365 Days With You

365 Days With You
Tertabrak mobil


__ADS_3

“Aku hanya memanfaatkanmu saja. Sekali lagi aku minta maaf. Kamu berhak untuk membenciku sebesar yang kamu ingin. Aku memang jahat dan tidak pantas mendapat cintamu yang tulus.”


Laura hanya membeku mendengar setiap kalimat yang Christian ucapkan. Ia tidak bisa berkata apapun. Semua kebenaran yang ia dengar bagai bom waktu yang meledak secara tiba-tiba dan berhasil meluluhlantakkan hatinya.


Tidak sampai di situ, Christian bahkan melempar tubuhnya yang sudah tak berdaya itu ke dasar jurang.


Christian membiarkan Laura menangis. Ia tidak lekas beranjak dari sana karena masih ada hal penting yang ingin disampaikan.


“Apa salahku?” Apa kamu mempunyai dendam padaku?” lirih Laura disela isaknya.


“Tidak. Kamu tidak bersalah. Di sini kamu hanya korban dan akulah penjahat yang sebenarnya. Tolong jangan salahkan istriku. Dia juga tidak tahu apa yang aku lakukan di belakangnya."


"Aku melakukan itu karena ingin mewujudkan impiannya untuk bisa merawat seorang anak.”


“Kenapa harus mengorbankan orang lain? Kenapa kalian tidak mengadopsi seorang anak dari panti asuhan? Kalian egois!”


“Ana tidak egois, Laura. Seperti yang kujelaskan, sudah mengatakan padamu, akulah yang bersalah atas semua ini,” ucap Christian penuh penyesalan dan rasa tidak tega.


Laura berdecak dan tersenyum getir di sela uraian air mata yang membanjiri pipinya. Ia benar-benar sudah salah mengartikan sikap baik Christian. Pria berwajah malaikat itu sebenarnya adalah iblis yang pada akhirnya akan menghancurkan hidupnya.


Rasanya sangat sakit saat mendengar Christian terus membela istri pertamanya. Bagaimana tidak, semua terjadi secara tiba-tiba dan Laura tentu masih sangat mencintai pria itu.


Rasa kecewa itu mungkin tidak akan sebesar ini, jika saja kesalahan Christian hanya berbohong tentang status pria itu yang sebenarnya.


Namun, kenyataannya, pria itu justru mengungkap sebuah fakta yang sangat menyakitkan. Laura hanyalah sebuah alat bagi Christian.


Entah seperti apa bentuk luka di hati wanita itu. Christian seakan terus menyayat luka yang masih menganga. Bahkan pria itu menyiram air garam di atas luka yang masih basah.


“Pergi! Pergilah dari kehidupanku dan putraku! Jangan pernah muncul lagi di hadapan kami.” Suara itu begitu lirih dan menyayat.


“Tidak bisa, Laura. Aku akan membawa Valerio bersamaku.”


Kembali Christian melempar granat pada tubuh lemah Laura. Ia mendongak dan menatap nanar pria di sampingnya.


“Tidak! Dia putraku, Christian. Kamu boleh menghancurkan hidupku, tapi tidak dengan membawa putraku!” teriak Laura.


“Dia juga putraku, Laura. Di dalam tubuhnya mengalir darahku. Aku ayahnya!” Christian tidak mau kalah dengan Laura. Ia membalas tatapan Laura dengan tak kalah tajam.


Wanita itu menggeleng dengan uraian air mata. Menatap dengan penuh amarah. Entah jelmaan apa pria itu.

__ADS_1


“Argh!” Laura berteriak. “Kau iblis, Christian. Aku tidak akan membiarkanmu membawa putraku!”


“Makilah aku sesukamu, Laura, tetapi itu tidak akan mengubah apapun.” Christian diam sejenak menatap Laura yang masih tenggelam dalam tangis.


“Laura, pada saat ini aku menjatuhkan talak padamu dan kamu bukan lagi istriku, tidak juga menjadi tanggung jawabku lag dan hak asuh Valerio akan jatuh ke tanganku.”


Kalimat itu terdengar sangat jelas. Christian lalu beranjak meninggalkan Laura yang semakin tenggelam dalam kesedihan.


Ia tidak ingin jika rasa iba pada wanita itu akan mengubah keputusannya. Ia harus segera pergi dari kota itu. Biarlah Laura membencinya karena memang pantas mendapat kebencian dari wanita tulus itu.


“Kau kejam, Christian. Kau adalah jelmaan iblis!" maki Laura.


Wanita itu terus menangis dan memukul dadanya beruang kali. Tidak perduli dengan tatapan iba dari beberapa orang yang ada di sana. Butuh waktu untuk ia meluapkan semua kecewa dan amarah di dada. Takdir seolah-olah begitu kejam pada wanita itu.


Uluran tangan pria itu ternyata adalah sebuah sandiwara yang sudah tersusun dengan begitu apik. Laura merasa sangat bodoh.


Ia juga memaki diri sendiri atas kebodohannya. Christian telah membawanya terbang begitu tinggi. Disaat ia akan meraih cahaya yang selama ini dicari, pria itu menjatuhkannya secara tiba-tiba.


Tak terbayang seperti apa luka wanita itu saat ini.


“Kau memang bodoh, Laura!” makinya pada diri sendiri.


“Putraku?” Laura kembali mengingat perkataan Christian beberapa menit lalu. “Tidak. Dia tidak oleh membawa putraku.”


Laura beranjak dari duduknya. Dengan panik dan ketakutan, berjalan tertatih menuju ruangan di mana ia dirawat sebelumnya.


Beberapa kali ia menabrak orang yang sedang berjalan di depannya. Tidak perduli dengan umpatan dan tatapan kesal dari orang-orang itu. Yang Laura pikirkan hanyalah putranya.


“Valerio!” Laura berteriak sembari membuka pintu ruangan di depannya.


Kosong. Tidak ada siapa pun di sana. Bahkan keranjang bayi yang sebelumnya ada di sisi ranjang tempat tidurnya, kini sudah tidak ada. Kamar itu sudah bersih. Bahkan barang-barang Laura sudah tidak ada.


“Valerio, Valerio ....” Laura terus berteriak dan mencari bayinya ke semua sudut ruangan tersebut.


Tidak menemukan apa yang ia cari, Laura segera keluar. Tujuannya adalah bagian resepsionis. Namun, belum sampai di sana, Laura bertemu dengan salah satu perawat yang ia kenal.


“Suster. Di mana putraku?” tanya wanita itu dengan panik.


Suster itu terpaku di tempatnya. Menatap bagaimana kepanikan di wajah pasien. "Nyonya Laura? Bukankah Anda sudah pulang?” Suster itu bertanya balik pada Laura.

__ADS_1


“Di mana putra saya, Suster? Di mana? Kenapa dia tidak ada di kamarnya?” Laura mengabaikan pertanyaan perawat itu dan masih menanyakan bayinya.


“Nyonya, tenang dulu, ya.” Perawat wanita itu mengajak Laura untuk duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di sana.


Mengusap punggung wanita yang sedang menangis terisak itu. “Seharusnya sore ini adalah jadwal Anda keluar dari rumah sakit ini. Saya pikir Anda sudah pulang bersama dengan suami."


"Karena saat saya merapikan kamar Anda, saya tidak menemukan siapa pun di sana dan barang-barang Anda juga sudah tidak ada,” imbuh sang perawat.


Laura menggeleng dengan cepat dan menatap perawat itu dengan uraian air mata. “Tidak. Dia mengambil anakku, Suster. Dia mengambilnya.” Laura menangis histeris.


“Anda tenang dulu, ya. Sebaiknya kita tanyakan dulu ke bagian administrasi dan resepsionis,” ucap perawat itu menenangkan. “Rumah sakit tidak akan mungkin membiarkan orang asing membawa bayi Anda begitu saja.”


Bersama dengan perawat tersebut, Laura menanyakan perihal putranya pada petugas rumah sakit yang bertugas di bagian tersebut.


“Di sini tercatat jika Anda dan bayi Anda sudah meninggalkan rumah sakit ini sejak 30 menit lalu.” Seorang petugas wanita menjelaskan sembari melihat catatan pada layar monitor di depannya.”


“Siapa yang bertanggung jawab atas kepulangan pasien, Sus?” tanya perawat yang menemani Laura.


“Di sini tercatat atas nama tuan Raphael Christian. Beliau juga yang membayar semua administrasinya.”


“Lalu putra saya di mana, Suster?” Laura masih menanyakan perihal bayinya yang menghilang.


“Bayi Anda sudah pulang bersama dengan tuan Raphael. Kami tidak punya wewenang untuk mencegah karena di sini tercatat sebagai suami Anda dan bertanggung jawab atas pasien dan segala administrasi yang bersangkutan dengan pasien.”


Petugas itu beralih menatap wanita dengan wajah sembab itu. “Apakah ada kesalahan dalam data ini?” tanya petugas tersebut.


Laura menggeleng. Tidak ada jawaban lagi darinya. Ia juga tidak bisa meminta pertanggung jawaban pihak rumah sakit karena putranya memang pergi bersama ayah kandungnya.


“Terima kasih, Suster. Mungkin putra saya sudah pulang lebih dulu bersama suami saya,” imbuh Laura. “Maaf, sudah membuat kekacauan dan kepanikan,” sambungnya.


“Sama-sama, Nyonya. Apa ada yang bisa kami bantu lagi?” tanya petugas itu.


Laura menggeleng dan pergi meninggalkan rumah sakit. Laura melangkah lunglai meninggalkan rumah sakit.


Air mata sulit sekali untuk dibendung. Ia berjalan menyusuri jalanan rumah sakit. Beberapa kali ia mendapat teguran lewat klakson dari pengendara yang lewat, karena berjalan ke arah tengah. Ia sedang tidak bisa berpikir jernih saat ini.


Hingga beberapa saat kemudian, tubuh Laura terpelanting saat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabaraknya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2