Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 52 : Obat Cantik?


__ADS_3

“Sampai kapan pun, kalau berebut istri, di mana-mana yang akan memenangkannya ya suaminya.”


Bab 52 : Obat Cantik?


Kim Jinnan merasa ada yang aneh dengan gerak-gerik Pelangi yang bahkan terus saja menunduk. Jika karena ngantuk, tentu tidak mungkin juga terus menunduk dan sampai berjalan cepat meninggalkannya, kan?


Sambil berjalan menyusul Pelangi yang sudah menunggu di seberang pintu kemudi, ia pun berkata, “Ngie ... kalau ada yang mau dibeli, beli saja. Apa salahnya makan chiki? Makan chiki ya enggak apa-apa. Yang apa-apa itu makan batu apalagi beling. Asal jangan berlebihan.”


“Buktinya, aku sering makan chiki, sampai sekarang masih hidup. Sehat-sehat saja?” lanjut Kim Jinnan lantaran Pelangi hanya diam.


“Sudah cepet. Ya Alloh, Kim Jinnan ....”


Pelangi yang uring-uringan, kembali membuat Kim Jinnan bingung. Kim Jinnan segera menekan tombol buka di kunci yang ia pegang. Dan detik itu juga, Pelangi bergegas masuk.


“Pasti aku salah lagi!” pikir Kim Jinnan yakin. “Kayaknya aku selalu salah, deh ...,” ucap Kim Jinnan yang mulai mengambil posisi untuk duduk.


Kim Jinnan meletakkan kantong kecil belanjaannya di pangkuan Pelangi.


“Ya ampun, Kim Jinnan! Aku marah gara-gara ini!” omel Pelangi yang sampai gemetaran, hingga tak kuasa menyingkirkan kantong belanjaan sang suami yang sebagian isinya sampai keluar, terkapar di pangkuannya.


“Pantes,” balas Kim Jinnan yang untuk kali ini mencoba mengabaikan kemarahan Pelangi. Ia segera menyalakan mesin mobilnya dan mengemudi dengan hati-hati.


Kemarahan Pelangi yang sampai ingin menerkam Kim Jinnan hidup-hidup, mendadak membuat gadis itu bingung. “Jinnan beli ini ... sebanyak ini ... dengan kata lain, dia enggak mungkin bisa nunggu sampai tiga tahun?” pikirnya.


“Lagian kamu enggak kira-kira sampai borong semuanya kayak mau jualan!” semprot Pelangi, tetapi dengan kenyataan yang tidak semeledak-ledak seperti sebelumnya.


“Itu bakalan jadi kebutuhan kita, Ngie. Aku beli banyak ya sekalian buat stok. Lagian aku bukan beli obat-obatan terlarang. Kita butuh itu!” balas Kim Jinnan berusaha meyakinkan. “Kayaknya kalau aku nyebut nama barangnya pun, kamu langsung marah ...?”


“Ih ... Kim Jinnan!” Pelangi yang sampai memunggungi Kim Jinnan, menjadi menekap kuat-kuat telinganya menggunakan kedua tangan.


“Ayo, kita bahas. Mulai sekarang, kita harus saling jujur, lho. Sharing, harus bagaimana?” pinta Kim Jinnan.


“Enggaaak!” balas Pelangi yang masih berseru tanpa mengubah keadaannya.


“Oh, kamu masih bisa dengar? Aku pikir enggak.” Kim Jinnan menjadi menahan tawa, merasa lucu dengan apa yang Pelangi lakukan. Entahlah, kenapa hingga detik ini, Pelangi masih sangat sensitif jika diajak membahas hubungan suami istri yang menjuru ke ranah pribadi.


“Demi Tuhan, aku belum siap. Ya Alloh, ini sih kode keras! Malam ini juga, pasti enggak mungkin bisa menghindar lagi!” uring Pelangi dalam hatinya yang sampai ingin menangis.


“Sharing itu wajib, lho, kalau sudah nikah. Masa iya, aku nikah sama kamu, bahasnya sama tetangga.”


“Ya ampun, Jinnan ... stop stop, jangan bahas itu!”


“Sudah ... sudah, jangan teriak-teriak, nanti tenggorokanmu kering. Kamu ini kebiasaan. Dikit-dikit teriak. Kayak diapa-apain saja,” keluh Kim Jinnan masih dengan tensi yang wajah bahkan terbilang wajar.


Pelangi bingung. Bingung dan benar-benar hanya bingung. Diamnya gadis itu sebenarnya sedang berpikir, apa yang harus ia lakukan jika Kim Jinnan tidak bisa menunggu sampai tiga tahun? Bahkan malam ini juga mereka akan melakukannya?


“Ya Alloh!” batin Pelangi yang benar-benar ingin pingsan saja.


“Surat nikah kita sudah jadi. Kita sudah resmi menikah di depan agama sekaligus hukum. Dan sebulan lagi, kita akan menggelar resepsi.” Kim Jinnan berusaha menjelaskan perihal hubungan mereka kepada Pelangi, sesederhana mungkin.


“Kamu tahu apa yang aku maksud, kan?” lanjut Kim Jinnan.


Pelangi menyerah. Pelangi menurunkan kedua tangannya dari telinga. Dengan perasaan campur aduk, ia memberanikan diri untuk bersikap sekaligus menyikapi kebersamaan mereka dengan lebih tenang.


“Jinnan ... aku masih belum siap?” ucap Pelangi yang terdengar sangat pasrah.


“Apa yang membuatmu belum siap? Kita pakai itu dan enggak mungkin juga bisa sampai hamil, kan?” balas Kim Jinnan yang kali ini telah menepi di depan gerbang rumah Pelangi.


Pelangi menghela napas dalam. “Aku saja enggak tahu kenapa? Mana mungkin aku jelasin ke kamu?” uringnya. Mereka akan memasuki rumah seiring satpam rumah yang membukakan gerbang untuk mereka.


“Makasih, Pak!” ucap Kim Jinnan yang sampai berseru dari kaca jendela yang dibuka.


Gaya Kim Jinnan terbilang merakyat meski kadang, di mata Pelangi suaminya itu sangat mesum. Dan Pelangi yang masih saja bingung perihal apa yang akan terjadi setelah ini, berangsur mengemasi barang lucnut yang bahkan masih membuatnya merinding.


“Sebanyak ini? Ini jumlahnya lebih dari sepuluh paket. Iiihh!” batin Pelangi yang benar-benar masih merinding.


“Ini gimana bawanya?” ujar Pelangi yang sebenarnya menjadi merasa sangat malu hanya karena membahas hal tersebut.

__ADS_1


“Ya dibawa. Masa iya disebar? Sini, biar aku yang bawa,” balas Kim Jinnan.


“Papa sama mama pasti belum tidur. Mereka hanya akan tidur setelah semua keluarga di rumah. Mereka pasti tanya kita habis beli apa, dan enggak mungkin juga kita jujur.” Pelangi tertunduk pasrah. Namun tiba-tiba ia memiliki ide untuk meleoas sweater yang dikenakan.


Sesuai apa yang dipikirkan, Pelangi melepas sweater yang dikenakan dan menggunakannya untuk membungkus kotak-kotak itu yang masih saja membuat Pelangi merinding. Dan setelah semuanya masuk, Pelangi kembali mengantonginya.


Diam-diam, Kim Jinnan yang memperhatikan Pelangi menjadi mesem menertawakan ulah gadis itu. “Ngi-ngie begini karena dia masih sangat polos,” pikirnya.


***


Seperti apa yang Pelangi duga, Yuan dan Keinya belum tidur. Keduanya masih terjaga di televisi yang masih menyala. Dan kenyataan tersebut membuat Pelangi sangat tegang. Pelangi merasa tak beda dengan pencuri yang diam-diam menyelinap sebelum melakukan aksinya.


“Malam, Mah ... Pah ...?” sapa Kim Jinnan.


Sedangkan yang terjadi pada Pelangi, gadis itu hanya menunduk dengan kantong berisi bungkusan sweater yang sampai Pelangi kendalikan menggunakan kedua tangannya, di depan perut.


“Hei ... kalian sudah pulang?” sapa Keinya yang menoleh lebih dulu diikuti oleh Yuan yang melakukan hal serupa.


“Ya sudah, kalian istirahat. Selamat istirahat, ya,” tambah Yuan.


“Padahal sesederhana ini. Tapi ya aku tetap saja tegang!” batin Pelangi yang kemudian berseru, “selamat malam, Pa ... Ma ... selamat istirahat.”


Lepas dari Yuan dan Keinya, bukan berarti membuat Pelangi baik-baik saja. Sebab kini, setelah tidak bersama siapa-siapa dan hanya berdua dengan Kim Jinnan, dengan kata lain, masalah sesungguhnya sudah ada di depan mata! Masalah yang bahkan sulit untuk Pelangi mengerti sekaligus jelaskan.


Pelangi masuk kamar dengan tergesa tanpa menunggu Kim Jinnan. Ia melemparkan asal kantong belanjaan yang dibawa, ke tengah-tengah tempat tidur. Dan setelah itu, ia bergegas masuk kamar mandi.


Kim Jinnan yang mengamati apa yang Pelangi lakukan, mengikuti kepergian gadis itu sembari menatap kantong belanjaan yang baru saja Pelangi lempar ke tempat tidur. Dan di kamar mandi, Pelangi sedang menggosok gigi di wastafel yang sampai disertai hamparan cermin berikut lampu hias yang menyala terang.


“Ngie ... jangan marah-marah terus kenapa?” tegur Kim Jinnan yang kemudian menghampiri Pelangi.


“Aku juga enggak mau kalau waktuku terus diisi marah-marah. Tapi ya enggak tahu juga, kenapa aku selalu saja ingin marah-marah kalau tingkahmu sudah melenceng!” balas Pelangi dengan mulut yang masih dipenuhi busa pasta gigi.


“Memangnya aku melenceng ke mana, sampai kamu sekesal itu?” balas Kim Jinnan masih menanggapi Pelangi dengan sabar.


Kim Jinnan segera mengambil posisi di sebelah Pelangi. Pertama-tama, Kim Jinnan mencuci tangan menggunakan sabun, kemudian membasuh wajahnya menggunakan sabun khusus juga. Selanjutnya, ia meraih sikat gigi dan kemudian memolesinya menggunakan pasta gigi yang diambilkan oleh Pelangi.


“Makasih!” ucap Kim Jinnan dengan cerianya.


“Masih mau marah-marah lagi?” ujar Kim Jinnan sambil menggosok gigi dan menatap Pelangi melalui cermin di hadapan mereka.


Pelangi yang sedang berkumur pun terdiam untuk beberapa saat, menatap Kim Jinnan. Dan tak lama setelah itu, ia segera menggeleng kemudian memuntahkan air kumur di dalam mulutnya.


Pelangi tak langsung pergi meski ia sudah beres sikat gigi. Ia meraih bandana dari deretan keperluan produk wajah yang tersimpan diranjang khusus, dan bersiap mencuci wajahnya.


Mungkin sekitar lima menit kemudian, Pelangi dan Kim Jinnan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sama-sama terlihat cerah. Hanya saja, kehadiran Zean yang sudah ada di tengah-tengah kasur mereka sambil mendekap bantal guling kecil milik bocah itu sukses membuat keduanya ketar-ketir. Apalagi, Zean sudah membuka kantong berikut sweater yang membungkus belanjaan mereka.


“Celaka! Jinnan, kamu enggak kunci pintunya?!” desis Pelangi yang sampai mendelik.


Kim Jinnan hanya diam dan bahkan sampai tidak bisa berkata-kata. Hanya sesekali menelan ludah, dan sesekali melirik Zean, saking bingungnya. Lain halnya dengan Pelangi yang langsung lari menghampiri Zean. Pelangi segera meraih setiap bingkisan yang tengah Zean amati satu persatu.


“Ngi-ngie ... itu tadi apa? Kok gambarnya dewasa banget begitu? Alat ... ko--” ucap Zean dengan polosnya, tetapi Pelangi sudah menjerit-jerit.


“Jangan dilanjutkan, Zean. Ini obat!” tepis Pelangi yang baru saja berhasil merebut semuanya.


“Obat, ... obat apa sampai gambarnya dewasa gitu? Sejak kapan Ngi-ngie suka yang dewasa-dewasa kayak Mo? Mo juga gitu, suka yang dewasa. Aku lihat di ponselnya banyak yang dewasa.” Zean bercerita sambil menatap penasaran Pelangi.


Pelangi yang sampai menggeragap, saking bingungnya, segera menatap Kim Jinnan. “Jinnan!” panggilnya lirih.


Kim Jinnan segera menghampiri kebersamaan, meski hingga detik ini, Kim Jinnan bingung harus berbuat apa?


“Ngie ...?” tagih Zean yang memang baru akan berhenti bertanya setelah mengetahui semua yang diinginkan.


“Itu obat Ngi-ngie, Zean,” ucap Kim Jinnan berusaha memberi pengertian.


Berbeda dengan Pelangi yang tidak bisa tenang dan cenderung marah-marah, Kim Jinnan bisa menyikapi masalah dengan tenang. Pria itu berangsur merengkuh dan memangku tubuh Zean.


“Obat Ngi-ngie? Kenapa Ngi-ngie pakai obat bergambar dewasa seperti itu?” Zean benar-benar masih penasaran. Ia menatap Kim Jinnan dan Pelangi silih berganti.

__ADS_1


“Ini obat biar aku tambah cantik. Sudah jangan dibahas,” balas Pelangi yang lagi-lagi mengomel.


Pelangi menyimpan sekantong obat tambah cantik itu di laci lemari bagian atas dan tidak mungkin bisa dijangkau Zean lagi.


“Tambah cantik bagaimana, sih, Ngie ...? Kamu kan sudah sangat cantik. Nanti kalau kamu tambah cantik, Jinnan makin banyak saingan!” ujar Zean yang kali ini menegur.


“Apa-apaan, sih, kamu masih kecil sudah tahu yang cantik-cantik!” omel Pelangi yang kali ini duduk di hadapan Zean kemudian mengacak-acak kepala bocah itu hingga susunan rambut Zean menjadi berantakan.


“Sampai kapan pun, kalau berebut istri, di mana-mana yang akan memenangkannya ya suaminya. Kamu tenang saja. Ngi-ngie enggak mungkin pindah kelain hati.” Kim Jinnan berusaha meyakinkan Zean.


Meski hampir kembali memarahi Kim Jinnan, tetapi melihat Zean yang sampai menengadah hanya untuk menatap Kim Jinnan, di mana bocah itu juga terlihat langsung mengerti, Pelangi pun tak jadi marah.


“Tapi omong-omong, yang suka sama Ngi-ngie siapa saja, sih, Zean?” tanya Kim Jinnan sambil menatap serius Zean.


“Banyaklah! Apalagi kalau kita jalan-jalan. Selalu saja ada yang deketin Ngi-ngie bahkan minta restu langsung ke papa mama!” terang Zean.


“Gosip saja terus ... terus lanjut terus, sampaingang sebelah!” cibir Pelangi yang memilih mengakhiri kebersamaan. Pelangi meringkuk membelakangi kebersamaan sambil mendekap sebuah bantal guling.


Dan Kim Jinnan benar-benar abai. Sebab ia sangat penasaran dengan rejam jejak pria-pria yang sempat mendekati istrinya.


“Tapi dari semuanya, yang paling berjuang ya si kembar Mo dan Rafa. Kakaknya Aurora!” lanjut Zean.


“Zean, ... Jinnan capek sudah seharian kerja. Mending kamu sama Dean saja, ya?” bujuk Pelangi yang sampai kembali bangun.


“Si Dean masih pacaran sama si Kishi. Lagi video call mereka, Ngie!” balas Zean yang kali ini mengeluh.


Kim Jinnan menghela napas dalam. Dan Pelangi yakin, bersamaan dengan itu, Kim Jinnan juga sudah mengambil keputusan.


“Ya sudah. Kita tidur di sini, ya?” ujar Kim Jinnan yang kemudian mencoba merebahkan tubuh Zean ke tengah-tengah kasur.


“Aku enggak suka tidur di kasur, enggak enak,” keluh Zean.


“Tidur di kasur lebih nyaman, Zean. Coba kamu biasakan. Dan tidur di kasur juga jauh lebih aman untuk kesehatan.” Kim Jinnan menahan Zean agar bocah itu tidak bangun. Sebelah tangannya masih bertahan di dada Zean.


Melihat Kim Jinnan yang seperti sekarang, hati Pelangi menjadi berdesir hangat. Dan Pelangi menyadari jika rasa sayangnya kepada sang suami sampai menjadi bertambah. Terlebih, dari semuanya, hanya Jinnan yang bisa meluluhkan hati Zean. Bahkan mungkin karena itu juga, Pelangi menginginkan Kim Jinnan selalu ada dalam hidupnya, terlepas dari Tuhan yang sampai menghendaki mereka selalu bersama.


“Ini enggak apa-apa, aku tidur di tengah? Dean bilang, aku enggak boleh ganggu kalian, karena kalian sudah menikah?” tanya Zean.


“Sudah, enggak apa-apa. Ngi-ngie juga sudah ngantuk tuh. Aku juga sudah ngantuk. Ayo kita tidur.” Kim Jinnan tak hentinya mengelus kening Zean.


“Iya, tidur di kasur enak,” ucap Zean yang sudah terpejam.


Pelangi dan Kim Jinnan yang mendengarnya pun menjadi tersenyum kendati keduanya masih sama-sama terpejam. Namun tak lama setelah itu, Kim Jinnan berangsur membuka matanya. Ia sedikit bangun dan melayangkan ciuman di kening istrinya.


Pelangi pun berangsur membuka matanya. “Tidur,” ucapnya.


“Ngie ... punya kayak gini. Satu, saja ...,” pintanya.


“Ji-jinan!” keluh Pelangi


“I-iya ... iya. Kamu mau fokus kuliah. Aku mengerti,” balas Kim Jinnan masih dengan suara lirih dan kemudian kembali mendaratkan ciuman di kening sang istri.


Sebelum ciuman yang Kim Jinnan lakukan benar-benar berakhir, Pelangi membingkai wajah suaminya menggunakan kedua tangan. Tentu, kenyataan tersebut sukses membuat Kim Jinnan tegang sekaligus bingung.


Namun ketika Pelangi sampai melayangkan kecupan lembut berulang kali di bibir Kim Jinnan, pria itu tak lagi merasa bingung apalagi tegang. Melainkan bahagia bahkan sangat bahagia.


“Kamu benar-benar sengaja menggodaku. Ayo kita lanjutkan!” tegas Kim Jinnan yang menjadi tidak bisa mengontrol dirinya dan mengambil alih keadaan.


“Jinnan, ada Zean!” pekik Pelangi sembari menahan geli lantaran ciuman Kim Jinnan sudah berseluncur menjamahi leher berikut telinganya.


“Diam saja! Kalaupun dia tahu, dia pasti akan pura-pura tidak tahu.” Kim Jinnan, yang awalnya akan kembali mencium bibir Pelangi, menjadi tertawa sendiri hanya karena ucapannya. Hal yang juga membuat Pelangi terkikik.


“Jinnan, sudah. Jangan dilanjutkan. Tidurlah,” lirih Pelangi sembari merengkuh kepala Kim Jinnan dan menyemayamkannya di sebelah lehernya.


“Sepertinya, emosi Ngi-ngie sedang sangat baik,” batin Kim Jinnan seiring rasa damai yang menguasai kehidupannya.


Bersambung ....

__ADS_1


Author masih takut dosa, yaaa, apalagi bulan puasa, jadi enggak bakalan nulis adegan berlebihan 😂😂😂 😅😂😂😂. Maaf maaf banget 😂😂


BTW, buat kalian yang mengikuti cerita : Perfect Pasutri (Menjadi Istri Tuanku Season 2), di lapak sebelah dan merupakan kelanjutan dari cerita Menjadi Istri Tuanku, nanti kalau yang masukin ke daftar bacaan favorit sudah tembus 500 love, Author mau bagi-bagi pulsa untuk 2 orang pemenang. Enggak banyak, sih. Hanya masing-masing 25K. Buat member yang paling aktif komen pokoknya 😂😂😂.


__ADS_2