
Seorang pria berparas tampan dan bertubuh jangkung segera ke luar dari mobil dengan wajah panik.
“Astaga! Bagaimana bisa aku menabrak orang seperti ini,” umpat pria itu sembari mengusap kasar wajahnya. “Kenapa wanita itu berjalan di tengah jalan, sih! Apa dia sengaja mau cari mati?”
Beberapa pengendara lain mulai berhenti dan berdatangan. Mereka terlihat memeriksa apa yang terjadi, karena mobil pria itu menabrak pembatas jalan.
“Apa Anda pelaku penabrakan wanita ini?” ucap salah seorang pria paruh baya yang menghampiri pria itu.
“I-iya, tapi saya akan bertanggung jawab sepenuhnya,” jawab pria itu dengan cepat dan sedikit gugup.
“Sebaiknya Anda segera membawa korban ke rumah sakit,” celetuk pria lain yang ada di sana.
Gegas pria itu menghampiri wanita yang terbaring di atas aspal tersebut. Ia merasa seperti sangat tidak asing dengan wajah itu dan mencoba untuk mengingatnya.
Ia mencoba menelisik apakah benar itu orang yang berada dalam ingatannya. Namun, ia memilih untuk segera bertindak.
Pria bertubuh jangkung itu segera menggendong wanita itu dan memasukkan ke dalam mobil. Beruntung mobil itu masih bisa dikendarai meskipun bagian depannya mengalami kerusakan.
Laura dibawa ke rumah sakit di mana ia melakukan persalinan sebelumnya karena hanya rumah sakit itulah yang terdekat dengan tempat kecelakaan.
Yang terpenting saat ini bisa mendapatkan penanganan lebih itulah yang dipikirkan oleh pria yang menabrak seorang wanita
Beberapa saat kemudian, suara gesekan dari roda brankar dan derap langkah beberapa orang yang membawa pasien korban kecelakaan, mendominasi koridor rumah sakit.
Kepanikan tergambar jelas di wajah pria yang menabrak. Ia berharap wanita itu akan baik-baik saja, meskipun mengingat banyak darah yang dikeluarkan oleh wanita itu.
“Mohon tunggu di sini! Kami akan melakukan penanganan pada pasien,” ucap seorang perawat.
Ia kemudian menutup pintu ruangan, kemudian menyusul dokter dan rekannya di dalam sana.
Pria itu duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan tersebut, ia mengusap wajahnya dengan gusar. Menunduk, menumpukan kedua tangan di atas paha.
“Ya Tuhan, aku mohon selamatkanlah wanita itu. Aku akan merasa sangat bersalah jika sampai terjadi hal buruk padanya,” gumam pria itu. Ia terus merapalkan doa untuk keselamatan wanita yang menurutnya adalah seseorang yang selama ini pergi jauh.
Pria itu adalah Mario Permana. Putra dari pengacara terkenal. Mario yakin jika wanita yang ia tabrak adalah seseorang yang dikenal. Selama ini Mario dan sang ayah sempat mencari keberadaan sosok wanita yang yang seolah-olah menghilang.
Mario tak lantas menghubungi sang ayah dan memberitahukan perihal wanita yang diyakini adalah putri dari pengusaha sukses yang meninggal sepuluh tahun lalu.
Ia ingin memastikan lebih dulu apakah wanita yang ia tabrak sama dengan yang dikenal.
__ADS_1
Menunggu sekitar satu jam, dokter yang menangani pasien akhirnya keluar. Mario segera menghampiri dokter dan menanyakan keadaan pasien.
"Pasien sudah mendapat penanganan. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut karena terjadi benturan hebat di bagian kepala pasien,” jelas dokter pria tersebut.
“Untuk saat ini pasien masih belum sadarkan diri. Apa Anda kerabat dari pasien?” tanya dokter.
“Saya temannya, Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk pasien,” pinta Mario dan mendapat anggukan dari sang dokter.
“Saya belum bisa memastikan apakah benturan di kepalanya akan berpengaruh buruk pada ingatan pasien. Bisa dikatakan pasien akan mengalami amnesia. Untuk mengetahui lebih jauh, kami memerlukan pemeriksaan lebih lanjut,” imbuh dokter itu lagi.
“Amnesia?” Mario mengulang kembali ucapannya.
“Ini hanya kemungkinan buruk saja. Kita lihat dulu bagaimana reaksi pasien saat sadar nanti,” balas dokter.
“Baik, Dokter. Terima kasih,” ucap Mario.
Dokter paruh baya itu mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan ruangan di mana melakukan penanganan.
***
Mario duduk di sebuah kursi di samping ranjang tempat wanita yang ditabraknya sedang terbaring.
Kain kasa melilit bagian kepala wanita itu, karena luka akibat benturan di kepalanya. Pria itu mengamati dengan seksama setiap inci wajah cantik itu dan mengingat tentang kenangan masa lalu.
Bahwa sepuluh tahun lalu, ia sering diajak sang ayah pergi ke rumah keluarga Laura yang merupakan konglomerat. Ayahnya adalah pengacara keluarga Prameswari.
“Aku yakin dia pasti adalah wanita yang aku kenal. Rasanya mustahil jika mereka orang yang berbeda. Ia tidak memiliki saudara kembar dan mereka sangat mirip,” ucap Mario bergumam. Netranya menatap lekat wajah cantik tersebut.
Mario meninggalkan rumah sakit dan menitipkan pada perawat di sana. Ada beberapa hal yang harus ia selesaikan. Ia harus mencari tahu lebih dalam tentang wanita itu karena malam ini tidak bisa menemani di rumah sakit.
***
“Papa juga tidak tahu di mana Laura, Mario. Wanita itu menghilang tanpa jejak. Seperti yang kamu tahu, keluarga wanita itu sangat kejam dan mereka bisa melakukan apapun. Berhenti mencari tahu,” tegas seorang pria paruh baya yang sedang duduk di kursi kebanggaannya.
Mario memilih untuk menemui sang papa dan mencari tahu lebih banyak tentang Laura. Namun, ia hanya bisa menghela napas berat mendengar jawaban sang ayah.
Ia membiarkan sang ayah kembali fokus dengan dokumen dari beberapa kliennya.
“Apa Papa tidak ingin membalas perbuatan pria itu?” tanya Mario tiba-tiba. Membuat sang ayah meletakkan dokumen di tangannya dan menatap sang putra.
__ADS_1
Pria paruh baya itu membenarkan kaca mata yang bertengger di batang hidungnya. Ia bangkit dari kursi dan duduk di sofa yang berseberangan dengan sang putra.
“Dengar, Mario. Terkadang ada hal yang harus kita ikhlaskan meskipun itu sangat menyakitkan. Dendam hanya akan membuat masalah semakin berkepanjangan."
"Kamu tentu tahu, bukan? Uang dan kekuasaan mampu membungkam kebenaran. Bukan Papa takut, hanya saja berpikir bahwa mempunyai keluarga yang harus dilindungi. Di sini nyawa yang akan dipertaruhkan jika papa masih bersikukuh untuk mengungkapkan keadilan.”
Mario mengangguk, tetapi hatinya menolak perkataan sang ayah. Ia akan mencari cara sendiri untuk mencari tahu.
Ia tahu jika perawat di sana tidak bisa menjaga 24 jam. Maka dari itu, Mario mengutus salah satu orang suruhannya untuk menjaga di sana. Bukan seorang pria, melainkan seorang bodyguard wanita yang juga merupakan teman dari rekannya.
Mario tampak fokus dengan layar laptop di depannya. Pria itu sedang mencari tahu tentang perkembangan dan informasi salah satu perusahaan ternama di negeri ini.
Mario mengulas smirk saat melihat bagaimana petinggi perusahaan itu memberikan informasi terkait perusahaan.
Beberapa menit kemudian, ia menutup laptop di atas meja. Ia sudah cukup mendapatkan informasi. Pria itu beralih pada ponsel di atas meja dan menghubungi seseorang di seberang telepon.
"Pasien sempat sadarkan diri, Tuan. Ia sempat menyebut nama seseorang dan histeris, tetapi dokter sudah berhasil menenangkannya dan sekarang sedang tidur," lapor orang di seberang sana.
“Baik. Terima kasih informasinya.” Mario menutup sambungan telpon. Pria itu segera meraih jaket dan berjalan meninggalkan kamarnya.
Ini sudah cukup malam dan kedua orang tuanya pasti sudah tidur. Ia memilih menggunakan motor sport miliknya untuk menuju rumah sakit. Akan memakan waktu lama jika menggunakan mobil.
Akhirnya malam itu Mario memilih untuk menemani wanita yang tadi ditabraknya di rumah sakit. Ia akan mencari alasan pada orang tuanya jika mereka bertanya. Mario tidak bisa istirahat dengan tenang di rumah.
Benar saja, saat Mario tiba di kamar pasien, wanita itu sedang tertidur pulas. Selang infus masih terhubung di tangan wanita itu. Mario juga mendapat beberapa informasi dari dokter mengenai kondisi yang masih belum stabil.
***
Langit sudah terang meskipun sang mentari belum menampakkan sinarnya. Laura mengerjap beberapa kali saat merasakan silau akibat cahaya lampu di ruangan itu.
Kepalanya terasa sakit. Namun, tangan tidak bisa digerakkan saat ia ingin memijat kepalanya. Bukan karena kaku, tetapi karena seseorang yang menggenggam tangannya.
Laura memicing saat kesadarannya sudah kembali sepenuhnya. Seorang pria sedang tertidur sembari menggenggam tangannya dan itu bukan Christian.
Mario merasa terganggu saat merasakan sebuah pergerakan. Pria itu mengangkat kepala. Cukup pegal tidur dengan posisi seperti itu.
“Kamu sudah bangun?” sapa Mario dengan lembut. Pria itu mengulas senyum tipis. Ia kemudian mengambil air di dalam gelas yang ada di meja samping tempat tidur.
Sedikit ragu, Laura menerima air itu dan meneguknya. Ia masih bingung siapa pria itu.
__ADS_1
To be continued...