
Kemudian ia memberikan kartu kredit berwarna gold pada Laura, sementara yang dimilikinya berwarna hitam seperti punya Ana. Ia tidak mungkin memberikan kartu kredit tanpa batas miliknya pada Laura karena akan ketahuan oleh Ana.
Jadi, bukan ia bermaksud untuk membedakan Ana dan Laura karena menyadari bahwa mereka sama-sama berarti di hatinya. Namun, karena keadaan yang membuatnya hanya bisa memberikan kartu berwarna gold tersebut.
"Ini, Sayang. Nanti kalau belanja, pakai ini saja. Tapi untuk belanja hari ini memakai uangku agar uang belanja utuh." Kemudian ia memeluk erat pinggang ramping sang istri. "Ayo, kita membeli lobster paling mahal dan nanti aku akan memasak untukmu."
Karena merasa semakin hari makin bahagia, Laura saat ini langsung mencium pipi putih dengan rahang tegas tersebut tanpa merasa malu dilihat oleh beberapa pengunjung di supermarket tersebut.
"Terima kasih, Suamiku. Aku benar-benar sangat mencintaimu." Laura akan menunjukkan emot hati dengan kedua tangannya untuk mengungkapkan besarnya rasa cinta pada pria yang dianggap sebagai malaikat penolong baginya.
Kemudian ia berjalan beriringan dan membiarkan sang suami mendorong troli.
"I love you too, Sayang. Rasanya sekarang aku ingin mencium bibirmu, tapi tidak akan bisa berhenti jika melakukannya. Jadi, aku akan menahannya sampai nanti malam. Kita akan melanjutkan momen bulan madu kita nanti malam, oke!" lirih Christian yang berbisik di dekat daun telinga Laura.
Bahkan ia bisa melihat raut wajah sang istri yang memerah karena malu akibat perbuatannya. Hingga ia pun kembali merasa gemas pada sang istri, sehingga hanya memeluk erat pinggang ramping itu.
"Jangan membicarakan hal seperti itu di tempat umum seperti ini. Memalukan!" umpat Laura yang saat ini melepaskan cengkraman tangan dari pinggangnya dan berjalan menuju ke arah seafood.
Kemudian langsung menuju ke arah lobster yang diincarnya memang memiliki harga paling mahal dan membuatnya tadi merasa tidak enak jika mengambil tanpa meminta izin terlebih dahulu pada sang suami yang merupakan Sultan karena banyak uang.
"Yang itu, Sayang. Oh ya, saat kamu mengenalku dulu, pernah melihatku makan lobster mahal seperti ini? Bukankah rasanya sangat aneh aku menyukai lobster mahal jika bukan merupakan keturunan keluarga kaya? Ataukah dulu orang tuaku memiliki banyak uang dan berakhir bangkrut setelah aku dewasa?"
Laura ingin mendapatkan jawaban dari Christian agar ada titik terang dari sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Hingga ia mengerutkan kening ketika Christian menggelengkan kepala.
"Aku tidak cukup lama mengenalmu, Sayang karena seperti yang kuceritakan dulu, jatuh cinta padamu dan langsung menikahimu tanpa berpacaran. Jadi, aku tidak tahu banyak mengenai hal tentangmu. Hanya saja, aku belum pernah melihatmu makan lobster."
Christian sengaja berbicara panjang lebar sesuai dengan apa yang terjadi dan tidak berbohong karena memang belum terlalu dekat dengan Laura sampai memutuskan untuk menikahinya secara siri ketika mengalami koma.
"Tidak perlu memikirkan masa lalu jika di masa sekarang kita hidup berbahagia. Bukankah kita hidup di masa depan? Lalu buat apa memikirkan masa lalu yang belum jelas?" ucapnya untuk mengubah pemikiran dari sang istri agar tidak terlalu fokus pada amnesia yang diderita.
Laura membenarkan semua yang dikatakan oleh sang suami dan berpikir bahwa pemikirannya terlalu berlebihan karena selalu saja mengaitkan apapun dengan amnesia yang dialami akibat kecelakaan.
"Baiklah. Aku sekarang tidak akan mencoba untuk mengaitkan masa depan kita dengan masa lalu. Aku bahkan hidup bahagia di masa depan karenamu." Menatap Christian dengan penuh cinta untuk mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
"Jadi, tidak berniat untuk membandingkan dengan masa lalu yang sudah hilang dari pikiran." Laura melihat sang suami mengambil lobster yang sudah dibungkus dan memasukkan ke dalam troli.
Sementara itu, Christian merasa sangat lega karena berhasil membuat Laura patuh padanya dan tidak akan lagi berpikir mengenai masa lalu yang dilupakan.
"Syukurlah jika kamu mengerti apa yang ingin kusampaikan padamu demi kebaikanmu sendiri, Sayang. Oh ya, kira-kira apa ada yang terlupa belum kita beli?" Terdiam selama beberapa detik untuk mengingat-ingat.
"Aku tengah memikirkan sesuatu, tapi tidak kunjung menemukannya." Christian berharap Laura ikut memikirkan apa yang terlupa agar tidak menyesal jika sudah berada di rumah.
Sementara itu, Laura menatap ke arah troli yang sudah dipenuhi oleh beraneka ragam itu. "Sepertinya sudah semua, Sayang. Ayo, kita pulang sekarang karena aku ingin segera melihat suamiku tercinta memasak lobster untuk makan siang."
Bahkan ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Lihatlah, ini sudah jam setengah 12. Sepertinya nanti akan tepat saat jam makan siang selesai memasak. Kali ini aku ingin membantumu dan tidak ingin berpangku tangan."
"Siap, Nyonya. Siapa takut. Yang penting jangan sampai kita siram-siraman minyak panas seperti yang ada di caption sebuah konten," ujar Christian dengan tertawa ketika mengingat kata-kata dari salah satu video yang lewat di beranda yang pernah ditonton olehnya.
Laura tanya geleng-geleng kepala mendengar hal yang dianggap sangat konyol. "Astaga! Jika siram-siraman minyak panas, bisa-bisa kita berakhir di rumah sakit dengan tubuh melepuh dan tidak jadi melanjutkan bulan madu."
"Aku jadi penasaran siapa yang menciptakan caption konyol itu. Nanti biar ku getok kepalanya agar sadar dan tidak membuat sesuatu yang sangat tidak masuk akal." Bahkan ia saat ini tertawa ketika membayangkan hal itu.
Sementara Christian tidak terkejut melihat respon Laura karena saat membaca caption tersebut, ia juga tertawa. "Nanti aku cari lagi videonya, Sayang. Lalu nanti kamu komen di sana jika ingin benar-benar menggetok kepala penciptanya."
"Beres! Kamu tidak perlu khawatir mengenai masalah uang. Apalagi aku yakin jika perbuatanmu tidak akan sampai memecahkan kepalanya." Christian seketika meringis menahan rasa nyeri pada pinggangnya ketika mendapatkan sebuah cubitan kuat dari wanita yang mengejutkan bibir itu.
"Dasar! Mana mungkin aku memecahkan kepalanya dan bisa-bisa nanti malah berakhir di penjara. Lalu, kamu nanti akan kesepian karena tidak bisa bercinta denganku." Laura yang merasa sangat nakal karena menggoda sang suami yang terlihat sangat terkejut.
Refleks Christian bertepuk tangan tanpa memperdulikan tatapan dari beberapa orang. Meskipun perkataan dari sang istri tadi sangat tiri agar tidak didengar oleh orang lain, ada perkembangan dari wanita yang awalnya sangat malu-malu itu.
Apalagi saat malam pertama, Laura seperti tidak berani menatapnya. Sampai ia memberikan titah agar Laura membuka mata ketika bercinta dengannya agar bisa melihat ekspresi wajah masing-masing.
"Ternyata sekarang istriku ada kemajuan rupanya. Bagus kalau begitu karena ajaranku masuk dan kamu tidak mengecewakanku, Sayang." Christian berhenti tepat di sebelah meja kasir dan mengeluarkan semua barang belanjaan untuk di total.
Sambil menunggu kasir menghitung barang belanjaannya, kali ini Christian semakin mendekati sang istri dan mendekatkan bibirnya untuk berbisik di dekat daun telinga.
"Nanti aku akan mengajarkan beberapa gaya baru padamu, Sayang. Nanti kita lihat videonya bersama-sama sebelum memulai pertarungan panas kita di atas ranjang." Saat Christian baru saja menutup mulut, kembali merasakan nyeri pada bagian pinggang.
__ADS_1
Laura seketika menatap ke arah sekeliling dan memastikan tidak ada yang mendengar. Ia makin memutar gerakan mencubit pinggang kokoh sang suami sambil menatap tajam.
"Jaga mulutmu, Sayang!" sarkas Laura dengan wajah memerah karena kesal dan suara tegas tapi tidak terlalu keras.
Refleks Christian seketika mengangkat kedua tangan ke atas seperti gerakan seorang penjahat yang menyerah karena tertangkap. "Ampun, Sayang. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Ia bahkan tidak peduli menjadi pusat perhatian dari beberapa pengunjung yang mengantri di kasir karena fokus pada rasa nyeri di bagian pinggang. Hingga ubah menjadi rasa panas yang menjalar karena cubitan itu makin kuat.
Laura yang ingin memberikan pelajaran, berusaha untuk membuat sang suami tidak mengulangi untuk mempermalukannya di depan umum saat membahas hal-hal bersifat vulgar.
"Awas saja jika mengulangi lagi. Aku benar-benar akan membuat kulitmu membiru." Kemudian menurunkan tangannya setelah mendengar suara kasir menyebutkan nominal angka yang harus dibayar.
"Totalnya lima juta seratus, Tuan." Sang kasir yang dari tadi fokus menghitung sambil sesekali melirik ke arah pasangan suami istri yang sangat menggemaskan tersebut dan membuatnya merasa iri.
Christian saat ini mengeluarkan kartu dari dompetnya dan menyerahkan pada kasir. Kemudian memencet setelah disuruh oleh sang kasir. Ia bahkan sambil mengusap pinggangnya yang masih menyisakan rasa panas di sana.
'Panas juga hukuman dari istriku. Awas saja nanti saat di rumah. Aku akan membuat dia tidak berhenti mendesah dan merintih meminta ampun,' gumam Christian yang kali ini kembali menerima kartu kredit miliknya.
Kemudian menerima beberapa kantong plastik besar dan membawanya dengan kedua tangan.
"Biar aku bantu!" ucap Laura yang malah mendapatkan gelengan kepala dari sang suami.
"Tidak perlu, Sayang karena aku bisa membawa semuanya," ucap Christian yang tidak ingin Laura kelelahan karena sudah mengajak berkeliling berbelanja hari ini.
Akhirnya Laura hanya membiarkan Christian membawa 6 kantong plastik besar tersebut dengan kedua tangan. Kini, ia berjalan di sebelah sang suami dan tersenyum menyeringai.
"Baiklah, aku akan jadi penonton melihat suamiku yang kelelahan. Jika kelelahan, tidak akan kuat berolahraga nanti malam," ucapnya dengan tersenyum mengejeknya.
"Mana mungkin, Sayang. Mau berapa ronde pun, kujabanin pokoknya. Jadi, jangan menangis ataupun memohon-mohon untuk berhenti karena aku tidak akan mendengarkanmu." Christian tidak ingin kalah dan menegaskan bahwa ia bukanlah seorang pria lemah.
Sementara Laura saat ini hanya menelan saliva dengan kasar ketika membayangkan jika nanti malam benar-benar terjadi.
'Apa suamiku tidak bosan bercinta setiap hari? Aku saja yang hanya diam, merasa tubuhku remuk redam. Apalagi ia yang sibuk bergerak untuk mendaki puncak kenikmatan. Staminanya bahkan tidak berkurang sedikit pun dan membuatku selalu gila karenanya.'
__ADS_1
To be continued...