
Suasana pagi hari di apartemen mewah yang tak lain tempat tinggal Laura, kini dipenuhi oleh berbagai macam jenis aneka makanan. Karena semalaman Laura tidak tidur karena mengkhawatirkan keadaan Valerio yang sakit karena efek tidak cocok dengan susu yang diminum, sehingga berakhir muntah-muntah.
Namun, semalam Laura langsung menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan putranya. Begitu mendengar penjelasan dari dokter, merasa sangat bersalah.
Laura sibuk menyalahkan diri sendiri karena telah membuat putranya sakit karena keegoisannya yang tidak bertanya pada Christian tadi tentang susu apa yang selama ini diminum oleh Valerio.
Namun, hanya sibuk marah dan mengumpat pada pria yang pernah sangat dicintainya, tapi sekarang berubah benci.
Kini, Laura yang baru saja keluar dari ruangan kamar, dengan wajah kusut dan mata panda karena semalaman menjaga putranya untuk menebus kesalahan, melihat mantan mertuanya yang tengah menata makanan di atas meja.
Ia tadi merasa heran siapa yang datang ke apartemen pagi-pagi sekali, jadi memeriksanya beberapa saat kemudian.
__ADS_1
"Mama, dari mana semua makanan ini?" Laura yang saat ini sama sekali tidak punya nafsu makan saat putranya sakit, kini menatap heran pada banyaknya makanan di atas meja.
"Pelayan di rumah yang mengantarnya, Sayang. Mama tahu jika kamu merasa bersalah pada putramu, tapi paling tidak kamu harus makan banyak agar bisa merawatnya dengan baik. Karena itulah semalam Mama sudah memberikan perintah pada pelayan, jadi pagi-pagi sudah diantar." Tersenyum pada wanita yang terlihat sangat kacau penampilannya.
Wanita paruh baya tersebut kini berjalan menuju ke arah menantunya dan langsung menepuk pundak. "Mama tahu kamu sangat marah dan membenci Christian, tapi saat berhubungan dengan putra kalian, paling tidak buang itu demi Valerio."
Karena tidak ingin terkesan menyalahkan mantan menantunya, kini ia mengusap lembut lengan Laura. "Jadikan ini sebuah pelajaran agar kamu tidak ceroboh dan Valerio menjadi korbannya."
Kemudian ia mengarahkan tangan pada kedua sisi pundak Laura agar duduk di kursi dan sarapan. "Ini semua adalah menu kesukaanmu, Menantu. Makanlah yang banyak agar bisa merawat putramu dengan baik dan jangan sampai kamu sakit."
Namun, yang terjadi adalah ia seperti dilayani bak ratu oleh wanita paruh baya tersebut karena nasi dan lauk diambilkan.
__ADS_1
"Kalau kurang, nanti kamu nambah sendiri, Sayang." Ingin sekali ia mengusap lembut rambut panjang yang dari semalam tergerai itu.
Namun, tidak melakukannya begitu melihat Laura yang bertanya padanya dan bingung harus menjelaskan dari mana.
"Terima kasih karena masih terus menyayangiku, Ma. Aku akan makan ini agar tidak sakit. Putraku saat ini sangat membutuhkanku." Ia kini mengingat sesuatu hal yang sempat dilupakannya.
Kini, menatap ke arah mertuanya untuk bisa mengorek informasi yang akurat dan tepat tanpa ia harus bersusah payah.
"Aku akan selalu sehat, Ma. Oh ya, wanita itu, apakah sakit? Kenapa dia bisa tiba-tiba pingsan? Sepertinya dia masih belum tahu jika aku saat ini tengah bersama putraku." Laura yang kini menunggu jawaban atas pertanyaannya, kini sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut.
Merasa ada sesuatu hal yang membuatnya bisa sedikit membersihkan nama baik putranya, kini sang ibu langsung mengangukkan kepala.
__ADS_1
"Laura, sebenarnya Ana itu ...."
To be continued...