
Laura bahkan saat ini masih menatap intens ke arah sosok wanita paruh baya yang ada di hadapannya tersebut dari tadi hanya diam saja setelah ia mengungkapkan niat baiknya untuk mengurus putranya.
Ia merasa sangat khawatir terjadi hal-hal yang buruk untuk kedua kali jika putranya tidak mendapatkan perhatian karena kesibukan mengurus acara satu minggu pengajian setelah kematian Ana Maria.
Laura tentu saja bisa mengerti bagaimana perasaan wanita paruh baya di hadapannya tersebut. Ia saat ini mengusap lembut lengan sang mertua agar tidak merasa khawatir mengenai keinginannya untuk merawat putranya.
"Mama tidak perlu khawatir mengenai Valerio karena ia akan baik-baik saja bersamaku dan aku tidak akan pernah melarang kalian untuk menemuinya seperti janjiku. Kalian bahkan bisa fokus mengurus acara untuk kirim doa selama satu minggu ini," ucap Laura yang masih menunggu keputusan dari mertuanya dan berharap setuju dengan keinginannya.
"Laura, aku tidak bisa memberi keputusan karena hanyalah seorang nenek dan semuanya akan diputuskan oleh Christian. Jadi, kamu harus menunggu setelah Christian setuju. Meskipun aku sangat yakin jika putraku setuju dan tidak akan menolaknya karena kamu adalah ibu kandung dari Valerio."
__ADS_1
Ia bahkan saat ini menatap ke arah sosok menantu yang masih sangat disayangi olehnya seperti putri kandung sendiri. "Aku akan menghubungi putraku nanti karena sekarang masih ada acara pengajian dan ia tidak memegang ponsel sampai selesai kirim doa bersama dengan para undangan."
Laura tidak ingin memaksa mertuanya untuk mengiyakan keinginannya saat ini. Ia hanya mengangguk perlahan dan melihat ke arah sang dokter ketika menangani putranya.
"Bahkan ia merasa sangat tidak tega melihat putranya sangat pucat dan tangan sudah diinfus oleh perawat. "Iya, Ma. Aku akan menunggu sampai Christian memberikan keputusan mengenai keinginanku."
"Terima kasih karena kamu mau mengerti dan tidak memaksa," lirih seorang mertua pada menantu yang membuatnya merasa sangat bersalah pada putranya karena akan mengatakan keinginan Laura.
Setengah jam kemudian, Renita Padmasari meminta izin pada Laura karena akan menelpon Christian. Ia berpikir bahwa acara di rumah sudah selesai dan ingin segera mengetahui apakah putranya menyetujui keinginan Laura untuk membawa Valerio.
__ADS_1
Begitu berada di luar ruangan IGD, ia langsung menelpon pelayan karena berpikir bahwa jauh lebih efektif karena bisa menyampaikan pada putranya. Hingga beberapa saat kemudian ia mendengar suara dari putranya.
"Christian, ada sesuatu hal yang sangat penting ingin Mama sampaikan padamu mengenai Laura."
"Ya, Ma. Katakan saja padaku." Christian yang memiliki firasat tidak baik hari ini, seolah bisa membaca apa yang akan terjadi dan membuatnya tidak sabar apakah pikirannya benar mengenai Laura dan juga putranya.
Renita Padmasari saat ini langsung mengungkapkan semua hal yang tadi dikatakan oleh Laura. "Jadi, bagaimana? Apakah kamu tidak keberatan dengan keinginan dari Laura yang ingin membawa putramu?"
Saat ini, ia merasa sangat iba pada putranya dan bisa mengerti bagaimana perasaannya. Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengar jawaban dari putranya.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah keberatan jika Laura ingin membawa Valerio pergi dari sini. Katakan itu padanya, Ma," ucap Christian yang saat ini langsung mematikan sambungan telepon sepihak tanpa menunggu tanggapan dari sang ibu.
To be continued...