
Christian saat ini masih menatap ke arah ponsel di tangannya karena sambungan telepon diputus tiba-tiba secara sepihak ketika belum selesai berbicara dengan mantan istri.
"Ya, aku memang tidak mempunyai hak sama sekali untuk bertanya padamu. Maafkan aku karena membuatmu marah dan kesal di hari yang paling membahagiakan untukmu. Aku akan selalu berdoa agar hidupmu bahagia bersama dengan pria pilihanmu." Ia bahkan tidak bisa melupakan pujian dari Laura atas Mario.
Hingga ia tertawa miris saat ini karena dianggap adalah seorang pria paling jahat di dunia dan Mario adalah pria paling baik yang ditemui oleh Laura.
"Ya, aku adalah pria yang paling menyakitimu dan meninggalkan luka mendalam di hidupmu. Seharusnya aku tidak memanfaatkanmu dulu hingga berakhir memiliki rasa cinta di hatiku," lirih Christian yang saat ini mengembuskan napas kasar dan menguraikan suasana penuh keheningan di dalam ruangan kerjanya.
Ia bahkan saat ini tidak bisa berkonsentrasi karena pikirannya tengah tertuju pada pernikahan mantan istri yang sebenarnya masih dicintai, tapi tidak bisa mengakui di depan semua orang maupun yang bersangkutan.
Bahkan merasa tidak pantas untuk kembali karena seperti hanya memanfaatkan Laura setelah Ana meninggal. Hanya saja, ia mengingat perintah dari sang ibu untuk menikahi wanita lain agar memiliki anak lagi setelah putranya dibawa oleh Laura dan suasana rumah sangat sepi seperti pemakaman.
Tidak ada lagi seorang istri yang selama ini selalu menemaninya setiap hari ketika melepas penat di rumah setelah seharian bekerja di kantor. Bahkan juga tidak ada lagi suara tawa serta wajah menggemaskan dari putranya.
Seolah rumahnya saat ini kehilangan aura kehidupan dan di lubuk hati mendalam sangat kesepian, tapi berakting seperti seorang pria yang baik-baik saja dan membenamkan diri pada pekerjaan.
Ia yang saat ini kembali berdiri di samping kaca raksasa dengan menatap ke arah bawah perusahaan sambil memikirkan nasibnya.
"Sampai kapan aku kuat menghadapi semua kesepian ini? Kenapa tidak aku saja yang dipilih Tuhan untuk memiliki penyakit kronis? Kenapa malah Ana yang merupakan orang baik?" Kini, ia mengerti jika apa yang sering didengarnya benar-benar adalah sebuah fakta.
Bahwa orang yang sangat baik akan lebih cepat dipanggil oleh Tuhan untuk kembali karena sangat menyayanginya dan tidak ingin ternoda oleh duniawi yang penuh dengan kekejaman.
"Ana, apa kamu melihatnya dari atas sana, Sayang? Kamu sekarang sangat bahagia berada di surga sana, kan? Bahkan mungkin sedang menertawakan nasibku yang buruk karena telah mengkhianatimu?" Suara Christian terdengar serak karena menahan perasaan bergejolak yang kini selalu membuatnya seperti sesak napas ketika mengingat semua dosa-dosanya di masa lalu.
"Dosaku pada Ana dan Laura sangatlah besar karena sama-sama mempermainkan mereka," lirih Christian hingga saat ini memijat pelipis karena merasa sangat pusing dengan banyaknya beban pipi pikirannya selama beberapa hari belakangan.
Ia yang merasa sangat pusing, kini beralih menuju ke arah sofa dan mendaratkan kasar tubuhnya di sana. Hingga terlihat bersandar dan memejamkan matanya sambil bernapas teratur.
"Rasanya aku sudah tidak mempunyai semangat hidup karena orang-orang yang berarti di hidupku sudah pergi meninggalkanku. Ana, ajak aku bersamamu." Saat ia berbicara dengan kelopak mata masih tertutup, seketika membuka mata begitu mendengar suara pintu terbuka.
Awalnya ia meluapkan amarah karena tidak mengetuk pintu sebelum membukanya dan membuatnya sangat terkejut karena tengah menenangkan pikiran yang kacau hari ini, tapi tidak jadi melakukannya karena saat ini berjalan mendekat bukanlah asisten pribadinya.
"Mama?" Christian bahkan sudah menduga apa yang akan dilakukan oleh sang ibu yang kini memakai pakaian formal karena akan menghadiri pernikahan Laura.
"Ayo, cepat bersiap! Kita berangkat ke pernikahan Laura sekarang!" sarkas Renita Padmasari yang merasa sangat kesal karena setelahnya sama sekali tidak memperdulikan perintahnya.
Ia bahkan berniat menyeret putranya agar mematuhi perintahnya untuk menghadiri pernikahan Laura. Hal itu dilakukan karena masih mempunyai sedikit harapan agar putranya menghentikan pernikahan Laura dan meminta wanita itu kembali.
Selama ini ia sangat menyayangi Laura seperti putri kandung sendiri karena sudah mengeluarkan putranya dari masalah dengan sang istri yang tidak bisa hamil karena penyakit yang diderita.
Jadi, sangat berharap jika putranya berusaha untuk kembali dengan Laura. Apalagi ada anak yang saat ini membutuhkan kasih sayang ayah kandungnya, meskipun ada sosok pria yang merupakan Mario. Tetap saja ia tidak merasa puas karena cucunya tinggal dengan ayah tiri.
Christian yang masih tidak berniat untuk menghadiri pernikahan Laura, meskipun sang ibu mengancam dengan mengarahkan tatapan saja menusuk jantungnya.
"Seperti ya aku katakan jika aku tidak akan datang ke pernikahan Laura, Ma. Jadi, jangan paksa aku. Biarkan Laura hidup tenang dan berbahagia dengan pria pilihannya. Apalagi Mario adalah seorang pria yang baik." Christian yang tadinya berniat untuk beristirahat sejenak dari lelahnya pikiran, tidak jadi melakukannya.
__ADS_1
Hingga ia bangkit berdiri dari sofa dan berniat untuk kembali ke kursi kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan. "Aku hari ini sangat sibuk karena pekerjaan menumpuk. Jadi, lebih baik Mama berangkat sekarang, daripada terlambat."
"Mama sudah meminta asistenmu untuk membereskan semua pekerjaan hari ini. Jadi, jangan beralasan lagi dan sekarang kita pergi! Apa kamu sama sekali tidak rindu dengan putramu yang sudah lama tidak kamu temui?" Sebelum masuk ke dalam ruangan putranya, ia bahkan sudah berpesan pada asisten kepercayaan untuk membantu.
"Anggap saja hari ini ingin menemuinya karena Mama yakin jika kamu tidak akan berani untuk mengganggu Laura di kemudian hari dengan meminta bertemu putramu setelah memiliki suami." Cepat ambil jasmu karena papamu sudah menunggu di bawah." Ia sebenarnya merasa sangat geram karena putranya masih tidak kunjung bergerak.
Bahkan saat ini malah bersikap cuek dan membuka dokumen di atas meja untuk diperiksa, sehingga membuat emosinya meledak dan langsung mengempaskan semua yang ada di atas meja tersebut.
"Christian, apa kamu sama sekali tidak mau menuruti perintah wanita yang telah melahirkanmu?" Ia yang selama ini jarang memarahi putranya, meledakkan semua amarah yang memuncak dan berapi-api dirasakannya.
"Kamu tahu jika kesabaran Mama setipis tisu, kan? Lagipula Mama tidak menjerumuskanmu ke dalam hal-hal negatif, kan? Hormati mantan istrimu yang sudah melahirkan darah dagingmu dengan cara hadir di pernikahannya sambil menggendong putramu." Hal yang lainnya adalah tidak tega melihat cucunya mempunyai ayah tiri.
Meskipun ia tahu jika Mario adalah seorang pria baik dan berjanji untuk menjadi ayah yang baik, tetap saja merasa tidak tenang. Apalagi mengetahui jika pernikahan tidak melulu masalah cinta karena ada banyak hal yang terjadi setelah menjalani hidup rumah tangga bertahun-tahun.
"Setelah Laura menikah, kamu harus lebih sering menemui putramu agar posisimu tidak digantikan oleh Mario. Apa kamu mau kehilangan semuanya dan terpuruk dengan kesepian saat sendiri?" Ingin sekali rasanya menampar putranya agar sadar bahwa yang dilakukannya adalah demi kebaikan.
Namun, tetap saja tidak tega melihat raut wajah murung yang selama ini ditampilkan oleh putranya semenjak kematian Ana. Apalagi hari ini semakin bertambah murung dan merasa yakin jika penyebabnya adalah kesepian setelah mengetahui jika Laura akan menikah hari ini.
Christian yang sebenarnya ingin membiarkan sang ibu mengomel sesuka hati, tapi lama-kelamaan berpikir jika apa yang dikatakan memang benar. Ia selama ini mempercayakan putranya pada sang ibu kandung dan berpikir akan jauh lebih bahagia daripada bersamanya.
Hingga khawatir dirasakannya ketika berpikir posisinya akan direbut oleh Mario. Dengan terpaksa ia bangkit berdiri dari kursi kerjanya. "Baiklah. Aku akan ikut bersama kalian dengan alasan ingin menemani putraku."
"Dia pasti saat ini merasa bingung dengan apa yang dilihatnya. Apalagi ketika tidak melihatku. Dia masih sangat kecil untuk bisa mengerti perbuatan dari para orang tua yang egois." Christian bangkit berdiri dan berjalan mengambil jas yang digantung di sudut kiri ruangan.
"Akhirnya tidak sia-sia Mama mengeluarkan taring untuk menyadarkanmu," sahut Renita Padmasari yang saat ini berjalan di sebelah putranya menuju ke arah pintu keluar.
Christian yang hanya diam saja karena berpikir bahwa saat ini baru sadar jika ia sangat egois karena hanya memikirkan kesedihan sendiri dan tidak memperdulikan putranya dengan alasan ingin Laura merawat putranya dengan memberikan kasih sayang penuh sebagai seorang ibu.
Hingga beberapa saat kemudian berada di dalam lift yang menuju ke lantai dasar perusahaan. Ia bahkan masih berusaha untuk menormalkan perasaannya, agar tidak merasa kecewa dan sakit hati melihat mantan istri menikah dengan pria lain.
'Kamu harus tenang dan tidak menunjukkan perasaan sebenarnya, Christian karena seperti yang selama ini kau katakan. Bahwa kau ingin Laura hidup bahagia bersama dengan pria lain dan mempunyai keturunan lagi,' gumam Christian yang jauh di dalam hati merasa sangat menyesal pernah mengatakan itu dan akhirnya menjadi kenyataan.
Bahwa ia sekarang menyadari jika ucapan adalah doa dan sekarang merasa seperti tercekik dengan harapannya sendiri. Ia yang berusaha untuk menormalkan perasaannya, kini menatap ke arah sosok wanita yang ada di sebelah kirinya.
"Ma."
"Hem?" sahut Renita Padmasari yang menjawab tanpa menatap ke arah putranya karena dari tadi melihat angka digital yang turun dari lantai paling atas perusahaan ke lobi.
"Jangan menyuruhku untuk menikah lagi karena aku sudah mempunyai penerus, yaitu Valerio. Aku benar-benar malas untuk membuka hatiku dengan wanita lain. Apalagi harus memulai semuanya dari awal dan berusaha untuk memahami satu sama lain saat hatiku telah mati." Christian merasa yakin jika sang ibu akan terus mendesaknya setelah melihat Laura membuka lembaran baru.
Jadi, berusaha untuk merubah pola pemikiran dari wanita yang telah melahirkannya tersebut agar tidak terus membuatnya merasa risi dengan perintah menikah. Apalagi jika sampai dijodohkan seperti zaman Siti Nurbaya di era modern ini.
Renita Padmasari yang sama sekali tidak berniat untuk menjawab, kini langsung melangkah keluar begitu pintu kotak besi tersebut terbuka.
'Apa dia tidak mengerti penderitaan dari seorang ibu ketika melihat putranya hidup kesepian tanpa pasangan? Mana mungkin aku diam saja saat putraku sendiri tidak memiliki pendamping yang menemani hidupnya?'
__ADS_1
'Bahkan harta yang dimiliki tidak akan berarti tanpa memiliki pasangan,' gumamnya sambil terus melangkah keluar dari lobi perusahaan tanpa memperdulikan panggilan dari putranya.
"Ma!" teriak Christian yang sama sekali tidak memperdulikan beberapa orang membungkuk hormat padanya ketika berjalan cepat membuntuti sang ibu.
Ia sangat kesal karena sang ibu malah cuek padanya. "Ma! Aku benar-benar serius!" Bahkan ia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah sang ibu karena melihat ayahnya kini berada di kursi depan.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Laymar Raphael yang dari tadi mengawasi interaksi antara ibu dan anak itu di dalam mobil.
"Tidak ada apa-apa. Cepat berangkat!" sahut Renita Padmasari pada sang supir yang saat ini langsung mengiyakan dengan mengemudikan kendaraan keluar dari area perusahaan.
Sementara itu, Christian memilih untuk mengatakan hal sebenarnya mengenai permohonannya pada sang ibu dan berharap sang ayah mau menasihati.
"Papa mengerti apa yang kurasakan, kan?" tanya Christian dengan harapan besar pada sang ayah agar mendukung keinginannya.
Namun, yang didapatkan hanyalah kekecewaan karena sang ayah berubah diam tanpa menanggapi. "Pa! Kenapa malah seperti mama?"
"Papa sebenarnya ingin berbicara panjang lebar, tapi sangat malas hari ini. Apalagi ini adalah hari pernikahan Laura dan lebih baik kita tidak bertengkar. Jadi, bisa fokus pada hari bahagia mantan istrimu dengan tidak mengacaukannya." Ia sengaja memancing putranya agar bisa memahami apa maksudnya.
'Semoga putraku mengacaukan acara pernikahan Laura dan ia yang menjadi mempelai prianya,' gumamnya dengan harapan besar seperti keinginan istrinya yang mendapatkan dukungan penuh darinya.
Bahwa selama ini ia dan sang istri sangat menyukai sosok Laura dan tidak ingin putranya berhubungan dengan wanita lain yang bahkan belum tentu sebaik mantan menantunya tersebut.
Renita Padmasari yang saat ini menatap ke arah sebelah kanan, bersorak kegirangan ketika sang suami mendukung dan memberikan pelajaran pada putranya yang bandel.
'Semoga putraku peka dengan kode yang diberikan oleh papanya,' gumam Renita Padmasari yang saat ini berapa doa agar putranya mengungkapkan keberatan pada pernikahan Laura dengan alasan masih mencintai.
Ia akan mengetahui bagaimana tatapan dari putranya ada Laura masih menyimpan rasa sayang. Apalagi ada ikatan batin karena sudah mendapatkan keturunan.
Di sisi kiri kursi bagian belakang mobil, Christian memilih menyerah dan tidak ingin lagi membahasnya. Bahkan tidak menganggap jika hari ini adalah hari bahagia Laura karena wanita itu tidak berkata jujur padanya ketika tadi ditanya.
'Jika Laura menerima Mario hanya atas dasar kasihan serta ingin dicintai, hari ini tidak mungkin merasa bahagia. Bahagia di hari pernikahan adalah saat ia dinikahi oleh pria yang sangat dicintai.'
'Meskipun tidak tahu bagaimana hubungan rumah tangga ke depannya, tetapi saat pernikahan, memang selalu terasa bahagia jika menikah dengan orang yang dicintai.' Christian bahkan saat ini mengartikan perhatiannya dengan menatap ke arah jalanan ibukota yang hari ini cukup lenggang.
"Tumben tidak macet." Ia seketika serasa tertampar kala indra pendengaran menangkap suara sini dari sang ibu yang duduk di sebelahnya.
"Iya, karena ingin kita tidak terlambat di acara bahagia Laura. Bukankah semesta sangat baik pada kita?" sindir Renita Padmasari yang berbicara tanpa berniat untuk menatap bagaimana ekspresi wajah putranya.
Padahal sebenarnya di dalam hati ingin sekali melihatnya, tapi menahan diri dan tetap yakin jika putranya saat ini tengah kesal. 'Sabar ... sabar. Semoga putraku diberikan keajaiban untuk merebut Laura dari Mario.'
Doa yang harusnya adalah sebuah kebaikan, kini menjadi sangat berbeda baginya karena merupakan hal buruk untuk Mario jika sampai harapannya menjadi kenyataan.
Namun, menjadi sebuah kebaikan bagi putranya dan berharap jika itu menjadi kenyataan.
To be continued...
__ADS_1