
Christian yang saat ini berada di dalam ruangan kerjanya, seketika berjingkrak dengan beberapa kali bersorak kegirangan begitu berhasil menghentikan Ana untuk mengetahui foto-foto serta video yang masih disimpannya di dalam laptop kerja.
"Yes! Akhirnya aku tidak ketahuan dan diselamatkan oleh putraku sendiri. Jagoanku memang benar-benar luar biasa dan sangat mengerti papa tengah membutuhkan bantuannya. I love you, boy." Kini, ia langsung berjalan cepat menuju ke arah laptop yang masih menyala.
Kemudian mengirimkan folder rahasia miliknya kepada Vicky karena seperti yang tadi dipikirkan adalah asisten pribadinya tersebut bisa menyimpan dan jauh lebih aman.
Setelah mengirimkan ke email Vicky, ia seketika bernapas lega dan sudah tidak kesulitan bernapas seperti itu berapa saat lalu. Ia pun kini berjalan keluar dari ruangan kerja menuju ke arah sebelah kanan.
Di mana di sana ruangan kerja asisten pribadinya berada. Ia memang secara langsung datang ke ruangan asisten pribadinya tersebut dan tidak menyuruh Vicky karena memang meminta tolong agar menjaga rahasianya.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia langsung membuka dan berjalan masuk. Tentu saja sudah diduganya bahwa sang asisten saat ini terlihat fokus di depan laptop karena tengah fokus pada pekerjaan.
Ia yang selama ini tidak pernah merahasiakan sesuatu dari sang asisten karena mempercayai pria itu seperti saudara sendiri, membutuhkan teman cerita karena hari ini bertemu dengan Laura sebagai wanita yang menjadi pemegang saham tertinggi di Perusahaan Prameswari.
"Sepuluh menit lagi jam makan siang. Aku ingin kita makan siang di sini. Biar aku yang memesan makanannya. Kau hari ini ingin makan apa?" Christian yang terlihat sangat berbinar karena bahagia, mendaratkan tubuhnya pada kursi yang berada di hadapan sang asisten.
Sementara itu, Vicky merasa heran dengan perubahan aura wajah yang seperti dikuasai oleh kebahagiaan. Bahkan menganggap jika sikap bosnya sangat aneh dan terlalu berlebihan, sehingga menimbulkan sebuah kecurigaan.
"Apa ada yang Anda butuhkan, Bos? Lebih baik segera katakan agar saya bisa langsung melaksanakannya." Ia merasa ada yang tidak beres dari sikap bosnya tersebut karena tidak biasanya bersikap sangat baik.
'Pasti ada udang dibalik rempeyek,' gumam Vicky yang hanya bisa berbicara sendiri di dalam hati untuk menebak-nebak kira-kira apa yang diinginkan oleh bosnya tersebut saat terlihat sangat bahagia.
"Jawab saja dulu pertanyaanku!" geram Christian yang saat ini tengah membuka aplikasi makanan online. Ia bahkan sudah memesan menu untuknya dan menunggu sang asisten yang masih kebingungan melihat sikapnya.
Karena tidak ingin mengubah mood baik dari atasannya, kini Vicky langsung menyebutkan apa yang hari ini ingin dimakan. "Paket lengkap bebek bakar dengan sepuluh bumbu rahasia, Presdir."
Saat mengatakan pesanannya, Vicky bahkan sudah menelan ludah karena membayangkan makan makanan favoritnya. Ia memang sangat suka menu yang ada sambalnya meskipun tidak suka yang terlalu pedas.
Christian saat ini baru mendengar makanan yang disebutkan oleh asisten pribadinya tersebut, ikut tergiur dan ingin ikut mencobanya. "Sepertinya itu enak. Di mana pesannya? Apa nama restonya?"
"Hanya warung makan kecil, Bos, tapi mempunyai banyak pelanggan karena memang rasanya nikmat dan bikin nagih." Vicky terdengar seperti seorang influencer yang sedang mempromosikan sesuatu dan tertawa sendiri saat menyadarinya.
Kemudian menyebutkan nama rumah makan kecil yang selama ini menjadi tempat langganannya agar bosnya memesan karena memang sudah masuk dalam aplikasi online dan banyak menerima pesanan.
Christian yang saat ini makin merasa penasaran dengan perkataan dari Vicky, seketika memesan menu yang disebutkan. Kemudian meletakkan ponsel di atas meja dan menatap ke arah pria yang kembali fokus bekerja tersebut.
"Aku baru saja bertemu Laura!" ucap Christian yang saat ini seketika terkekeh melihat respon dari sang asisten karena seperti sangat terkejut mendengar apa yang baru saja disampaikan.
Sementara itu, Vicky yang tadinya berencana ingin bertanya mengenai masalah yang dialami bosnya tersebut mengenai foto-foto yang disimpan di laptop. Namun, kini beralih makin terkejut atas apa yang baru saja didengar.
"Nona Laura? Anda serius? Di mana? Bagaimana bisa?" Ia benar-benar sangat penasaran karena bosnya tidak bercerita secara detail.
Bahkan saat ini memilih untuk mematikan laptop karena berniat fokus pada cerita dari atasan yang jarang-jarang datang ke ruangan kerja hanya untuk menceritakan masalah pribadi.
Apalagi ia mengetahui bagaimana kisah cinta terlarang yang dimiliki oleh bosnya dengan wanita lain saat masih berstatus sebagai suami. Hingga ia merasa geram karena bosnya malah tertawa melihat ekspresinya yang sangat penasaran.
__ADS_1
"Kau ternyata bisa selucu ini saat kepo dengan ceritaku," seru Christian yang masih tertawa karena merasa wajah serius dari asistennya dipenuhi oleh sorot pertanyaan yang tidak biasa.
Apalagi selama ini melihat Vicky serius dan datar dalam menanggapi apapun, tapi sekali saja ia menyebut nama Laura, seketika berubah seperti menjadi orang lain.
Vicky saat ini merasa kesal pada pria yang memancing dan tidak langsung melanjutkan cerita. "Saya benar-benar serius ingin tahu bagaimana anda bisa bertemu dengan Naura Laura yang sudah menghilang selama satu tahun belakangan."
"Oh ya, sepertinya nona Ana tidak mengetahui tentang foto-foto Anda bersama dengan nona Laura. Lalu, apakah nona Ana sudah pulang?" tanya Vicky ya saat ini ingin segera mengetahui semua hal mengenai masalah pribadi bosnya yang selalu menceritakan padanya.
Karena tidak ingin membuat sang asisten tersiksa rasa ingin tahu, kini Christian mulai menceritakan pertemuan dengan Laura di Perusahaan Prameswari saat meeting tadi.
Sementara Vicky memasang indra pendengaran untuk bisa meresapi semua yang diceritakan oleh bosnya tersebut agar tidak ada yang terlewat. Ia bahkan saat ini merasa jika nasib buruk atasannya sebentar lagi akan dirasakan.
Namun, ia tidak mungkin mengatakan itu karena hanya akan menambah beban pria yang sudah mengalami banyak masalah itu. 'Sepertinya nona Laura sengaja melakukan itu untuk membalas dendam pada tuan Christian.'
Saat baru selesai bergumam sendiri untuk mengungkapkan pemikirannya yang merasa yakin jika mantan istri siri bosnya sudah merencanakan semuanya jauh-jauh hari untuk bisa menghancurkan orang-orang yang telah menyakiti, ia kini kembali mendengar suara bariton itu.
"Jadi, seperti itu ceritanya. Apa kamu tahu saat pertama kali melihat Laura dengan penampilan berbeda yang bahkan tidak menoleh ke arahku sama sekali? Rasanya seperti ribuan anak panah mengarah tepat di jantungku dan saat kamu bertatapan, sudah sangat berbeda."
Christian yang saat ini kembali mengingat tatapan penuh seringai jahat dari Laura yang sangat berbeda karena dulu selalu terlihat teduh kalah menatapnya.
"Laura datang setelah 1 tahun hanya untuk membalas dendam padaku. Ia ingin menghancurkanku karena telah menipunya dan meninggalkannya dengan merebut bayi yang baru saja dilahirkan." Christian sebenarnya sama sekali tidak takut pada balas dendam Laura, tapi berpikir jika apa yang dilihatnya tadi sangat mewakili kebencian mantan istri sirinya tersebut padanya.
"Jika balas dendam bisa menyembuhkan luka di hati Laura, aku akan menerimanya dan tidak akan mengeluh. Bagiku, jauh lebih menyiksa rasa bersalah serta berdosa atas kebencian Laura karena perbuatanku. Jadi, Aku sama sekali tidak takut pada tujuannya untuk menghancurkanku."
"Syukurlah jika Anda sudah siap dan tidak merasa takut atas balas dendam nona Laura yang pastinya akan merebut Valerio. Aku yakin bahwa nona Laura sama sekali tidak membutuhkan uang dan akan memilih putranya dari segala kemewahan apapun."
Vicky sudah tidak memfilter perkataannya karena hanya berniat untuk membuat bosnya siap atas semua kemungkinan terburuk. Ia berharap yang terbaik bagi semua orang meskipun ada salah satu yang pastinya akan terluka.
Christian yang tidak bisa menerima kenyataan jika berpisah dengan putranya, kini seketika muram wajahnya. "Apa kau pikir Laura akan melakukan itu? Apa ia tidak hanya fokus padaku saja karena telah menyakitinya?"
Ia makin merasa resah saat membayangkan tidak bisa lagi melihat putranya yang sangat tampan dan menggemaskan yang selalu dirindukan dan menjadi penghilang rasa letih setelah lelah seharian bekerja di kantor.
Hingga gelengan kepala dari sang asisten yang jelas-jelas tidak berniat untuk menghiburnya membuatnya tersenyum miris. "Apa kau tidak bisa sedikit menghiburku dengan berbohong?"
Lagi dan lagi Vicky menggelengkan kepala karena tidak ingin menjadi seorang penipu hanya demi bisa menutupi sebuah kenyataan. "Anda sudah sangat mengenalku dan aku tidak mungkin melakukan itu hanya untuk bisa menghibur seorang pria."
"Mungkin saya bisa melakukannya pada nona anak yang merupakan seorang wanita dan memiliki perasaan sangat sensitif serta lemah. Anda harus siap mulai sekarang mengenai kemungkinan terburuk yang akan terjadi." Ia memang tidak pernah tega pada wanita yang selama ini sangat dikagumi.
Jujur saja ia lebih menyukai bosnya tersebut bersama dengan Ana daripada Laura karena memang sudah cukup lama hidup berumah tangga dan bisa menghalau cobaan dalam membina hubungan antara pasangan suami istri.
Meskipun ia tahu bahwa kelemahan dari Ana adalah tidak bisa memiliki keturunan. Hanya saja, dari dulu selalu merasa jika pasangan suami istri tersebut sangatlah serasi dan seperti tidak ada celah di mata semua orang.
Namun, kembali pada takdir yang menentukan dan seperti pepatah tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Hal yang terlihat sangat sempurna di mata orang lain, ternyata memiliki kekurangan yang mungkin adalah sebuah hal biasa bagi orang-orang normal.
"Lebih baik Anda berdoa yang terbaik pada Tuhan karena semua terjadi dari-Nya dan akan kembali pada-Nya. Sejatinya, manusia hanya bisa berencana dan Tuhan lah yang menentukan semuanya." Ia seketika menepuk jidat karena merasa menjadi orang yang sok bijak.
__ADS_1
"Aaah ... maaf, Tuan Christian karena saya tiba-tiba berubah menjadi penceramah saat hidup saya sendiri bahkan tidak jauh lebih baik." Saat baru saja menutup mulut, ia seketika membulatkan mata begitu mengetahui bahwa atasannya seperti berubah menjadi orang lain.
Christian sebenarnya sangat menyukai apa yang baru saja diungkapkan oleh asisten pribadinya. Ia bahkan tidak menganggap Vicky sebagai seorang penceramah, tapi adalah seorang motivator yang memberikan semangat untuknya.
Namun, tetap saja ia tidak bisa menerima jika kehilangan putranya. "Aku rela melakukan apapun demi bisa tetap bersama putraku. Bahkan berlutut di bawah kaki Laura akan kulakukan. Aku pun akan menyerahkan perusahaan ini jika dia menginginkannya."
Hal yang mungkin terdengar sangat konyol di telinga orang lain, bagi Christian adalah sebuah pengorbanan besar yang menunjukkan bahwa ia akan melakukan apapun demi tetap bersama dengan darah dagingnya.
Meskipun ia tahu terkesan sangat egois karena menganggap Laura materialistis dan hanya mementingkan uang. Namun, ia benar-benar berharap jika Laura akan menuruti apa yang dikatakan.
Merasa percuma berbicara dengan pria yang dianggap sangat ceroboh karena merelakan hasil kerja keras selama bertahun-tahun mulai dari nol sampai sukses hanya untuk bisa menjadi satu-satunya ayah, kini Vicky menanggapi dengan mengangkat dua ibu jari.
"Itu adalah sebuah hal yang pantas didapatkan tuan Valerio, tapi jika suatu saat nanti putra anda sudah besar dan mengetahui semuanya, kira-kira siapa yang akan dipilihnya? Apakah ayah yang memisahkan dari ibu kandung? Ataukah ibu kandung yang kehilangan selama bertahun-tahun?" Saat baru saja menutup mulut, mendengar suara ketukan pintu.
Vicky seketika bangkit dari kursi karena mengetahui siapa yang datang. Bahwa salah satu staf perusahaan yang menerima makanan dan mengantarkan secara langsung ke ruangannya.
Ia memilih membiarkan atasannya sedikit lebih tenang dengan mengambil makanan. Benar saja apa yang dipikirkan, kini terlihat salah satu OB membawa makanan pesanan bosnya.
Kemudian ia memberikan sedikit uang sebagai ucapan terima kasih dan kembali menghampiri atasannya yang saat ini masih terdiam membisu seolah dibebani oleh perasaan bersalah.
"Lebih baik Anda menikmati menu bebek bakar dengan 10 bumbu rahasia ini agar mood berubah lebih baik. Masalahnya dipikir lagi nanti saja karena sekarang yang paling penting adalah mengisi tenaga agar bisa melanjutkan beraktivitas dan menjalani hidup dengan baik." Ia pun meletakkan kotak makanan di atas meja.
Bau harum makanan yang menguar di ruangan kerjanya benar-benar membuat perutnya keroncongan. Ia kini kembali duduk dan menunggu atasannya untuk membuka terlebih dahulu karena berpikir tidak sopan jika bawahan yang ditraktir malah membuka dulu.
Christian yang saat ini kehilangan selera untuk makan, seketika bangkit berdiri dan menatap ke arah asistennya. "Aku tidak bisa tenang setelah mendengar apa yang kau sampaikan."
"Habiskan saja makanannya karena aku akan menemui Laura untuk membicarakan mengenai motif balas dendamnya padaku." Tanpa menunggu tanggapan dari asistennya yang terlihat sangat terkejut atas apa yang dilakukan, ia sudah berbalik badan dan berjalan keluar dari ruangan kerja itu.
Kali ini ia hanya ingin bertanya pada Laura mengenai tujuan kembali ke Jakarta setelah menghilang selama 1 tahun lebih
"Ya, menemui Laura adalah jalan terbaik. Aku harus berbicara mengenai masalah Valerio dan tidak akan pernah membiarkannya merebut dariku." Christian saat ini sudah masuk ke dalam lift dan ia memeriksa grup pemegang saham untuk mengetahui siapa yang memenangkan voting hari ini.
Saat mengetahui jika yang menang adalah Laura dan akan menggantikan posisi Andika Syaputra yang dianggap tidak kompeten memimpin perusahaan Prameswari, merasa sangat lega.
Ia ingin Laura bisa mendapatkan apapun yang diinginkan, tapi tidak akan pernah menyerah pada putranya karena menganggap hanya satu-satunya harta berharga miliknya.
"Laura, kamu masih sehat dan cantik. Kamu bisa hamil lagi dan melahirkan. Jadi, jangan rebut Valerio dariku karena aku hanya memilikinya," lirih Christian yang saat ini mencoba untuk mencari tahu nomor Laura di dalam grup.
Namun, ia merasa sangat kecewa karena tidak ada nomor Laura di sana. Akhirnya ia menyimpan nomor pria yang dekat dengan Laura dan membuatnya merasa cemburu.
Kemudian menekan tombol panggil dan berharap pria bernama Mario itu mau mengangkat telpon darinya karena berpikir jika Laura masih bersama pria itu.
"Ayo, angkat! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk berbicara dengan Laura." Christian masih setia menunggu panggilannya diangkat dan perasaannya benar-benar tidak karuan saat ini karena tidak tahu harus melakukan apa jika pria bernama Mario itu tidak mau mengangkat telepon darinya.
To be continued...
__ADS_1