365 Days With You

365 Days With You
Harapan terakhir


__ADS_3

Laura saat ini berada di dalam ruangan bersama dengan Mario yang dilihatnya pertama kali saat sadar. Ia tadinya berpikir bahwa sudah kehilangan nyawa begitu menyadari jika bagian belakang tubuhnya ditusuk pisau tajam oleh pria dengan pakaian serba hitam dan memakai topi.


Namun, begitu tersadar dan menatap ke sekeliling ruangan kamar rumah sakit, kini berbicara dengan suara serak. "Ternyata Tuhan masih tidak menerimaku juga karena bisa bertahan hidup sampai sekarang. Padahal tadi aku berpikir akan bisa berkumpul bersama dengan orang tuaku dan hidup bahagia di sana."


"Jangan berbicara seperti itu. Apa kamu sekarang lebih suka meninggalkan dunia ini dan membiarkan orang-orang jahat itu semakin merajalela serta menguasai hak yang seharusnya menjadi milikmu?" sarkas Mario yang sama sekali tidak menyukai perkataan dari Laura karena seperti kehilangan semangat hidup.


"Apa kamu juga rela putramu dibesarkan oleh wanita yang bukan merupakan ibu kandungnya?" Ia sengaja menyerang sisi kelemahan Laura agar kembali bersemangat lagi dan tidak membiarkan orang-orang jahat semakin berbuat sesuka hati.


Laura yang saat ini mengingat tentang putranya, kini tidak langsung menjawab dan terdiam. "Aku bahkan melupakan putraku sendiri. Tadi sempat berpikir akan hidup bahagia bersama orang tuaku di surga, tapi setelah kamu mengingatkanku, sepertinya aku harus mengurusnya."


"Putraku harus kembali padaku karena akulah yang melahirkannya. Jadi, urus semua cara tentang hak asuh agar jatuh ke tanganku karena wanita itu bukanlah ibu kandungnya dan sama sekali tidak berhak membesarkannya. Namun, sebelum itu, kita selesaikan dulu menyingkirkan orang-orang jahat yang mengincar kematianku."


Laura mengingat tentang seseorang yang bekerja di kantin rumah sakit dan tadi menyapanya. "Aku sangat yakin jika mantan pelayanku mengetahui kejahatan seorang Rendi Syaputra. Tolong interogasi dia agar mau berbicara jujur."


Kemudian menceritakan tentang pertemuan dengan mantan pelayannya yang tadi saat berada di kantin. "Kumpulkan juga bukti-bukti tentang kejahatan orang-orang jahat itu sebelum dilaporkan pada polisi."


"Ya, aku akan mengumpulkannya. Kejahatan mereka tidak bisa dibiarkan karena sudah terang-terangan melakukan percobaan pembunuhan padamu di tempat umum. Sepertinya pria itu sudah mengetahui jika kamu adalah keponakannya yang dari dulu ingin disingkirkan," ucap Mario yang saat ini menunggu kabar dari salah satu detektif yang tadi diperintahkan untuk menyelidiki rekaman CCTV dari dasbor mobil di beberapa sudut yang menjadi kemalangan Laura.


Sementara itu, Laura yang tidak tahu apakah perkataan dari Mario benar adanya karena belum bertemu dengan pamannya lagi setelah meeting karena sibuk mengurus putranya.


"Itu mungkin saja, tapi sepertinya dia tidak akan melakukannya dengan terang-terangan karena selama ini selalu menjadikannya seperti layaknya kecelakaan agar polisi tidak mencium ulahnya." Laura saat ini tengah memikirkan kemungkinan tentang siapa sebenarnya yang menjadi dalang penusukan.


Hingga ia terpikirkan satu nama dan membuatnya menatap ke arah Mario untuk meminta pendapat. "Apakah si berengsek bodoh itu yang menyuruh orang untuk menusukku demi memberikan pelajaran karena telah berhasil merebut posisinya?"


"Siapa?" Mario terdiam sesaat dan mengerti arah pembicaraan dari Laura. "Maksudmu adalah sepupumu?"


Laura yang saat ini hanya memikirkan satu nama dari sepupunya karena bisa melihat tatapan penuh kebencian ketika ia berhasil melengserkan dari kursi kepemimpinan.


"Andika Syaputra pasti yang melakukannya karena pria tua bangka itu tidak pernah membunuh dengan cara terang-terangan seperti ini. Selalu menggunakan cara seolah-olah mengalami kecelakaan seperti saat aku pertama kali datang ke Jakarta," seru Laura yang saat ini mengingat jika orang tuanya juga meninggal dengan dibuat seolah-olah mengalami kecelakaan.


Mario saat ini sependapat dengan Laura dan menunjukkan ponselnya begitu ada suara notifikasi dari salah satu detektif yang disuruhnya. "Sepertinya kita akan mendapatkan jawabannya."


Kemudian ia membaca pesan dan juga ada dua foto. Ia kemudian langsung memberikan pada Laura agar melihat sendiri jawaban dari detektif. "Apa pria inilah yang menusukmu?"


Laura yang saat ini langsung menerima benda pipih dari tangan Mario, kini mulai melihat foto seorang pria dengan mengenakan kaos berwarna putih dan celana pendek.


Ia mencoba mengingat-ingat wajah pria yang menusuknya dengan berpura-pura menabraknya. Kemudian membaca pesan dari berbagai detektif.


Saya sudah memeriksa kamera pada beberapa dasbor mobil yang ada di tempat kejadian tadi. Sepertinya lihat tadi memakai make up untuk merubah wajahnya menjadi seperti orang lain dan inilah aslinya karena sudah mengakuinya.


"Benarkah pria ini yang melakukannya? Kenapa aku merasa bukan dia?" Laura perasaannya dan yakin jika pria yang berada di dalam foto tersebut bukanlah yang menusuknya.

__ADS_1


"Pria ini menurutku jauh lebih putih daripada pria yang tadi menusukku. Wajahnya memang sedikit mirip, tapi aku hafal jika pria itu memiliki kulit agak sedikit gelap. Pastikan itu dan suruh detektif memastikannya sekali lagi agar tidak terjadi kesalahan." Ia kini mengembalikan ponsel milik Mario agar menghubungi detektif.


Kemudian Mario langsung memencet tombol panggil dan mengatakan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Laura saat meragukan pria itu sebagai tersangka.


"Apa kau sudah mengintrogasi pria itu mengenai alasan menusuk nona?" Mario saat ini menekan tombol loudspeaker agar Laura mendengar sendiri jawaban dari detektif.


"Aku saat ini sudah mengurung pria itu di dalam sebuah gudang agar mengatakan hal yang sebenarnya. Hanya saja, dia tadi beralasan jika salah sasaran dengan berpikir jika nona adalah bos dari kekasihnya." Sang detektif kini berbicara di luar gudang agar tidak didengar oleh pria yang disekap sebelum dibawa ke kantor polisi.


"Dia bilang jika kekasihnya dipecat dari pekerjaan hanya gara-gara masalah sepele. Kekasihnya bekerja di salah satu butik yang dipikirnya pemiliknya adalah nona." Kemudian menunggu tanggapan apakah apa yang dikatakan pria itu benar.


Saat ini, Mario menatap ke arah Laura karena memang ia mengetahui bisnis lain wanita itu memang adalah butik. "Siapa karyawan yang kamu pecat dari butikmu?"


Laura saat ini terdiam karena mengingat kejadian beberapa bulan lalu saat ia memecat salah satu karyawan yang sudah banyak merugikan putiknya. "Jadi, wanita itu menyuruh kekasihnya untuk membunuhku? Padahal aku mau ngecatnya dan tidak melaporkannya pada polisi karena sudah sering mencuri uang di butik."


Ia saat ini memijat pelipis karena merasa seperti orang yang jahat karena telah membuat wanita itu berniat untuk menyingkirkannya dari dunia hanya gara-gara memecat dari butiknya.


"Bahkan aku tidak meminta ganti rugi atas uang yang sering dicuri dari butikku. Bisa-bisanya wanita itu ingin menyingkirkanku saat aku memaafkannya." Saat Laura baru saja menutup mulut, kini berani menatap ke arah Mario.


"Kalau begitu, urus aja semuanya di kantor polisi karena sepertinya kata maaf tidak cukup untuk membuat cara seseorang yang melakukan kesalahan dan malah menyalahkan orang lain." Laura yang beberapa saat lalu berpikir jika orang yang berniat untuk menyingkirkannya adalah sepupunya, tapi kini mengerti jika pemikirannya salah.


Tidak ingin membuang waktu, kini Mario mulai menyampaikan pesan dari Laura pada detektif. Namun, ia tetap saja akan mengurus semua kejahatan dari taman Laura demi keselamatan wanita yang dicintainya tersebut.


"Detektif akan langsung membawanya ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Aku pun besok juga akan menyelesaikan semua bukti mengenai kejahatan pamanmu." Kemudian memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana setelah menutup telepon.


"Tadinya aku berpikir bahwa kamu tidak akan menceritakan semuanya pada mantan mertuamu itu." Mario saat ini berpikir jika Christian pasti ikut membalaskan dendam Laura agar bisa mengambil hati wanita itu.


Saat tadi mendapatkan berbagai macam pertanyaan begitu sadar, Laura bisa melihat raut wajah penuh kekhawatiran dari mertuanya yang selalu baik padanya dan sudah menganggapnya seperti putri kandung sendiri hingga ia juga menyayanginya.


Jadi, merasa tidak tega dan juga iba melihat raut wajah penuh kekhawatiran dari mertuanya. Ia merasa lebih menghormati mertuanya tersebut daripada mantan suami yang sangat dibenci.


"Mama sudah kuanggap seperti ibu kandungku sendiri. Jadi, aku tidak bisa melihat wajahnya yang sedih saat khawatir padaku. Tidak apa-apa menceritakannya karena kita akan menjebloskan orang-orang jahat itu ke dalam penjara." Laura saat ini tengah menghitung beberapa orang yang berada di pihaknya.


"Ada beberapa saksi yang kita miliki dan pasti akan menang saat di pengadilan. Apalagi ada tambahan dua orang dan kita harus bisa mendapatkannya. Vincent dan mantan pelayan di rumahku. Aku serahkan mantan pelayan itu padamu, sedangkan aku mengurus Vincent karena yakin jika ia akan memihakku."


Kemudian ia berniat untuk mengambil tas yang ada di atas laci karena ponselnya ada di sana. Namun, kesusahan dan melihat Mario membantunya.


Mario berjalan memutar agar bisa mengambil apa yang diinginkan oleh Laura. "Katakan saja jika membutuhkan sesuatu karena ada aku di sini. Jadi, jangan selalu menganggap bisa sendiri melakukan apapun."


"Iya, maaf. Aku pikir jaraknya lebih dekat denganku, tapi ternyata bekas operasinya meninggalkan kenyerian luar biasa dan membuatku tidak bisa bergerak leluasa. Ambilkan ponselku karena aku ingin menelpon Vincent." Ia menahan rasa nyeri pada bagian belakang tubuhnya yang ditopang dengan bantal tinggi.


Sementara itu, Mario yang saat ini langsung memberikan ponsel milik Laura dan melihat sandinya adalah wajah wanita itu, tiba-tiba terlintas sesuatu di pikirannya.

__ADS_1


"Aku sangat yakin jika tadi ponselmu berusaha dibuka oleh Christian, tapi karena dikunci, jadi tidak bisa menemukan apapun dan mengancamku untuk mengatakan tentang jati dirimu. Tapi sepertinya dia sekarang dia sudah mengetahuinya dari ibunya." Mario yang saat ini melihat Laura sudah memencet tombol panggil dan menunggu hingga sambungan telepon diangkat.


Laura merasa kecewa karena panggilannya tidak diangkat. "Apa Vincent sudah tidur? Memangnya ini jam berapa?" Kemudian menyadari kebutuhannya begitu melihat waktu dari ponselnya.


"Baru pukul 9, tidak mungkin dia tidur." Laura yang bertanya sekaligus menjawab sendiri, kini masih menatap ke arah benda pipih di tangannya. "Sepertinya kamu benar karena dia dari dulu suka sekali mengecek ponselku. Padahal aku tidak pernah melakukannya karena mempercayai sepenuhnya."


Ia saat ini baru menyadari apa alasan sang suami suka sekali memeriksa ponselnya karena merasakan diri sendiri telah berkhianat dan mungkin khawatir juga akan melakukan hal yang sama.


"Untung semenjak kejadian itu, aku selalu memakai sandi pada ponselku agar tidak sembarang orang bisa melihat banyak rahasia yang ada di sini." Kemudian ia membuka galeri foto. Di mana di sana ada banyak foto orang tuanya yang diambil dari file lama.


Sementara foto dirinya sama sekali tidak ada karena semenjak disakiti oleh sang suami, tidak suka memutar diri sendiri karena merasa gagal menjadi seorang wanita yang dicintai oleh seorang pria.


Ia selalu merasa hanyalah wanita bodoh karena tidak mampu membuat seorang suami bertahan dengannya. Namun, semenjak ada putranya, sekarang ada foto-foto malaikat kecilnya tersebut yang diambil ketika menginap di apartemennya.


"Sepertinya kamu benar karena pasti ada kekhawatiran yang selalu mengganggunya dan tidak bisa hidup tenang karena perbuatannya yang diam-diam menyembunyikan istri sahnya tanpa sepengetahuanmu." Mario yang baru saja menutup mulut, mendengar suara pintu yang terbuka dan sekaligus terlihat sosok wanita paruh baya yang membawakan kantong plastik berisi makanan serta kopi.


"Kamu dari tadi belum makan dan minum. Kebetulan tadi aku kelaparan dan makan di kantin. Ini sekalian membelikan untukmu," ucap Renita Padmasari yang memberikan pada pria di hadapannya.


Mario seketika bangkit berdiri dari kursi dan sangat terkejut dengan kebaikan wanita itu. Ia awalnya berpikir tidak disukai karena dekat dengan Laura yang merupakan mantan menantu, tapi begitu mendapatkan kantong plastik berisi makanan dan juga minuman tersebut, malah merasa aneh.


"Terima kasih, Nyonya. Anda sebenarnya tidak perlu repot-repot seperti ini." Mencium aroma khas dari makanan serta bau kopi yang harum.


Renita Padmasari saat ini hanya tersenyum simpul. "Tidak masalah. Oh iya, kamu bisa menikmati makanannya di luar, kan? Aku ingin berbicara empat mata dengan menantuku."


Kini, keanehan yang dirasakan oleh Mario terjawab sudah begitu mendengar perkataan dari wanita paruh baya tersebut dan membuatnya hanya menganggukkan kepala.


"Aku keluar dulu," ucapnya saat berlari menatap ke arah Laura.


"Baiklah." Laura kini merasa penasaran dengan apa yang ingin dibahas oleh mertuanya yang baru saja mendaratkan tubuh di kursi. "Mama ingin membahas apa?"


Tidak ingin bertele-tele karena tadi saat berbicara di telepon dengan putranya, disuruh untuk merayu Laura mengenai hak asuh. "Aku ingin membahas tentang niatmu yang akan merebut hak asuh Valerio."


Laura kini mengerti kenapa mertuanya menyuruh Mario pergi. Ia mendengarkan apa yang diinginkan mertuanya tersebut. "Katakan saja, Ma. Memangnya Christian menyuruh Mama melakukan apa?"


Ia sangat yakin jika mertuanya tersebut disuruh oleh mantan suami yang sangat dibenci, jadi sudah tidak heran jika akan membahas masalah hak asuh. "Apakah Mama lebih memilih Ana daripada aku?"


Saat ingin, Renita Padmasari merasa tidak enak pada Laura, tapi tetap saja berniat untuk mengatakan apa yang diinginkan Christian. "Ini bukan tentang memilih kamu ataupun Ana, Laura, tapi semua ini adalah harapan terakhir putraku."


"Apa maksud Mama dengan harapan terakhir?" ujar Laura yang saat ini tidak mengalihkan perhatian dari mertuanya ketika terlihat serius saat menatapnya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2