
“Mari kita menikah. Aku akan memberimu semuanya. Semua yang kamu mau. Cukup lima bulan saja.”
Bab 43 : Kesepakatan
“Apa yang kamu ketahui tentang Kainya?” tanya Rara hati-hati.
Rara yakin, Kimo juga mengetahui latar belakang Kainya. Nyatanya, Kimo juga tahu mengenai hubungan Kainya dan Yuan, tanpa terkecuali yang berkaitan dengan Keinya.
Kimo tidak langsung menjawab. Ia justru menjadi memperhatikan Rara yang masih menggendong Pelangi. “Memangnya kamu enggak capek?” keluhnya yang kemudian menghela napas dalam, merasa tak habis pikir pada Rara yang seharusnya lelah. Tak semata perjalanan super cepat mereka dari Jakarta ke Bandung menggunakan motor di tengah waktu yang masih sangat pagi, melainkan masalah yang hingga detik ini harus Rara selesaikan.
Mengenai pernikahan Rara yang gagal dan pastinya memakan banyak biaya. Kimo yakin, Rara belum benar-benar menyelesaikannya. Belum lagi, menata perasaan terlebih hati bukan perkara mudah. Yang ada, karena Rara selalu berusaha baik-baik saja, pura-pura bahagia ketika sedang di depan orang lain, kenyataan tersebut membuat Rara sangat menyedihkan di mata Kimo.
“Mmm ...?” Rara mengerucutkan bibirnya sembari menengadah untuk menatap Kimo yang kiranya 40 senti lebih tinggi darinya.
Bukannya menjawab, Kimo justru membahas hal lain. Mereka memang belum kenal lama. Masih hitungan hari, itu saja karena perkenalan tidak sengaja. Selain itu, mereka juga tidak dekat. Hanya kebetulan saja yang membuat mereka menghabiskan waktu bersama. Dan karena Kimo sahabat Yuan di mana pria itu juga mengetahui segelintir fakta kehidupan Yuan termasuk mengenai Kainya dan Keinya, Rara merasa keputusannya bertanya pada Kimo bukan hal yang salah.
“Lebih baik kamu istirahat selagi Pelangi sudah tidur.”
Ada gurat cemas yang terpancar dari ekspresi termasuk suara Kimo. Rara merasa cukup tersentuh karenanya. “Kamu mencemaskan, aku?” tanya Rara ragu sesaat setelah menunduk. Sulit dipercaya kalau Kimo sampai peduli bahkan mencemaskannya.
“Enggak usah baper. Manusiawi karena aku masih normal. Aku juga punya hati. Lagi pula, kamu kelihatan banget pura-puranya.”
Meski sempat merasa bersyukur Kimo mengkhawatirkannya, balasan barusan sukses membuat Rara kesal. “Fokus ke Kainya saja,” tegasnya sewot. Toh, Rara tidak bermaksud lain apa lagi sampai mencoba mencuri perhatian Kimo. Terlebih, Rara bukan tipikal orang yang memiliki banyak waktu. Andai Keinya tidak harus mengurus Yuan, tentu Rara lebih memilih berkutat dengan laptop atau ponsel, untuk mengerjakan pesanan naskah demi bisa secepatnya membereskan tanggungan biaya pernikahan dan jumlahnya tidak sedikit.
Kimo berdeham. “Kainya memiliki keluarga kaya raya. Itu kenapa dia memiliki banyak bisnis termasuk sederet bisnis di luar negeri.”
“Oh … berarti keluarga angkat, ya?” balas Rara cepat dan sengaja memastikan. “Mana mungkin itu keluarga kandung, sedangkan Kainya dan Keinya kembar?” protes Rara ketika Kimo justru menatapnya dengan dahi berkerut, seolah menepis anggapan Rara. Kimo bahkan menatapnya dengan tatapan aneh. “Aku enggak bermaksud sok tahu. Sekadar menebak saja!” ujar Rara lantaran tatapan Kimo begitu berlebihan.
“Menurutmu?” balas Kimo yang justru balik bertanya.
Rara terheran-heran. Apa yang Kimo tanyakan justru menguatkan anggapannya, Kimo memang menyangkal anggapannya. “Jangan bercanda, aku serius!” tegas Rara lirih sambil memelotot pada Kimo.
“Jangan terus-menerus mengurus kebahagiaan orang lain. Kamu terlalu sibuk mengurus kebahagiaan orang lain, sampai-sampai kamu lupa dengan kebahagiaanmu sendiri!” omel Kimo.
“Apa sih? Enggak jelas banget? Sampai kapan pun, meski kami tidak punya ikatan darah, Keinya tetap bagian dari hidupku. Keinya sungguh bukan orang lain!” Rara mendengkus sebal. Namun, kenapa Kimo seolah menutup-nutupi jati diri Kainya? Kenapa pria itu seolah sengaja menyembunyikannya dari Rara?
__ADS_1
“Apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?” hardik Kimo lantaran Rara menatapnya curiga sekaligus marah.
Kimo memilih berlalu meninggalkan Rara yang jelas menjadi semakin ingin tahu.
“Dia pikir aku akan mengemis informasi padanya?” rutuk Rara kesal. Namun, tiba-tiba saja pemikirannya berubah.
Biar bagaimanapun, Kimo merupakab satu-satunya sumber informasi terpercaya mengenai Kainya. Dan mau-tidak mau, Rara harus menarik kata-katanya, membuang jauh-jauh rasa gengsi bahkan harga dirinya demi kebahagiaan Keinya. Karena hanya dengan begitu, Rara bisa menjamin kebahagiaan Keinya dari Kainya.
Ketika Rara melangkah pelan sambil menunduk menghampiri Kimo yang berdiri di dekat bangku tunggu seberang, diam-diam Kimo tersenyum sarkastis.
“Kimo ...?” panggil Rara lirih karena gengsi.
Bagi Rara, Kimo tipikal yang akan memanfaatkan semua hal tanpa terkecuali sebuah hubungan. Rara yakin, Kimo mengharapkan imbalan dari setiap informasi yang akan diberikan. Belum lagi, pengalaman kejadian sebelumnya juga cukup jelas menggambarkan siapa Kimo? Pria itu tipikal arogan dan gemar menjadikan kekayaan untuk menindas orang lain, apalagi orang seperti Rara yang Kimo anggap tidak lebih baik dari Kimo.
Kimo sengaja abai dan tetap memunggungi Rara.
“Aku tahu kamu dengar, enggak usah pura-pura, nanti budek beneran baru tahu rasa!” omel Rara.
Kimo berusaha untuk tidak tertawa. Sebisa mungkin ia memasang wajah cuek. “Oh, ada yang mengajak mengobrol? Aku pikir ada sapi kentut?” ujarnya pura-pura terkejut. Ia dapati wajah manis Rara yang seketika menjadi merah padam dan Kimo yakin karena Rara marah kepadanya. Karena meski memiliki paras manis, Rara memang tipikal pemarah dan gampang baper.
“Jahat? Engak salah?” tatapan Kimo terhadap Rara berubah menjadi sengit.
Kimo merasa sangat kesal jika ada orang yang asal berasumsi apalagi menuduh, tanpa terkecuali anggapan Rara yang mengecapnya jahat.
“Aku yakin kamu tahu, apa yang ingin aku tahu sangat berpengaruh untuk Keinya dan Yuan!” tegas Rara. Rara berusaha keras mengendalikan nada suaranya agar tidak selantang sebelumnya.
Kimo mengangguk-angguk santai dengan kedua tangan tersimpan di kedua sisi saku celana jin hitam yang dikenakan. Ia menertawakan Rara. “Jangan berlebihan. Yuan memiliki segalanya dan dia bisa melakukan semuanya, apalagi semua yang berkaitan dengan Keinya.”
Tiba-tiba saja hati Rara menjadi begitu sakit sesaat setelah mendengar balasan Kimo yang justru membuatnya menjadi manusia tak berguna bahkan itu untuk Keinya. Benar, Yuan memiliki segalanya dan bisa melakukan semuanya untuk Keinya. Dengan kata lain, Keinya juga sudah tidak membutuhkannya.
Lantaran Rara hanya diam dan bahkan menunduk sedih, Kimo berdeham untuk mencairkan suasana. “Baiklah. Mari kita buat kesepakatan.”
Rara mengernyit menatap Kimo tidak mengerti. “Kesepakatan?” tegasnya mengulang pernyataan Kimo.
Kimo mengangguk santai sambil menatap wanita bertubuh mungil di hadapannya.
__ADS_1
“Kita ini teman, kan? Kenapa harus ada kesepakatan?” Rara tak habis pikir sekaligus geregetan pada Kimo. Apa jangan-jangan, Kimo tidak berharap menjadi temannya karena tidak sudi?
Kimo mengerutkan dahi dan memasang ekspresi keberatan perihal anggapan Rara. Mendapati itu, Rara menjadi bergidik ngeri bahkan mundur satu langkah demi menjaga jarak dari Kimo.
Kimo menghela napas dalam sambil meluruskan tubuhnya ke arah Rara. Seolah-olah, hal serius memang akan ia katakan. “Aku serius. Mari kita buat kesepakatan. Aku benar-benar tidak suka dianggap jahat apalagi oleh wanita sepertimu!”
“Wanita sepertiku?” Rara menghela napas beberapa kali akibat sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya. Ternyata Kimo yang ia pikir baik apalagi pria itu juga sahabat Yuan, justru memiliki maksud terselubung dalam hubungan bahkan itu padanya.
“Apa maksudmu dengan anggapan itu? Kalau kamu memang memiliki tingkatan dalam menjalin hubungan apalagi dengan wanita sepertiku, enggak seharusnya kamu mengharapkan kesepakatan denganku!” tegas Rara. “Memangnya dia pikir aku wanita seperti apa? Jangan-jangan aku sudah melakukan kesalahan yang membuatnya berpikir buruk tentang aku?” batinnya kemudian.
Kimo berkecak pinggang sambil menghela napas dalam dan menepis tatapan Rara.
Rara makin geregetan dan ingin mencabik-cabik Kimo andai saja pria itu bukan sahabat Yuan. Rara tidak mau hubungan Yuan dan Keinya bermasalah hanya karena hubungannya dengan Kimo. Ah benar. Aku enggak boleh dekat-dekat dengan Kimo, karena biar bagaimanapun, hubungan kami akan mempengaruhi hubungan Keinya dan Yuan.
Rara berlalu meninggalkan Kimo dengan rasa kesal berikut sakit hati yang masih menyertainya karena cara pikir pria itu.
“Mari kita menikah. Aku akan memberimu semuanya. Semua yang kamu mau. Cukup lima bulan saja.” Kimo mengatakan itu tanpa keraguan.
Dikarenakan koridor keberadaan mereka sepi, Rara bisa mendengar kata-kata Kimo dengan sangat jelas. Pria itu mengajaknya menikah dan berjanji akan memberikan semua yang Rara inginkan, dengan catatan, pernikahan mereka cukup lima bulan? Apakah kesepakatan itu yang Kimo inginkan? Pernikahan selama lima bulan? Apa maksudnya?
“Jangan pura-pura terkejut apalagi tidak tahu. Pikirkan baik-baik. Karena kalau kamu memang menyayangi Keinya, kamu tidak akan terus-menerus membuatnya khawatir. Biarkan Keinya memulai kebahagiaannya tanpa harus terus-menerus memikirkanmu!”
Kimo masih bergaya tenang, sementara wanita di hadapannya masih bergeming, sama sekali tidak melakukan pembalasan.
Luka di hati Rara kian bertambah. Bahkan karenanya, Rara menggeragap. Ia benar-benar tidak percaya dengan ajakan Kimo. Pria arogan itu pasti memiliki maksud terselubung! Atau, Kimo sedang dalam keadaan yang sangat sulit dan sangat membutuhkan bantuannya? Faktanya, bila pria itu tulus ingin menikah dengannya, tak seharusnya ada batas waktu. Memikirkan itu, hati Rara menjadi semakin sakit. Luka yang Gio torehkan saja masih sangat terasa dan sengaja ia simpan rapat-rapat di balik setiap gelak tawa berikut sikap tenang yang menyertainya. Namun, Kimo yang bahkan membantunya mengetahui kebusukan Gio justru mengajaknya untuk sebuah kesepakatan.
Bagi Rara, apa yang Kimo lakukan jelas tidak menghargainya. Bahkan baginya, pria itu jauh lebih jahat dari Gio. Bahkan meski anggapan Kimo tidak sepenuhnya salah. Bahwa apa yang menimpanya sangat berpengaruh kepada Keinya. Ibaratnya, Rara juga menjadi beban tersendiri untuk Keinya.
Dengan dada yang terasa semakin sakit jika Rara terus memikirkan hubungannya dengan Keinya, Rara mencoba berdamai dengan hatinya. Melihat Keinya yang sekarang dan dulu sudah sangat berbeda. Kebahagiaan Keinya sudah sangat nyata. Bersama Yuan, masa depan Keinya akan sangat cemerlang. Tak ada sedikit pun celah yang menghalangi kebahagiaan sahabatnya karena Keinya memiliki Yuan. Sementara dirinya? Benar kata Kimo, Rara hanya beban yang akan merusak kebahagiaan Keinya. Apalagi sedekat apa pun hubungan Rara dengan Keinya, semuanya pasti akan berubah bahkan berbatas, ketika keadaan mereka juga sudah berubah.
Pertemuan memang tidak selalu berakhir dengan perpisahan. Karena terkadang, kita membutuhkan jeda, waktu untuk menciptakan keindahan yang akan kita berikan di pertemuan selanjutnya kepada mereka yang kita anggap istimewa. Rara rasa, ia juga harus lebih bekerja keras agar dirinya bisa menciptakan kebahagiaan lebih layak untuk orang-orang yang ia sayangi. Rara harus menjadi orang hebat yang juga akan membuat Keinya bahagia, terlepas dari Rara yang harus membiasakan diri tidak bergantung pada Keinya.
Ketika Rara sadar dari pemikiran sekaligus renungannya, ternyata wajahnya sudah basah akibat linangan air matanya yang tak hentinya rebas. Rara merasa begitu kecil, bahkan sekadar harus berhadapan dengan Keinya.
“Baiklah. Aku akan lebih sadar diri. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya wanita pemarah yang baru saja gagal menikah. Hanya seorang ghost writer. Benar-benar enggak ada yang bisa dibanggakan. Jadi tunggu aku. Lihat saja nanti, aku juga bisa menjadi orang hebat bahkan kaya!” rutuk Rara pasrah.
__ADS_1
*****