Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 66 : Yuan, Pria yang Mencintai Keinya Dengan Sempurna


__ADS_3

“Sebaik apa, Yuan, sampai-sampai, Pelangi begitu dekat bahkan bergantung padanya?”


Season 2 Bab 66 : Yuan, Pria yang Mencintai Keinya Dengan Sempurna


Bagi Keinya, bahkan semua orang yang mengetahui hubungannya dengan Yuan, ... Yuan merupakan pria yang mencintai Keinya dengan sempurna.


Tidak ada yang tidak mungkin untuk Keinya setelah Yuan ada dalam hidupnya, kecuali hal yang akan melukai Keinya. Yuan, ... pria itu selalu membuat Keinya mendapatkan kebahagiaan yang sempurna.


Layaknya kini, ketika Keinya tertidur meringkuk berselimut di sofa mobil yang besar, meski mereka tidak menggunakan jasa pengasuh, Pelangi masih aman dan main dengan leluasa di pangkuan Yuan, kendati pria itu juga sedang mengecek setiap dokumen di hadapannya. Yuan bahkan masih leluasa tersenyum kepada Pelangi di setiap bocah cantik itu memanggilnya sambil tersenyum, juga, Yuan yang kadang membenarkan selimut di tubuh Keinya, ketika selimut itu turun meninggalkan pundak. Tak lupa, kendati Keinya sangat lelap, sebelah tangan Yuan juga kerap mengelus kepala berikut kening istrinya.


Mereka memang sedang menjalani perjalanan pulang dari Bandung, setelah menghabiskan waktu beberapa hari di kota yang terkenal dengan sebutan ‘kota Kembang’ itu. Sebenarnya, urusan mereka di Bandung murni karena kesibukan Yuan yang harus mengurus urusan di Bandung, tetapi selain karena Keinya masih trauma dengan ‘dinas ke luar kota’ yang dulu dijadikan alasan Athan meninggalkan Keinya, serta Yuan yang tidak bisa lama-lama jauh dari Keinya berikut Pelangi, Yuan memilih memboyong keluarga kecilnya itu. Namun sebenarnya bukan hanya keluar kota, karena ketika ada keperluan pekerjaan ke luar negeri pun, Yuan akan memboyong Keinya dan Pelangi untuk ikut serta. Hanya saja, akhir-akhir ini kesehatan Keinya sedang kurang fit. Beberapa hari terakhir saja, di setiap sore menjelang malam, Keinya kerap tiba-tiba demam terlepas dari wanita itu yang juga menjadi pilih-pilih makanan. Karena akhir-akhir ini, Keinya hanya mengonsumsi makanan berkuah yang pedas dan sedikit asam. Pun dengan sekarang di mana Keinya terus saja tidur di sepanjang perjalanan.


Di dalam mobil pribadi yang luas dengan penerangan cukup redup dan sepanjang jendela tertutup gorden, sedangkan sebuah layar televisi dua puluh inci menyala di hadapan mereka, Yuan dikejutkan oleh getar ponsel Keinya yang tersimpan di meja sofanya. Bukan tanpa alasan, sebab alasan ponsel itu bergetar tak lain karena panggilan masuk dari Athan melalui aplikasi WhatsApp.


Yuan tak lantas menjawab telepon tersebut. Pria itu hanya menatap layar ponsel Keinya yang terus berkedip-kedip menampilkan nama Athan sebagai penelepon, sambil sesekali menoleh pada Keinya yang masih terlelap. Yuan tampak merenung, mempertimbangkan haruskah ia menjawab telepon itu atau malah membiarkannya saja? Namun karena panggilan kembali terulang, Yuan memilih menepikan tumpukan dokumen di tangan kanannya, ke meja depannya, untuk meraih dan menjawab telepon Athan di ponsel Keinya.


Dengan gaya tenang, Yuan menempelkan ponsel Keinya pada sebelah telinganya.


“Kei, ... aku—”


“Keinya sedang istirahat,” tahan Yuan memotong ucapan Athan dari seberang. Detik itu juga, Athan langsung bungkam. Tak ada kata-kata lanjutan dari pria itu hingga Yuan memutuskan untuk melanjutkan sekaligus mengambil alih pembicaraan. “Ada apa? Enggak usah sekaku itu. Demi Pelangi, kita harus terbiasa dekat.”


Kendati Yuan sudah melanjutkan, hal tersebut tak lantas membuat Athan langsung menjawab. Barulah beberapa menit kemudian, dari seberang terdengar Athan yang berdeham, meski bersamaan dengan itu, Pelangi juga berucap sambil menarik-narik kemeja putih bagian dada yang Yuan kenakan. Sedangkan Yuan sendiri langsung merespons menatap Pelangi yang masih di pangkuannya. Bocah itu kembali mendongak demi menatapnya.


“Papa ... Papa ... hahaha ....”


Yuan mengangguk-angguk mengerti. “Sayang mau ganti video Jhonny?” ujar Yuan dan langsung disambut senyum ceria oleh Pelangi yang memang belum terlalu fasih berbicara. “Oke ... Papa ganti, ya.” Yuan segera membungkuk meraih remote di meja dan bersebelahan dengan tumpukan dokumen yang baru saja ia sisihkan. Hanya saja, bersamaan dengan itu, dari seberang justru terdengar bunyi tanda panggilan diakhiri. Yuan yakin, Athan justru mengakhiri sambungan telepon mereka. Kendati demikian, hal tersebut tak lantas mengurangi kepedulian Yuan terhadap Pelangi. Sambil berbincang dengan bocah itu yang langsung girang ketika ia mengganti video melalui remote, Yuan juga tak hentinya mengajak Pelangi mengobrol dengan tutur lembut. Bahkan setelah video yang Pelangi mau akhirnya terputar, Yuan juga kompak bernyanyi dengan anak sambung yang sudah menjadi kesayangannya itu.


***


Ada yang membuat Yuan tidak baik-baik saja lantaran Keinya yang batu turun dari mobil langsung muntah-muntah. Itu mengapa, ia langsung menyerahkan Pelangi pada pekerjanya demi bisa mengurus total istrinya.


“Kayaknya kamu salah makan, deh? Efek terlalu sering makan sup asam pedas,” ucap Yuan sambil memijat-mijat tengkuk Keinya yang muntah-muntah di taman depan dekat garasi rumah mereka. “Tolong, tisu,” pintanya pada kedua ajudan Keinya yang terjaga di belakangnya.

__ADS_1


Salah seorang ajudan Keinya segera mengambil kotak tisu dari dalam mobil yang baru saja Yuan tinggalkan. Mobil yang bahkan masih terbuka penuh sebelah pintunya. Sedangkan Pelangi sudah dibawa masuk ke rumah dan ia minta untuk sekalian dimandikan mengingat waktu sudah pukul lima sore.


“Kayaknya aku masuk angin. Mual, pusing ...,” keluh Keinya setelah Yuan juga sampai menyeka sekitar bibirnya menggunakan tisu.


Keinya terlihat sangat tidak sehat. Selain terlihat sangat lemas, wajahnya juga pucat. Bahkan mata berikut pandangan wanita itu sayu.


Tanpa menyingkirkan sebelah tangannya dari punggung Keinya yang bahkan masih membiarkan selimut tipis melilit tubuh, Yuan menatap istrinya penuh kepastian. “Masih kuat jalan, enggak?”


“Lemes, Yu ... enggak enak banget rasanya,” keluh Keinya yang sekadar membuka mata saja, ia sudah tidak sanggup. Ia terpejam dan membiarkan tubuhnya terjatuh ke dada Yuan. Pening berikut mual yang ia rasa membuatnya sangat tersiksa. Belum lagi, seperti sore menjelang malam akhir-akhir ini, tubuhnya kembali meriang sekaligus demam.


“Kita ke rumah sakit, ya?” tawar Yuan yang mulai membopong Keinya.


“Enggak!” tolak Keinya tegas seperti biasa.


“Ya sudah, aku panggil petugas lab buat ambil dan cek darah kamu.” Yuan membopong tubuh Keinya memasuki rumah mereka yang megah, di tengah tubuh Keinya yang mulai menggigil.


***


Di balik kemudinya, Athan masih terdiam dengan air mata di pipi yang mengering, meski di sekitar matanya masih tampak basah. Athan masih di tempat parkir restoran pertemuannya dengan Ryunana. Ia mengurung diri di dalam mobilnya. Sedangkan ponsel yang membuat pria itu tidak baik-baik saja, terkapar di sofa sebelah kemudi.


“Sebaik apa, Yuan, sampai-sampai, Pelangi begitu dekat bahkan bergantung padanya?” gumam Athan masih belum bisa menerima kenyataan. “Apakah ini, ... bagian dari balasan kesalahanku di masa lalu? Aku yang bahkan sudah menelantarkan Pelangi sejak dia masih ada di kandungan Keinya?” Memikirkan itu, memikirkan kesalahannya di masa lalu, membuat Athan tidak berani mencari-cari alasan lagi perihal Pelangi yang begitu dekat dengan Yuan. Ya, Yuan mencintai Keinya berikut Pelangi dengan sempurna. Mana mungkin cinta yang sempurna justru dibalas dengan kebalikannya, kan? Nyatanya, Keinya dan Pelangi begitu bergantung kepada Yuan, dan mereka sangat dekat.


Tak jauh dari Athan, Ryunana keluar dari restoran. Ryunana yang awalnya murung tidak bersemangat meninggalkan restoran, menjadi terkesiap tatkala pandangannya mendapati mobil Athan masih terparkir di depan restoran selaku tempat parkir.


“Kok Athan masih di situ? Apa, jangan-jangan, ... dia sengaja menungguku buat minta maaf? Athan menyesal memutus kerja sama denganku, karena sebenarnya, ... dia juga mencintaiku?” batin Ryunana yang langsung bersemangat. Ia seolah mendapatkan banyak kekuatan bahkan nyawa tambahan hanya karena Athan masih terjaga di balik kemudi. Ryunana masih bisa melihat Athan meski tidak begitu jelas.


Dengan wajah yang menjadi berbinar berikut dada yang turut menjadi berdebar-debar, Ryunana segera meninggalkan beranda restoran tempatnya berpijak. Sial, ketika jarak tinggal beberapa langkah tak kurang dari dua meter, Athan justru mengemudi dan meninggalkan tempat parkir. Namun sungguh, dari dalam mobilnya Athan sama sekali tidak melihat keberadaan Ryunana mengingat fokus Athan tengah dikuasai Pelangi. Pelangi yang justru sangat dekat dengan Yuan.


“Lho ...? Si Athan sengaja nge-php-in aku?!” batinnya kesal. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. “Arrrg! Kenapa nasibku seburuk ini?!” Ryunana tak hentinya marah-marah dalam hati. Ia melangkah tegas dengan kedua tangan yang tetap lurus kaki di sisi tubuh, meski salah satunya menenteng tas tangan berwarna merah senada dengan gaun selutut yang wanita itu kenakan. Dengan rias wajah yang mencolok, wanita cantik itu sukses menjadi pusat perhatian terlebih bagi sebagian dari mereka yang mengenal Ryunana sebagai penulis best seller sekaligus model. Dan kemarahan Ryunana menjadi mereda, ketika sebagian dari mereka mengajaknya berfoto bersama lengkap dengan meminta tanda tangan.


***


Di kamarnya, Keinya yang terbangun dengan tubuh berselimut, langsung disambut oleh Yuan yang duduk selonjor sambil menyandar pada sandaran ranjang yang sampai diganjal bantal. Yuan sedang menyanding beberapa dokumen berikut sebuah laptop dengan layar menampilkan lembar kerja laporan pemasukan keuangan perusahaan. Keinya melihatnya mengingat ia juga berangsur merangkak mendekati suaminya itu.

__ADS_1


“Kamu kok belum tidur? Ini sudah jam berapa?” tanya Keinya sambil menyandarkan dagunya di sebelah pundak Yuan. Mata sayunya kembali terpejam lantaran masih terasa sangat berat lengkap dengan sisa kantuk yang juga membuatnya enggan membuka mata.


Yuan langsung mengusap asal kepala Keinya dengan lembut. “Pelangi masih sibuk main masak-masakan,” ucapnya tanpa mengalihkan tatapannya dari lembar dokumen yang sedang ditatapnya dengan teliti.


Ketika Keinya mengamati suasana kamar demi memastikan maksud Yuan, ia dikejutkan oleh serakan mainan Pelangi yang memenuhi lantai kamar. Tak jauh dari pintu masuk, di karpet lantai yang tebal dan lembut, putrinya itu tengan asyik main masak-masakan layaknya apa yang Yuan katakan. Sebuah wajan plastik telah menghuni kompor plastik, sedangkan ikan mainan berukuran kecil sedang Pelangi masukan ke wajan. Bocah itu melakukannya dengan sangat serius dan sukses membuat Keinya tersenyum haru. Bocah yang sejak awal dicampakkan oleh ayah kandungnya, kini mendapatkan banyak cinta dari pria yang hanya sebatas ayah sambung. Karena meski Yuan hanya sebatas ayah sambung, tetapi cara didik berikut cinta tulus dari Yuan berhasil membentuk Pelangi memiliki kepribadian yang mirip dengan Yuan. Disiplin, periang dan sangat cekatan, selain Pelangi yang sangat dekat dengan Keinya apalagi Yuan.


Keinya mendekap hangat sebelah lengan Yuan. Ia masih betah memandangi Pelangi yang baginya tumbuh terlalu cepat. Pelangi baru berusia dua tahun, tetapi sudah sangat aktif bermain bahkan inisiatif menciptakan mainan sendiri. Selain itu, Pelangi juga cekatan dan dengan sigap menirukan banyak hal yang dilihat maupun didengar. Bahkan tak jarang, Pelangi tidak mau menerima bantuan. Baik dalam urusan makan, mandi, termasuk mengenakan baju, juga sandal dan sepatu.


“Sayang?” ucap Yuan tanpa mengalihkan tatapannya dari kedua dokumen yang menghiasi tangannya.


“Apa?” balas Keinya santai sambil menatap Yuan.


Kali ini Yuan menoleh dan menatap Keinya. “Karena hasil lab darahmu baik-baik saja, bagaimana kalau besok, kita pergi ke dokter kandungan?” Ia menatap Keinya dengan serius.


Pernyataan Yuan sukses membuat Keiny terdiam tak percaya.


“Perubahan kesehatan sekaligus kebiasaanmu drastis banget. Aku yakin, kamu juga tahu maksudku.” Yuan masih bertutur dengan santai.


Keinya mengerutkan dahi berikut bibirnya. “Tapi, masa, ... secepat itu?” lirihnya masih tidak percaya.


Yuan yang masih menatap Keinya, berangsur mengangguk. “Sudah ada sebulanan, kan?” ucapnya sambil mengulas senyum tanpa bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Keinya tersipu dan berangsur mengguk. “Benarkah secepat itu? Aku sedang hamil?” batinnya yang kemudian membenamkan kepalanya di dada Yuan. Namun, jika melihat kesehatan berikut kebiasaannya akhir-akhir ini, Keinya rasa, ... apa yang Yuan katakan memang benar.


“Tidur lagi saja, kalau memang masih nganyuk. Mengenai Pelangi, biar aku yang urus,” lirih Yuan kemudian. Telunjuk kanannya berangsur mengelus-elus batang hidung Keinya, meski pandangannya masih terfokus pada dokumen yang sedang dihadapi.


Bersambung ....


Masih semangat mengikuti ceritanya? Hari ini, masih dua episode lagi, ya!


Tetap semangat, dan dukung terus ceritanya!


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2