
Merasa usahanya tidak sia-sia, kini Vicky langsung berjalan keluar dari ruangan kamar perawatan bosnya. Ia bahkan tadi bisa melihat saat bosnya tersebut memberikan sebuah kode padanya akan menelpon.
Christian saat ini merasa sangat lega mendengar Laura tidak lagi memperlihatkan kecurigaan padanya, sehingga begitu asisten pribadinya pergi, ia berjalan mendekati sosok wanita di atas ranjang itu.
'Sepertinya aku harus menghukum Laura untuk membalas rasa kesalku padanya,' gumam Christian yang saat ini sudah berdiri di sebelah kanan ranjang perawatan sosok wanita dengan wajah pucat tersebut.
"Sekarang katakan apa maumu sebenarnya, Laura? Aku akan mendengarkan." Christian masih berusaha bersikap datar agar Laura menyadari bahwa saat ini benar-benar sangat kesal.
Di sisi lain, Laura saat ini tidak langsung menjawab karena tengah mencari sebuah ide agar pria yang ada di hadapannya tersebut tidak marah lagi padanya.
Namun, satu-satunya hal yang membuatnya yakin adalah satu hal dan langsung mempraktekkannya. Laura saat ini tengah membuka telapak tangannya. Berharap pria itu mau mengulurkan tangan padanya.
Namun, meskipun sudah menunggu beberapa detik, tetap tidak membuatnya menerimanya. "Mana tanganmu?"
__ADS_1
Awalnya Christian memicingkan mata karena tidak tahu harus berbuat apa. Hingga ia pun memilih untuk melakukan hal yang diinginkan oleh Laura dengan mengulurkan tangannya.
'Apa yang sebenarnya tengah direncanakan seorang Laura?' gumam Christian yang saat ini mengerjapkan kedua mata begitu mendapatkan jawaban.
Laura refleks langsung menjabat tangan pria dengan buku-buku kuat itu. Kemudian mencium di sana. "Maafkan aku karena telah mencurigaimu. Mulai sekarang, aku berjanji tidak akan pernah bertanya atau pun meragukanmu."
"Aku akan mempercayai semua yang kamu katakan tanpa meragukannya." Laura mengakhiri semuanya dan bernapas lega karena sekarang merasa seperti beban pikiran yang selama ini mengganggu mulai berkurang.
Ia berharap bahwa kehidupannya kembali berjalan normal setelah bisa mengingat semua masa lalunya. Bahwa mulai sekarang, akan menyerahkan semuanya pada pria yang tak lain adalah suaminya.
Entah mengapa semenjak Laura hilang ingatan, ia seolah bagaikan di dalam kapal yang terombang-ambing karena ombak. Seperti itulah yang terjadi di antara mereka saat ini.
Refleks Laura tanpa pikir panjang langsung menganggukkan kepala. "Iya, aku minta maaf padamu karena telah melakukan kesalahan besar. Apa kamu mau memaafkan aku?"
__ADS_1
Saat melihat wajah Laura sangat memelas, membuatku merasa seperti seorang penjahat saja dan kembali menggenggam erat tangan suami.
"Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih karena sama sekali tidak mengingat apapun tentang kita. Apa kamu sekarang mau menceritakan semuanya padaku?" Laura masih mengeratkan genggaman, seolah tidak ingin melepaskannya.
"Jadi, aku bisa mengasah kemampuan otak agar sedikit demi sedikit mulai mengingat tentang semua hal yang kulupakan." Laura masih berusaha untuk mencari simpati dari suami kembali.
Apalagi bisa mengingat bagaimana ekspresi wajah penuh kekhawatiran yang ditunjukkan oleh pria di hadapannya tersebut ketika ia baru sadar.
Di sisi lain, Christian yang kini merasa sangat lega karena akhirnya Laura telah kembali seperti biasanya, berniat untuk memeluk erat tubuh sang istri, tapi baru bangkit berdiri dari posisinya, mendengar suara ponsel miliknya di atas meja.
"Sebentar, Sayang. Aku angkat telponnya." Kemudian ia berjalan menuju ke arah meja dan begitu melihat kontak sang istri, seketika membuatnya merasa sangat khawatir jika Laura sampai mendengar pembicaraan mereka.
'Sial! Aku harus menerima telpon di tempat yang tidak ada Laura,' gumam Christian yang kini merasa bingung apa yang harus dilakukannya.
__ADS_1
To be continued...