
Pelangi dan Kim Jinnan, sedang memilih foto untuk kepentingan resepsi pernikahan mereka, ketika suara seperti terompet sumbang, justru terdengar dari perut Kim Jinnan.
“Kayaknya tadi kamu sudah makan sangat banyak, deh!” ucap Pelangi yang kemudian meletakan sebuah foto masa kecilnya di kantong khusus.
Semua foto yang mereka pilih berukuran 3R. Dan dari semuanya, itu merupakan foto masa kecil mereka, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Kim Jinnan tersenyum tak berdosa membalas istrinya. “Mungkin efek terlalu banyak berpikir, aku jadi gampang lapar, Ngie!” balasnya sengaja mengelak, padahal sebenarnya, ia sedang gampang lapar. Terhitung sejak dua hari terakhir. Bahkan meski di siangnya sudah sampai makan siang di kantor Yuan, pulang dari kantor Yuan pun, Kim Jinnan sengaja membeli makanan dan kembali dimakan di kantornya.
Pelangi yang mendongak demi menatap wajah Kim Jinnan yang ada di atas kepalanya, masih menatap aneh pria itu. “Terlalu banyak berpikir bagaimana? Dari tadi, kan, kamu cuma sibuk gangguin aku!”
Dari tadi, Kim Jinnan memang tak beda dengan mandor yang hanya mengawasi Pelangi, sambil mendekap punggung wanita itu dari belakang. Sampai-sampai, Pelangi yang duduk di kursi kerja yang ada di kamar mereka, menjadi merasa pegal di bagian tengkuknya, lantaran sudah terlalu lama membungkuk, demi menyeimbangi keberadaan Kim Jinnan.
“Makan lagi, yuk! Itu dilanjut nanti saja. Dikumpulinnya, lusa, kan?” ajak Kim Jinnan.
“Enggak, ah! Sudah malam. Ajak Zean saja, sana. Apa Dean.”
“Aku perhatikan, kamu lagi diet, ya?” Kim Jinnan yakin, dengan pernyataannya. Apalagi, semenjak mengukur gaun, camilan rutinitas Pelangi menjadi aneka jus sayuran tanpa yang lain.
Pelangi mengangguk sambil terus memisahkan fotonya dan Kim Jinnan, lantaran kesalahannya, foto mereka jadi tercampur, dan harus dipisahkan agar lebih memudahkan kinerja orang yang akan menangani.
“Ngapain, sih, diet? Kamu saja sudah kurus, lho!” keluh Kim Jinnan.
“Ya ya ... Kim Jinnan, pecinta wanita gendut ....” Pelangi sengaja tak acuh.
“Bukan gendut, tapi semog!” cibir Kim Jinnan dan sukses membuat Pelangi tertawa.
“Sudah, ayo kita cari makan. Keluar atau pesan online saja?” lanjut Kim Jinnan sembari menggandeng sebelah tangan Pelangi.
“No ... ini sudah malam. Nanti gaunku enggak muat!” tolak Pelangi.
“Ya ampun ... hanya gara-gara gaun? Seribet itu?” Kim Jinnan menatap istrinya sambil kerap mengerjap saking kesalnha lantaran Pelangi lebih mementingkan gaun ketimbang kesehatannya sendiri.
“Sekali dalam seumur hidup, Jinnan!” balas Pelangi yang menatap Kim Jinnan sambil merengut.
“Tapi kan enggak harus segitunya, kan? Lagian ... kemarin aku sudah pesan ke kamu, buat bikin gaun yang lebih longgar, ibaratnya jaga-jaga.”
“Sudahlah, Jinnan. Jangan dibahas. Seminggu lagi, juga.” Pelangi sengaja menepis Kim Jinnan, dan menyibukkan diri dengan melanjutkan memisahkan fotonya.
“Kamu ih! Kalau dibilangin gini. Buat kesehatan kok mikir-mikir. Kamu cuma minum jus mana ada tenaga?” keluh Kim Jinnan.
“Jinnan ... satu minggu lagi!” tegas Pelangi yang sampai menatap sebal Kim Jinnan.
“Seribet itu, ya, jadi Pelangi? Hah ...!” Kim Jinnan memutuskan untuk berlalu daripada bertahan yang ia takuti bisa membuat keributannya dengan Pelangi menjadi berbuntut panjang.
“Jinnan ....” Pelangi sengaja merengek manja agar suaminya tidak benar-benar marah kepadanya. Namun pria itu terus berlalu bahkan sama sekali tidak menoleh kepadanya. Dan sepertinya, Kim Jinnan benar-benar marah.
“Jinnan ....” Pelangi menyusul Kim Jinnan dengan langkah tergesa.
“Sudah, enggak usah panggil-panggil, kalau ujung-ujungnya, kamu enggak mau makan!” Dan Kim Jinnan tetap dengan keputusannya.
Bertepatan dengan keluarnya Kim Jinnan dari kamar, Dean dan Zean juga sedang berbincang. Keduanya berdiri di depan pintu masing-masing, yang posisinya nyaris bersebelahan.
__ADS_1
“Kalian belum pada tidur? Kalian mau makan, enggak?” ujar Kim Jinnan langsung ke pokok tujuannya keluar dari kamar.
“Ya ampun, Jinnan ... iya ... aku juga lagi laper banget! Itu si Dean suruh masakin mi, malah enggak mau. Payah banget dia!” saut Zean yang langsung girang memeluk Kim Jinnan.
“No! Kamu itu harus diet, Zean! Lihat, ... pantat dan perutmu sudah sama-sama maju! Kayak lagi hamil tujuh bulan, tahu!” protes Dean yang sampai melangkah menghampiri Zean, di tengah kenyataannya yang masih bersedekap.
Kim Jinnan tak kuasa mengendalikan tawanya. Kenyataan tersebut juga yang membuatnya menekap mulut menggunakan tangan kanan. Sedangkan yang terjadi pada Zean, bocah itu kebingungan sambil mengelus-elus perutnya.
“Ada apa, ribut-ribut?” tegur Pelangi yang baru datang. Ia sampai melewati Kim Jinnan untuk menatap pasti keadaan. Namun di sana hanya ada Zean, Dean, selain Kim Jinnan, tanpa disertai perkara mencolok.
“Ini, Ngie ... si Zean maunya makan terus. Nyuruh-nyuruh aku buat masakin ini itu!” sergah Dean sengaja mengadu.
“Ya ampun, Zean. Sudah malam. Besok lagi saja, ya? Tau kalau lapar, banyakin minum air putih saja.” Pelangi mencoba mengambil jalan tengah.
“Lihat Ngie ... perutku sudah kayak semangka. Gara-gara kebanyakan minum, ini ... kembung!” balas Zean sambil mengelus-elus perutnya.
Antara ingin tertawa dan juga iba, Kim Jinnan memilih merangkul sebelah punggung Zean. “Sudah ... sudah ... kita pesan makanan saja.”
“Jinnan ...?” tegur Pelangi.
“Jinnan ... kamu memang yang terbaik!” Zean langsung mendekap erat paha Jinnan lantaran tingginya memang hanya seperut Kim Jinnan.
“Hidup itu hanya sekali, Ngie. Sudah, dinikmati saja! Nanti kalau dia sudah tahu cewek juga bakalan jaga penampilan.” Kim Jinnan mencoba memberi pengertian.
“Nanti? Sekarang saja, bahkan dari dulu, dia sudah tahu cewek cantik!” protes Dean.
Zean tertawa lepas mendengarnya. Membuat Kim Jinnan semakin gemas kepada bocah itu.
“Sudah enggak usah ketawa-ketawa! Tuh lihat, bokongmu saja sudah kayak kloset!” omel Dean yang sampai menabok bokong adiknya.
“Apaan sih, si Dean! Mending bokongku yang kayak kloset! Daripada kamu, ... wajahmu yang kayak kloset!” balas Zean sambil menatap kesal yang bersangkutan.
“Sudah ... sudah ...!” lerai Pelangi yang sengaja berdiri di tengah antara Zean dan Dean. Di mana, ia yang memunggungi Zean, berangsur menggiring Dean untuk melangkah ke ruang keluarga yang ada di seberang mereka.
“Jadi besok tolong bilang ke Kishi, lusa kalau bisa, dia datang ke sini buat latihan nanti acara pas resepsi. Kan dia bakalan jadi ....”
“Si Kishi jangan suruh ke sini! Kesenengen Dean, pacaran terus!” seru Zean.
Kim Jinnan langsung membekapnya dan sengaja mengalihkan Zean untuk sibuk dengannya. Tentu, memilih makanan yang akan mereka pesan secara online, menjadi tujuan utama mereka.
“Jinnan! Aku mau yang pedas!”
“Iya ... iya, ... sabar, ya ....”
“Tapi aku takut, bajuku yang buat resepsi beneran engggak muat, ini saja aku sudah nambah dua kilo, timbangannya!”
Rengekan Zean membuat Kim Jinnan tertawa.
“Ini juga semuanya makanan sehat, kok. Aman. Biar Ngi-ngi bisa makan juga. Ngi-ngie kan lagi diet!”
“Ah, ... cewekmah sibuk diet. Sok cantik! Tapi, aku juga suka, sih, cewek-cewek cantik! Hihihi!”
__ADS_1
Kim Jinnan yang sampai jongkok dan merangkul Zean, tak kuasa menahan tawanya. “Ya ampun, Zean ... kamu lucu banget!”
“Jinnan, kalian bahas apa? Tadi aku dengar! Jangan dianarin macam-macam, lho!” tegur Pelangi yang sampai memasang wajah galak.
“Cewek cantik, Ngie!” seru Zean.
Kim Jinnan langsung ketar-ketir dan buru-buru membekap mukut Zean menggunakan sebelah tangannya.
“Jinnan ... kamu ini, apa-apaan, sih?!” Pelangi yang merasa terancam sekaligus kecolongan, sengaja menghampiri kebersamaan untuk memastikan.
Dean menggeleng tak habis pikir atas ulah Zean. “Serius, ini buat pembelajaran. Jangan sampai ada Zean, dalam hubungan rumah tanggaku. Bisa kena semprot istri terus kayak Kim Jinnan!” gumamnya yang sampai menahan senyum geli.
Namun, kedatangan Yuan yang menggendong Mentari, sukses mengalihkan keributan Pelangi.
“Ini, Pa ... si Zean tambah genit.” Pelangi berhasil mengambil alih ponsel Kim Jinnan.
“Enggak, kok, Pa ... aku cuma lagi laper!” elak Zean.
“Laper lagi?” Yuan menggeleng tak habis pikir. “Jangan terlalu makan yang berminyak, ya. Sudah malam. Terus ingat, besok kamu mulai rutin olahraga, biar napas enggak sesak.”
“Biarin saja, Pah ... biar bengek sekalian!” timpal Dean yang kemudian mengambil alih Mentari dari gendongan Yuan.
“Ya ampun Dean jahat banget ... terkadang, aku mikir, lho. Jangan-jangan, aku ini angat pungut, soalnya Dean jahat banget ke aku. Tuh lihat, sama Riri saja, Dean sayang banget. Tapi kalau sama aku? Oh my wow!” keluh Zean dan membuat Yuan tertawa.
“Lah ... memang kamu anak pungut!” balas Yuan sambil melangkah mendekati Zean. Di mana, di belakangnya, Dean langsung tertawa lepas. Tawa lepas yang terdengar sangat jahat.
“Dean! Awas kamu, ya!” semprot Zean yang menjadi merengut kesal. Pun kendati Yuan juga sampai membopongnya.
“Kamu ini, ya? Papa tuh, mungut kamu, setelah mama ngelahirin kamu. Itu maksudnya. Jadi, kamu jangan berpikiran macam-macam, yaaa.” Yuan mencubit gemas hidung Zean yang nyaris tenggelam akibat tertutup pipi bocah itu yang terlampau tembem.
“Ya ampun, Papa ... kirain, aku beneran anak pungut!” keluh Zean masih saja cemberut. “Berarti kalau bukan aku yang anak pungut, si Dean dong, yang sebenarnya anak pungut?”
Yuan hanya menggeleng sambil tersenyum geli dan sengaja menghentikan sengketa anak pungut di antara Zean dan Dean. Karena seperti tujuannya, ia ingin mengetahui perkembangan persiapan acara resepsi pernikahan Pelangi dan Kim Jinnan. Terlebih, satu minggu lagi, acara akbar itu akan digelar.
“Sejauh ini, aman, Pah!” ujar Kim Jinnan meyakinkan.
“Tapi Ngi-ngie kayaknya kurusan, ya?” ujar Yuan yang menatap Pelangi dengan saksama. Wajah anak perempuannya itu bahkan sampai terlihat tirus.
“Si Ngi-ngie, diet, Pah ... takut gaunnya enggak muat!” celoteh Zean sambil bergelendot manja kepada Yuan yang masih menggendongnya.
“Ya ampun ... kalau begitu caranya, besok di resepsinya kita pakai baju tidur saja!” ujar Yuan sambil menggeleng tak habis pikir.
“Aku masih jaga pola makan, kok, Pa!” balas Pelangi meyakinkan.
“Aku malah penginnya pakai kostum Hulk, Pa. Biar keren!” timpal Zean yang masih saja ikut nimbrung.
“Pakai apa pun, yang penting kamu nyaman, dan tetap menjaga kesopanan.” Yuan menatap Zean penuh pengertian.
“Papa kalau dilihat-lihat, kok ganteng, sih, kayak aku?” lanjut Zean.
Dan semuanya menjadi tertawa lepas akibat celotehan tersebut, tanpa terkecuali Yuan yang sampai tersipu.
__ADS_1
“Ya ampun anak ini ... beneran mirip Kimo!” batin Yuan. “Efek sering bahas Kimo pas Keinya hamil Zean, Zean malah keluar dengan kepribadian yang lebih ajaib dari Kimo!” Dan Yuan masih berbicara dalam hati. Di mana, ia merasa untuk membagikan rahasia itu kepada Pelangi dan Kim Jinnan, agar hasilnya tidak fatal seperti Zein.
****