
Catatan : Dari sekian ribu pembaca, tolong tinggalkan jejak kalian minimal like, jika memang kalian enggak ada waktu untuk menuliskan komentar. Sebab, peraturan di MT semakin ketat. Karya siapa yang ramai, itulah yang bakalan diutamakan dalam segala hal. Tolong banget, yaa. Masa iya, setiap harinya hampir sepuluh ribu pembaca, yang ninggalin jejak, bisa Author hafal? 😭😭😭
Selamat membaca,
“Kamu pikir aku tidak berani menghadapi orang tuamu?”
Bab 5 : Dalang Penyadapan Ponsel Pelangi
-Pelangi ... sore ini aku akan ke rumahmu. Kuharap kamu tidak menghindariku. Ini aku, Kim Jinnan. Tolong ingat dan jangan lupa lagi!-
-Hari ini, kamu libur, kan?-
-Pelangi, satu menit lagi saja kamu tidak merespons, kupastikan aku akan langsung datang menemuimu sekarang juga-
-Pelangi, ... apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan? Kenapa kamu begitu hobi bahkan berbakat membuatku marah?!-
-Ini yang terakhir, Pelangi. Cepat telepon aku!-
Deretan pesan WA yang menghiasi ponselnya, sukses membuat dahi Pelangi berkerut tipis. Pelangi yang baru selesai mandi, bahkan gadis itu masih mengenakan pakaian handuk berikut kepalanya yang juga terbungkus handuk berwarna merah hati tak ubahnya pakaian handuk yang dikenakan, menjadi menggeleng tak habis pikir.
“Nah, ini baru. Pesan-pesannya masuk ke ponselku. Tapi kenapa selama ini, pesan darinya tidak pernah ada?” gumam Pelangi sambil mengetuk-ngetuk layar ponselnya menggunakan jempol tangan kanan yang memang mengendalikan ponsel.
“Masa bodo ah ... aku mau siap-siap sarapan sebelum ke rumah ayah Athan saja!” Pelangi melempar ponselnya asal ke tengah-tengah kasurnya yang masih berantakan. Selimut merah muda yang menghiasi masih tergulung dan menjuntai ke sebelah sisi bekas Pelangi berbaring. Selain itu, sebuah bantal guling juga terkapar di lantai sebelah bekas Pelangi berbaring.
Ketika Pelangi mulai menuruni anak tangga, ia mendapati meja makan yang sudah dihuni lengkap oleh keluarganya, tanpa terkecuali Mentari yang telah duduk di antara Yuan dan Keinya, di meja khusus. Mentari duduk di meja makannya yang dihuni porsi sarapan bocah itu, di mana Mentari juga sampai makan sendiri.
Tampak nasi goreng bertabur potongan kecil brokoli dan wortel yang sedang Mentari aduk kemudian makan sendiri.
“Pagi, Pa ... Ma ... semuanya?” sapa Pelangi.
“Pagi, Sayang ...?” balas Yuan ramah, dan kemudian melahap nasi goreng yang menghiasi piring sarapannya.
Sedangkan yang lain hanya membalas sekaligus menyambut Pelangi dengan senyuman.
Dean segera bangun dan menarikkan kursi untuk Pelangi. Pelangi duduk di kursi paling ujung tepat berhadapan dengan Yuan. Gadis itu duduk di antara Dean dan Zean.
“Makasih, De ...,” ucap Pelangi yang kemudian meraih garpu dan sendok di kedua sisi piring berisi nasi goreng lengkap dengan telor goreng mata sapi.
“Ngi-ngie, ... aku sudah cerita, lho ...,” ucap Zean tiba-tiba yang sedang menikmati potongan telur mata sapinya.
Zean menatap Pelangi dengan serius.
“Cerita apa, Zean?” balas Pelangi yang menatap Zean sambil mengerutkan dahi. Kemudian ia menikmati satu sendok nasi goreng miliknya, mengunyahnya dengan hati-hati.
“Aku sudah cerita kalau Ngi-ngie punya pacar!” balas Zean dengan semangatnya.
Lanjutan ucapan Zean, tak hanya membuat Pelangi tersedak, sebab Dean juga mengalami hal yang sama. Kendati demikian, Dean memberikan segelas air putih miliknya, berikut Pelangi yang juga melakukan hal yang sama kepada Dean. Jadilah, daripada bertukaran, Pelangi dan Dean segera meminum air minum masing-masing.
Zean menatap apa yang menimpa kedua kakaknya dengan ekspresi biasa-biasa saja. Lain halnya dengan Yuan dan Keinya yang menjadi saling berkode mata. Dari raut wajah keduanya, Yuan dan Keinya begitu mencemaskan keduanya.
“Bocah sok tahu!” cibir Dean pada Zean sesaat setelah selesai minum.
Zean hanya menatap sinis Dean dengan sebelah sudut bibir tipisnya yang sampai terangkat.
“Zean, ... kata siapa, Kakak sudah punya pacar?” keluh Pelangi akhirnya sambil meletakkan gelas minumnya yang isinya sampai tandas.
“Aku mendengar obrolan kalian. Obrolanmu dengan Dean. Dan aku sudah menyelidikinya. Pria bernama Kim Jinnan itu!” balas Zean dengan tegas.
Kali ini, Zean terlihat begitu menyebalkan di mata semuanya, tanpa terkecuali di mata Yuan dan Keinya.
“Pa ... Ma ... serius aku belum punya pacar. Si Zean aneh nih!” lanjut Pelangi sambil menatap kedua orang tuanya penuh keyakinan.
“Jadi, di sini aku yang bersalah karena dianggap berbohong? Hanya karena aku anak kecil, begitu?” sergah Zean semakin kesal.
“Bukan begitu. Mungkin saja kamu salah dengar. Atau ... mungkin maksud Kak Ngi-ngie dan Kak Dean, sebenarnya mereka sedang bercanda?” ujar Keinya berusaha mencairkan suasana.
“Si Zean memang bahaya ... padahal awalnya aku enggak mau cerita dulu, sebelum tahu duduk permasalahannya. Sebelum aku tanya kejelasannya ke Ayah Athan,” batin Pelangi yang menjadi merengut sebal.
Dan dengan berat hati, Pelangi menceritakan semuanya. Tentang Kim Jinnan, juga status mereka sebagai kekasih virtual. Dan karena hal tersebut pula, Pelangi sangat ingin menjelaskannya kepada Athan.
“Siapa yang tega menyadap akunmu bahkan ponselmu?!” pekik Keinya sangat marah.
Kejadian yang menimpa Pelangi mengingatkan Keinya pada masa lalu. Ketika Athan dan Tiara hanya mempermainkannya. Juga, ketika Ryunana mencoba mengusik web novel Keinya. Keinya benar-benar tidak bisa tinggal diam jika Pelangi putrinya juga mengalani hal serupa.
Yuan yang menyikapi cerita Pelangi dengan jauh lebih tenang, segera berdeham seiring tatapan seriusnya yang tertuju pada Zean. “Kamu mengetahui Kim Jinnan itu siapa?” tanyanya hati-hati kepada Zean.
__ADS_1
Zean yang cuek dan terus menikmati sisa nasi goreng di piringnya pun berkata sambil menatap Yuan. “Dia pewaris tunggal perusahaan konstruksi ternama di Indonesia. Bahkan perusahaan kakeknya sempat bekerja sama dengan perusahaan Papa.”
“Kamu tahu semua itu dari mana?” tanya Yuan cepat kendati gayanya masih sangat tenang. Ia menatap Zean dengan sangat seriua.
Kali ini, Zean mendadak kehilangan nyali. Bocah itu menatap bingung orang-orang di sekitarnya yang langsung menjadikannya sebagai pusat perhatian.
Meski sudah berusia enam tahun, tetapi Zean memang belum dibebaskan menggunakan gawai. Jadi aneh saja jika Zean bisa mengetahui semuanya tanpa alasan yang jelas. Atau jangan-jangan, Zean ada hubungannya dengan kehadiran Kim Jinnan dalam hidup Pelangi?
Zean berangsur menunduk dan tampak begitu menyesal. “Aku pikir dia cukup keren. Dan aku melakukannya tidak sendiri.”
Mendengar pengakuan Zean, Pelangi, Dean, Keinya, berikut Yuan, refleks menelan ludah. Seperti dugaan mereka meski belum sempat diutarakan. Zean tahu semuanya karena bocah itu dalang di balik semuanya.
Tak lama setelah itu, setelah membuat suasana meja makan menjadi hening, Yuan pun berdeham. “Ya sudah, Zean. Jelaskan sejelas-jelasnya.”
“Ngi-ngie terlalu cantik. Dan aku rasa, dia harus mendapatkan pria yang keren. Sedangkan selama ini, dia terlalu sibuk dengan Dean. Bahkan karena itu, banyak yang bilang kalau Ngi-ngie dan Dean pacaran,” lanjut Zean yang masih menunduk.
“Ember banget! Mana mungkin kami berpacaran! Ngi-ngie ini Kakak kita! Aku baik ke Ngi-ngie karena selain dia kakakku, Ngi-ngie--” jelas Dean yang tertahan lantaran Yuan tiba-tiba berseru.
“Bukan begitu, Zean.” Yuan kembali berdeham dengan kenyataannya yang menyikapi keadaan dengan cukup serius.
“Kamu belum bisa memahami hal semacam ini, meski kamu sudah berusaha keras. Jangan diulangi, tapi kamu juga harus bisa menjelaskan apa yang kamu lakukan kepada pria yang bernama Kim Jinnan,” jelas Yuan berusaha memberikan pengertian.
“Semua ini salahku, Pa ... maaf,” sesal Keinya tepat di sebelah telinga Yuan.
Keinya memang bertutur lirih, tetapi semua anaknya masih bisa mendengar dengan baik. Kenyataan tersebut pula yang membuat Pelangi, Dean, termasuk Zean, menatap Keinya dengan wajah yang dipenuhi penyesalan.
“Ma ... maaf,” sesal Zean.
“Mama enggak salah. Aku yang ceroboh,” timpal Pelangi meyakinkan.
“Aku juga. Maaf, Ma ... Pa,” sambung Dean.
Pertanyaannya kini, dengan siapa, Zean bekerja sama, dan kenapa bocah itu sampai bisa terhubung dengan Kim Jinnan?
***
Kehadiran Pelangi di rumah Athan, langsung disambut hangat oleh Kimi.
“Ngi-ngie, ke sini sama siapa?” ucap Kimi yang kemudian mendekap hangat tubuh putri sambungnya itu, lengkap mencium kedua pipi Pelangi.
“Oh, Deannya enggak mampir?” balas Kimi sembari mengakhiri dekapan mereka.
“Enggak, Ma. Buru-buru. Paling nanti pulangnya. Ini saja dia sudah telat,” balas Pelangi meyakinkan.
Dari anak tangga yang tak jauh dari kebersamaan, Kishi anak pertama Kimi dan Athan, tampak begitu antusias menatap kehadiran Pelangi.
“Ngi-ngie, ke sini sama siapa? Dean ikut, enggak?” seru Kishi yang mempercepat langkahnya.
“Dean ada urusan. Paling nanti pulangnya baru bisa mampir,” sergah Pelangi yang sampai mendongak demi menatap Kishi.
“Ya sudah, kamu sama Kishi dulu. Kalian mau Mama siapkan buah enggak? Apa jus saja?” tawar Kimi sembari mengelus perutnya yang sudah sangat buncit. Karena kini, wanita itu memang sedang hamil anak kedua.
“Enggak usah repot-repot, Ma ... nanti, kalau aku mau, aku juga ambil sendiri,” sergah Pelangi ketika Kimi baru saja meninggalkan kebersamaannya dengan Kishi.
Kimi mengulas senyum sambil menggeleng. “Enggak apa-apa, kamu kan jarang ke sini. Apa salahnya kalau Mama juga pengin manjaain kamu?” ucapnya sebelum berlalu.
“Makasih, Ma ...,” balas Pelangi Tulus.
“Iya, Sayang ...,” balas Kimi sambil terus berlalu.
Kishi segera menuntun Pelangi untuk duduk di sofa keluarga yang posisinya ada di belakang kebersamaab mereka.
“Ayo duduk, Ngie ....”
Pelangi menatap sabar Kishi. Ya, sabar. Karena biar bagaimanapun, gadis berusia lima belas tahun di hadapannya dan sampai menggandengnya itu juga bagian dari penyebab Zean melakukan penyadapan ponselnya. Pun meski sekarang, semua pesan dari Kim Jinnan juga sudah mulai benar-benar menghiasi ponsel Pelangi.
“Bagaimana sekolahmu?” tanya Pelangi basa-basi.
Kishi yang sampai duduk sila menghadap Pelangi sampai mengangguk. “Cukup membosankan. Tapi Senin besok, aku akan pindah ke sekolah kalian!” sergahnya bersemangat.
“Oh?” Pelangi mengangguk-angguk cukup serius. “Sayang sekali ....”
Lanjutan terakhir Pelangi membuat Kishi terusik. Gadis itu menatap Pelangi sambil mengernyit. “Sayang sekali? Sayang sekali bagaimana, maksudnya, Ngie?” tanyanya memastikan.
“Iya,” balas Pelangi sambil mengangguk dan menatap lawan bicaranya penuh keseriusan. “Sayang sekali kamu pindah ke sekolah kami, padahal hari ini, papa sudah mengurus kepindahan sekolah kami ke luar negeri. Jadi mungkin, Senin besok pun kami sudah tidak sekolah di sana.”
__ADS_1
“Kok gitu?” sergah Kishi tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya. “Padahal, aku sengaja minta pindah sekolah, biar bisa lebih dekat dengan Dean,” sesalnya dalam hati.
Pelangi mengangguk-angguk santai. “Iya. Ini saja, aku ke sini karena mau pamit sama ayah. Ayah ada di rumah, kan?”
“A-ayah sedang keluar sebentar. Beli keperluan dapur tadi, Ngie,” balas Kishi. “Ngie, kalau begitu, aku ikut pindah sekalian, ya, ke kalian, biar lebih seru. Bosan tahu, sekolah enggak ada teman.”
“Masa iya, kamu enggak punya teman?” balas Pelangi.
Kishi segera mengangguk. “Serius, Ngie. Aku enggak punya teman. Aku kan introvert akut ....” Ia menunduk sedih.
Pelangi menghela napas pelan. “Gimana, ya? Nanti coba lihat situasi, atau kalai enggak, kamu nyusul saja.”
“Ya sudah ... nanti aku langsung bahas ini ke papa!” sergah Kishi yang menjadi bersemangat
Tak lama setelah obrolan itu, Athan pulang. Seorang pekerja di rumah langsung membukakan pintu untuk pria itu. Athan yang langsung antusias ketika mendapat kabar Pelangi datang, menyerahkan keempat kantong belanjaannya kepada pekerja tersebut untuk dibawa ke dapur.
“Ngi-ngie baru datang? Kenapa baru datang? Sering-sering ke sini kenapa? Malam ini nginep, ya?” sergah Athan yang langsung duduk di antara Pelangi dan Kishi. Akan tetapi, Athan langsung memeluk bahkan mengacak-acak gemas kepala Pelangi.
Athan terlihat begitu menyayangi Pelangi. Bahkan bagi Kishi, papanya selalu tidak bisa berhenti tersenyum ketika sudah ada Pelangi. Dan Pelangi, seolah menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan Athan. Itu juga yang membuat Kishi memilih pergi. Kishi melangkah sebal meninggalkan kebersamaan. Gadis itu melangkah loyo menuju dapur, mencari Kimi mamanya.
“Yah ... bantuin aku ... ini, ponsel aku ada yang nyadap. Maksudku, datanya apa bagaimana tolong Ayah urus.” Pelangi memberikan ponselnya kepada Athan tanpa menjelaskan perihal penyebab ponselnya bisa tersadap.
Pelangi memang bisa saja membuang ponsel berikut semua yang ada di dalamnya. Namun, jika ponsel tersebut juga sampai menyangkut permasalahan serius dengan Kim Jinnan, Pelangi rasa, ia harus benar-benar membersihkannya.
Athan mengernyit, menatap bingung ponsel Pelangi. “Diperbarui lagi?” ujarnya. Karena sebelumnya, Zean memang sudah datang untuk menghubungkan ponsel Pelangi dengan ponsel mikik Zean. Akan tetapi, sebenarnya itu bukan ponsel Zean, melainkan ponsel Kishi yang lain. Jadi, Zean yang diam-diam bekerja sama dengan Kishi juga membawa ponsel Pelangi tanpa izin hingga jadilah, penyadapan ponsel tanpa sepengetahuan yang punya--begitulah yang terjadi menurut cerita Zean.
“Ayah tahu?” tanya Pelangi lirih sambil menatap Athan penuh kepastian.
Athan segera mengangguk sambil menatap Pelangi. “Zean yang kamu utus ke mari, kan?”
Pelangi yang tersenyum geli kemudian menggeleng. “Lupakan, Yah. Itu hanya akal-akalan dia. Tapi aku boleh minta tolong, kan? Hapus semua penyadapan sekaligus penyaringan data ponsel itu. Karena meski aku sudah pakai yang baru, aku ingin ponselku bersih.”
Athan yang menjadi bingung pun meminta kejelasan. Jadilah, Pelangi menceritakan semuanya. Perihal rencana Zean dan Kishi. Zean yang tidak suka Pelangi dekat-dekat dengan Dean, juga Kishi yang nyatanya menyukai Dean.
“Ayah enggak usah mikir macam-macam, ya? Papa sama mama juga sudah tahu, dan mereka bilang, apa yang aku lakukan sudah benar. Sedangkan mengenai Kim Jinnan, ... aku bisa mengatasinya.”
Athan mengangguk mengerti. “Jika pria itu masih macam-macam, lapor sama Ayah!” ucapnya bersemangat.
Pelangi tergelak, sedangkan Athan langsung mendekapnya erat.
“Malam ini Ayah akan masak spesial buat Ngie-ngie!” ujar Athan yang masih mendekap erat Pelangi dan sampai ia timang-timang.
“Tapi aku enggak bisa menginap, Yah ... soalnya malam ini aku juga sudah ada acara bareng mama papa.”
Dari kejauhan, Kishi langsung mendekap erat sebelah lengan Kimi yang membawa nampan berisi potongan buah apel. Potongan buah apel yang juga Kimi siapkan sendiri.
Kimi menatap Kishi penuh pengertian. Kimi tahu, Kishi sangat pencemburu. Tak ubahnya dirinya ketika masih muda apalagi remaja. Dan Kimi paham apa yang sedang Kishi rasakan.
“Apa yang papa lakukan sekarang, karena papa sangat menyesal. Percayalah ... baik kamu maupun kak Ngi-ngie sama saja di mata papa. Namun karena papa jarang bertemu kak Ngi-ngie, jadi Papa terkesan lebih peduli. Padahal, ... semuanya sama saja.”
“Papa dan Mama sangat menyayangi kalian ....” Kimi masih berusaha meyakinkan Kishi.
“Serius, kan, Ma?” tanya Kishi memastikan.
Kimi mengangguk di antara senyum tulus yang menghiasi wajah cantiknya. Ia menuntun gadis verambut lurus sebahu di hadapannya untuk menghampiri kebersamaan Athan dan Pelangi.
***
Pelangi memang merasa lega karena akhirnya, urusan ponsel sudah beres. Hanya saja, ketika ia baru pulang dan sampai rumah bersama Dean, sebuah mobil yang ia kenali sebagai mobil Kim Jinnan, sudah terparkir tak jauh dari gerbang rumah kediaman Yuan.
“Si Kim Jinnan benar-benar nekat!” keluh Pelangi sambil menatap sebal keberadaan mobil.
Dean yang kali ini menyetir sendiri memilih cuek. “Biarkan saja, Ngie. Coba apa yang mau dia lakukan? Biar saja dia menunggu sampai bertemu papa!”
Pelangi mengangguk setuju dengan usul Dean. Mereka berlalu begitu saja memasuki halaman rumah sesaat setelah seorang satpam membukakan gerbang untuk mereka.
Dean memarkir mobilnya tepat di depan garasi mobil. Dan ketika Pelangi maupun Dean turun dari mobil, hal yang sama juga dilakukan oleh Kim Jinnan. Kim Jinnan yang kali ini hanya mengenakan kemeja lengan panjang warna hitam tanpa disertai jas.
Kim Jinnan menatap lurus ke arah Pelangi yang juga kebetulan balik badan menatap ke arah Kim Jinnan. Sayangnya, gerbang rumah berangsur tertutup dan membuat adegan saling pandang keduanya menjadi usai.
“Kamu pikir aku tidak berani menghadapi orang tuamu?” batin Kim Jinnan yang segera melangkah tegas dan berhenti tepat di depan gerbang rumah yang baru menutup.
“Tekan belnya,” titah Kim Jinnan pada kedua pengawalnya.
Salah seorang pengawal Kim Jinnan segera menekan bel. Dan tak lama setelah itu, terdengar langkah lari mendekat. Satpam di rumah Pelangi langsung bergegas memastikan.
__ADS_1
Bersambung ....