
“Kita dekat, tetapi kita masih merasa asing,”
Bab 33: Cerai
“Cukup, Ma! Ra, maafin Mama, ya. Kamu sama Kimo dulu. Nanti Papa nyusul.” Tatapan Franki kepada Rara sarat rasa bersalah. Kemudian tatapannya beralih dan tertuju kepada Kimo. “Benar kamu amnesia? Tapi Rara istrimu. Kamu sangat mencintainya. Kalian saling mencintai.” Tak beda ketika pada Rara, melalui tatapannya, ia juga mencoba meyakinkan sang anak.
Kimo terdiam sedih kemudian mengangguk. “Iya. Tapi aku lelah. Aku mau istirahat dulu,” ucapnya tak bersemangat.
Rara rasa, mulai detik itu juga, amnesia yang menimpa Kimo ibarat bom waktu yang tiba-tiba masuk ke hidupnya, dan sewaktu-waktu bisa meledakkannya, menghancurkan semuanya termasuk hubungan mereka.
Setelah suasana menjadi hening lantaran semuanya menatap Kimo dan Rara silih berganti kecuali Steffy, Kimo berangsur mengangkat tatapannya dan menatap Rara yang kebetulan juga baru menatapnya.
“Kamu juga istirahat. Kamu kelihatan masih sangat tidak sehat,” ucap Kimo kepada Rara.
Rara mengerling bingung dalam diamnya. Nada suara Kimo padanya terdengar sangat asing. Meski menyedihkan, tetapi Rara sangat menghargainya. Apalagi dengan kata lain, Kimo masih memperhatikannya.
“Ya, kalian memang harus istirahat,” ucap Yuan sesaat setelah menghela napas sambil berkecak pinggang. Kemudian ia menatap perawat di sebelahnya. “Biarkan Pak Kimo satu kamar dengan istrinya. Ruang rawat Ibu Rara masih cukup untuk menampung mereka berdua, kan?” usulnya kemudian.
Keinya tersenyum lepas dan menyambut antusias usul suaminya.
“Tolong kamu urus, ya, Yu!” pinta Franki yang kemudian membawa paksa Kiara. Ia menggandeng Kiara dengan langkah cepat di antara rasa kesalnya.
Setelah Kiara dibawa pergi meski berusaha memberontak, kini giliran Steffy yang dihakimi Yuan melalui tatapan tajam.
“Apa lagi yang kamu tunggu? Cepat pergi sebelum aku mengusirmu!” tegas Yuan.
“Yu,” tegur Kimo memohon.
Kimo menatap Yuan sarat kecemasan. Karena ia memang tidak suka jika Steffy disakiti apalagi oleh Yuan sahabatnya sendiri.
Steffy menatap Kimo penuh harap dan memasang wajah yang begitu terluka. Wajah terluka karena merasa tersakiti dengan ulah Yuan.
Yuan menatap Steffy dengan tatapan yang dipenuhi rasa marah. “Fy, kamu sudah cukup menghancurkan Kimo di masa lalu, dan aku enggak mau itu sampai terulang! Kimo, di masa lalu Steffy selingkuh dengan Gio, pacar Kimi!”
“Dan karena itu, kamu sekeluarga benar-benar hancur! Bahkan Kimi nyaris bunuh diri gara-gara itu!”
“Meski kamu amnesia, tetapi kamu enggak mati rasa, kan?” omel Yuan. “Semoga ini yang terakhir kalinya. Bahkan istriku sampai menangis ketakutan gara-gara ini!”
Keinya belum pernah melihat Yuan semarah sekarang.
Lantaran Steffy masih berdiri di tempat dan benar-benar tidak tahu diri, Yuan menggeleng tak habis pikir kemudian melakukan gerakan wajah pada pengecaranya. Ia menyerahkan Steffy kepada pengacaranya. Norman, pengacara Yuan langsung mengangguk dan mengambil alih. Pria paruh baya bertubuh besar berkulit hitam itu langsung mengangguk. Sedangkan Yuan langsung melangkah ke belakang Steffy, menghampiri Keinya. Yuan memeluk istrinya dengan penuh rasa bersalah.
Sambil mengendus kepala Keinya, Yuan berbisik, “maafkan aku. Tapi tolong, jangan secemas tadi. Semuanya akan baik-baik saja, percayalah padaku.”
Keinya tertunduk sedih tanpa membalas pelukan Yuan. “Aku benar-benar takut,” lirihnya yang lagi-lagi menitikkan air mata.
Yuan menghela napas berat dan kemudian meminta perawat yang di sana untuk mengurus pemindahan perawatan Kimo ke ruang rawat Rara.
“Jangan takut, ada aku. Jangan pernah takut lagi!” balas Yuan masih berbisik.
“Bagaimana dengan kelanjutan kasus kecelakaannya?”
Pertanyaan lanjutan Keinya, langsung mengusik Steffy. Steffy bahkan refleks menoleh ke belakangnya selaku keberadaan Keinya.
__ADS_1
Mendapati itu, Rara pun refleks bertanya, “kenapa kamu sekaget itu?”
Kali ini, giliran pada Rara, Steffy refleks menatap wanita itu.
Sontak, Yuan dan Keinya yang mendengar pertanyaan Rara juga menjadi mencari maksud Rara dan ternyata masih Steffy.
“Kenapa, Ra?” tanya Yuan cemas.
“Yu,” tegur Kimo sembari menatao lelah Yuan.
Apa yang Kimo lakukan langsung membuatnya menjadi bahan perhatian. Meski tatapan Rara pada suaminya itu menjadi sarat kekecewaan lantaran masih saja membela Steffy.
“Biarkan dia istirahat. Wajahnya terlihat sangat pucat,” tambah Kimo. Kemudian tangannya yang masih digenggam Rara, berangsur menyudahinya.
Rara benar-benar tidak rela melepas Kimo. Rara merasa sangat bersedih sekaligus kecewa. Hanya saja, ketika tangan Kimo yang sempat ia genggam justru mengelus wajahnya, hal tersebut langsung membuat hati Rara berdebar-debar. Ada gejolak kebahagiaan yang begitu besar, meski yang ada, Rara hanya bisa menuangkan itu melalui linangan air mata.
Mendapati itu, Keinya dan Yuan saling lirik.
“Bukankah ini awal yang bagus?” ujar Yuan lirih.
Keinya mengangguk senang kemudian mendekap erat suaminya.
Yuan mendesah. “Diam-diam aku menjadi korban hubungan mereka, karena gara-gara mereka juga, kamu jadi cuek ke aku!” keluhnya kemudian dan sengaja berbicara dengan suara lirih lantaran ingin menyindir Keinya.
Keinya tersenyum geli kemudian mencubit perut Yuan. “Yu, ayo kita antar mereka ke kamar rawat,” ucapnya kemudian.
Kepergian Keinya dan rombongan membuat Steffy menaruh tanda tanya besar. Apalagi, Keinya juga terus bertanya pada Yuan yang kali ini mendorong kursi roda Rara.
“Rem mobil rusak dan ada orang berpenampilan aneh yang dicurigai merusak rem mobil, di area parkir bandara?” ucap Keinya yang mendekap sebelah lengan Yuan menggunakan kedua tangannya.
“Kalian enggak usah ikut pusing. Sebentar lagi, kasus ini pasti kebongkar.” Yuan berkomentar, menenangkan kedua wanita yang bersamanya, sedangkan Kimo sudah lebih dulu di depan bersama dua orang perawat yang mengantar.
“Sial! Aku lupa kalau Rara dan Kimo punya Yuan! Bagaimana ini? Tapi kemarin aku sudah pakai masker, penutup kepala termasuk kacamata hitam. Harusnya enggak kelihatan, kan?” batin Steffy ketakutan. Dan ketakutannya semakin memuncak, ketika Norman mencolek lengannya.
Steffy nyaris memarahi pria bertubuh besar itu yang baginya telah kurang ajar, tetapi yang bersangkutan langsung menatapnya sebal sambil meletakan paksa sebuah map berwarna biru muda di tangan Steffy.
“Itu surat peringatan. Kalau Anda sampai berani mengganggu hubungan Ibu Rara dan Pak Kimo, kami terpaksa menyerahkan laporan kepada pihak yang berwajib.”
Steffy merengut sebal pada Norman yang membalasnya dengan senyum santai.
“Satu berkas yang sama juga akan saya kirimkan kepada orang tua Anda seperti yang diminta Tuan Yuan.” Senyum di wajah Norman semakin lebar saja. Tanpa mengulur waktu, ia mengedipkan genit sebelah matanya sebelum berlalu dari hadapan Steffy menyusul kepergian Yuan.
Steffy mencengkeram berkas di tangannya kemudian membanting dan bahkan menginjaknya tegas. “Sial! Bisa semakin panjang kalau papa sampai tahu masalah ini!” gumamnya kesal. Ia menatap tajam kepergian rombongan Yuan yang kemudian tak bisa ia lihat lagi karena mereka memasuki lorong yang berbeda dengannya.
***
Di bangku tunggu lorong rumah sakit dan terbilang sepi, Franki mendudukkan paksa Kiara pada bangku yang ada di sana. Ia menghela napas berat sambil menatap lelah Kiara, kemudian berkecak pinggang. Tatapan lelah yang juga sarat kekesalan.
Dengan napas terengah-engah, Franki yang kerap menepis Kiara berkata, “ini untuk yang terakhir kalinya, ya, Ma, karena Papa sudah capek banget. Sekarang Mama jujur ke Papa, Mama masih mau dengar kata-kata Papa? Mama masih mau hidup dengan Papa?”
“M-maksud, Papa, apa?” tanya Kiara ketakutan.
“Papa sudah berulang kali bilang ke Mama. Sebagai kepala keluarga, Papa juga sudah capek menasehati Mama yang masih saja keras kepala. Jadi, kalau memang Mama tetap enggak bisa membiarkan anak-anak kita hidup dengan tenang, lebih baik Mama dengan hidup Mama sendiri saja. Papa sudah enggak sanggup mengimbangi cara hidup Mama.”
__ADS_1
Kiara ditikam kecemasan yang membuatnya kerap menelan ludah. Orang bodoh saja tahu, pria di hadapannya sedang melayangkan perpisahan kepadanya. Kenyataan tersebut pula yang membuatnya takut dan segera berdiri sembari meraih sebelah tangan Franki. “Pah!”
Franki menggeleng. “Sekarang Mama jujur ke Papa, Mama masih mau hidup dengan Papa, apa Mama mau tetap begini? Papa capek! Lagi pula, kalau Papa mau, Papa bisa mencari wanita yang mau mendengarkan Papa dan pastinya menghargai Papa. Mengenai anak-anak, pasti mereka juga akan mengerti!”
Kiara menggeleng ketakutan di antara tangisnya. Ia sangat takut bila Franki benar-benar ingin menceraikannya, padahal selain baru saja menghina Keinya yang dulunya merupakan janda menyedihkan sebelum dinikahi Yuan, Kiara juga lebih mengharapkan perceraian terjadi pada hubungan Kimo dan Rara.
“Enggak, Pa. Mama mau tetap sama Papa. Dari dulu sampai sekarang, Mama cuma sayang sama Papa. Seharusnya, di saat-saat seperti ini, Papa dukung Mama. Bukan malah membuat Mama semakin tertekan.”
“Bahkan di saat-saat seperti ini, Mama masih belum tahu kesalahan Mama?!” balas Franki dengan mata yang berkaca-kaca.
“Pa ....” Air mata Kiara semakin rebas dan ia benar- benar memohon pada suaminya.
Meninggalkan Franki dan Kiara yang sedang memikirkan perceraian, Kimo yang baru ditinggalkan kedua perawat yang mengurusnya justru dibingungkan dengan keadaannya yang semakin merasa tidak jelas. Mual, pusing, bahkan ingin muntah yang ia rasakan begitu menyiksanya.
Rara yang awalnya akan tidur, menjadi terusik dengan keadaan suaminya. “Kamu kenapa?” tanyanya.
Yuan dan Keinya masih terjaga di mana Keinya baru saja menutup pintu untuk kedua perawat yang sedang pergi, sedangkan Yuan tengah serius dengan ponsel dan sepertinya sedang berkirim pesan, di sofa sebelah Kimo.
Sambil menekap hidung, Kimo justru melirik Yuan. “Yu, kamu pakai parfum apa, sih? Nggak enak banget aromanya? Aku jadi mual, pusing bahkan pengin muntah, tahu!” keluhnya.
Keinya yang baru datang menatap bingung Kimo kemudian Rara, dan terakhir Yuan. Yuan sendiri langsung kebingungan dan menyampaikannya melalui ekspresi wajah pada Keinya.
“Kayaknya kamu memang lagi mengidam!” ucap Yuan sambil mrngangguk-angguk.
Anggapan Yuan langsung membuat Kimo dan Rara bergeming.
Keinya yang sempat merasa tegang, mengingat Kimo yang amnesia dan tidak ingat Rara berikut hubungan mereka, segera mencoba mencairkan suasana. “Asyik! Jadi, Pelangi bakal punya teman!” ucapnya ceria kemudian melirik Yuan agar mendapat dukungan.
Yuan menghela napas kemudian kembali sibuk dan fokus pada ponselnya. “Asal otaknya nggak rusak juga kayak papanya, sih oke.”
Ucapan Yuan langsung menyulut emosi Kimo yang refleks menarik bantalnya untuk dilemparkan pada Yuan. Hanya saja, lantaran ia masih terbatas dalam gerak, yang ada, ia justru kesakitan.
Rara yang sempat tertunduk sedih lantaran kabar kehamilannya--seandainya benar justru ketika Kimo tidak mengingat hubungan mereka, berangsur mengelus-elus bahu Kimo agar pria itu mau lebih tenang sekaligus bersabar.
“Meski Kimo memang tidak mengenali hubungan kami, tetapi kehadirannya tetap kabar bahagia. Ini anugerah terindah dalam hidupku,” batin Rara yang kemudian diam-diam mengelus perutnya seiring senyum bahagia yang menghiasi wajahnya. Di mana, atas kebahagiaannya itu, wajahnya yang awalnya pucat juga menjadi merona dan tampak sangat bersemangat.
Mendapati hal tersebut, Keinya kembali mengambil keputusan. “Kalau begitu, aku akan meminta dokter untuk memastikannya!” ucapnya bersemangat.
“Sayang, hati-hati,” ujar Yuan mengingatkan tanpa mengurangi fokusnya dari ponsel.
Keinya hanya bergumam di antara senyumnya sebelum berlalu menjalankan misinya. Lain lagi dengan Kimo dan Rara yang menjadi saling lirik dan terlihat canggung.
“Kita dekat, tetapi kita masih merasa asing,” batin Rara yang kemudian berkata, “istirahatlah.” Ia menatap tulus suaminya dengan sebelah tangan yang kembali mengelus-elus bahu Kimo. Tatapan tulus yang dipenuhi cinta.
Kimo terdiam tak berdaya dan tak kuasa membalas Rara selain hanya memandangi wanita yang merupakan istrinya itu. “Diperlakukan begini, aku semakin merasa bersalah. Dan kata maaf menjadi satu-satunya yang bisa kuberikan,” batin Kimo.
Kimo berbicara dalam hatinya, “kita dekat, tetapi kita masih merasa asing.”
Bersambung ....
Bagaimana? Author enggak jahat, kan? ~``~
Tetap dukung dan cintai ceritanya, ya ~``~
__ADS_1
Salam sayang,
Rositi.