
“Kei, balas dendam nggak harus bikin kita jadi keji kayak mereka. Balas dendam cukup jadi orang lebih baik serta memiliki kehidupan yang jauh lebih bahagia.”
Bab 27 : Hukuman
Dengan kedua lesung pipit yang menghiasi wajahnya, Yuan tak hentinya tersenyum. Pria itu begitu antusias selain terlihat sangat bahagia. Tak beda dengan anak kecil yang tidak sabar mendapatkan hadiah setelah sampai harus menjalani rintangan terlebih hadiah yang akan didapatkan juga sangat didambakan. Begitulah yang Keinya tangkap dari keadaan pria di hadapannya. Pria itu duduk dengan mencondongkan tubuh ke arahnya. Bahkan mata sipit Yuan seolah hanya ditakdirkan untuk memperhatikannya.
Kalian tahu bagaimana groginya terus diperhatikan lawan jenis yang terang-terangan mengakui perasaan cinta kepada kalian, sementara kalian juga mulai membuka hati kepada yang bersangkutan? Begitulah yang Keinya rasakan. Wanita itu nyaris kalah telak. Karena meski Keinya bersikap biasa-biasa saja, rasanya ia tidak akan bisa melakukannya dalam waktu yang lebih lama apalagi Yuan juga terus memperhatikannya.
“Ini adalah obrolan pertama kita sebagai pasangan!” Yuan mengatakannya dengan gaya yang begitu tenang. Aura bos besar terpancar begitu kuat darinya.
Keinya menatap Yuan dengan pandangan tak mengerti. “Pasangan?” desisnya tidak yakin. Barusan Yuan menyebut hubungan mereka pasangan, atau ia hanya salah dengar? Atau jangan-jangan, pria itu justru sedang berusaha menjebaknya? Lihatlah, tampang Yuan berubah menjadi jail. Pria itu menyeringai seperti sengaja menertawakannya.
Yuan tersipu sambil mengusap hidung hingga dagunya dalam gerakan melingkar.
Mendapati itu, Keinya hanya bisa menggeleng tak habis pikir, meski setelah itu, hati dan jantungnya justru berdebar-debar. Bahkan Keinya takut ada senyum di wajahnya atas rasa bahagia yang tengah ia rasa karena pengakuan Yuan.
“Pasangan?” gumam Keinya mengingat sebutan Yuan di mana senyum geli tiba-tiba saja menghiasi wajahnya. Ia merasa geli pada gaya Yuan dan baginya seperti remaja yang baru mencicipi cinta.
“Kei?”
Yuan menatap Keinya lekat-lekat. Kedua lututnya sengaja ia luruskan ke arah Keinya, menyentuh meja kaca panjang yang menjadi sekat mereka. Ia merasa cukup gugup.
“Aku akan belajar, Yu. Nggak selamanya rasa sayang harus diucapkan, kan? Banyak kok, di luar sana yang tulus mencintai, memilih diam.” Keinya mengatakannya dengan santai.
Yuan menggeleng cepat. “Maksudku bukan untuk itu.” Ia tersenyum lepas dan nyaris terbahak. “Tapi aku sangat berterima kasih karena akhirnya kamu mau membuka hati bahkan mengakuinya kepadaku.”
Seketika itu juga Keinya langsung krisis rasa percaya diri. Harga dirinya seolah langsung terbanting di mana ia juga tak bisa menyembunyikan rasa tidak nyaman itu. Bisa ia pastikan ekspresi wajahnya berubah menjadi datar akibat rasa kesal juga malu yang ia rasakan dalam waktu bersamaan. Apalagi, kini pria di hadapannya jelas-jelas tengah menertawakannya dan bahkan menegaskan kemenangan.
“Apakah semua pria memang berbakat menjebak?” cibir Keinya terdengar putus asa.
Yuan yang tersipu menekap mulutnya menggunakan sebelah tangan. Kemudian sebelah kakinya ia tindihkan di atas kaki sebelahnya.
Keinya mendengkus kemudian melemparkan pandangannya pada hamparan jendela kaca di seberang Yuan. Dikarenakan gorden jendelanya dibuka sempurna, sinar mentari yang baru saja merangkak, masuk menyalurkan banyak kehangatan di area sekitar sana tak sampai kebersamaannya dan Yuan. Tapi Keinya tak semata tertarik pada sinar mentari, melainkan hamparan alamnya di mana seolah-olah pandangannya bisa menatap sangat jauh.
Yuan menoleh ke belakang selaku tujuan pandangan Keinya. Melihat Keinya yang seperti sedang meresapi suasana matahari pagi sekaligus hamparan alamnya, ia berpikir wanita itu merindukan suasana asri alam bebas. Mungkin sejenis pegunungan, pantai, perkebunan atau malah suasana kehidupan pedesaan. Karenanya, diam-diam ia berniat menyusun jadwal liburan ke alam bebas untuknya dan Keinya tanpa terkecuali Pelangi.
Yuan menegakkan punggungnya kemudian berdeham. Hal tersebut langsung berhasil mengalihkan fokus Keinya. Wanita itu langsung menatapnya.
Mata cokelat Yuan masih menyalurkan banyak kebahagiaan kepada Keinya.
“Aku akan memberimu permainan. Jika kamu menang, aku akan memberimu hadiah. Tapi jika kamu kalah, aku juga tak segan memberimu hukuman.”
Tiba-tiba saja Keinya merasa hidupnya berada dalam zona berbahaya. Bahkan baginya, apa yang baru Yuan katakan tak beda dengan ancaman yang bisa dengan mudah menjebaknya.
“Ini bukan jebakan lagi, kan?” Keinya menatap sebal Yuan dan ada sedikit rasa cemas yang turut menyertainya.
__ADS_1
Yuan tergelak. “Ehm ... baiklah. Kenapa harus ghost writer?” Yuan kembali menatap Keinya dengan serius. Tatapan yang benar-benar tenang tanpa ada sedikit pun kejailan.
“Karena penulis juga membutuhkan makan. Kami manusia normal yang memiliki banyak kebutuhan.” Keinya juga menjawab dengan santai.
Karena Yuan masih diam, Keinya pun menambahi. “Ini masalah branding, Yu. Meski sama-sama menghasilkan karya berkualitas, tapi kalau branding-nya kurang, peluang gagal juga tetap besar, apalagi dunia penerbitan juga ladang bisnis.”
Setelah terdiam sejenak, Keinya menambahi. “Aku pikir, hidup memang nggak butuh hal lain kecuali keberuntungan.” Ia mengatakan itu sambil menunduk, menghalau banyak rasa kecewa yang seketika membuatnya tenggelam dalam kesedihan. Baginya, siapa pun dia, baik orang yang berkemampuan bahkan berkedudukan tinggi sekalipun, jika mereka tidak memiliki keberuntungan, tentu apa yang mereka lakukan juga tidak sesuai harapan.
“Kalau harus memilih penerbitan nyata atau jasa ghost writer, mana yang kamu pilih?” ujar Yuan.
“Tentu saja ghost writer. Ghos writer jauh lebih menguntungkan apalagi penerbitan di Indonesia juga sedang loyo karena maraknya pembajakan. Banyak yang berminat menjadi penulis dan menerbitkan karya, tapi minat beli masyarakatnya masih sangat kurang. Belum lagi, pemerintah juga kurang memperhatikan dunia penerbitan termasuk nasib penulis. Ya meski kalau kita jadi ghost writer, di buku cerita yang kita buat nggak ada nama kita melainkan nama orang lain.”
“Tapi itu jauh lebih baik daripada karya yang kita buat dengan susah payah justru nggak ada penikmat bahkan peminat, hanya karena nama kita belum terkenal ....” Keinya teramat menyayangkan kenyataan itu. Bahkan baginya, dunia penulis tak kalah kejam dari profesi terpandang lainnya. Banyak hambatan dan terbilang berat jika mengandalkan biaya hidup hanya dari menulis.
“Tapi di-plagiat juga nggak kalah sakit, kan?” Yuan mengatakannya tanpa menatap Keinya dan sengaja menyindir wanita itu.
Dengan wajah menahan kesal, Keinya berangsur menatap Yuan. Kedua matanya seolah dihiasi kobaran api amarah dan siap membakar Yuan jika pria itu kembali berulah. “Kamu sengaja cari masalah, Yu? Mau ngajak ribut?”
“Ampun, Kei ... aku tuh takut banget sama kamu. Bahkan mama papaku lewat. Kamu yang paling aku takuti.”
“Jangan-jangan kamu ini komplotannya Athan?”
“Hah ...? Komplotan? Sama dia? Ih ... males banget. Dia nggak selevel sama aku, Kei. Beda ... beda jauh ....”
Ekspresi Yuan tak hanya menegaskan keberatan, melainkan tak sudi. Pria itu memasang ekspresi dingin yang begitu memancarkan aura bos besar yang harus sangat disegani. Bahkan kali ini Yuan sampai menepis tatapan Keinya. Namun tak berselang lama kemudian, dengan wajah memelas, Yuan menatap Keinya dan berkata, “sini. Aku masih punya waktu dua puluh menit sebelum seharian bahkan sampai malam, aku bakalan sibuk dengan banyak pertemuan.”
Nada suara Yuan terdengar lirih dipenuhi kesabaran. Kontras dari ketika ia tidak mau disamakan dengan Athan. Dikarenakan Keinya hanya diam, Yuan pun beranjak melangkah menghampiri dan tak segan merebahkan kepalanya di pangkuan Keinya, meski hal tersebut membuat sebagian tubuhnya meringkuk di lantai.
“Ini pertanyaan terakhir,” ucap Yuan masih tiduran dan terpejam.
Menyadari tubuh Yuan tertekuk sedangkan Keinya masih duduk di tengah sofa, Keinya berangsur geser ke ujung sofa sembari menahan kepala Yuan dengan hati-hati. Keinya yakin Yuan kelelahan. Suara Yuan juga mulai terdengar bergetar, terlepas dari kesibukan pria itu beberapa hari terakhir yang membantunya menjaga sekaligus mengurus Pelangi. Karena meski terbilang sepele, tapi terkadang mengurus anak memang melelahkan. Keinya juga kerap tiba-tiba merasa sangat lelah dan tertidur begitu saja, meski ketika ia melihat tumbuh kembang Pelangi, ia kembali merasa sangat bahagia.
Dengan mata yang masih tertutup Yuan berkata, “Kei, di atas meja ada amplop cokelat, kan?”
Amplop cokelat yang seukuran kertas hvs dan merupakan satu-satunya benda di sana. Keinya menatap amplop itu dan mulai bertanya-tanya. Apakah amplop itu berhubungan dengan permainan yang sedang Yuan berikan kepadanya?
“Aku tanya sekali lagi, kalau jawabanmu salah, berarti kamu harus menjalani hukuman seperti yang sudah ditentukan di dalam amplop.”
“S-serius, ini ada hukumannya, dan kamu akan melakukannya padaku?” Kenapa Yuan ternyata kejam? Dia bahkan sudah menyediakan hukuman?
Yuan mengangguk sambil mengedipkan pelan kedua matanya. “Kalau disuruh memilih ghost writer dan punya penerbitan sendiri, kamu pilih yang mana? Ini di luar masalah modal.”
“Ya tetap ghost writer. Aku sudah jelasin kalau kami terkendala di masalah branding. Kecuali kalau penerbitannya menggaet nama-nama penulis yang sedang beken.”
“Baguslah kalau begitu, amplop itu berarti milikmu.” Setelah mengatakan itu, Yuan langsung beranjak.
“Loh kok begitu?” sergah Keinya yang sampai bangkit.
__ADS_1
Yuan balik badan. “Kamu bilang, kamu orang hebat. Tapi masa pertanyaan sederhana saja, nggak bisa kamu jawab?”
“Pertanyaan sederhana apa? Tadi kamu bilang, kalau aku disuruh memilih ghost writer dan punya penerbitan,”
Yuan tiba-tiba saja menahan, “Nah itu. Nggak ada pilihan di pertanyaan tadi, tapi kenapa kamu memilih jadi ghost writer?”
Keinya menggeragap. “Kamu menjebakku lagi ....” Ia terlihat sangat putus asa.
“Aku haus. Aku mau ke dapur dulu.”
Keinya kebingungan dan berangsur menatap amplop di atas meja. Apa isi amplop itu? Ia harus segera memastikannya di depan Yuan agar ketika ternyata isinya jauh dari yang bisa ia lakukan, ia bisa menolaknya detik itu juga! Jadi segera Keinya mengambil amplop itu dan membawanya menyusul Yuan.
“Yu, tunggu. Aku harus memastikan isi amplop ini.”
Yuan menghentikan langkah kemudian balik badan. Keinya berhenti di hadapannya sambil berusaha membuka amplop cokelat yang tadi menghiasi meja.
“Jangan asal kasih hukuman. Jangan-jangan kamu ...?”
Sebuah kartu kredit, buku tabungan, serta beberapa kartu anggota berlogo vip yang seukuran kartu kredit menjadi isi amplop tersebut. Kenyataan yang langsung membungkam kebingungan Keinya.
“Bersenang-senanglah. Itu milikmu. Ajak Rara untuk menemanimu agar kamu merasa lebih nyaman.”
Keinya berpikir, Yuan sengaja memberinya pertanyaan tak masuk akal agar pria itu bisa memberikan amplop itu kepadanya. Bahkan Keinya yakin, kalaupun jawaban lain yang ia berikan untuk pertanyaan Yuan, pria itu tetap memberikan amplopnya.
Yuan berangsur mendekat. Hanya dua langkangkah karena jaraknya dari Keinya memang sangat dekat. Ia menggenggam sebelah tangan wanita itu yang lagi-lagi menepisnya. Bedanya, penepisan yang Keinya lakukan kali ini bukan karena kesal apalagi benci. Wanita itu terlihat gugup sekaligus sedih.
“Besok persidangan pertamamu. Aku ingin melihatmu terlihat semakin cantik. Bukan berarti aku rela membuatmu cantik untuk mantanmu, tapi karena aku ingin menunjukkan bagaimana aku mencintaimu.”
“Harus, ya?” lirih Keinya masih bersedih.
Yuan mengangguk dengan sebelah tangannya yang mengelus kepala Keinya.
“Tapi aku nggak yakin masih sanggup bertemu mereka,”
“Kei, balas dendam nggak harus bikin kita jadi keji kayak mereka. Balas dendam cukup jadi orang lebih baik selain memiliki kehidupan yang jauh lebih bahagia.”
“Pergilah ke Paradise Salon. Bersenang-senanglah di sana. Pelangi juga bisa banyak main di sana. Renang, spa ... kamu atur saja.”
Melihat Yuan yang masih semringah, Keinya menjadi curiga. “Kamu punya rencana lain selain ini?”
Yuan mengangguk. “Aku mengundang selingkuhan mantanmu. Aku juga memberinya kejutan. Kalau kamu mau, kamu bisa membayarkan tagihannya.”
Keinya langsung cemberut. “Kenapa kamu juga mengundangnya?”
“Memangnya siapa lagi yang pantas menerima kupon palsu selain dia?”
Keinya refleks terdiam. Namun ketika ia menatap Yuan lagi, pria itu sudah tergelak.
__ADS_1
“Yu ...?” Keinya benar-benar tak percaya Yuan bisa menjadi orang yang tak kalah keji dari Athan dan Tiara. Namun tetap saja, apa yang Yuan lakukan sangat membuatnya bahagia. Pun ketika pria itu berangsur memeluknya, ia membiarkannya karena otaknya sudah langsung membayangkan apa yang akan terjadi pada Tiara di salon nanti.
😆😆😆😆