Kimo berkata, “kalau kamu tetap memaksakan kehendak dan itu hanya bikin kamu tambah sakit termasuk anak-anak kita yang jadi semakin kelaparan, aku bisa marah, Ra. Percaya padaku ... semua wanita di dunia ini termasuk kamu, sempurna. Kalian ibu yang sempurna. Tolong, ... jangan berpikir sempit. Mana istriku yang selalu berwawasan luas bahkan bijak?” bujuknya.
“Kimo ....” Rara merengut manja sambil menyeka air matanya.
Kiara menghela napas pelan. Ia paham apa yang menimpa Rara dan Kimo, karena dulu, ia juga pernah merasakannya.
Dulu, Kiara mengalami baby blues parah setelah sampai menjalani pengangkatan rahim tak lama setelah melahirkan Kimo. Bahkan karenanya, ASI Kiara sampai tidak keluar. Jadi, jika memang ada kriteria khusus untuk menjadi ibu sempurna dan salah satunya harus memberikan ASI eksklusif minimal selama enam bulan, rasanya ... sangat tidak adil bagi ibu seperti dirinya yang sudah berjuang mati-matian demi kebaikan anak-anaknya.
“Kimo, ... siapkan air hangat buat Rara berendam biar dia bisa jauh lebih rileks. Malam ini, ... biar Mama sama Papa yang jaga Mofaro dan Rafaro.”
“Sebentar lagi papa sampai. Papa sudah semangat banget mau momong cucu-cucunya. Bahkan semenjak si kembar lahir, yang di pikirannya ya si kembar. Pokoknya yang lain cuma ngontrak ...,” ucap Kiara kemudian setelah menyudahi kesedihannya. Karena baginya, jauh lebih baik memperhatikan keluarga termasuk cucu-cucunya, ketimbang hanya terpuruk dalam kesedihan yang justru akan membuatnya rugi dalam segala hal.
__ADS_1
Kimo tersenyum semringah, sedangkan Rara berangsur mengakhiri sandarannya.
“Jadi, ... malam ini, papa sama Mama akan membebaskan kami berkencan?” ucap Kimo semringah kendati ia juga sampai tersenyum jail.
Pernyataan Kimo sukses membuat Rara tersipu. Terhitung, semenjak dua bulan yang lalu, tepatnya sejak melahirkan, baik Rara maupun Kimo memang hanya sibuk mengurus anak tanpa ada waktu untuk mereka benar-benar berdua, bahkan meski hanya lima menit. Karena semenjak si kembar lahir, tak ada waktu yang benar-benar bebas dari keterjagaan sekaligus tangis.
Lantaran Mofaro sudah bangun lengkap dengan tangis yang pecah hingga Rafaro juga mengikuti, Kiara pun bergegas. Kiara melangkah tergesa dan langsung berdiri di sebelah ranjang bayi. Dan di sebelah ranjang bayi berukuran besar berwarna putih keberadaan si kembar, Kiara segera memasukkan dot pada mulut masing-masing.
Awalnya, sebenarnya Mofaro dan Rafaro berada pada ranjang bayi terpisah. Namun karena keduanya terus menangis bahkan meski ranjang mereka sampai didekatkan, jadilah Franki berpikir untuk menyatukan keduanya. Dan karena ide Franki terbukti berhasil mengurangi tangis keduanya, Franki yang sampai dicap kakek idaman oleh Kimo atas kesigapan pria paruh baya itu, langsung membelikan ranjang bayi berukuran jauh lebih besar, di keesokan harinya.
Kini, dengan bangganya Kiara menghela napas sambil menatap Kimo dan Rara. “Lihat ... semuanya tenang, dan semuanya senang?” ucapnya yang merasa lega sekaligus tenang.
Kendati kedua anaknya memang langsung diam, Rara dan Kimo yang penasaran perihal keadaan keduanya, segera mendekati Kiara untuk memastikan. Dan benar saja, Mofaro maupun Rafaro begitu anteng, terpejam damai sambil terus mengedot. Keduanya ... benar-benar gampang kelaparan. Lapar, menangis. Lapar, menangis, dan terus begitu.
Kimo sampai jongkok demi menganati setiap botol dot anaknya yang dengan begitu cepat berkurang isinya. “Heran ... kok mereka rakus banget, porsi makannya melebihi kuli?” celetuk Kimo terheran-heran.
Kiara menoyor kepala Kimo. “Namanya juga bayi, ya kerjanya hanya nyusu sama nangis. Kamu ini! Bahkan dulu kamu lebih rakus dari mereka.”
“Duh, Ma ... aku sudah jadi bapak, Ma. Jangan dimarahin terus.” Kimo refleks mengelus-elus bekas toyoran Kiara.
Rara tersipu dan segera membelai pipi si kembar, silih berganti. “Kalian ... sehat-sehat, ya,” batinnya dengan hati yang menjadi berbunga-bunga.
“Ya sudah, urusan mereka sudah beres. Kalian istirahat saja. Nanti kalau ASI kamu banyak, diperah simpan di flizer,” ujar Kiara kemudian.
“Iya, Ma ....” Kimo mengangguk pasrah sambil merangkul mesra pinggang Rara yang menjadi semakin kecil, semenjak kelahiran si kembar.
“Mengenai urus-mengurus cucu, serahkan sama Mama dan papa. Biar kalian enggak terus-menerus buruk sangka, karena kami juga sangat ingin mengurus cucu.”
Kimo dan Rara kompak menunduk tanpa berani berkomentar. Kiara dan Franki memang sangat ingin mendapatkan banyak cucu dari mereka. Namun, karena ingin fokus merawat Mofaro dan Rafaro, keduanya belum mau memikirkan untuk menambah momongan.
Kiara mengangguk sambil menatap Rara penuh ketulusan. “Ya sudah. Kalian istirahat, ya.”
“Ya sudah, Ma. Kalau ada apa-apa, kamar kami ada di sebelah.” Kimo tersenyum semringah bahkan sampai mengedipkan genit sebelah matanya kepada Kiara.
Kiara menggeleng geli dan menatap Kimo tak habis pikir. “Memangnya siapa yang bilang kamar kalian di Kalideres?”
Rara hanya terkikik mengikuti tuntunan Kimo yang masih merangkulnya.
“Sebenarnya si Kimo dapat gen nyebelin dari siapa sih? Papanya saja enggak segila itu!” batin Kiara yang menjadi uring-uringan sendiri melepas kepergian punggung Kimo dan Rara yang semakin menjauh bahkan hilang dari jangkauan pandangannya.
Dan ketika pandangan Kiara teralih pada si kembar, wanita paruh baya itu berujar, “kalian jangan sampai gila kayak papa kalian, ya. Bisa tambah keriting rambut nenek, kalau kalian juga mengikuti jejak papa ....”
***
Lima belas menit kemudian, Kimo keluar dari kamar mandi dengan kedua tangan yang masih basah, terlepas dari pria itu yang sampai menyingsing lengan piamanya hingga siku.
“Mandi dan berendamlah. Aku mau nyiapin salad buah buat kamu,” ucap Kimo sarat perhatian.
Rara yang awalnya duduk di tepi kasur, segera mengulas senyum, menyambut kedatangan suaminya. Kemudian, Rara berangsur beranjak, melangkah mendekati Kimo. Ketika jarak mereka sudah tak bersekat, sebuah ciuman mesra, ia daratkan di sebelah pipi suaminya.
“Makasih, ya ... kamu sudah jadi suami sekaligus papa siaga,” ucap Rara tulus sesaat setelah mengakhiri ciumannya.
__ADS_1
Kimo yang tersipu berangsur menahan sebelah wajah Rara dan melayangkan ciuman hangat di bibir wanita itu.
“Enggak usah terima kasih. Karena itu sudah jadi tugas sekaligus kewajibanku.” Kimo menatap dalam kedua manik mata Rara yang kali ini terlihat begitu berbinar.
Jawaban Kimo sukses membuat hati Rara terbesit. Rara sampai berkaca-kaca dibuatnya. “Heum. Kita sama-sama berjuang jadi orang tua yang baik buat anak-anak kita.”
“Juga, ... pasangan yang lebih baik,” tambah Kimo dengan santainya, masih menatap Rara penuh cinta.
“Banyak hal yang ingin aku bicarakan sama kamu. Kita sudah melangkah sejauh ini ... dan rasanya, ... aku ingin mengenang semua itu. Awal kita bertemu ... perjalanan kita yang tidak mudah ... hingga kita punya si kembar.” Rara menatap Kimo dengan begitu dalam. Tatapan yang bahkan jauh lebih intens dari apa yang Kimo lakukan.
Kimo mengernyit dan memang tertarik dengan penuturan Rara. Terlebih, hingga kini, ia belum tahu awal mula pertemuan mereka. Dan Kimo jadi penasaran, bagaimana ia dan Rara bertemu dan sampai memutuskan untuk berkomitmen. Siapa yang memulai? Ia, atau malah Rara yang mulai lebih dulu?
Mendapati Kimo justru terdiam merenung dan tak hentinya senyum-senyum, Rara yang paham suaminya langsung tertarik mengenai ajakkannya, segera melayangkan ciuman kilat di sebelah pipi Kimo yang belum ia cium, sesaat sebelum kepergiannya.
“Aku mandi dulu ....”
Kimo melepas kepergian Rara dengan senyum yang membuat pipinya sampai merona. “Aku mencintaimu ...,” ucapnya cukup berseru.
Rara yang nyaris memasuki kamar mandi segera menoleh. Ia menatap Kimo di tengah kenyataannya yang detik itu juga menjadi semakin tersipu. Yang jelas, Rara seperti kembali menjadi remaja yang baru saja mengenal indahnya jatuh cinta. Terlebih, semenjak ia melahirkan Mofaro dan Rafaro, Kimo semakin bersikap manis sekaligus romantis. Pun meski kebersamaan yang mereka lalui terus diselimuti keterjagaan sekaligus tangis si kembar.
Kendati Rara telah masuk kamar mandi, Kimo tak lantas pergi. Ia masih berdiri menunggu menatap ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Terhitung, belum genap satu menit dari tertutupnya pintu, tiba-tiba pintu kembali dibuka dengan tergesa disusul keluarnya Rara. Wanita itu tersenyum semringah sambil memamerkan cepuk hati berisi cincin berlian warna putih yang begitu cantik.
“Kimo, ... ini dari kamu?!” sergah Rara tidak percaya.
Dada Rara naik turun dengan ritme terbilang cepat. Menandakan wanita itu sangat terkesan sekaligus bahagia.
“Ya iya ... masa dari tukang kebun? Ya tentu dari aku ... suamimu!” goda Kimo sambil melangkah menghampiri Rara. “Habis lahiran, aku belum sempat kasih kamu hadiah, kan?”
Rara yang tergelak buru-buru mengulurkan jemari tangan kirinya. Ia meminta Kimo memasangkan cincinnya di jari manis.
***
Keinya, terbangun lantaran kebelet pipis. Terlepas dari itu, Keinya juga merasa risih. Tak hanya ia yang ternyata kuyup keringat. Melainkan perihal rahimnya yang dirasanya turut basah.
“Masa iya, ini kontraksi? Harusnya kan dua minggu lagi, aku baru lahiran ...?” pikir Keinya yang kemudian bangun pelan-pelan, mengingat Yuan sampai menyandarkan wajah pada perutnya.
Terhitung, semenjak perut Keinya semakin besar, Yuan selalu tidur sambil mendekap sekaligus menyandarkan wajah ke perut Keinya. Jadi, seberapa pun Keinya mencoba hati-hati menghindari Yuan agar pria itu tidak bangun, itu terbilang sulit. Faktanya, kali ini saja suaminya itu langsung terjaga.
Yuan langsung duduk sambil menatap cemas Keinya. Kedua tangannya juga langsung menahan kedua bahu Keinya. “Mau ke mana? Kok, ... kamu keringetan begini?”
“Tolong antar ke kamar mandi, Yu. Rasanya sudah enggak nyaman banget,” balas Keinya yang memang mengeluh.
Naluri Yuan langsung bergejolak. Ia segera siaga dan membopong Keinya ke kamar mandi layaknya permintaan istrinya itu, dengan hati-hati.
Bersambung .....
Mungkin, masih ada 2 episode lagi 😂😂😂
Ceritanya bakalan sampai anak-anak mereka lahir. Tuan Muda dan Nona kaya yang ingin hidup menjadi rakyat biasa.
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa.
__ADS_1
Salam sayang,
Rositi.