Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 37 : Melawan Steffy


__ADS_3

“Apa enaknya sih, mengharapkan suami orang? Memang ada yang istimewa?”


Bab 37 : Melawan Steffy


Hari ini, tepatnya sebelum jam makan siang tiba, Steffy sengaja mendatangi Kiara yang terjaga untuk Kimi. Untuk mempermanis tampilannya, wanita muda itu membawa beberapa makanan berat menjadi menu makan siang. Steffy membeli beberapa porsi ayam goreng sekaligus lalapan yang ia ketahui sangat disukai Kiara, selain aneka salad bahkan rujak. Rencananya, Steffy akan mengajak Kiara makan siang untuk mempererat hubungan mereka. Tentu sebelum datang, Steffy sudah menelepon Kiara lebih dulu. Sedangkan mengenai alasan kenapa Steffy bisa memiliki uang untuk membeli semua itu, tak lain karena Steffy sudah mendapatkan banyak uang dari brankas orang tuanya. Tentunya, Steffy mendapatkan semua itu tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Steffy berniat merebut simpati Kiara berikut keluarga Kimo, meski hal tersebut terbilang tidak mudah. Namun Steffy yakin, melalui Kiara dan cukup memasang wajah memelas sambil tak hentinya minta maaf bahkan bila perlu menangis, ia bisa mendapat sedikit posisi. Ia bisa mendapatkan apa yang diinginkan walau harus melalui proses yang tidak mudah. Sialnya, baru juga masuk, Kimi justru mendengkus dan menghela napas berat kemudian berdeham. Kimi memberikan sambutan kurang mengenakan pada Steffy.


“Apa enaknya sih, mengharapkan suami orang? Memang ada yang istimewa?” ucap Kimi sambil bersedekap dan menatap Steffy dengan dahi berkerut.


Kiara yang awalnya baru berdiri dari tempatnya duduk di sebelah Kimi, terdiam bingung di antara ketegangan. Ekspresi Kiara nyaris sama dengan Steffy yang tak kalah kebingungan.


Kemudian Kimi menunduk. “Ini aneh. Yang anak Tante Piera itu Kak Rara. Tapi yang mirip kok malah Kak Steffy?” Ia sengaja menatap Steffy sambil memanyunkan bibir berikut ekspresi wajah sarat mempertimbangkan ungkapannya, perihal Steffy yang baginya lebih pantas menjadi anak Piera, jika melihat dari cara hidup Steffy yang masih mengejar pria beristri.


“Kimi ...,” tegur Kiara tak enak hati pada Steffy yang sudah terlihat sangat bersedih.


Kimi tak acuh dan tetap menatap sadis Steffy.


“Kimi, aku benar-benar minta maaf mengenai hubungan kita di masa lalu yang menjadi kurang baik.” Steffy bersikap semanis mungkin sambil menenteng kantong makanannya di depan perut.


“Masa lalu? Kenapa hanya masa lalu? Kamu pikir semudah itu melupakan bahkan mengobati luka?” cibir Kimi semakin menjadi-jadi. Kemudian ia memalingkan wajah dan sengaja menepis Steffy. “Aku enggak mau munafik, Fy! Sampai kapan pun, aku enggak bis memaafkan apalagi melupakan kejahatanmu. Belum lagi, papamu juga sampai berusaha membunuh Kak Kimo dan Kak Rara! Dan satu lagi, tolong, jangan jadi perusak hubungan orang apalagi yang sudah berumah tangga!” tegasnya tanpa sudi menatap Steffy.


“Kamu bahkan sudah pernah menghancurkan Kak Kimo, dan sekarang kamu berusaha menghancurkannya lagi?”


Kiara yang tidak bisa berbuat banyak, hanya diam menunduk sambil sesekali menelan ludah. Terlebih, selain Wiranto papa Steffy ia ketahui sebagai dalang dari percobaan pembunuhan berencana terhadap Kimo dan Rara, talak Franki bisa langsung ia dapatkan jika ia kembali dekat-dekat dengan Steffy.


“Jadi tolong, mulai sekarang, daripada kita tambah banyak dosa, lebih baik kita enggak saling kenal saja. Kamu juga enggak usah dekat-dekat mamaku lagi. Jangan bikin mamaku ikut jahat kayak kamu!” tambah Kimi yang kali ini sampai menatap tajam Steffy.


Melalui tatapan tajamnya, Kimi mengusir Steffy yang kalah sebelum berperang. Steffy yang bahkan belum sempat menyapa Kiara apalagi menjalankan misinya. Tetapi, jangan panggil wanita berparas imut itu Steffy jika tidak bisa memanfaatkan situasi walau jelas-jelas kesempatan yang ada sudah tidak ada untuknya.


“Tante, Kimi ... aku tahu aku salah. Aku tahu aku memang buruk. Tapi, apa salah, kalau aku berusaha menjadi orang yang lebih baik dan memulainya dari kalian?” ucap Steffy sambil memasang wajah sedih bahkan sampai menitikkan air mata.


“Nak, Steffy,” ujar Kiara tak enak hati dan mulai tersentuh.


“Enggak. Memang enggak salah kalau kamu mau berubah. Dengan catatan, jangan merusak hubungan orang. Juga, jangan merusak otak orang lain. Cukup otak Kak Kimo saja yang rusak dan itu karena papamu. Kamu enggak usah merusak otak mamaku dengan pemikiran-pemikiran yang enggak logis!” saut Kimi.


Steffy tertunduk sedih. “Sialan si Kimi! Awas saja, kamu bakalan jadi orang selanjutnya yang aku eksekusi!” batinnya sambil mencengkeram kantong makanan yang ia tenteng menggunakan kedua tangan di depan perut.


Kimi melirik Kiara yang hanya diam kebingungan. “Ma, kalau Mama enggak bisa mengambil keputusan, biar aku telepon papa saja, ya?” lirihnya dan sengaja mengancam.


Kiara langsung kocar-kacir, menggeragap dan buru-buru menggeleng, menepis keputusan Kimi. “Jangan!” lirihnya sambil mendelik pada Kimi penuh peringatan.


Kiara yang jelas tidak enak hati kepada Steffy, segera menggiring Steffy keluar. “Tante benar-benar minta maaf, Nak Steffy. Tetapi apa yang Kimi katakan memang benar. Kimo sudah menikah dengan Rara, apalagi sekarang Rara sedang hamil. Jadi enggak ada yang bisa diharapkan lagi. Enggak baik mengganggu hubungan apalagi rumah tangga orang. Jadi, mungkin lebih baik kita memang enggak saling bertemu dulu, daripada hanya menambah kesalah pahaman.”


“Rara hamil, dan ... Tente Kiara sampai melindungi Rara?” batin Steffy tak percaya dan membiarkan tubuhnya didorong paksa keluar dari ruang rawat Kimi oleh Kiara dengan tergesa.

__ADS_1


“Tapi Tante, ini aku sudah beli banyak makanan khusus untuk Tante,” ujar Steffy masih memasang wajah bersedih.


“Enggak usah. Tante sudah ada, kok.” Setelah mengatakan itu, Kiara buru-buru meninggalkan Steffy terlebih Kimi sudah berseru mengancamnya dengan menelepon Franki.


Kiara sampai menahan kop pintunya kuat-kuat, demi menghindari Steffy yang ia takutkan kembali berusaha masuk.


Mendapati sang mama sampai jongkok sambil menahan kop pintu, Kimi menjadi mengembuskan napas lega lantaran akhirnya, Kiara sadar juga.


“Aneh saja, jelas-jelas papanya terdakwa percobaan pembunuhan berencana Kak Kimo dan Kak Rara, kenapa dia masih berani-beraninya datang ke sini?” gerutu Kimi.


Kiara yang sampai berkeringat dingin bahkan ngos-ngosan, berangsur mengatur napas pelan. Ia menariknya pelan-pelan dan mengeluarkannya melalui mulut sambil sesekali menatap Kimi.


“Mama bilang, mau beli rujak buat Kak Kimo? Mama enggak lupa, kan?” celetuk Kimi kemudian.


Beberapa jam lalu, tepatnya setelah Kiara melihat keadaan Kimo, Kiara memang sempat mengutarakan kepada Kimi bila Kimo meminta dibelikan rujak. Entahlah, mungkin memang Kimo yang mengidam, sampai-sampai, masih sakit saja merajuk meminta rujak.


Mengingat itu, Kiara mengangguk karena sudah melupakan pesanan Kimo. “Tapi bentar. Takut Steffy masih di luar,” ucapnya sengaja berbisik lantaran takut Steffy masih menunggu di luar.


Kimi mengangguk dan kemudian mengalihkan fokusnya dari Kiara.


***


Sore ini, Yuan merasa istrinya sedang tidak baik-baik saja. Selain selalu memasang sikap serius, Keinya juga cenderung dingin kepadanya.


Terhitung sudah sepuluh menit, perubahan itu Yuan rasakan. Setelah mereka sepakat langsung bertemu di rumah sakit sepulang kerja untuk menjenguk Kimo dan Rara. Awalnya Yuan setuju-setuju saja, lantaran hal tersebut merupakan saran dari Keinya dengan alasan, demi menghemat waktu. Apalagi selain sedang musim hujan, waktu bertemu mereka yang bertepatan dengan jam pulang karyawan juga akan membuat mereka tidak bisa menghindari macet. Tentu, akan lebih mengulur waktu jika Yuan menjemput Keinya dulu. Namun anehnya, Yuan merasa jika Keinya justru sedang marah kepadanya. Belum lagi, saat awal mereka bertemu, Keinya tiba-tiba menepis rangkulan berikut ciumannya. Pun dengan Pelangi yang tetap didekap erat Keinya, padahal jelas-jelas, selain Yuan sudah langsung mencoba mengemban anak sambungnya itu, beberapa kali selama kebersamaan mereka menuju ruang rawat Kimo dan Rara, Yuan juga sudah berusaha mengambil Pelangi dari Keinya.


Ucapan Yuan yang jelas menyindir, membuat hati Keinya berdesir. Bahkan karenanya, ia refleks berangsur menoleh pada Yuan, kemudian menengadah hingga tatapan mereka menjadi bertemu.


“Apakah sejelas itu? Apakah aku telah berbuat tidak adil kepadanya? Gara-gara takut Itzy metebut Yuan, ... saking takutnya Yuan juga sampai tergoda, kemarahan sekaligus ketakutan yang membuatku sampai cemburu ini sudah berimbas kepada Yuan?” batin Keinya bersedih.


Kemudian tatapan Keinya berangsur turun. “Apa yang aku lakukan? Justru jika aku marah dan membuat Yuan lelah, ini bisa menjadi celah wanita lain masuk ke dalam kehidupan Yuan ... astaga! Kepada Kainya yang jelas-jelas sangat mirip denganku saja, Yuan tidak mau, apalagi kepada orang lain? Apa yang sebenarnya aku takutkan setelah semua yang Yuan lakukan bahkan korbankan hanya untuk bersamaku?” Keinya masih berbicara dalam hatinya dan semakin menunduk meski ia juga terus melangkah mengikuti tuntunan Yuan. “Hanya karena seorang Itzy yang jelas-jelas baru kamu kenal, kamu justru membuat wanita lain memiliki kesempatan mendapatkan Yuan? Bodoh kamu!” kali ini Keinya memaki dirinya sendiri dan masih di dalam hati.


“Aku cemburu!” lirih Keinya mengakui keadaannya sesaat setelah berdeham tanpa menatap Yuan.


Keinya sengaja menyibukkan pandangannya untui mengamati suasana sekitar.


Yuan mengernyit dan menatap heran sang istri. “Cemburu bagaimana? Cemburu ke siapa?” tanyanya tak tahu-menahu.


Keinya mengerucutkan bibir, menatap kecewa sang suami. “Memangnya aku harus cemburu ke siapa, kalau bukan ke kamu? Jelas-jelas kamu suamiku, tentu aku cemburu gara-gara kamu!” keluhnya cenderung mencibir.


Menyadari Yuan makin bingung, Keinya pun memberikan Pelangi kepada Yuan, dan berdalih akan menghubungi Daniel untuk menanyakan kabar Kainya.


“Tapi salahku di mana? Aku nggak ada main dengan wanita lain? Aku benar-benar fokus bekerja dan hanya mencinyainya?” batin Yuan bertanya-tanya. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Keinya sampai mengeluh cemburu dan itu karenanya. Tetapi karena mereka sedang di tempat umum dan untuk tujuan yang sama, ia berniat meluruskan perkara kecemburuan Keinya, setelah mereka sampai di rumah.


“Kita bahas ini nanti,” bisik Yuan tepat ketika Keinya baru saja menempelkan ponsel kepada sebelah telinga.

__ADS_1


Keinya refleks menengadah dan menatap sang suami tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Harus dibahas, ya?” ujarnya lirih.


Terdengar kecemasan bahkan rasa takut dari balasan Keinya dan Yuan menyadarinya.


“Tentu!” balas Yuan enteng.


Keinya mendengkus pasrah kemudian mendekap sebelah lengan Yuan dengan manja.


“Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya ada di pikiranmu, padahal jelas-jelas, selain untuk bersamamu dan Pelangi, waktuku hanya untuk bekerja,” lirih Yuan kemudian, tanpa menatap Keinya. Ia menyibukkan diri mengajak Pelangi berkontak mata di antara senyumnya.


Keinya tahu, Yua hanya sedang menyibukkan diri tanpa mau menatapnya. “Apakah ini akan menjadi pertengkaran pertama kita?” tanya Keinya makin cemas.


Yuan menatap Keinya kemudian menggeleng. “Tidak akan. Kita tidak sedang atau pun akan bertengkar. Kita hanya butuh saling terbuka tanpa ada yang disembunyikan termasuk keluhanmu mengenai kecemburuanmu.” Yuan memberi pengertian, menuturkan sarat kesabaran.


Keinya memanyunkan bibirnya kemudian mengembuskan napas lega. Ia benar-benar bersyukur, Yuan tidak marah kepadanya. Hanya saja, karena sambungan sudah dijawab oleh Daniel bahkan suara adiknya itu terdengar melantunkan namanya beberapa kali, Keinya segera menyudahi dekapannya pada sebelah lengan Yuan dan fokus dengan tujuannya menelepon Daneil.


“Iya, Daniel, Kakak dengar kamu.” Keinya sengaja memisahkan diri.


Keinya berpikir agar Yuan masuk ke ruang rawat Rara dan Kimo lebih dulu, tetapi suaminya itu justru tetap menunggunya. Yuan duduk di bangku tunggu sambil memangku Pelangi, kemudian mengeluarkan ponsel dan menuntun Pelangi untuk menonton video lagu anak-anak di YouTube. Sedangkan kedua ajudan yang sedari awal mengawal Keinya juga selalu siaga di dekat Keinya.


“Aku pikir, Kak Kei hanya salah pencet karena Kak Kei nggak nyaut-nyaut,” balas Daniel dari seberang.


“Enggak, enggak ... tadi hanya ada urusan sedikit. Oh, iya, bagaimana dengan Kainya? Sudah ada perkembangan, kan?” Merasa lelah, Keinya pun memilih duduk di sebelah Yuan sambil menahan kedua lututnya yabg terasa pegal.


“Sebenarnya dibilang sehat, ya sehat. Dibilang sakit, memang sakit. Kak Kai ini sejenis kumat-kumatan, Kak ....”


Balasan Daniel dari seberang langsung membuat Keinya kesal. “Kamu pikir Kainya gila, sampai kumat-kumatan? Enggak jelas, kamu!” omelnya.


“Kak Kei ... ya sudahlah, jangan dibahas. Kak Kai memang baik-baik sajam Tetapi memang ada di saat-saat tertentu yang membuat Kak Kai, enggak bisa mengontrol kecemasan sekaligus rasa takutnya.”


Balasan Daniel kali ini membuat Keinya tertunduk sedih. “Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?” tanyanya kemudian dengan suara yang terdengar parau. Keinya bahkan berdeham demi membuat suaranya terdengar baik-baik saja. Sampai-sampai, Yuan menjadi meliriknya dengan cemas.


“Kami sedang ada di kantor polisi.”


Ketegangan menyergap Keinya ketika Daniel menyebut kantor polisi sebagai keberadaan adiknya itu bahkan bersama Kainya.


“Untuk apa? Kenapa kalian di kantor polisi? Bahkan bukannya Kainya enggak boleh keluar dari runah dulu?” sergah Keinya.


Kali ini, Yuan tak sekadar melirik, melainkan menatap cemas sang istri. Ia juga masih bisa mendengar dengan baik mengenai obrolan istrinya. Daniel dan Kainya bahkan mungkin ada orang lain bersama mereka, sedang berada di kantor polisi dan itu entah atas dasar apa? Apakah sesuatu yang buruk telah terjadi dan membuat keluarga dari istrinya menjadi korban? Atau ... suatu hal yang sama sekali tidak ada dalam pikirannya?


Keinya berusaha diam sekaligus tenang, memberikan Daniel kesempatan untuk menceritakan duduk perkara kenapa adiknya itu bisa di kantor polisi bahkan bersama Kainya yang seharusnya istirahat total dan tidak boleh keluar dari rumah.


Bersambung ....


Maaf, Author telat update. Tetap ikuti dan dukung ceritanya, yaa ^^

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2