Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 2: Kekasih Virtual


__ADS_3

“Aku berpikir jika seseorang telah menyadap ponselmu,”


Episode 2 : Kekasih Virtual


Kim Jinnan balik badan dengan cepat, untuk memastikan apa yang Dean dan Pelangi lakukan selanjutnya. Sungguh sulit dipercaya, orang sekelas Pelangi dan Dean yang notabene anak konglomerat, justru berjalan kaki dan bahkan sampai berhenti di halte bus di ujung sana.


“Mereka sedang belajar hidup miskin? Mereka benar-benar naik bus?” pekik Kim Jinnan sambil tersenyum sarkastis. “Jadi, selama ini, ... Pelangi juga hidup layaknya orang miskin? Naik bus dan semua orang bisa melihat kecantikannta dengan leluasa? Oh my good!”


Kim Jinnan sangat tidak suka jika kenyataan yang baru saja terlontar memang benar. Jika ternyata, selama ini Pelangi yang menjadi kekasih virtualnya itu justru menjalani kehidupan orang biasa. Karena dengan kata lain, orang-orang akan melihat Pelangi dengan kesempurnaan fisik yang dimiliki gadis itu, dengan leluasa.


Akan tetapi, tiba-tiba saja Kim Jinnan juga menjadi mengerutkan dahi. Pria muda yang kiranya berusia dua puluh dua tahun itu merasa penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Yuan Fahreza? Tak hanya mengenai Pelangi kekasih virtualnya yang bahkan sampai tidak mengakuinya, melainkan juga perihal Dean dan Pelangi yang sampai memakai transportasi umum dalam bepergian.


“Aku yakin, keluarga Yuan Fahreza baik-baik saja. Mereka enggak jatuh miskin ... apa jangan-jangan, Pelangi dan Dean justru bosan hidup jadi orang kaya?” pikir Kim Jinnan.


“Baiklah, ... aku akan mencari tahu lebih jauh lagi,” gumam Kim Jinnan kemudian. “Kita pergi. Kita kembali ke kantor,” tegasnya sambil kembali mengenakan kacamata hitam tebalnya.


Kedua pengawal Kim Jinnan segera membungkuk sopan. Setelah membiarkan Kim Jinnan melangkah lebih dulu, keduanya segera berpencar. Satu membukakan pintu untuk Kim Jinnan, satunya lagi langsung berlari memutari mobil bagian depan dan segera bersiap di balik kemudi. Kim Jinnan duduk di kursi bagian penumpang seorang diri. Sedangkan pengawal yang sempat membukakan pintu berikut menutupkannya, segera duduk di sebelah kemudi.


Mobil memang sudah meluncur sesuai titah Kim Jinnan. Mereka akan kembali ke kantor karena Kim Jinnan juga harus kembali bekerja. Hanya saja, otak dan hati Kim Jinnan justru tak hentinya memikirkan Pelangi. Gadis cantik yang memiliki sorot mata polos itu sukses menghanyutkan dunianya.


“Pelangi ... dia begitu cantik. Bahkan lebih cantik dari foto dan semua video yang dikirimkan. Namun, ... kenapa dia sampai tidak menganggapku? Ah ... tidak-tidak. Bahkan Pelangi terkesan tidak mengenaliku?” pikir Kim Jinnan yang sampai kembali melepas kacamata hitamnya saking bingungnya.


Tangan kanan Kim Jinnan yang sampai menahan kacamata, juga menjadi bertopang pada pintu sebelahnya. Di mana tak lama setelah itu, ia juga sampai menggigit telunjuk jari kanannya. Sial, bukannya menemukan jawaban, pikirannya justru hanya dipenuhi wajah Pelangi.


“Bisa-bisanya seperti ini?” Kim Jinnan mengumpat dalam hati. “Kalau Pelangi memang sudah nyata begitu sih, aku mau-mau saja nikah sekarang. Masalahnya, selain Pelangi masih sekolah, dia juga enggak menganggap hubungan kami! ... apa, efek kelabilan abege? Pelangi masih labil dan sengaja menunggu keseriusanku menemui orang tuanya?”


Kim Jinnan benar-benar merasa kesal. “Hallo, Kim Jinnan? Sadar! Sejak kapan kamu menjadi seperti ini? Ingat, ... setia dan jatuh cinta tidak seharusnya ada dalam hidupmu, karena kamu bisa memiliki semuanya dalam hitungan detik! Kamu bisa mengencani banyak wanita sekaligus!” umpat Kim Jinnan dalam hatinya.


Demi meredam kekesalan lantaran tiba-tiba ingin setia dan hanya mengejar sekaligus mencintai Pelangi saja, Kim Jinnan buru-buru mengenakan kacamata hitamnya. Dan dengan dahi yang menjadi berkerut, Kim Jinnan menoleh ke samping kanannya.


“Anehnya, kenapa dari semua wanita yang ditemukan di obrolan WA-ku, justru Pelangi yang kakek pilih untuk segera kunikahi!” Kim Jinnan kembali mengumpat dalam hati, menyalahkan semua yang telanjur terjadi. Tentang dirinya yang sebenarnya tidak benar-benar tulus hanya mencintai Pelangi. Sebab di balik itu, Kim Jinnan memiliki kebiasaan yang semenjak SMP tidak bisa ditinggalkan. Wanita cantik terlebih seksi, tanpa memandang perbedaan di antara mereka termasuk perbedaan usia.


***

__ADS_1


Dean menatap khawatir Pelangi yang menjadi terdiam sedih. Wajah cantik yang selalu dipenuhi keceriaan itu begitu tidak bersemangat.


“Anehnya, ... kenapa dia bisa chating sama aku, sedangkan aku enggak merasa pernah chating sama dia? Bukti-buktinya ada dan nyata.”


“....”


“Nggak sekadar foto dan videoku kalau lagi nge-vlog buat koleksi pribadi, tetapi juga pesan mesra.”


Dean masih diam tanpa memberikan komentar.


“Pantas saja, ...papa sama mama anti main aplikasi media sosial, ya, De?”


“De ... jangan diam saja dong ... tolong kasih saran ....”


“Aku enggak percaya sama pria itu. Percayalah, enggak akan ada yang percaya sama pria itu tanpa terkecuali.” Dean menatap Pelangi penuh keyakinan sambil merangkul punggung gadis itu.


Dean menepuk-nepuk punggung Pelangi dan berusaha menyalurkan semangat tanpa terkecuali perihal senyum lepas yang kali ini turut ia suguhkan.


Namun, bukannya bahagia atau setidaknya menjadi jauh lebih tenang, Pelangi justru menghela napas lelah sambil cemberut dan bahkan berangsur menunduk.


“Salah siapa, kamu hanya mau senyum, kalau aku justru sedang sedih begini,” keluh Pelangi.


Mendengar itu, Dean refleks menelan ludah dan mengakhiri senyumnya. Ia juga tak lagi menatap Pelangi dan memilih menyibukkan diri utuk mengamati suasana jalan yang terbilang ramai lancar.


“Senyumku kan mahal, Ngie ... dan enggak semua orang bisa bikin aku senyum.”


Pelangi melirik Dean dengan tatapan sebal. “Bahkan papa enggak sepelit itu?”


“Papa ya papa ... aku ya aku!” balas Dean cepat sambil menatap Pelangi penuh keteduhan.


Bagi Dean, dirinya dan Pelangi ibarat dua buah mata pada uang logam yang tidak bisa dipisahkan apa pun yang terjadi. Jadi, ketika ada salah satu dari mereka yang terluka, ... Pelangi sampai terluka, Dean juga akan terluka bahkan merasa jauh lebih terluka.


“Tapi omong-omong ....” Tatapan Pelangi kembali kosong.

__ADS_1


“Enggak boleh takut, Ngie ... bukankah kamu jauh lebih jago kalau sudah menyangkut IT? Atau kalau tidak, kamu minta bantuan ayah Athan saja, buat urus ini? Ayah Athan kan pawangnya masalah IT?” ujar Dean memberi solusi.


Ada angin segar yang detik itu juga seolah menggantikan kesuraman di pikiran Pelangi hanya karena pusing memikirkan sosok Kim Jinnan. Benar kata Dean, kenapa Pelangi tidak meminta bantuan Athan saja dalam mengurus dakwaan yang Kim Jinnan tujukan?


“Tapi kamu jangan cerita-cerita mengenai masalah ini sama siapa pun, apalagi sama papa-mama, ya, De?” sergah Pelangi kemudian.


Pelangi menahan sebelah lengan Dean yang sampai ia guncang sambil menatap pemuda itu dengan sangat berharap.


Tanpa menatap, Dean yang menghela napas pelan pun berujar, “meski aku enggak cerita, kalau kamu tiba-tiba murung begini, semua orang apalagi papa-mama pasti curiga, Ngie! Jangankan papa-mama, si kresek Zean pasti bakalan nyerocos kayak wartawan!”


“Iya juga, sih ...,” lirih Pelangi yang kembali terdiam dan merenung.


Saking bingungnya, Pelangi menjadi mendekap lengan Dean lebih erat kemudian menyandarkan kepalanya di pahu sang adik.


Tanpa menatap Pelangi, sebelah tangan Dean yang bebas, berangsur mengelus kepala gadis itu dari depan. “Naik bus enak, ya, Ngie ...? Ke depannya kita naik bus terus saja sekalian ajak si kresek Zean, biar dia bisa merasakan hidup menjadi orang miskin, seperti cita-citanya.”


Ujaran Dean sukses menepikan Pelangi dari kesedihan. Pelangi sampai terkikik hanya karena teringat perihal cita-cita Zean yang baru saja Dean bahas. Menjadi orang miskin—cita-cita terbesar Zean yang sampai detik ini belum bisa dikabulkan oleh Keinya maupun Yuan, yang selalu bisa memberikan segalanya. Namun sepertinya kesulitan dan hidup miskin menjadi satu-satunya hal yang tidak bisa Yuan berikan.


Beberapa jam yang lalu, sopir yang biasanya mengantar-jemput Pelangi dan Dean memang izin karena istrinya akan melahirkan. Jadi, Pelangi dan Dean memanfaatkan keadaan tersebut untuk menikmati fasilitas kehidupan biasa. Menjadikan bus sebagai transportasi nyatanya jauh lebih mengasyikan dari ketika mereka harus menikmati antar-jemput mobil mewah.


“Aku berpikir jika seseorang telah menyadap ponselmu,” tebak Dean tiba-tiba.


Mula-mula, Pelangi hanya terkesiap. Namun gadis itu berangsur menarik kepalanya dari bahu Dean.


“Siapa?” tanya Pelangi penasaran.


Dean, dengan wajah seriusnya, masih fokus menatap ke depan. Bagi Pelangi, adiknya itu memang misterius. Lebih sulit dimengerti daripada sosok Zean yang selalu bosan menjadi sempurna. Entah apa yang akan terjadi pada Mentari adiknya. Sebab, kedua kakak kandung Mentari saja, yaitu Dean dan Zean, tumbuh menjadi pribadi yang sangat berbeda. Bahkan tak jarang, Pelangi sampai berpikir jika adik-adiknya terlalu kebanyakan hormon yang membuat mereka sempurna, sedangkan mereka bosan mendapatkan semuanya.


Namun, jika memang benar ada yang menyadap ponsel Pelangi, siapa pelakunya? Siapa dalang dari semua yang membuatnya menjadi kekasih virtual pemuda aneh bernama Kim Jinnan?


Bersambung ....


Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa 💝

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2