
Hallo, masih semangat buat mengikuti ceritanya? Yang belum gabung di grup dan berkenan bergabung, silakan gabung, ya. Karena selain Author akan membagikan perkembangan kabar cerita yang Author tulis, di sana juga ada hadiah kejutan poin seperti yang sudah diumumkan pihak Mangatoon sendiri.
Sedikit bocoran, “Selepas Perceraian” yang awalnya dijadwalkan tamat bulan Januari, bahkan Author pun sudah bilang ke pihak editor, sepertinya baru bisa tamat akhir bulan ini. Doakan saja agar semuanya lancar dan bisa sesuai harapan kalian, ya. Biar ceritanya enggak kepanjangan kayak sinetron juga.
Meski Author sadar nggak mungkin bisa bikin cerita yang memuaskan semua orang, tetapi seenggaknya Author akan berusaha dan meresapi setiap saran dari kalian. Jadi, jangan sungkan kalau mau kasih saran-saran buat cerita ini. Juga, maaf kalau Author masih banyak kekurangan dari segi apa pun.
Terakhir, selamat membaca Bab 36 ^^
***
“Jangan mengingat masa lalu jika itu hanya menyakitimu. Percayalah, di dunia ini tidak ada yang luput dari kesalahan. Jika memang masa lalumu kelam dan kamu bilang hanya dipenuhi hukuman, tetapi tidak dengan masa depan berikut masa yang sedang kamu jalani sekarang. Kamu bisa memperbaikinya dari sekarang juga!”
Bab 36 : Penyakit Kainya
Cemburu kadang tak kalah menakutkan dari tindakan kriminal. Karena selain akan menciptakan banyak rasa sakit apalagi jika terus ditahan, cemburu juga bisa menjadi awal malapetaka.
Seperti yang dialami Daniel saat ini. Melihat Kainya yang sedang mengobrol, lebih tepatnya berkonsultasi dengan psikiater, sudah membuat Daniel sangat tidak tenang. Bukan perkara apa, melainkan cara psikiater itu memperlakukan Kainya. Ibarat penanganan sebuah layanan, si psikiater benar-benar memperlakukan Kainya dengan sangat spesial.
Psikiater yang menangani Kainya merupakan psikiater yang sama, saat Kainya berobat di Singapura. Lebih tepatnya, dokter bernama Steven yang memiliki ketampanan di atas rata-rata itu, pindah ke Jakarta karena suatu hal yang sebenarnya tidak ingin Daniel ketahui. Kabarnya, dari informasi yang Daniel dapatkan dari Khatrin, dikarenakan hubungan dokter Steven dengan orang tua angkat Daniel juga terbilang dekat, sebenarnya Steven masih memiliki darah Indonesia, selain Steven yang memang bisa berbicara Indonesia dengan sangat baik. Dan mungkin karena hal itu juga, Steven memilih pindah atau lebih tepatnya kembali ke Indonesia.
Asal bukan karena Kainya, Daneil mau-mau saja menerima alasan pindahnya Steven, meski sebenarnya, apa pun yang terjadi kepada Steven, bukan urusannya atau setidaknya hal yang perlu Daniel khawatirkan. Bahkan meski selama empat hari terakhir, Steven rutin datang ke rumah demi menangani Kainya, dan itu sangat membuat Daniel merasa terganggu.
Bukankah hubungan tersebut sudah menunjukkan betapa dekatnya Steven dengan keluarga Daniel? Rasa kesal berikut cemburu Daniel tidak berlebihan, kan?
Kini, Steven tengah menatap, menyimak setiap cerita Kainya melalui mata jernihnya. Mata jernih yang kadang akan menjadi tajam dipenuhi kecemasan, atau akan santai dan terlihat sarat rasa kagum pada sosok Kainya.
“Kamu harus melawan semua rasa takut itu.” Steven berutur dengan sangat tenang seperti tatapannya kepada kedua mata Kainya.
Mereka hanya terhalang meja ruang tamu khusus keberadaan mereka. Sedangkan Daniel yang terjaga, hanya bisa menunggu di luar tanpa diizinkan masuk. Daniel tak hentinya mondar-mandir gelisah sambil terus memastikan apa yang terjadi pada Kainya dan Steven, melalui kaca jendela ruang tamu khusus di rumahnya.
Kainya tertunduk gelisah dengan mata yang kerap goyah seiring ingatannya yang dihiasi adegan kecelakaan Rara dan Kimo, di mana ia juga sampai melihat Steffy tak lama setelahnya. Kainya yakin itu Steffy meski suasana di sana saat itu, terbilang minim penerangan.
Steven yang masih menatap Kainya pun berujar, “hanya kamu yang bisa melawan semua ketakutanmu. Lawan, Kai ... jangan takut!”
Kainya berangsur menatap Steven. “Biarkan aku pergi!” sergahnya. Ia menatap Steven dan berusaha meyakinkan pria itu. “Aku baik-baik saja. Tolong katakan dan yakinkan orang tuaku, aku baik-baik saja. Ada hal besar yang harus aku lakukan!” pintanya sungguh-sungguh.
__ADS_1
Steven menghela napas cemas tanpa mengalihkan tatapannya dari Kainya. Ia bahkan sampai mengerutkan dahi. “Kamu bahkan belum bisa mengontrol emosimu,” ucapnya mencoba memberi pengertian.
“Anda bisa memberiku obat!” sergah Kainya masih memohon, tetapi cenderung memaksa.
Steven menggeleng. “Jangan mengonsumsi obat penenang lagi, Kai. Keadaanmu bisa semakin parah, jika kamu terus-menerus mengonsumsi obat penenang.”
Daniel yang diam-diam melongok dengan sedikit membuka pintu ruang keberadaan Kainya dan Steven, mengikuti gaya berbicara Steven berikut mengulang kata-kata pria itu. Bahkan Daniel sengaja melebih-lebihkan dengan ekspresi yang terbilang dramastis termasuk bibir yang dimanyun-manyunkan. “Jangan mengonsumsi obat penenang lagi, Kai. Keadaanmu bisa semakin parah, jika kamu terus-menerus mengonsumsi obat penenang.”
“Kayak gitu doang, aku juga bisa ... selama ini, aku juga sering kasih motivasi positif ke Kak Kai!” cibir Daniel kemudian.
“Aku mohon, aku harus keluar untuk menemui seseorang. Satu hari saja! Ada masalah sangat penting yang harus aku selesaikan. Ini menyangkut nyawa sekaligus kepentingan banyak orang!” ucap Kainya benar-benar memohon, menatap Steven dengan mata bergetar yang juga sudah basah.
Steven terpejam pasrah sambil menghela napas pelan. “Kita belum lama mengakhiri pengobatan kita yang awalnya sukses. Namun karena suatu hal, kamu justru rutin meminum obat penenang yang justru membuatmu kecanduan. Bahkan bukannya membaik, keadaanmu justru semakin memburuk.”
“Lantas, apa yang harus aku lakukan?! Aku sudah diam terlalu lama! Bahkan sekarang, semuanya sudah keluar dari jalur! Demi Tuhan, ini menyangkut nyawa banyak orang!” protes Kainya yang sampai menggebrak meja sekat kebersamaannya dan Steven saking emosinya.
Kenyataan Kainya kali ini tak lain karena wanita itu sudah mengetahui kabar perkembangan kasus kecelakaan Kimo dan Rara, dari Daniel. Tentu, Kainya memaksa Daniel untuk menceritakan semua yang ingin ia ketahui, dan sialnya, kabar jika papa Steffy justru ditangkap seletah pengakuan dari Steffy dan Kainya dapatkan pagi tadi, langsung membuat emosi Kainya meluap.
Kainya sangat berharap diizinkan keluar untuk menemui Steffy secara langsung, meski yang ada, orang-orang dalam hidupnya apalagi Steven, terus melarangnya. Memang, mereka seperti itu lantaran sebenarnya selama ini bahkan setelah pengobatan pertama yang Kainya jalani sukses, diam-diam Kainya mengonsumsi obat penenang dan membuatnya kecanduan. Karena selain sering tidak bisa tidur, deretan masalah hebat yang bermula dari kecelakaan Ben dan menyangkut Piera berikut kasus pembunuhan di dalamnya yang dikendalikan Roy ayah Gio, sangat membuat Kainya merasa terbebani. Sialnya, baru juga mulai bernapas lega, Kainya justru dihadapkan dengan kecelakaan hebat yang menimpa Kimo dan Rara, sedangkan saat itu, selain mobil yang ditumpangi Kimo dan Rara sampai menggelinding dan disertai percikan api, keadaan Rara dan Kimo sangat mengenaskan khususnya wajah Kimo yang sampai berlumur darah.
Seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, linangan air mata kembali mengawali cerita Kainya. Kainya seperti kehilangan kesadaran dan benar-benar mengeluarkan semua unek-uneknya. Dan kali ini, ada yang membuat Steven menemukan fakta baru. Karena ketika biasanya Kainya hanya mengeluh mengenai beban akibat kecelakaan Ben dan hari ini mengenai keinginan wanita itu menemui seseorang untuk suatu hal yang dikatakan menyangkut banyak nyawa orang, kali ini, Kainya menceritakan awal mula kehidupannya tidak baik-baik saja.
Tentang Kainya yang memiliki kembaran dan kerap tidak dianggap. Orang-orang selalu melihat Kainya sebagai kembarannya yang bernama Keinya. Puncaknya, ketika pemuda bernama Gio yang menjadi cinta pertama Kainya juga menganggap Kainya sebagai Keinya. Karena semenjak itu juga, Kainya memutuskan untuk balas dendam kepada Keinya, meski Kainya tidak bisa benar-benar jahat.
“Kamu enggak jahat, kamu enggak jahat, Kai ... Kai, Kai ... lihat aku!” Steven berusaha menenangkan Kainya.
Kainya yang awalnya meracau tidak jelas di tengah tangisnya, berangsur diam dan menatap Steven layaknya bocah yang siap menyimak nasehat dari orang tuanya.
“Jangan mengingat masa lalu jika itu hanya menyakitimu. Percayalah, di dunia ini tidak ada yang luput dari kesalahan. Jika memang masa lalumu kelam dan kamu bilang hanya dipenuhi hukuman, tetapi tidak dengan masa depan berikut masa yang sedang kamu jalani sekarang. Kamu bisa memperbaikinya dari sekarang juga!” tegas Steven pelan-pelan.
Meski sempat diam menyimak Steven, Kainya berangsur tertunduk dan terisak-isak, kembali larut dalam kesedihannya. Membuat Steven terenyuh, tak tega melihat wanita di hadapannya yang selalu berusaha kuat, padahal kenyataannya sangat rapuh. Kainya yang selalu ingin melindungi orang-orang di sekitarnya, menjadi penyelamat layaknya super hero, tetapi naasnya, rasa ingin menjadi sempurna itu membuat Kainya terlalu memaksakan kehendak dirinya sendiri. Hingga yang ada, semakin Kainya mencoba menjadi sempurna, semakin tertekan dan bertambah pula beban mentalnya.
“Aku tidak gila, Ven ... tetapi di pikiranku terlalu banyak hal,” ucap Kainya di tengah tangisnya.
“Iya. Kamu tidak gila, Kai. Tidak ada yang mengatakan itu kepadamu, kan? Dan mengenai pikiranmu, kita selesaikan satu persatu. Pelan-pelan, ya?” Meski ragu, tetapi tangan kanan Steven berangsur menepuk-nepuk pelan sebelah pundak Kainya.
__ADS_1
Kainya menatap Steven tak percaya. “Tolong bantu aku menemuinya. Dia pembunuh berdarah dingin,” pintanya memelas.
“Kamu percaya padaku?” balas Steven sambil menatap serius Kainya.
Kainya terdiam dan tampak ragu. Namun tak lama kemudian, ia berkata, “Daniel! Ajak dia!” Bagi Kainya, meski Daniel masih sering kekanak-kanakan, tetapi pemuda itu bisa dipercaya dan ia memang mulai mengandalkan Daniel.
Meski ada gurat kecewa dari ekspresi wajah Steven berikut helaan napas lirih yang menyertai pria itu, tetapi ahirnya Steven mengangguk, menyanggupi permintaan Kainya, yang empat hari terakhir sengaja dikurung di rumah demi menjalani pengobatan. Hanya saja, baik Philips apalagi Khatrin tidak tahu, jika diam-diam, Kainya selalu mendapatkan semua info yang diinginkan, dari Daniel.
“Aku juga butuh polisi!” pinta Kainya kemudian sambil menyeka air matanya asal menggunakan kedua punggung tangannya. Ia melakukan itu sambil terus menatap Steven.
Steven mengerutkan dahi, menatap cemas wanita di hadapannya. “Kamu enggak apa-apa, kan?” ucapnya dengan nada suara yang terdengar jauh lebih akrab.
Kainya segera mengangguk, menceritakan duduk perkara yang ia ketahui.
Bagi Steven, keputusan Kainya yang mau bercerita padanya, bahkan mulai bergantung padanya, tak lain karena wanita itu sudah mulai percaya bahkan mungkin mengandalkannya.
“Kalau begitu, kita ke kantor polisi dulu. Kita buat laporan mengenai semua yang kamu ketahui berikut bukti-bukti yang kamu miliki.” Steven berbicara dengan intonasi yang jauh lebih tenang.
Kainya mengangguk setuju. Ada kelegaan berikut semangat yang menggebu dan sampai membuat wanita itu terlihat baik-baik saja.
“Iya ... aku punya foto mobil yang Steffy pakai, foto dia saat hendak kembali menabrak mobil Kimo dan Rara. Semuanya cukup jelas! Aku pasti bisa melawan ketakutan ini agar aku juga bisa memberikan pelajaran kepada Steffy!” batin Kainya.
Steven menanggapinya dengan mengangguk pelan.
“Aku akan membuktikan semua kejahatan Steffy! Aku pasti bisa melawan ketakutan ini karena aku baik-baik saja, dan aku juga tidak gila!” batin Kainya.
“Kai, mulai sekarang tolong ingat. Kalau kamu ingin memberikan yang terbaik buat orang lain, kamu juga harus lebih baik buat diri kamu dulu.” Steven mengatakan itu sambil menatap dalam Kainya yang seketika itu juga menjadi terdiam balas menatapnya.
Bersambung ....
Ada yang mengalami ketakutan berlebihan seperti Kainya juga? Coba dibawa lebih santai, ya. Lawan ketakutan itu dan usahakan, kalau kita ingin memberikan yang terbaik buat orang lain, kita juga harus lebih baik buat diri kita sendiri, dulu. Karena kalau kita sudah baik, yang kita usahakan pasti akan lebih baik.
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1