365 Days With You

365 Days With You
Kita adalah jodoh


__ADS_3

Selama dalam pesawat yang menuju ke Jakarta, Christian dan Laura banyak membahas hal untuk saling mengenal satu sama lain, tanpa menyebutkan masa lalu yang berhubungan dengan Ana.


Christian yang memang tidak ingin menceritakan mengenai mengenai sang istri di hadapan Laura dan kebetulan wanita yang jauh lebih muda darinya tersebut melarangnya untuk membahas mengenai Ana.


Ada banyak hal yang ditanyakan oleh Laura mengenai dirinya, dimulai dari hal-hal terkecil dan besar. Seperti makanan kesukaan, warna favorit, tempat yang disukai dan masih banyak lagi.


Pastinya hal-hal random yang sering ditanyakan oleh pasangan ketika baru mengenal dan merasa jika ia kembali muda seperti 10 tahun lalu saat bersama dengan Laura yang sangat excited dalam hal apapun.


Bahkan Christian membiarkan Laura berbuat sesuka hati padanya, seperti memegang tangannya, mencubit pipi atau lengan dan terkadang paha saat berbicara sesuatu yang menggemaskan.


Seperti yang saat ini dilakukan Laura ketika bertanya padanya mengenai sesuatu yang disukainya dari wanita itu dan membuatnya mendapatkan sebuah hukuman.


"Sekarang katakan hal yang membuatmu kembali padaku saat berada di klab malam? Apa kamu sangat khawatir ketika aku ngedance? Hingga kamu tiba-tiba kembali dan mencuri ciuman pertamaku!"


Refleks Laura langsung membekap mulut karena sangat malu mengungkapkan hal intim yang membuat wajahnya merona ketika mengingat ciuman Christian.


Bahkan setelah itu, ia merasa jika bibirnya terasa kebas dan seperti berubah besar. 'Bahkan aku sampai beberapa kali bercermin untuk melihat bibirku yang serasa jontor akibat ******* Christian.'


Laura tidak mungkin mengungkapkan hal yang membuatnya malu karena dianggap tidak berpengalaman saat berciuman dengan seorang pria tampan dewasa sekelas Christian.


Ia hanya ingin mengetahui hal pasti yang membuat pria itu awalnya tidak perduli padanya, berubah perhatian dan mengkhawatirkannya.


Hingga ia seketika tersenyum begitu mengetahui isi hati pria yang berhasil mencuri hatinya dan merantainya agar tidak bisa ke mana-mana.


"Aku tidak ingin kamu bertemu dengan pria berengsek yang memanfaatkanmu. Apalagi begitu mengetahui bahwa kamu masih perawan."


"Aku tidak rela membiarkanmu menyerahkan diri pada pria lain. Mungkin aku adalah seorang pria yang serakah karena menginginkan kamu menyerahkan keperawanan hanya padaku, bukan pria lain."


Christian saat ini tidak bisa melanjutkan perkataannya karena jari telunjuk Laura berada di bibirnya, yang bertujuan untuk menghentikannya. Hingga ia bisa melihat jika Laura saat ini mengarahkan tatapan tajam padanya.


"Diam! Jangan diteruskan karena aku tidak ingin ada orang Indonesia yang mendengar perkataanmu. Aku benar-benar sudah gila saat berada di Club. Karena pengaruh minuman beralkohol, membuatku berbicara segila itu."


Laura kini menurunkan jarinya pada bibir tebal pria yang pernah berbagi saliva dengannya. Sebenarnya ia sangat sangat malu ketika Christian membahas mengenai perbuatannya yang sangat berani dan terdengar menggelikan.


'Aku memang sudah gila saat mengajak Christian bercinta saat sama sekali tidak punya pengalaman apapun. Bahkan berciuman saja tidak pernah. Bagaimana bisa aku aku mengajaknya seolah sangat berpengalaman saja.'


'Dasar bodoh!' gumam Laura yang merasa sangat malu sekaligus kesal pada diri sendiri ketika meninggalkan kesan wanita haus akan belaian dari seorang pria.

__ADS_1


Laura memang merasa yakin untuk menyerahkan diri pada Christian karena mencintai pria yang baru saja ditemuinya, tetapi saat berada di pesawat dan duduk di sebelahnya, seketika pikirannya terbuka.


Ia mengetahui bahwa Christian adalah seorang pria yang baik karena sangat mencintai istrinya meskipun tidak mempunyai keturunan. Mungkin jika ia yang mengalami hal itu, akan sangat frustasi dan berpikir menjadi seorang wanita tidak berguna.


Jadi, saat ini bisa merasakan seperti apa perasaan seorang wanita yang gagal memberikan kebahagiaan sempurna sebagai istri.


"Aku berubah pikiran karena tidak akan memberikan keperawananku pada seorang suami yang sangat setia pada istri. Sebagai sesama wanita, aku tidak ingin melukai perasaan istrimu. Jadi, selama di dalam pesawat ini, kita berakting sebagai sepasang kekasih."


"Namun, setelah keluar dari pesawat ini, kita harus menjadi orang asing. Kamu akan kembali ke kehidupanmu yang menjadi seorang suami, sedangkan aku akan kembali menjadi seorang wanita yang kuat dan tegar."


Laura sebenarnya juga serakah seperti Christian yang menginginkan pria itu menjadi miliknya seutuhnya setelah mengetahui perasaannya. Namun, setelah memikirkannya, tidak tega pada hati seorang istri yang pastinya akan dua kali lipat merasakan sakit.


"Aku tidak ingin menyakiti hati istrimu, tapi ingin merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang kekasih pria hebat sepertimu. Jadi, kamu hari ini tidak boleh tidur sama sekali karena aku ingin kita menjadi pasangan kekasih yang baru menjalin hubungan."


Christian tidak langsung menjawab karena ia merasa tengah bersama dengan seorang wanita muda yang sangat labil karena selalu berubah-ubah pikirannya.


Bahkan ada rasa kecewa begitu mengetahui bahwa Laura mengurungkan niat untuk menyerahkan diri padanya hanya demi menjaga hati Ana.


Padahal sebelumnya merasa yakin jika wanita itu sangat menyukainya dan rela menyerahkan keperawanan hanya padanya. Namun, sekarang semuanya seketika pupus dan tidak ada harapan karena Laura berubah pikiran.


'Laura ... Laura, kamu telah berhasil menguji kesabaranku. Ternyata wanita muda sepertimu berhasil membuatku menjadi seorang pria galau hanya karena di PHP. Ia bahkan seperti gadis remaja yang bermulut manis dan suka mematahkan hati para lelaki.'


"Kenapa diam saja? Apa kamu merasa bingung untuk menjawab keinginanku?" Laura mengerutkan kening karena tidak langsung mendapatkan persetujuan dari Christian yang tadi dipikirnya akan langsung mengiyakan tanpa berpikir.


Refleks Christian langsung menggelengkan kepala karena tidak ingin Laura salah paham padanya. "Aku hanya sedang memikirkan jika mengantuk, apa yang akan kamu lakukan padaku?"


"Aku akan menciummu agar tidak mengantuk," sahut Laura dengan terkekeh geli sambil bergelayut manja pada lengan kekar pria yang malah mencubit hidungnya.


"Dasar wanita nakal!" Kemudian Christian kembali mengarahkan cubitan pada pipi putih Laura saat mengungkapkan rasa gemasnya.


"Lepasin! Aku bukan boneka, Honey!" Laura kini sudah berwajah masam sambil melepaskan tangan yang tengah mencubit pipinya.


Hingga ia dan Christian seketika menoleh ke arah sebelah kanan mendengar suara seorang pria yang berdehem seolah tidak nyaman dengan perbuatannya yang berisik.


Bahkan ia dan Christian saling bersitatap begitu mendengar ada protes dari seorang wanita yang duduk di kursi sebelah.


"Tolong jangan berisik di sini! Ini pesawat, bukan kamar hotel!" sarkas wanita dengan wajah masam dan mengarahkan tatapan tajam pada pasangan yang sangat berisik dan membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.

__ADS_1


Bahkan ia mengetahui bahwa beberapa penumpang yang lain juga merasakan seperti dirinya, hanya saja tidak mengungkapkan dan mengumpat di dalam hati.


Jadi, ingin mewakili beberapa penumpang yang merasa terganggu dengan memberikan sebuah teguran.


Christian seketika menoleh ke arah wanita dengan bibir mengerucut itu. "Maafkan saya, Nyonya. Kami tidak akan berisik lagi."


Kemudian ia kembali menatap ke arah Laura dan menaruh jari telunjuk di dekat bibir. "Sssstt!" Lalu berbicara dengan berbisik-bisik. "Jangan mengganggu kenyamanan penumpang lain. Bicara saja dengan suara lirih."


Laura yang tadinya juga menatap ke arah wanita yang mengungkapkan nada protes itu, kini menganggukkan kepala pada Christian. Kemudian mendekatkan wajahnya agar bisa berbisik di dekat pria yang mempunyai postur tinggi tegap tersebut.


"Kalau begitu, kita bicara saja dengan cara seperti ini. Berbisik-bisik adalah sebuah cara yang tepat agar tidak mengganggu penumpang lain. Sebenarnya ini salahku karena tidak membeli tiket first class seperti yang kamu beli."


Laura benar-benar sangat menyesal karena mungkin suasananya akan jauh lebih romantis jika ia berada di tempat duduk terbaik yang ada di depan sana. Hingga ia pun membuat Christian pun menyadarinya.


"Benar juga, Sayang. Lalu, kenapa kamu membeli tiket kelas ekonomi? Bukankah kamu banyak uang karena aku masih ingat perkataanmu. Bahwa kamu adalah keturunan keluarga konglomerat," ucap Christian yang saat ini tengah berpikir ada banyak hal yang tengah disembunyikan oleh Laura.


Bahkan sampai sekarang ia tidak tahu nama lengkap Laura serta berasal dari keluarga mana. Bahkan ia tadi bertanya di mana tempat tinggal Laura di Jakarta, tapi seolah wanita itu tidak ingin memberitahunya apapun dan hanya ingin mengetahui semua hal mengenai tentangnya saja.


Namun, saat Laura menanyakan mengenai hal-hal sepele padanya, wanita itu juga mengatakan jawaban darinya sesuai dengan pertanyaan yang ditanyakan.


"Aku akan menjelaskan semuanya padamu jika kita bisa bertemu lagi. Karena bagiku adalah jodoh itu tidak akan ke mana."


Laura seolah tengah mengadu nasib mengenai hubungannya dengan Christian apakah akan berjalan lancar atau terpisah setelah keluar dari pesawat.


"Seandainya kita berjodoh, aku yakin kita bisa bertemu kembali dan saat itu terjadi, baru aku akan menceritakan semua hal mengenai diriku tanpa terkecuali," ujar Laura dengan penuh percaya diri.


Hingga ia pun menyandarkan kepala pada pundak Christian dan bergelayut pada lengan kekar itu. "Sebenarnya aku ingin berbicara banyak hal denganmu, tapi sepertinya tidak adil karena aku tidak menjelaskan apapun."


"Tidak masalah karena aku sama sekali tidak keberatan dengan itu. Jadi, jangan membebani diri sendiri, Sayang." Christian bahkan kini mengusap lembut punggung tangan Laura.


Ia merasa bahwa dirinya kembali muda saat bersama Laura dan tiba-tiba terbersit sesuatu di pikirannya. "Aku akan menagih janjimu karena sangat yakin jika kita akan bertemu lagi."


"Entah itu cepat atau lambat, tapi aku berpikir jika kita nanti akan bertemu, meskipun tidak tahu itu kapan dan di mana." Christian saat ini berpikir bahwa ia akan menjadi tempat berlabuhnya hati seorang Laura.


Meskipun ia tidak tahu bagaimana caranya, tapi sangat yakin jika Laura akan menjadi miliknya suatu saat nanti. Hingga ia memicingkan mata begitu mendengar suara wanita yang masih memejamkan mata saat berbicara.


"Jika itu terjadi, berarti kita jodoh," sahut Laura dengan lirih dan lama-kelamaan ia yang merasa sangat mengantuk, beberapa saat kemudian larut dalam alam mimpi.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2