365 Days With You

365 Days With You
Tidak berharga


__ADS_3

Sosok wanita dengan mengenakan pakaian kerja berwarna merah dan rok selutut hitam terlihat baru saja turun dari mobil. Ia menoleh ke arah seorang pria yang berada di balik kemudi.


"Kamu parkirkan saja mobilnya terlebih dahulu, nanti pergi menemui mertuaku yang mungkin masih ada di dalam." Ana yang berbicara pada Vicky karena tadi sengaja menyuruh asisten pribadinya tersebut mengantarkan ke bandara begitu dikabari secara mendadak.


"Siap, Nona Ana," ucap Vicky mungkin saat ini merasa bersalah pada wanita yang dianggap sangat polos dan tidak tahu apa-apa mengenai rencana suami dan keluarga dari mertua.


'Nona Ana, maafkan aku karena terlibat kata semua yang terjadi pada Anda,' gumam Vicky yang saat ini melihat wanita di sebelahnya menganggukkan kepala sebelum keluar dari mobil dan ia melaksanakan perintah untuk memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia.


Sementara itu, Ana tidak membuang waktu karena khawatir tidak bisa mertua yang tiba-tiba pergi. Ia kini menuju ke arah terminal keberangkatan dan mengedarkan pandangan ke sekeliling area bandara untuk mencari mertuanya.


Ia merasa tidak dianggap sebagai seorang menantu di keluarga Raphael karena diberitahu pada detik-detik terakhir keberangkatan. Seolah tidak ingin ia tahu mengenai apa yang akan dilakukan oleh orang tua suaminya tersebut.


"Di mana mereka? Tadi menelponku dengan mengatakan bahwa pesawat akan berangkat satu jam lagi dan ini masih ada waktu," ucap Ana yang kini seketika berbinar meskipun deru napas memburu karena berjalan cepat mencari mertuanya.

__ADS_1


Bahkan tadi ia sengaja berlarian seperti dikejar anjing demi bisa bertemu dengan mertuanya yang dianggap sangat aneh karena tiba-tiba saja pergi liburan ke luar negeri.


"Syukurlah mereka benar-benar belum berangkat." Ana ingin berteriak memanggil ayah mertuanya yang tengah berbicara di telpon.


Namun, tidak jadi melakukannya begitu melihat ibu mertuanya yang berdiri di sebelah pria paruh baya itu. Refleks ia tersenyum dan melambaikan tangannya, lalu secepat kilat menghampiri.


"Mama," seru Ana yang saat ini tengah berjalan menuju ke arah mertuanya. Ia bahkan bisa melihat pandangan dari wanita paruh baya yang seperti tidak menyukainya, tapi tetap saja ia tidak perduli.


'Melihat menantu tidak berguna ini membuatku harus menahan kesabaran berkali-kali. Bahkan aku tadi merasa senang begitu putraku mengirimkan foto wanita yang menjadi istri sirinya. Semoga menantuku yang satu itu segera hamil agar Christian bisa segera menceraikan Ana,' gumam Renita yang kini melirik ke arah sang suami tengah mematikan sambungan telpon.


"Aku tetap ingin bertemu Mama dan Papa sebelum pergi. Jadi, maafkan aku yang tidak mendengarkan perintah Mana." Ana kali ini benar-benar merendahkan harga dirinya di depan mertua demi bisa menanyakan tentang sesuatu yang mengganggu otaknya saat ini.


"Kira-kira berapa lama Mama dan Papa pergi? Apa kalian ada rencana untuk menemui Christian juga di New York? Rasanya sangat aneh keluarga suami pergi dan pasti akan sangat sepi." Beralasan sangat konyol diungkapkan oleh Ana demi bisa mengobati rasa penasaran.

__ADS_1


Di sisi lain, Laymar Raphael yang barusan berbicara dengan putranya, kini memasukkan ponsel ke dalam saku celana dan menatap ke arah sang menantu yang selalu terlihat cantik dan elegan.


Namun, semua itu serasa tidak berguna jika tidak bisa menjadi seorang wanita sejati yang bisa hamil dan melahirkan. "Kami masih belum tahu kapan pulang karena berangkat saja baru."


"Hanya saja, aku ingin kamu tahu kalau kami berencana menghabiskan waktu di masa tua dengan menikmati hasil jerih payah selama berpuluh-puluh tahun. Nanti kamu pun pasti juga akan demikian." Laymar berakting tersenyum simpul agar tidak mendapatkan kecurigaan apapun dari menantunya tersebut.


Apalagi tadi ia mendapatkan pesan dari putranya agar tidak membuat siapapun curiga, termasuk Ana Maria.


'Aku sebenarnya sangat menyukaimu menjadi istri Christian karena semua kesempurnaan ada pada dirimu, tapi ternyata yang tampak dari luar tidaklah seindah ekspektasi.'


'Secantik dan sehebat apapun wanita, tetap tidak berharga jika tidak bisa melahirkan keturunan untuk suami,' gumam sosok pria paruh baya yang kini merasa iba melihat menantunya kini telah digantikan oleh sosok menantu lain bernama Laura.


To be continued....

__ADS_1


__ADS_2