Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 92 : Move On


__ADS_3

“Bagaimana mungkin aku konsultasi sama dia, sedangkan dia juga yang sudah bikin hatiku patah?”


Bab 92 : Move On


Hati Elena langsung patah bahkan remuk tak berwujud, setelah melihat Atala dan Irene menghadiri resepsi pernikahan Pelangi dan Kim Jinnan. Karena meski Elena juga sudah berusaha melepaskan bahkan merelakan Atala, Elena yang berniat untuk fokus dengan kehidupannya khususnya sekolah, tapi melihat Atala justru bersama Irene yang bahkan sedang hamil, kenyataan tersebut membuat Elena nyaris pingsan.


Elena kebas bersamaan dengan rasa pening yang tiba-tiba menyerang. Terlepas dari kehancuran yang Elena rasa dan membuat gadis itu tak kuasa mengendalikan air matanya untuk tidak mengalir. Di mana, Elena yang langsung gelisah juga bergegas pergi tanpa menunggu acara resepsi benar-benar dimulai.


Apa yang menimpa Elena juga disaksikan oleh Rafaro, Mofaro, berikut Elia, lantaran mereka memang sedang bersama. Awalnya, mereka sedang mengobrol santai di salah satu meja undangan urutan paling depan, dekat altar mempelai. Namun, ketika Elena yang mengamati suasana sekitar tidak sengaja menoleh ke belakang selaku sumber kedatangan, bertepatan dengan itu, Atala yang membiarkan sebelah lengannya digandeng mesra oleh Irene, juga baru datang bersama tamu undangan lain.


Elia yang sampai ikut lemas dan berderai air mata, juga bergegas meninggalkan tempat duduknya untuk menyul Elena. Bahkan, Elia menyingkirkan tahanan tangan Rafaro. Sedangkan Rafaro yang sempat kebingungan, juga ditahan oleh Mofaro. Mofaro menahan sebelah lengan Rafaro sembari menatap kembarannya penuh isyarat.


Tak beda dengan Elena, Elia keluar dari ruang resepsi yang bisa menampung seribu tamu undangan tersebut, melalui tempat keluar yang sedari awal digunakan oleh pelayan sekaligus kru pelaksana resepsi.


Sesuai kepergian Elena, tujuan Elia merupakan toilet wanita yang juga menjadi tujuan Elena. Di salah satu ruang toilet yang Elena masuki, suara sesenggukan Elena terdengar sangat sesak sekaligus pilu. 


“Lena ... hapus air matamu, dan mari hadapi kenyataan. Kamu tahu, ada hal yang belum kamu ketahui mengenai Atala dan Irene.” Elia mengatakannya sambil menyeka air matanya, menggunakan kedua telunjuk tangannya silih berganti. Ia melakukannya dengan hati-hati mengingat kali ini, khusus untuk resepsi pernikahan Pelangi dan Kim Jinnan, untuk pertama kalinya, ia membiarkan wajahnya dirias.


“Lena ...,” lanjut Elia sesaat setelah menghela napas dalam demi mengenyahkan sesak yang sudah memenuhi dadanya. “Tidak ada yang benar-benar bahagia, bahkan meski mereka tampak sempurna. Begitupun dengan Irene dan Atala!”


Mungkin sekitar lima menit kemudian, setelah membiarkan Elia tanpa jawaban apalagi kepastian, akhirnya Elena keluar dari toilet keberadaannya.


“Maaf aku cengeng,” ucap Elena yang sibuk menyeka sekitar matanya.


Selain cukup sembam, sekitar mata Elena juga sudah bergelepot maskara.


Elia yang mengangguk-angguk, juga kembali berderai air mata lantaran apa yang Elena ucapkan justru membuat hatinya terenyuh. “Angkat dagumu dan tataplah kenyataan dengan banyak kebahagiaan. Masih banyak hal menyakitkan yang harus kita rasakan, selain patah hati karena cinta.”


“Aku payah!” Elena kembali terisak-isak hingga tubuhnya cukup terguncang.


“Enggak apa-apa. Semuanya butuh proses. Dan setiap proses juga berbeda-beda.” Elia menepuk-nepuk pelan sebelah punggung Elena.


“Seharusnya tadi, aku enggak langsung pergi. Malu ih. Apalagi, tadi aku juga sampai nangis!” gerutu Elena yang mengecam keputusannya sendiri.


“Ya sudah, sini aku beresin riasmu. Tadi mamah bekelin aku rias sederhana,” ujar Elia masih berusaha sesabar mungkin.


“Apa-apaan! Bukannya tambah canik, aku justru bisa jadi ondel-ondel, kalau kamu yang rias!” rutuk Elena dan sukses membuat Elia tergelak.


“Ingat, Li ... kamu tuh payah banget kalau urusan rias wajah!” 


“Hahaha ... ya enggak apa-apa. Rafa bilang, aku tetap sangat cantik meski aku enggak dandan.”


“Uwee! Muntah aku!”


“Hahaha ... jawaban orang sirik itu sih!”


“Lagian kamu ada-ada saja! Kamu yang melarangku pacaran, eh malah kamu sendiri yang pacaran!”


“Dengan catatan, pacarmu juga baik. Kalau memang sudah dapat yang baik, kenapa harus mikir lama?” Meski masih berlinang air mata, tapi Elia jadi sering tertawa.


Elena mendengkus kesal. “Ya sudah. Aku rias dulu. Kamu tunggu, nanti aku rias sekalian biar enggak kayak hantu, tuh maskara pada luntur!”


Jauh di lubuk hatinya, Elia merasa sangat bersyukur, lantaran kesedihan berangsur sirna dari kehidupan Elena. Pun meski Elia juga tidak yakin, sampai kapan semua itu akan bertahan? Namun, Elia sangat berharap, di masa depan, mereka akan sama-sama memiliki pasangan sekaligus teman hidup yang tidak kalah baik dari Steven papa mereka.


*** 


Kembalinya Elia dan Elena yang tidak sampai menyita waktu lama, langsung membuat Rafaro mengembuskan napas lega. Lain halnya degngan Mofaro yang ada di sebelahnya, yang justru langsung menggeleng geli.


“Berasa sudah punya istri, yah, sampai secemas itu? Kenapa enggak langsung nikah saja?” cibir Mofaro.


“Pernyataan orang sirik,” jawab Rafaro singkat.

__ADS_1


Mofaro refleks menelan ludah, sedangkan Rafaro masih menatap kedatangan Elia dan Elena. Keduanya kembali muncul dari arah kepergian. Tentu, dengan langkah yang jauh lebih santai dan pastinya tidak sampai disertai air mata. 


Ketika Rafaro langsung memberi Elia kode mata—menanyakan keadaan gadis itu baik-baik saja—hal yang berbeda justru Mofaro lakukan.


“Elena … aku mau kasih kamu tantangan. Tantangannya sangat sederhana. Cukup menyapa mantanmu lebih dulu, nanti aku kasih kamu dua juta, tunai!”


“Serius. Kalau kamu berani menyapa mantanmu lebih dulu, aku kasih tambahan jadi tiga juta!” tambah Mofaro yang sengaja menantang Elena, padahal Rafaro sudah sibuk menendang asal kakinya.


“Apaan, sih, Raf ... tendang-tendang? Enggak sopan banget! Gin-gini, meski kelahiran kita hanya terpaut lima menit, aku tetap kakak kamu, lho!” omel Mofaro pada Rafaro, dan sukses mengakhiri usaha pemuda itu.


“Dasar gila!” semprot Elena.


“Memang! Sudah berkarat malah kegilaannya!” timpal Elia yang kemudian kembali duduk di sebelah Rafaro.


Berbeda dengan Mofaro yang sampai mendengkus kebingungan, Rafaro justru menjadi sibuk menahan senyum.


“Gini, Mo ... coba, mumpung kita sama-sama santai, sekarang kamu konsultasi sama Elia. Biar kamu enggak uring-uringan terus. Serius, Elia ini sudah sampai dikasih sertifikat uji kelulusan psikiater awal sama papahnya. Kamu bisa percaya Elia,” ucap Rafaro yang masih sibuk menahan tawa, hingga ia menjadi tak kuasa mengakhiri senyumnya.


“Bagaimana mungkin aku konsultasi sama dia, sedangkan dia juga yang sudah bikin hatiku patah?” keluh Mofaro yang menjadi uring-uringan. 


Mofaro sendiri tidak bisa memastikan, sejak kapan seorang Elia justru begitu berharga untuknya? Terlepas dari alasannya yang sibuk uring-uringan, dan nyatanya karena ia gagal move one dari Elia, bukan Elena.


Namun, apa yang Mofaro ungkapkan sukses membuat Elia maupun Rafaro celingukan sekaligus kebingungan. Rafaro karena merasa serba salah, sedangkan Elia merasa tidak habis pikir.


“Sudah, jangan dibahas!” lanjut Mofaro yang menyadari, suasana kebersamaan menjadi canggung bahkan kaku, akibat pengakuannya.


Elena hanya menggeleng tak habis pikir menanggapi tingkah Mofaro yang baginya sangat ‘kolot’, sebelum akhirnya Elena membuka tas tangannya, lantaran dering telepon masuk terdengar dari sana. Elena meraih ponselnya dari sana, dan mendapati kontak tak bernama tengah melakukan telepon masuk. 


Yang membuat Elena tak percaya, itu merupakan kontak Atala, sedangkan Elena sudah memakai nomor baru tanpa memberi tahu pria itu. Namun, kenapa nomor Atala justru melakukan telepon masuk pada nomor Elena? Dan kenapa juga pria itu masih berusaha menghubunginya?


Setelah sengaja mengabaikan telepon masuk dari Atala, Elena segera memastikanpesan WA masuk yang nyatanya juga masih dari nomor yang sama. “Atala sampai mengirimiku pesan?” batin Elena yang menjadi tidak baik-baik saja.


+6281 ... : Kamu di mana?


+6281 ... : Jangan move-on!


Balasan Atala membuat hati Elena berdesir. Di mana, tak lama setelah itu, Elena memberanikan diri untuk mengamati suasana sekitar dengan maksud, menemukan Atala. Dan setelah mengamati dengan teliti, di belakang sana, di barisan persis sebelah kebersamaannya dengan Rafaro, Elia berikut si kolot Mofaro, Atala ada dan sudah menatap padanya. Ya, Atala benar-benar menatap pada Elena bahkan nyaris tak berkedip. Jarak mereka sekitar lima belas meter.


Namun kenyataan tersebut langsung membuat Elena menulis balasan pesan kepada Atala.


Elena : GILAAA!


+6281 ... : Sepertinya memang begitu.


Kepala Elena mendadak pusing setelah membaca balasan pesan dari Atala yang terbilang sangat cepat, dan menandakan pria itu memang sengaja menghubunginya, dengan tujuan yang belum bisa Elena pastikan.


“Si Atala beneran, ya? Benar-benar mantan enggak beradab!” batin Elena. “Tapi omong-omong, Atala dapat nomorku dari siapa, ya?”


+6281 ... : Aku dapat nomormu, dari papahmu.


Tiba-tiba saja, angin segar langsung mengenyahkan kegaduhan yang sempat memporakporandakan kehidupan Elena, setelah gadis itu membaca balasan pesan dari Atala. Kendati demikian, Elena tetap tidak mau banyak berharap. 


Sambil menggigit bibir bawahnya lantaran masih ragu dengan maksud Atala, Elena kembali menoleh ke belakang dan mendapati pria yang mengenakan batik lengan panjang warna keemasan itu masih menatap ke arahnya. Ya, Atala masih menatap ke arah Elena, padahal di sebelahnya ada Irene.


“Ngapain juga menghubungiku, kalau dia masih ajak Irene? Jangan-jangan benar, lagi ... anak yang Irene kandung justru anak Atala?!” gerutu Elia dalam hatinya. 


+6281 …. : Jaga kesehatan, ya. Meski aku enggak bisa selalu ada di dekat kamu, tapi aku bakalan memantau perkembanganmu.


Membaca pesan Atala yang sekarang, tiba-tiba saja, dada Elena kembali terasa sesak. “Ini Atala maksudnya apa, sih?” batinnya.


Meninggalkan pesan-pesan Atala, nyatanya pernyataan Elia sukses menjadi pemicu tawa di antara mereka.

__ADS_1


“Kalian mau ikut berebut buket pengantin? Kayaknya bentar lagi, tuh. Kishi sama Dean saja sudah mulai turun dari panggung.” Elena melirik Kishi dan Dean yang masih menggandeng Zean. Ketiganya turun dari sisi panggung.


“Ikut berebut buket pengantin bagaimana, sedangkan pasangannya saja belum ada?” keluh Mofaro dan sukses memecahkan tawa dalam kebersamaan.


Elena sampai memukul bahu Mofaro dua kali lantaran gadis itu tak kuasa mengendalikan tawanya. “Ngenes banget sih nasibmu. Belum punya pasangan saja sesedih itu?”


“Wah … Mo, kenapa, Mo?” ujar Zean yang langsung kepo.


Mofaro langsung melirik sebal Zean yang menatapnya antusias. “Azab bocah tukang kepo, celananya sobek enggak bisa dijahit!”


Tawa kembali pecah dalam kebersamaan mereka, lantaran mereka sama-sama tahu, sebelum ini, celana Zean sempat sobek gara-gara bocah itu mengalami penambahan berat badan yang begitu pesat.


“Mo … Mo … anak sultan mah bebas, mau celana baru tinggal ‘ting!’ . Yang enggak bebas itu kalau enggak punya pasangan. Bisa kena TBC--tekanan batin cinta! Hahaha!” balas Zean dengan santainya dan kemudian duduk, sesaat setelaj Kishi menarikkan sebuah kursi di sebelah Elena dan Elia, untuknya.


Sungguh, apa yang Zean balaskan sukses membakar emosi Mofaro yang detik itu juga tak bisa berkata-kata. Namun, Mofaro langsung menatap tajam Zean. Dan andai saja ada efek api dari tatapan yang sedang Mofaro lakukan, Zean pasti sudah gosong karena terbakar.


“Lihat saja nanti. Di masa depan, aku juga akan memiliki pasangan. Dan aku akan hidup bahagia bersama pasanganku. Bisa jadi, ceritaku juga akan menjadi judul utama untuk karya Author selanjutnya!” batin Mofaro.


Mengenai buket pengantin, mereka sepakat tidak akan ada yang ikut serta merebut. Mereka membiarkan orang lain khususnya teman-teman Kim Jinnan untuk memperebutkannya.


“Memangnya benar, ya, kalau dapat buket pengantin, pasti nikah?” tanya Kishi pada Dean yang duduk di sebelahnya.


“Yang sudah menikah saja, masih banyak yang mau nikah lagi? Apalagi yang belum menikah? Heh, ingat! Jangan asal sindir!” ujar Mofaro yang lagi-lagi sukses membuat kebersamaan diwarnai tawa.


“Mungkin mitos, ya? Tapi enggak tahu, sih,” balas Dean sambil menatap tidak yakin kepada Kishi.


“Kata papah mertua, masih kecil enggak boleh mikirin nikah,” ujar Zean yang diam-diam sudah menghabiskan sepiring pie buah yang ada di meja.


“Memangnya, papah mertuamu siapa?” balas Mofaro yang masih saja mau menanggapi Zean. Kali ini, ia melakukannya sambil bersedekap.


“Ya papah Kimo-lah! Kan aku bakalan jadi mantu kesayangan! Biar kayak Kim Jinnan!” balas Zean dengan santainya.


“Aku bakalan jadi orang pertama yang nolak kamu!” balas Mofaro cepat.


“Sudah ... sudah ... jangan dilanjutkan,” tegur Ragaro.


Zean yang awalnya begitu menikmati sajian di meja, mendadak cemberut lantaran Dean menjauhkan sepiring aneka kue yang akan ia santap, dari jangkauannya.


“Mama bilang, kalau kamu mau ngemil, ngemilnya air putih,” ucap Dean yang sampai menatap tegas Zean.


Mofaro mendadak tertawa jahat di tengah kenyataannya yang masih bersedekap. “Jaga pola makanlah! Biar sehat! Sudah kayak buntelan kentut juga!”


Elia yang merasa kasihan pada Zean, menyodorkan sepiring potongan buah berikut memberi bocah itu garpu.


“Jangan banyak-banyak!” tegur Dean yang kebetulan duduk di sebelah Mofaro.


Sekali lagi, Mofaro tertawa jahat dan sukses membuat Zean menaruh dendam kepada pemuda itu.


Setelah membahas banyak hal termasuk mengomentari suasana resepsi pernikahan keberadaan mereka, perebutan buket pengantin seolah menjadi puncak dari acara resepsi. Di mana, dari sekian banyak perebut, buket yang Pelangi dan Kim Jinnan lemparkan, justru sampai di pangkuan Irene, setelah menjadi bahan rebutan. Padahal tak beda dengan mereka, Irene tidak ikut merebut, lantaran wanita itu duduk di hadapan Atala, dan justru membelakangi kebersamaan yang saling berebut buket pengantin.


“Wah ...?” seru Kishi yang sampai terbengong-bengong.


Akan tetapi, semua penghuni meja kebersamaan kecuali Zean yang sedang sibuk memakan potongan aneka buah, langsung mencemaskan Elena, lantaran mereka sama-sama tahu, Irene datang bersama Atala.


“Enggak apa-apa sih, kalau mereka memang jodoh,” batin Elena yang berusaha menerima. “Tapi awas saja kalau Atala masih berani apalagi sibuk menghubungiku!” batinnya lagi.


Namun tak lama setelah itu, ada pesan WA masuk di ponsel Elena, dan ketika Elena memastikan, ternyata itu dari Atala.


--Irene memang akan menikah. Dia dijodohkan. Namun, nantinya aku akan mengadopsi anaknya--


--Jangan terlalu dijadikan beban, Len. Karena setiap masalah pasti selalu bisa diatasi, meski kadang memang tidak mudah--

__ADS_1


Elena : Kamu kenapa, sih?


+6281 ... : Aku takut kamu cemburu.


__ADS_2