
Orang pertama yang Elia jumpai dan bahkan memenuhi pandangan gadis itu, ketika baru keluar dari ruang olimpiade, adalah Mofaro. Memang cukup membuat Elia syok, terlebih pemuda itu langsung menyambutnya dengan wajah menyebalkan layaknya biasa.
Mofaro memasang wajah jutek, mengangkat dagunya yang tegas, terlepas dari pemuda itu yang sampai bersedekap. Dan yang membuat Elia tidak mengerti, kenapa pemuda itu harus berdiri di depan pintu?
“Sejak kapan kamu jadi tugu di sini? Sudah minggir. Itu yang lain juga mau pada ke luar.”
Elia berniat menyelusup dan melewati Mofaro, tetapi pemuda itu sampai menahan kening Elia menggunakan sebelah tangan.
“Apaan, sih, Mo? Aku enggak kesurupan!” protes Elia yang sampai akan menghantamkan piala di tangan kanannya, pada tubuh Mofaro.
Mofaro mengenakan pakaian cukup rapi. Kemeja lengan panjang berwarna biru muda yang dipadukan dengan jas abu-abu. Namun, yang namanya Mofaro memang sangat jauh dari kata rapi. Selain tidak mengancing kancing pergelangan tangannya, Mofaro juga kembali membiarkan bagian bawah kemejanya tak dimasukkan ke celana, hingga kesannya, kemeja dan jasnya seperti 'balapan'. Dan yang paling mencolok, tentu rambut ikal pria itu yang awut-awutan. Poni rambutnya saja nyaris menutupi matanya yang memiliki sorot tajam.
“Mo, jangan bikin ribut. Banyak orang!”
Suara Rafaro yang terdengar lirih, begitu dipenuhi penekanan. Suara yang sukses membuat Elia bergidik tidak percaya tersebut berasal dari sisi kanan gadis itu. Dan ketika Elia memastikan, Rafaro memang duduk di bangku tunggu. Tentu, Rafaro berpenampilan sangat rapi, jauh dari gaya Mofaro. Pun meski Rafaro hanya mengenakan kemeja panjang lengan putih, sedangkan bawahannya merupakan celana bahan berwarna hitam, tanpa disertai aksesori lain. Yang menyamakan keduanya, Rafaro dan Mofaro sama-sama memakai sepatu kets warna hitam yang motifnya nyaris kembar.
Elia yang detik itu langsung berbunga-bunga hanya karena kehadiran Rafaro, bermaksud menghampiri pemuda itu. Namun sayang, tangan Mofaro masih menahan kening Elia dengan bertenaga.
“Apaan, sih, Mo! Lepas enggak?!” protes Elia sedangkan orang-orang di dalam ruangan juga sudah mulai keluar.
Andai saja Rafaro tidak menuntun keduanya untuk minggir dari pintu khususnya Mofaro, tentu orang-orang di sana akan sibuk protes.
“Heran kamu yah, Mo!” Elia yang sangat gemas pada Mofaro, sampai menimpukkan piala di tangan kanannya pada punggung pemuda itu.
“Ya ampun kamu ini!” protes Mofaro sambil mengelus-elus bekas hantaman Elia.
“Kamu yang mulai!” cibir Elia tak mau disalahkan, apalagi orang gila saja yang melihat, pasti tahu siapa yang salah.
“Sudah! Mo, kamu janji enggak bakalan bikin ribut!” tegur Rafaro yang sengaja menggandeng Elia dan berdiri di sebelah gadis itu.
Mofaro mendengkus kesal. Mereka yang masih belum terlalu jauh dari ruang olimpiade, juga sengaja menghentikan langkah. Elia berdiri di sebelah Rafaro, sedangkan Mofaro di hadapan mereka.
“Juara, enggak?” tanya Mofaro kemudian sesaat setelah kembali bersedekap. Gaya yang membuatnya terlihat angkuh.
“Aku enggak juara, tapi aku menang! Puas!” balas Elia yang masih mencibir.
Mofaro memang tidak membalas. Namun bibirnya komat-kamit menirukan balasan Elia, dan bagi Elia, apa yang Mofaro lakukan sungguh menyebalkan.
“Kakakmu kayak kelainan!” cibir Elia pada Rafaro.
Rafaro hanya menghela napas dalam dan kemudian menggeleng tak habis pikir. “Ya sudah. Kita langsung pergi cari makan,” ujar Rafaro.
Elia langsung menengadah demi menatap pemuda di sebelahnya. “Lagian kamu aneh. Ngapain kamu ajak dia?” lirihnya yang sampai mengerucutkan bibir.
“Yang aneh itu dia! Aku yang maksan dia ke sini. Eh kalian, kesannya aku ini apaan!” gerutu Mofaro yang kemudian berlalu.
Rafaro menggeleng tak habis pikir dan kemudian menggandeng Elia untuk mengikuti kepergian Mofaro. “Awalnya aku memang enggak mau ke sini. Karena sesuai permintaanmu, aku akan datang ke rumahmu, bukan ke sini. Namun, karena Mo terus memaksa, ya kami sepakat ke sini bersama.”
Elia menatap Rafaro dengan heran. “Kalian satu mobil? Atau kamu ikut motor Mo?”
“Bedalah. Ya seperti biasa. Aku dengan mobil, dia dengan motornya.”
“Oh ... kirain.”
Ketika nyaris melewati papan keterangan olimpiade, Elia mendadak mendekap erat sebelah lengan Rafaro, dan kemudian menuntun pemuda itu untuk berhenti.
__ADS_1
“Raf ... aku mau foto!” sergah Elia yang menjadi sangat ceria.
Rafaro yang sampai menatap Elia dan mendapati keceriaan dari gadis itu, segera mengangguk. “Ayo!”
Kemudian tatapan Elia langsung terempas pada punggung Mofaro yang kiranya ada lima meter dari kebersamaannya dan Rafaro.
“Mo! Tolong fotoin, dong!” ujar Elia cukup berseru.
Mofaro yang mengerutkan dahi, berangsur balik badan. Ia melakukannya dengan malas termasuk ketika menatap Elia. “Apa?” tanyanya, sedangkan di hadapannya, Elia buru-buru menyerahkan piala berikut sertifikat yang awalnya dipegang menggunakan tangan kanan sekaligus, kepada Rafaro.
Elia sendiri langsung membuka tas di punggungnya dan mengeluarkan ponsel yang memakai pelindung warna biru muda, dan kemudian diberikan kepada Mofaro.
“Fotoin, ya, Mo! Aku sama Rafa!” ucap Elia semakin bersemangat.
“Ya ampun malesnya. Lebay ah!” cibir Mofaro.
“Bentar, Mo ....” Elia segera bersiap dan kembali mendekap sebelah lengan Rafaro. Sedangkan piala berikut sertifikatnya, sama-sama ia kendalikan bersama Rafaro di tengah-tengah mereka.
“Kamu tahu fitur kameranya, kan?” seru Elia dan sengaja memastikan kepada Mofaro.
“Enggak! Kamu pikir, aku hidup di jaman jahiliah!” Mofaro masih merasa sebal pada kedekatan Elia dan Rafaro. “Bilangnya enggak pacaran, tapi mesra-mesraan terus!”
Balasan Mofaro membuat Elia dan Rafaro kompak tertawa.
“Heran aku sama Mo, Raf! Apa sih salahku, sampai-sampai, dia benci banget sama aku?” keluh Elia pada Rafaro di sela tawanya.
“Sudah. Biarin saja. Dia kan memang begitu. Rora saja sampai ketakutan kalau lihat Mo, gara-gara Mo, sering marahin Rora,” balas Rafaro yang berusaha mengakhiri tawanya.
“Ya ampun ... separah itu?” Elia terheran-heran.
“Sudah ... sudah ... jangan gibah terus!” seru Mofaro dari depan dan sudah mulai mengarahkan kameranya pada Rafaro dan Elia.
Yang membuat Mofaro cukup kagum, Elia menjadikan foto keluarga sebagai wallpaper di ponselnya. Padahal Mofaro berpikir, Elia akan memakai foto kebersamaan gadis itu dengan Mofaro, atau setidaknya hanya foto Elia. Namun sepertinya, keluarga menjadi nomor satu untuk Elia.
“Siap-siap ... satu .... dua ....” Namun untuk ke sekian kalinya. Mo merasa sangat kesal pada kebahagiaan Rafaro dan Elia. Itu juga yang membuatnya terdiam dan tak lagi melanjutkan hitungannya, apalagi sampai menekan tombol mengambil foto di kamera.
“Mo, cepat! Nanti gigiku kering gara-gara kelamaan senyum!” protes Elia.
“Iyaaa ... bawel!” Mofaro mulai menghela napas, sedangkan Elia dan Rafaro kembali bersiap. Keduanya memamerkan senyum termanis, terlepas dari dekapan tangan Elia pada Rafaro yang semakin erat.
“Satu ... dua ....”
Yang membuat Elia tak percaya, bukan apa yang dilakukan Rafaro, lantaran pemuda itu masih memperlakukannya dengan sangat santu. Sebab, di hitungan ketiga yang Mofaro lakukan, yang ada, pemuda itu justru melakukan swafoto. Ya, Mofaro benar-benar memoto dirinya sendiri menggunakan ponsel Elia.
“Ya ampun, gantengnya aku!” gumam Mofaro.
“Mofaro, ya ampun, kamu ini! Cepetan foto kami!” omel Elia mulai kehabisan kesabaran.
Rafaro hanya menghela napas dalam dan kemudian buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku sisi celananya, lantaran bukannya membalas, Mofaro justru berlalu sembari berswafoto menggunakan ponsel Elia.
Jadi, demi mengganti kekesalan Elia yang bahkan sudah terlihat sangat kecewa, Rafaro meminta tolong pada salah satu peserta olimpiade yang kebetulan lewat, untuk memfotokan kebersamaannya dan Elia.
“Sudah, jangan sedih lagi,” bisik Rafaro.
“Itu, kembaranmu kelainan beneran kayaknya!” cibir Elia.
__ADS_1
“Kamu tahu jawabannya.”
“Ya. Dia kesepian. Tapi, mana mungkin dia mau dengerin aku?”
Tanpa bantuan Mofaro, Rafaro dan Elia akhirnya berfoto. Namun, ketika Mofaro kembali, Elia berseru dan meminta pemuda itu untuk bergabung. “Ayo. Foto bareng!”
“Ogah, ah! Cepat! Aku laper!”
Lantaran Mofaro terus menolak, Elia pun menyerahkan piala dan sertifikatnya kepada Rafaro, dan kemudian berlari menghampiri Mofaro. Elia menyeret pemuda itu untuk ikut serta. Jadilah mereka foto bertiga dengan Elia yang berada di tengah si kembar. Namun, jangan tanyakan bagaimana ekspresi Mofaro. Pemuda itu terlihat jelas tidak berselera apalagi rela berada di sebelah pasangan baru, yang sedang mesra-mesranya.
***
“Raf, papah WA, katanya hari ini, aku dipotong gaji, gara-gara pulang sebelum waktunya.”
“Aku juga dapat. Ya sudah.”
“Aku mau laporan ke opa, biar papah kena azab asal main potong gaji terus!”
Elia hanya menggeleng tak habis pikir menyikapi obrolan kedua pemuda kembar di hadapannya. Kini, mereka sedang makan sore di salah satu restoran Jepang.
“Besok Ngi-ngie nikah. Kalian sudah siapin kado?” tanya Elia sesaat sebelum melahap satu potong sushi, sekaligus.
“Aku sih sudah pesan molotof langsung dari pabriknya.” Mofaro juga langsung melahap sepotong sushinya tanpa menggunakan sumpit.
“Gila kamu!” cibir Elia sambil menutupi mulutnya yang penuh, menggunakan tangan kanan.
Rafaro yang baru saja meminum air mineral dinginnya melalui sedotan, berangsur menatap Elia. “Niatnya, hari ini aku mau ajak kamu sekalian cari kado.”
Elia langsung menanggapi ajakan Rafaro dengan antusias.
“Jangan ajak aku, lho. Aku malas!” Mofaro kembali memenuhi mulutnya dengan sushi.
“Enggak. Ngapain. Aku sama Elia mau kencan. Kamu pulang saja. Apa bagaimana terserah.” Rafaro masih bersikap sangat santai.
Elia tergelak dan begitu bahagia lantaran Rafaro blak-blakan mengatakan rencana kencan mereka, bahkan di depan Mofaro.
Lain halnya dengan Mofaro yang langsung mendengkus kesal. “Ya sudah. Kalau begitu, aku juga ikut kalian.”
“No!” tolak Rafaro cepat.
“Pokoknya aku ikut!” Dan Mofaro tidak menginginkan penolakan.
“Enggak apa-apa ikut saja. Nanti Mo yang bawain belanjaan kita. Hahahaha!” Elia benar-benar bahagia dengan rencananya.
“Semprul kamu ya!” omel Mofaro yang tak segan memoleskan mayonese pada sebelah wajah Elia menggunakan sendok teh.
Dan Elia yang refleks terdiam langsung merengek kepada Rafaro.
“Ya ampun, Mo. Kamu ini jail banget! Sudah sana, kamu cari pacar sendiri. Jangan jail begini!” omel Rafaro yang buru-buru mengelap tuntas mayones di wajah Elia.
“Mo bukan jail, tapi sirik!” rutuk Elia.
Sedangkan Mofaro yang mendapat peringatan tegas, justru terlihat sangat bahagia menikmati sisa sushi di piringnya.
***
__ADS_1
Kalian sudah siap menghadiri resepsi pernikahan Ngi-ngie dan Jinnan? Tolong bantu Author naikin rate cerita ini, ya. Ada yang jail turunin tuh. Jdi 4,6. Tolong kasih 5 bintang, ya.