
“Maafkan aku yang terlalu munafik. Maaf karena aku terlalu gengsi untuk mengatakan perasaanku kepadamu.”
Bab 15 : Munafik
“Ma, mama Kimi dibawa ke Singapura,” ucap Pelangi ketika mobil yang membawa Kim Jinnan dan kakek Jungsu, baru saja meninggalkan pelataran rumah mereka.
Keinya dan Yuan yang berdiri mengapit Pelangi, langsung mengernyit, menatap Pelangi penuh kepastian.
“Dibawa ke Singapura bagaimana?” tanya Keinya.
Yuan yang menyikapi cerita Pelangi dengan serius, segera merangkul punggung gadis itu. “Kita bicarakan di dalam saja.”
Keinya mengangguk setuju perihal ucapan Yuan.
“Sepertinya memang mau lahiran di sana?” ujar Pelangi mengira-ngira. “Tapi entahlah, ... tadi sih, Dean langsung telepon Kishi.”
Keinya yang menyimak berangsur menghela napas Pelan. “Ya sudah, kamu tidur, ya.” Ia mengelus kepala Pelangi kemudian mencium kening gadis itu.
Pelangi segera mengangguk dan balas mencium sebelah pipi Keinya, kemudian sebelah pipi Yuan. “Selamat malam, Ma ... Pa ....”
“Selamat malam Sayang, mimpi indah, ya.” Keinya masih mengulas senyum, melapas Pelangi dengan tatapan penuh cinta.
Pelangi berlalu dari kebersamaan menaiki anak tangga menuju lantai atas.
“Tidak ada yang harus dikhawatirkan lagi, kan?” ucap Yuan sambil merangkul Keinya.
Keinya kembali menghela napas pelan seiring dahinya yang menjadi dihiasi kerut tipis. “Apakah Tuhan masih ingin menegur Athan, ya, Yu?”
“Maksudmu?” Yuan menganggapi pernyataan Keinya dengan serius.
“Iya. Dulu, saat aku melahirkan Pelangi, aku dan Pelangi sama-sama hampir mati dan di situ hanya Rara yang terjaga untukku. Rara bahkan hampir gila karena mengurus kami seorang diri. Dan sekarang? Athan ... dari saat Kimi persalinan Kishi, kamu tahu berapa lama prosesnya, kan? Penuh drama ... dan yang sekarang sampai ke Singapura?” Keinya merasa prihatin.
“Jangan terlalu dipikirkan. Dikhlaskan saja. Toh, Dean juga menyukai Kishi, dan sekarang, semuanya juga sudah baik-baik saja.” Yuan berusaha meyakinkan sambil menuntun Keinya menuju kamar mereka dengan rangkulan mesra.
“Aku rasa ... cinta anak-anak akan cukup rumit,” lanjut Keinya.
Dan lanjutan Keinya sukses membuat Yuan mesem. “Aku sudah tidak sabar menunggu Zean dewasa. Dia benar-benar menggemaskan!”
__ADS_1
Kali ini giliran Keinya yang mesem bahkan sampai menahan tawa. Zean anak mereka memang sangat menggemaskan. Entah dengan Mentari yang belum menunjukkan tanda-tanda seperti Zean yang selalu ingin tampil cepat dewasa.
***
Di kamar, Pelangi yang sedang menyikat giginya menjadi terusik atas dering tanda pesan masuk yang menghiasi ponselnya. Dan Pelangi segera memastikannya yang ternyata pesan dari Kim Jinnan. Pelangi yakin itu nomor baru Kim Jinnan, mengingat pesan yang dikirim berisi bukti tangkap layar dari sebuah ponsel yang menjadikan foto Pelangi sebagai wallpaper.
-Enggak hanya ponselku yang pakai wallpaper foto kamu. Karena otak sama hatiku juga sudah dipenuhi kamu-
Tulis di keterangan pesan tersebut. Pelangi tersenyum sarkastis. Ia segera menggigit sikat di dalam mulutnya sedangkan kedua tangannya langsung sibuk mengetik balasan untuk Kim Jinnan.
Pelangi : Bukannya tersentuh, aku justru langsung mual!
Kim Jinnan : Topcer dong, belum apa-apa langsung jadi
Pelangi : Sudah mesum. sinting lagi! Dasar orang gila!
Kim Jinnan : Enggak apa-apa aku gila, ... yang penting aku sayang sama kamu
Pelangi : Sekali lagi kamu berani goda-goda aku banting besok kalau ketemu!
Kim Jinnan : Berarti, besok kamu memang pengin ketemu aku, ya? Ya ampun, Ngi-ngie ... baru juga ketemu sudah secepat itu kangennya?
“Oke, ... seenggaknya Jinnan cukup berguna untuk melindungi hubungan Mofa sama Rafa,” pikir Pelangi yang kembali menyimpan ponselnya di saku depan perut, kemudian melanjutkan menyikat giginya.
Ketika Pelangi bersiap tidur dan baru saja akan menaruh ponselnya di nakas sebelah tempat tidur, ponselnya kembali berdering. Dan ternyata, itu pesan dari Kim Jinnan.
Kim Jinnan : Baiklah, aku mencintaimu. Selamat malam, Ngi-ngie.
Pelangi menghela napas seiring rasa lelah yang detik itu juga menyelimutinya. “Mau sampai kapan dia begini?”
Pelangi merasa tertekan lahir dan batin. Gadis itu memilih meringkuk kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Di usianya yang masih sangat muda dan bahkan ia ingin fokus menikmatinya, ia justru harus menghadapi play boy sekelas Kim Jinnan yang mengaku tobat hanya untuk mencintai Pelangi.
***
“Aku baik-baik saja. Kenapa kamu begitu mencemaskanku?” balas Kishi dari seberang ketika akhirnya telepon yang Dean lakukan mendapat jawaban.
Dean masih terduduk di depan laptopnya kendati saat ini, layar laptopnya tak lagi menyala.
__ADS_1
“Jangan membuatku berharap lagi karena aku sedang belajar untuk melupakanmu,” lanjut Kishi lagi.
“K-kishi ...?” balas Dean yang tiba-tiba saja menjadi begitu gugup sekaligus tegang.
“Aku tahu. Aku benar-benar baik-baik saja. Jangan terus-menerus menghabiskan waktumu di depan laptop. Sudah, ya. Selamat malam.”
Kishi mengakhiri sambungan mereka. Sialnya, Dean tidak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan semua itu berlalu begitu saja.
Dean terpejam pasrah, menyesali keputusannya yang selalu kehilangan nyali ketika sudah menyangkut urusan pribadinya kepada Kishi. Tentang perasaan yang teramat sulit ia ungkapkan. Perihal ia yang menyayangi Kishi dan sangat takut kehilangan gadis itu. Di mana rasa cemburu juga selalu membakar hatinya ketika ia melihat gadis itu bersama pria lain. Apalagi ketika siang tadi, ia mendapati fakta lain perihal hubungan Kishi dengan Rafaro. Kishi dijodohkan dengan Rafaro!
Ketika Dean nyaris menjatuhkan kepalanya ke meja dengan begitu banyak penyesalan, ponselnya kembali bergetar. Itu merupakan tanda pesan masuk. Dean segera memastikannya dengan harapan, itu merupakan pesan dari Kishi.
Kishi : Ini pesan dari operator, tidak usah dipedulikan.
Dean langsung mesem kendati butiran air mata juga mendadak berjatuhan dari kedua ujung matanya. “Maafkan aku yang terlalu munafik. Maaf karena aku terlalu gengsi untuk mengatakan perasaanku kepadamu.”
***
Di balik selimutnya, Kishi terisak-isak. Memandangi layar ponsel yang tak kunjung mendapat balasan dari Dean. Bahkan, pesan yang sengaja ia kirimkan demi mengulur waktu kebersamaan mereka meski hanya sebatas obrolan pesan, hanya sekadar dibaca oleh Dean. Dean benar-benar tidak membalasnya bahkan sekalipun Kishi terjaga sangat lama.
“Bodoh!” umpat Kishi pada dirinya sendiri sambil menggetokkan ponselnya ke kepala.
“Tidur dan lupakan!” lanjut Kishi yang kemudian sengaja mematikan ponselnya agar ia berhenti berharap tanpa menunggu Dean lagi.
“Ma, Pa ... cepat pulang ya ... sama dedek bayinya juga. Semoga kalian sehat semua ...,” gumam Kishi yang sudah memejamkan matanya.
Tak lama setelah itu, gagang pintu kamar Kishi berangsur bergerak seiring pintu yang juga menjadi terbuka. Rafaro datang memastikan sambil mengamati tubuh Kishi yang meringkuk membelakangi kehadirannya. Hanya saja, yang membuat pemuda itu bingung, kenapa Kishi sampai menutupi sekujur tubuhnya?
Rafaro yang merasa penasaran, segera melangkah mendekati Kishi. Ia melakukannya dengan hati-hati. Dan semakin dekat jaraknya dengan gadis itu, Rafaro justru mendapati isak tangis yang terdengar semakin jelas.
“Kishi menangis?” pikir Rafaro yang kemudian jongkok di hadapan Kishi.
Rafaro sengaja jongkok di hadapan wajah Kishi seiring sebelah tangannya yang membuka selimut bagian wajah gadis itu.
Sontak, Kishi menjadi sangat terkejut. Bingung, gugup, bahkan gadis itu sampai menjadi menggeragap lantaran Rafaro ada di hadapannya. Pemuda itu mendapatinya sedang menangis tak karuan. Dan Kishi buru-buru menarik selimutnya untuk kembali menutupi wajahnya.
Bersambung .....
__ADS_1
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa. Like, komen, sama Votenya, Author tunggu 😍😍😍😍